
"Kenapa belum tidur?"
Willmar memeluk istrinya dari belakang. Awalnya pria itu telah sempat menjelajah di alam mimpi, tapi ketika dia mendapati ruang kosong di sampingnya, membuatnya terbangun dan mencari keberadaan Raisa.
"Belum ngantuk," balas wanita cantik itu.
"Doakan agar Kak Cinta lekas pulih agar dia bisa kembali ke rumah dan kita bisa ikut merawat baby boy."
"Kamu tahu apa yang saat ini sedang aku pikirkan?"
Sudut bibir Willmar tertarik ke atas membentuk senyum menawan. "Tentu saja. Kamu merindukan Jayden kan? setelah sempat mengurusnya beberapa hari, kamu begadang demi menjaganya dan seringkali bangun hanya untuk membuatkan dia susu. Lalu tiba-tiba dia bersama ibunya dan kamu kesepian," ocehnya.
"Kamu benar. Semua yang kamu katakan memang benar, tapi bukan berarti aku nggak suka Kak Cinta sadar."
"Kak Cinta itu orang baik, dia pasti akan memberikan kesempatan untuk kita bisa menjaga dan mengurus Jayden, percayalah."
"Aku percaya itu."
"Lalu kenapa kamu masih berada di sini? bukankah kita harus bersiap-siap untuk ke rumah sakit besok pagi? Kita jemput Jayden."
"Aku sangat merindukannya Will," lirih Raisa.
Tak ada yang bisa Willmar lakukan jika sudah begini. Pelukan hangat serta usapan lembut di punggung wanita itu, Willmar harap dapat bisa membuat suasana hati Raisa membaik.
"Kamu sangat merindukannya?" Raisa mengangguk dalam dada suaminya. "Aku juga," imbuh Willmar.
"Sekarang kita masuk, udara malam nggak baik buat kesehatan."
"Tapi Will ..."
"Jangan membantah."
Mau tak mau Raisa pun mengikuti langkah suaminya. Perlahan Willmar membaringkan tubuh istrinya di kasur, lalu mengecup dahi Raisa sebelum dia pergi.
"Tunggu sebentar," bisiknya.
"Mau ke mana?"
Willmar tak menjawab dan pergi begitu saja, tapi tak lama setelahnya dia kembali dengan membawa sehelai kain.
"Apa ini?" hampir saja Raisa meledakan tawanya.
"Ini baju si ganteng yang belum dicuci, aku berhasil menemukannya." Memberikan kain motif hewan itu pada Raisa.
"Wangi Jayden masih begitu kuat di baju itu. Kamu bisa memeluknya sekedar mengurangi rasa rindumu padanya, setidaknya sampai besok pagi."
"Terima kasih Sayang." Raisa memberikan satu ciuman di pipi suaminya sebagai ungkapan terima kasih.
"Sekarang tidur ya, besok pagi-pagi kita jemput si ganteng," kata Willmar setelah bergabung dengan Raisa di bawah selimut.
"Sayang ..."
"Apa?" tangan Willmar berpindah di kepala Raisa, terus mengusap rambut panjang wanita itu.
"Gimana kalau aku resign dari kantor?"
Willmar terdiam, menunggu kelanjutan ucapan Raisa. "Aku nggak pernah maksa kamu untuk kerja Sayang. Aku nggak pernah membatasi ruang gerak kamu, jadi kalau semisalnya ada yang ingin kamu lakukan, ya lakukan saja."
"Aku ingin bisa fokus ikut mengurus Jayden, Will."
"Tentu."
__ADS_1
"Kamu nggak keberatan?"
"Kenapa aku harus keberatan? dengan kamu di rumah aku justru menjadi lebih tenang. Kamu memiliki banyak waktu untuk memanjakan diri. Kamu sangat kurus sekarang dan aku perhatikan kamu juga terus berusaha mengalihkan soal anak dengan terus bekerja keras. Dengan berada di rumah membantu Kak Cinta mengurus si ganteng tentu akan membuatmu senang, dan apapun hal yang bisa membuatmu bahagia maka lakukanlah."
"Terima kasih Mas. Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu, kamu terlalu baik sama aku."
Willmar memarkirkan jari telunjuknya di depan bibir Raisa. "Bagiku kamu adalah yang terpenting di dunia, aku sangat mencintaimu Sayang," ucap Willmar disusul dengan kecupan di kening dan juga wajah istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu Sayang."
"Hm, tapi nggak gratis lho. Aku akan kasih kamu izin buat resign tapi kamu harus bayar mahal untuk itu," bisik Willmar.
"Tentu saja. Mau berapa ronde," tantang Raisa.
"Sungguh? Apa boleh malam ini?"
"Tentu saja. Aku nggak punya hak dan juga alasan untuk menolak kamu Yang. Ambillah apa yang menjadi hak kamu, kenapa musti bertanya dulu?"
"Aku takut kamu lelah," dalih pria itu.
"Enggak Will. Sama sekali enggak karena aku juga menginginkannya," bisik Raisa. Ia mengerling nakal sementara tangannya mulai merayap di kancing piyama tidur yang membalut tubuh suaminya.
"Nakal," bisik Willmar saat merasakan gigitan kecil di dadanya dilakukan Raisa.
Tak lama setelahnya, tubuh mereka sama-sama polos. Raisa dengan gesit mengambil alih permainan hingga desahan yang saling bersahutan terdengar memenuhi ruangan itu.
.
.
Cinta mengerjapkan matanya pelan, ia terkejut begitu melihat bayinya tak lagi dalam pelukannya. Wanita itu mencoba mencari keberadaan Jayden dengan menelusuri setiap ruangan hingga matanya menangkap sosok pria tengah duduk sambil memangku bayinya di sofa. Cara William menyentuh Jayden, cara pria itu memegang botol susu yang tengah dia berikan pada bayi mungil itu, semua yang William lakukan sungguh membuat Cinta tersentuh. Hal itu membuatnya mengingat kembali ucapan Tania yang mengatakan jika William telah berubah dan itu memang benar adanya.
"Mas ..."
"Sama sekali tidak. Kenapa kamu nggak bangunin aku Mas?"
"Kamu kan masih dalam proses pemulihan, aku nggak mau kamu kecapekan."
"Tapi kan aku juga ingin mengurus Jayden," kata Cinta.
"Masih ada banyak waktu. Kapanpun kamu bisa mengurus baby boy setelah kamu benar-benar pulih nanti."
Cinta berinisiatif untuk turun dari bed nya.
"Sayang, mau apa?"
"Mau gendong bayi kita."
"Tetap di situ, aku akan bawa Jayden padamu."
Ucapan William membuat gerakan Cinta terhenti. Pria itu dengan sangat hati-hati memberikan Jayden untuk digendong istrinya.
"Dia bangun sejak kapan?"
"Baru sekitar satu jam yang lalu, dia haus, tapi sekarang udah nggak lagi karena aku udah buatkan susu untuknya." William mengusap pipi gembul Jayden.
"Hm, Sayang?"
"Apa Mas?"
"Kamu mau kita dipanggil apa sama baby kita?" tanya William, antusias.
__ADS_1
"Aku mau dia panggil kamu ayah," cetus Cinta.
"Kalau dia panggil aku dengan sebutan ayah, maka dia akan memanggilmu bunda?"
"Ya." senyuman terus terkembang di bibir Cinta, pun dengan suaminya.
Malam hampir menjelang pagi, tapi keduanya terus berbincang hingga Jayden kembali terlelap.
"Selama ini siapa yang merawatnya Mas?"
"Semua orang bantu jaga dia Sayang, tapi yang paling punya banyak waktu jagain baby boy ya aunty nya," balas William.
"Raisa?"
William mengangguk. "Meskipun dia belum pernah mengurus bayi sebelumnya, tapi mama bilang Rai bisa dengan cepat belajar mengurus Jayden dengan baik."
"Syukurlah."
"Hm. Aku memanggil perawat khusus untuk mengurus Jayden, tapi kemudian di hari kedua Rai dan mama juga oma bisa mengurus anak kita dengan sangat baik dan mama menganjurkan untuk tidak mengundang perawat lagi ke rumah," jelas William.
"Terima kasih."
"Aku yang seharusnya mengatakan itu padamu. Aku sungguh sangat berterima kasih karena kamu mau mempertaruhkan nyawa demi melahirkan penerusku. Aku berhutang banyak padamu, dan aku nggak tahu harus dengan cara apa aku membalas semua kebaikanmu. Terima kasih telah bangun kembali demi aku, aku mencintaimu."
Suasana berubah menjadi sendu. Cairan yang menggenang di telaga mata pria itu pun tak lagi bisa ia bendung. Cinta mengusapnya pelan.
"Jika kamu bahagia, lantas apa ini?"
William meraih tangan Cinta dan mengecupnya sangat lama. "Tentu saja air mata kebahagiaan," jawabnya.
"Setelah semua ini terjadi, aku tidak berpikir untuk menambah anak lagi," imbuh William.
"Kenapa?"
"Aku takut. Aku hampir mati karena takut kehilanganmu."
"Tapi aku masih ingin memiliki banyak anak."
"Hah?" William melotot tak percaya.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku Mas, jalan takdir seseorang kita nggak akan pernah tahu. Kalau pada saat proses kelahiran anak pertama kita aku seperti ini, bukan berarti pada kelahiran anak selanjutnya juga seperti ini."
"Tidak mau! Aku tetap tidak mau. Membayangkan betapa kamu menderita sejak awal kehamilan sampai detik ini saja sudah membuatku gila," tukas William.
"Setiap proses akan berbeda Mas. Kita sewaktu membuatnya saja beda gaya, ya kan?"
Pria itu kembali dibuat ternganga dengan ucapan istrinya. Cinta sengaja mengalihkan pembicaraan agar William tak terpaku pada satu hal yang membuatnya memiliki ketakutan berlebih.
"Nakal! Bisa-bisanya ngomong begitu di saat seperti ini." William kembali mengecup kening Cinta.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, aku udah cita-cita mau punya anak banyak dan Mas harus penuhi keinginanku."
"Oke, mau berapa banyak?" kali ini William merubah posisi dengan memeluk istrinya dari belakang.
"Empat," jawab Cinta.
"Apa? sebanyak itu? aku pikir cuma dua atau tiga," kekeh William.
"Aku mau empat pokoknya. Kalau bisa dua anak perempuan dan dua laki-laki. Biar ramai."
"Wah, ini melanggar aturan pemerintah Sayang. Aku juga harus bekerja lebih keras lagi demi bisa menghasilkan banyak uang untuk mencukupi kebutuhan kalian semua," canda William.
__ADS_1
Keduanya kembali tertawa. William menarik istrinya ke dalam dekapannya dan mereka tidur dengan saling berpelukan, sementara Jayden meringkuk dengan selimut biru yang membungkus tubuhnya di box bayi
Bersambung ....