Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Tidak akan pernah cukup


__ADS_3

"kamu nakal," bisik Sultan lembut di telinga istrinya.


Pria itu menggendong tubuh Hanum dan membawanya ke kamar.


"Kan nakal sama suami sendiri nggak apa-apa," balas Hanum.


"Buka pintunya," perintah Sultan begitu dia sampai di depan kamarnya.


"Tanganku tidak sampai," kata Hanum sambil melemparkan tatapan menggoda.


Akhirnya Sultan sedikit membungkukkan tubuhnya dan sedetik kemudian dia merasakan sensasi panas karena tepat ketika dia menurunkan tubuhnya, saat itu juga Hanum menggigit kecil lehernya.


"Apa kau sedang menggodaku? kenapa kau makin liar saja Sayang?" 


Sultan merebahkan tubuh istrinya di atas kasur sementara dia menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya agar tak menindih tubuh Hanum.


"Kau cantik sekali?" puji Sultan, pandangannya tak lepas dari wajah sang istri.


"Seandainya aku jelek, mana mau kamu menikahiku Mas," seloroh Hanum.


"Dasar! bukan karena cantik fisikmu semata aku mencintaimu, lebih dari itu, kecantikan yang berasal dari hatimu dan segala yang ada dalam dirimulah yang membuatku jatuh cinta dan akhirnya tergila-gila padamu."


"Gomb ...,"


Hanum tak dapat melanjutkan kata-katanya karena secepat kilat Sultan sudah mendaratkan bibirnya dan membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.


Gadis itu memejamkan matanya, menikmati permainan lidah suaminya yang begitu lincah mengabsen setiap inci rongga mulutnya. Tak membiarkan suaminya mendominasi permainan, Hanum pun membalas setiap perlakuan Sultan padanya, tak kalah panas. Desahan nakal nan manja terus lolos dari bibir tipis gadis itu ketika Sultan beralih mengeksplor leher jenjangnya. Erangan Hanum yang makin membuat Sultan menggila ketika pria itu berhasil membuat pahatan maha karyanya memenuhi setiap jengkal leher istrinya yang putih.


Pelan tapi pasti Sultan mulai bergerak turun, menyusuri dua bukit kembar yang begitu menantang yang kala itu masih terbalut kain. Tak sabar untuk mendaki gunung tinggi yang membuatnya selalu mendamba, dia menarik tali baju tidur tipis yang dipakai Hanum, merenggut kain transparan tersebut dan menghempasnya ke lantai.


Senyuman terkembang sempurna di bibir Sultan ketika melihat tubuh Hanum kini telah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya, susah payah dia menelan salivanya. Sepertinya gadis itu telah sengaja mempersiapkan malam ini, melihat Hanum yang tak memakai dalaman.


Tangan Sultan terulur, meraih dagu Hanum yang sejak tadi berpaling darinya karena merasa malu kemudian menariknya, membuat pandangan keduanya saling beradu.


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu," ucap Sultan.


"Aku juga." balas Hanum.


Sekian menit kemudian tubuh keduanya saling menyatu, sesekali Hanum merintih dibawah kungkungan suaminya. Dia yang sejak tadi merem*as seprai karena tak tahan dengan ritme permainan Sultan, kali ini beralih memegang dada pria itu. Baginya tak ada yang lebih membahagiakan dari pada menyentuh dada telanjang lelaki yang amat dicintainya itu.

__ADS_1


"Eumh ...," rintihnya ketika Sultan menghentakkan miliknya di bawah sana.


Sultan begitu menikmati pergumulannya malam ini, mendengar desahan istrinya semakin membuat gairahnya memuncak.


Hanum kembali mendesah ketika merasakan suaminya makin mempercepat ritme permainannya, dan tak lama kemudian Sultan mengerang. Tubuh pria itu ambruk tepat di samping tubuh polos istrinya dan dengan tubuh penuh peluh keduanya saling berpelukan.


Beberapa kali Sultan menghadiahi kecupan di kening istrinya dan mengucapkan terimakasih, hal yang selalu dia lakukan sesaat setelah  menyelesaikan penyatuan itu.


.


Keesokan paginya.


"Kamu yakin mau datang ke sidang perempuan itu?" tanya Sultan.


Sejak pertama kali membuka mata pagi ini, Hanum terus mengatakan kalau dia ingin menghadiri sidang putusan Mauryn yang akan di gelar pukul sepuluh siang nanti.


"Ya." Hanum mengangguk.


Sejujurnya Sultan ragu, ada ketakutan dalam diri pria itu. Takut kalau Hanum sampai tak bisa mengendalikan diri dan berakhir dengan jatuh pingsan seperti kemarin.


"Aku akan baik-baik saja Mas, percayalah," sekali lagi Hanum membujuk suaminya, dia seolah tahu kecemasan yang tengah melanda Sultan.


"Mas ...," rengek Hanum sambil mengguncang-guncangkan bahu Sultan.


"Tidak!" jawab pria itu ketus.


"Kemarin pengacaranya mengatakan kalau aku sebagai korban penculikan dalam kasus ini harus datang kan?" 


"Tapi aku sudah meminta surat keterangan dari dokter yang mengatakan kalau kamu sedang sakit agar hakim memaklumi atas ketidakhadiranmu.  Kamu akan sangat tertekan jika kembali bertemu dengan perempuan itu dan itu akan sangat membahayakan kondisi kesehatanmu. Dan aku tidak mau mengambil resiko dengan membahayakan nyawamu dan juga  nyawa anakku," tegas Sultan.


"Berlebihan kamu Mas, aku hanya mau pergi ke pengadilan dan bukan mau pergi ke tempat berbahaya seperti ...,"


"Tidak!" potong Sultan cepat.


Hanum menunduk, bibirnya mengerucut, merasa kecewa dengan keputusan suaminya. Dia sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu ingin menghadiri jalannya sidang tersebut.


Malas membahas masalah itu karena ujung-ujungnya suaminya tetap bersikeras tidak memberikan izin membuat Hanum menghentikan usahanya. 


Setelah Sultan selesai merapikan diri, Hanum segera mengulurkan tas kerja pria itu.

__ADS_1


"Kita harus segera turun ke bawah untuk sarapan, kasihan kakek kalau harus sendirian melewatkan sarapan paginya," ucap Hanum.


Sultan tak menjawab, dia menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar tersebut. Selama menuruni anak tangga pun terlihat sekali dia berusaha membimbing Hanum, memastikan istrinya turun ke lantai bawah dengan selamat. Sedikit berlebihan memang tapi Hanum bisa memaklumi karena memang hal tersebut sudah menjadi bagian dari bentuk perhatian lebih Sultan padanya semenjak ia dinyatakan hamil.


Tak ada obrolan yang terjadi selama sarapan pagi bersama itu berlangsung, hingga selesai. Sultan tetap membisu meskipun dia seringkali kedapatan sedang mencuri pandang pada istrinya.


"Jangan berani keluar rumah tanpa izin dariku!" pesan Sultan pada istrinya begitu dia hendak masuk ke dalam mobil.


"Memang kapan aku pernah pergi tanpa memberitahumu?" sahut Hanum ketus.


Benar juga, selama ini seburuk apapun hubungan keduanya dalam menjalani biduk rumah tangga, tak pernah sekalipun Hanum keluar rumah tanpa sepengetahuan suaminya.


"Ucapanmu seolah aku ini seorang istri yang membangkang pada suaminya," ketusnya, lagi.


"Aku hanya ingin melakukan kewajibanku sebagai seorang suami yang baik yaitu dengan menjagamu, jadi jangan salah paham. Aku tidak mau sampai kecolongan lagi seperti kemarin, kau tidak tahu kan betapa takutnya aku ketika kehilangan dirimu?"


Hanum membuang nafas kasar, di tatapnya wajah suaminya dan ketika pandangan keduanya bertemu, Hanum bisa melihat ketulusan dari sorot mata yang terpancar dari lelakinya.


"Pergilah, kamu bisa terlambat nanti," ucapnya sedikit melunak.


"Sebaiknya aku tidak usah berangkat sekalian." 


Ucapan Sultan membuat Hanum tersentak, beberapa kali gadis itu mengerjapkan matanya, tak percaya.


"Percuma aku ke kantor kalau ujung-ujungnya aku nggak bisa fokus kerja dan malah kepikiran kamu terus," lanjut Sultan.


"Memang yang semalam masih kurang?" celetuk Hanum, sengaja membelokkan pembicaraan.


Sultan tersenyum manis, manis sekali hingga raut wajah bahagianya itu sulit dia sembunyikan.


"Tidak akan pernah cukup apapun itu jika menyangkut dirimu," kata Sultan.


"Kumat lagi gombalnya," sengit Hanum.


"Aku rela kalaupun harus menjadi budak cintamu seumur hidupku, apa lagi hanya jadi tukang gombalmu. Tiap hari bahkan tiap menit aku sanggup menggombalimu, sampai kau merasa muak."


Hanum membuka kedua tangannya, bersiap menerima pelukan hangat dari suaminya, membenamkan wajahnya di dada bidang Sultan yang selalu bisa membuatnya merasa damai.


Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam diri ... Kekasih.

__ADS_1


.


__ADS_2