
William menghembuskan napas berat sebelum dia memasuki sebuah ruangan, tempat di mana wanita yang sangat dicintainya itu berbaring lemah. Satu buket besar bunga mawar ia taruh di nakas.
"Sayang, aku datang. Aku akan membersihkan tubuhmu dulu ya," kata William.
Pria itu kembali ke ke ruangan dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Semenjak dokter mengatakan bahwa istrinya tidak sadarkan diri usai perjuangan panjang melahirkan buah cinta mereka tiga hari lalu, William tak pernah membiarkan suster mengurusi Cinta. Semua kebutuhan Cinta selalu berusaha dia penuhi sendiri, termasuk urusan membersihkan badan. William hampir tak pernah meninggalkan istrinya, jikapun dia harus pergi pastilah untuk urusan mendesak atau sekedar menemui buah hatinya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki yang lahir dengan berat tiga koma lima kilogram itu sangat kuat hingga dokter telah mengizinkan pihak keluarga untuk membawanya pulang.
"Sayang, sekarang kamu sudah cantik lagi, sudah wangi. Ayo bangun? masa istirahatmu telah berakhir. Apa kamu nggak bosan terus berbaring di sini?"
Hening kembali menyapa. Hanya deru napas dan peralatan medis yang berbunyi.
William mendaratkan bokongnya di kursi. Ia sentuh tangan dingin Cinta lalu mengecupnya berulang kali. "Tidurmu sudah cukup? Apa kamu sedang membalasku sekarang? Atau kamu sedang ingin mengujiku? Jika iya, maka aku akui aku telah kalah. Aku minta maaf, tapi tolong ... setidaknya kamu harus memikirkan nasib bayi kita. Dia menangis, kau tahu! Dia ingin menyusu padamu, dan bukan pada botol yang diberikan mama yang lain. Aku mohon, sudahi semua ini Sayang. Cukupkanlah sampai di sini. Aku mengaku kalah."
Pria itu menundukkan wajahnya agar ia leluasa menjangkau kening Cinta untuk dia kecup. William sama sekali tak memikirkan hal lain selain kesembuhan sang istri, hingga dia melupakan dirinya sendiri. Kondisinya sangat memprihatikan. Penampilannya kacau, pipinya menjadi lebih tirus karena dia hampir tidak pernah tidur demi menjaga Cinta. Seandainya saja dia mempunyai pilihan, mungkin dia lebih memilih menggantikan posisi Cinta saat ini, William pikir bayi mereka akan jauh lebih membutuhkan ibunya.
Namun, semua yang terjadi tentu saja tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Setiap malam, tak pernah lepas William meminta agar Tuhan mengembalikan Cinta ke tengah-tengah keluarganya. Ia tak sanggup jika harus hidup seperti ini. Dia baru saja mendapatkan cinta istrinya, mereka baru saja memulai kembali kisah cinta yang sempat kandas. William benci menghadapi kenyataan yang membuatnya selemah ini.
.
.
Matahari baru naik sepenggalah, udara masih terasa sejuk dengan sinar matahari yang nyak begitu menyengat kulit. Raisa baru saja selesai menidurkan bayi mungil yang juga dia anggap seperti anak kandung sendiri. Meski bukan terlahir dari rahimnya, juga ini merupakan pengalaman pertama bagi Raisa mengurus bayi, tapi sisi keibuannya muncul begitu saja. Wanita itu mudah mempelajari cara mengurus bayi.
"Rai, gimana Jayden, Sayang?" Hanum muncul di ambang pintu kamar menantunya.
"Baru tidur Ma, tapi seperti yang sering aku bilang. Baby boy punya ikatan batin yang kuat dengan mamanya. Dia masih belum bisa tidur dengan pulas seperti bayi lainnya."
__ADS_1
"Ya kamu benar, tapi kita nggak bisa berbuat banyak. Mama terus berdoa karena Mama yakin Cinta akan sadar dalam waktu dekat."
"Aku harap begitu."
"Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Mama nggak mau kamu kecapekan terus jatuh sakit. Kita harus saling menjaga dan menguatkan saat ini."
Raisa memeluk mertuanya. "Aku sungguh kasihan sama dia Ma. Akan lebih baik jika Kak Cinta ada di sisinya." tangis wanita itu mulai berjatuhan.
"Jangan nangis, Mama ngerti perasaan kamu. Sekarang sebaiknya kamu istirahat biar bisa ngurus Jayden lagi."
Raisa mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya usai Hanum meninggalkan kamar itu. Raisa menerawang langit-langit kamarnya, bayangan Cinta yang tergolek lemah di bed rumah sakit selalu muncul dalam benaknya. Selalu ada harga di setiap pencapaian yang diraih seseorang. Cinta bertaruh nyawa demi melahirkan buah hatinya ke dunia, dan Raisa tahu betapa berat perjuangan seorang wanita di ambang kematian. Meski dia tak akan pernah bisa merasakan bagaimana rasanya mengeluarkan bayi dari dalam perutnya.
Sementara itu di ruang keluarga, semua orang berkumpul kecuali Raisa.
"Apa nggak sebaiknya Cinta kita bawa ke luar negeri aja Tan? keadaannya masih sama sejak tiga hari yang lalu. Papi rasa akan lebih baik jika dia dibawa ke Singapura," usul Arya.
"William nggak mungkin setuju Pi, resiko membawa pasien dalam kondisi seperti itu ke luar negeri juga tidaklah mudah. Ada banyak prosedur yang harus dijalani juga."
"Rania bilang dia sudah menghubungi rekannya sesama dokter yang selama ini bekerja untuk rumah sakit di China. Dokter itu baru sekali mengunjungi Cinta dan dia bilang Cinta akan bisa pulih."
"Huh, tidak bisa dipercaya. Nyatanya sampai sekarang Cinta masih belum sadar juga."
"Papi terkadang kelewat realistis, semua juga butuh proses Pi. Yang terpenting doa dan usaha kita tidak perlu putus."
Hanum, Ratih dan Willmar sedari tadi diam mendengarkan obrolan Arya dan Sultan yang mendominasi.
Cukup lama mereka berbincang di sana, hingga tiba-tiba Raisa datang dengan pakaian rapi sambil menggendong Jayden. William memberi nama Jayden Lee Pradipta pada putra pertamanya.
__ADS_1
"Lho, kamu mau ke mana Sayang? kenapa baby boy juga dibawa?" tanya Willmar.
"Will, aku ada ide," cetus Raisa.
"Ide apa?" semua orang serentak bertanya.
"Aku baru saja membaca artikel yang menceritakan kisah mengharukan seorang bayi dan ibunya. Kasusnya hampir sama seperti Kak Cinta dan baby boy, hanya bedanya wanita dalam artikel itu mengalami kecelakaan ketika pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan."
Dengan penuh semangat Raisa terus melanjutkan ceritanya. Keluarga besar itu menyimak dengan baik, hingga akhirnya keputusan pun dibuat. Mereka membawa Jayden ke rumah sakit untuk menemui ibunya dengan harapan Cinta akan sadar.
Willmar mengemudikan kereta besinya dengan kecepatan tinggi akan tetapi penuh kehati-hatian. Rasanya ia sudah tak sabar untuk melakukan saran yang dikatakan Raisa tadi.
Sesampainya di rumah sakit, mereka pun gegas menuju ruang rawat Cinta. Berhubung tidak semua orang diperbolehkan masuk, maka Sultan lebih dulu memanggil putra sulungnya dan menceritakan perihal maksud kedatangan mereka ke sana. William tak keberatan, dia justru menjadi yang paling antusias di antara semua orang.
"Masuklah, bicaralah dengan tulus dari hatimu yang paling dalam, berusahalah agar Jayden bisa berinteraksi dengan ibunya," kata Hanum setelah menyerahkan bayi mungil itu ke dalam dekapan ayahnya.
William mengangguk haru. "Tolong doakan aku Ma, doakan agar ibu dari anakku mau bangun setelah mendengar suara bayi kami," pinta William, tulus.
"Tentu Sayang, kami semua akan mendoakanmu. Ini saatnya kamu berjuang."
Setelah meminta doa semua orang, William pun kembali ke dalam dengan Jayden dalam gendongannya. Tubuhnya bergetar saat bayinya mulai menangis. Entah, William rasanya pun ikut hancur mendengar tangis anaknya. Jayden menangis, seolah dia tengah membangunkan Cinta dari tidur panjangnya.
"Sayang, putra kesayangan kita datang. Ku mohon bangunlah, apa kamu sama sekali tidak ingin melihat wajahnya? dia sangat tampan sepertiku, tapi bentuk alis, bibir dan matanya menurun darimu. Lihat ke mari Sayang," monolog pria itu seraya menurunkan gendongannya seolah Cinta bisa melihat bayi yang telah dia lahirkan dengan susah payah.
"Bangun Sayang. Aku nggak bisa mengurus baby boy sendirian. Dia butuh kamu Sayang." butir bening mulai berjatuhan di wajah William, mendengar tangis Jayden saja sudah membuatnya trenyuh.
"Hm, Sayang. Aku lupa belum memberitahumu ya? Aku belum sempat mengatakan hasil pencarian nama untuk bayi kita karena masalah yang terjadi sebelum ini, dan sekarang akan aku beritahu namanya padamu. Aku memberinya nama Jayden Lee Pradipta. Bagaimana, bagus kan?"
__ADS_1
Sambil menahan tangis, William dengan perlahan mencoba memangku Jayden dan menyatukan tangan mungil itu dengan tangan ibunya. Saat itulah tangis Jayden berangsur mereda, tapi William melihat istrinya menangis dalam tidurnya. Untuk kali ini saja, William meminta keajaiban.
Bersambung ....