
Cinta langsung turun dari mobil begitu William selesai memarkirkan mobilnya di garasi. Berulang kali William memanggilnya, tapi hal itu tak menghentikan langkahnya, Cinta menulikan pendengarannya. Masuk ke ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan gaun malam dan gegas menaiki kasurnya.
"Cinta," panggil lelaki itu penuh kelembutan. Cinta merasa menjadi wanita yang paling bahagia seandainya saja William hanya bertutur kata lembut padanya, tapi kenyataannya lelaki itu berlemah lembut pada wanita lain.
Cinta bergeming, memunggungi suaminya tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun.
"Cinta, dengarkan saya bicara."
Cinta tetap pada pendiriannya. Sudah cukup selama ini dia bersabar, mulai hari ini, tidak lagi.
"Cinta, please ... Saya mau ngomong." William masih terus berusaha membujuk Cinta. Tangan lelaki itu kini mengusap pelan kepala Cinta, berharap gadis itu luluh.
"Cinta. Please ... Dengerin saya ngomong dulu."
Habis sudah kesabaran Cinta. Gadis itu pun akhirnya bangkit, duduk di kasur saling berhadapan dengan suaminya.
"Mau ngomong apa Mas? Maaf? Simpan saja, saya nggak butuh kata itu."
Deg.
William merasakan jantungnya serasa ditusuk. Kata-kata Cinta begitu menohok hingga lelaki itu terdiam beberapa saat.
"Sekarang Mas minta maaf, sudah saya maafkan, tapi besoknya lagi Mas kembali mengulanginya."
"Kamu salah paham Cin," sanggah William.
"Saya nggak bodoh! Mata saya masih bisa melihat dengan jelas, saya tahu hubungan apa yang ada di antara kalian berdua. Lalu Mas anggap apa saya selama ini? Mas yang memintaku untuk menikah denganmu, dan Mas juga yang nyakitin perasaan saya."
"Cin, saya ..."
"Sudah cukup!" Cinta beringsut dari kasurnya. Membawa bantal dan juga guling.
"Mau ke mana?" William mencekal tangan istrinya.
"Mungkin sebaiknya mulai sekarang kita pisah ranjang dulu. Saya akan merenung sebelum mengambil keputusan. Ini masih terlalu dini jika saya meminta perpisahan."
Deg.
Tubuh William menegang mendengar penuturan Cinta. Lelaki itu hanyut dalam pemikirannya sendiri hingga tak menyadari jika Cinta telah pergi dari kamar itu.
Lama William berpikir. Semua yang diucapkan Cinta memang benar. Apa yang bisa diharapkan dari hubungan ini sementara cinta tak ada di antara mereka. Namun, entah mengapa William tak rela jika harus melepaskan Cinta.
Di kamar berbeda. Cinta menangis sejadi-jadinya. Dua bulan mereka menikah, sakit rasanya berada dalam situasi seperti ini. Melihat cara William memperlakukan Raisa, cara lelaki itu menatapnya, Cinta tahu kalau ada cinta dari hati suaminya untuk gadis itu.
Setiap malam sebelum tidur, Cinta selalu berpikir. Rumah tangga macam apa yang sedang dijalaninya saat ini. Terlalu dini untuk membuat kesimpulan, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk bersabar. Lalu kejadian tadi siang sungguh mematahkan impiannya, pun ia masih mencoba bersabar.
Menjadikan Tania sebagai pertimbangan. Tidak mungkin dia melemparkan kotoran di muka ibunya. Apa kata orang saat mengetahui rumah tangganya yang baru seumur jagung harus kandas? Orang-orang pasti akan mencemooh dan menggosipkan dirinya.
.
__ADS_1
.
Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa Cinta telah melewatkan hari-harinya menjadi istri William. Tiga bulan bukan waktu yang singkat.
Semenjak kejadian itu, Cinta selalu berusaha menjaga jarak dengan suaminya. Entah itu di kantor ataupun di rumah. Gadis itu tidak akan mengucapkan sesuatu jika tidak untuk hal yang penting. Namun, dia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Hal itu jugalah yang justru membuat Cinta makin sakit hati, William tak berusaha membujuk atau memberikan penjelasan. Makin menguatkan praduganya kalau suaminya memang mencintai Raisa.
Sore ini cuaca terasa lebih panas dari biasanya. Jam kerja telah usai. Hampir semua orang menampilkan raut wajah sumringahnya karena terbebas dari jam kerja tambahan.
"Hai Baby! Pulang bareng yuk?"
Cinta menoleh saat mendengar suara yang sangat dikenalinya. "Lho, kamu ngapain di sini?"
"Sengaja mau jemput kamu pulang," kekeh Azka.
"Nggak lucu ya bercandanya!" Sinis Cinta.
"Ya udah sih, begitu aja marah. Tadi habis rapat kan sama bos kamu, kamunya aja yang sekarang jarang aktif. Kalau dulu ke mana-mana Willi sama kamu, sekarang malah Daniel yang suka ngintilin dia."
"Aku sibuk, ada banyak kerjaan yang harus aku urus. Mending aku kerja di kantor, toh kebetulan Daniel juga bisa diandalkan," jelas Cinta.
"Jadi gimana ini? Mau pulang bareng nggak?"
"Hm, gimana ya?" Cinta terlihat berpikir keras.
"Bukan itu masalahnya," sanggah Cinta.
"Lalu soal apa?"
"Aku sudah menikah." Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibir Cinta. Dia tak percaya pertemanan seorang laki-laki dan perempuan tanpa melibatkan perasaan. Akan lebih baik dia menjaga jarak agar tak menimbulkan kesalahpahaman yang bisa memperkeruh keadaan.
Azka terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Maaf ya, aku tahu kita hanya berteman, tapi aku tidak mau menimbulkan kesalahpahaman. Apa yang akan orang pikirkan jika mereka melihat wanita bersuami pergi dengan lelaki lain, sekalipun itu temannya. Kau pasti juga kan sudah punya pasangan," oceh Cinta.
"Aku belum menikah," cetus Azka.
"Lalu?"
"Aku juga nggak punya pacar."
"Apa hubungannya denganku? Kenapa kau mengatakan itu padaku?"
"Agar kau tidak salah paham dan menganggapku sudah memiliki ikatan. Aku juga sudah tahu kalau kau sudah menikah."
Ucapan terakhir Azka membuat Cinta terkejut bukan main.
"Dari mana kau tahu?"
__ADS_1
"Bukan perkara sulit. Aku juga tahu dengan siapa kau menikah."
Cinta terdiam. Otaknya terus bekerja keras memikirkan kemungkinan dari mana Azka mengetahui perihal pernikahannya.
"Bosmu itu, satu angkatan denganku sewaktu sekolah. Berlanjut sampai di bangku universitas, hanya saja kita beda kelas."
Cinta mengernyit heran. "Kok aku baru tahu sih?"
"Itu nggak penting, yang penting sekarang adalah dirimu. Pikirkan masa depanmu, jangan bertahan dalam sebuah hubungan jika kau merasa tidak diharapkan."
Cinta membeku. Matanya menatap lurus tepat pada manik mata lelaki di hadapannya. Berita tentang pernikahannya mungkin akan tersiar dan orang akan dengan mudah tahu, tapi mengenai masalah pribadi rumah tangganya, dia bahkan tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Jadi bagaimana Azka bisa tahu?
"Kamu ..."
"Aku pulang sekarang. Satu hal yang harus kamu ingat! Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Kau masih menyimpan nomorku kan?" Azka mengedipkan sebelah matanya. Memberikan kiss jauh untuk Cinta sebelum dia meninggalkan gedung itu.
Tanpa mereka berdua sadari. Di sisi lain ternyata ada orang yang mendengar percakapan keduanya. Ya, orang itu adalah William.
William berniat ke luar dari ruang kerjanya dan mengajak Cinta pulang bersama saat dia mendengar percakapan itu. Dia pun mengurungkan niatnya dan memilih diam di balik pintu hingga semua pembicaraan Cinta dan Azka dapat dia dengar dengan jelas.
"Siapa sebenarnya Azka? Kenapa aku marasa dia berusaha mendekati Cinta? Sampai sejauh itu dia mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tanggaku." William mengusap wajahnya kasar.
William mengejar Cinta yang sudah lebih dulu berjalan menuju lift.
"Cinta!" William berhasil mencekal lengan istrinya.
"Ya Pak, ada apa?" Tanyanya acuh.
"Kita pulang bareng?"
"Nggak usah Pak, kebetulan saya mau mampir."
William mulai kesal. Wajahnya memerah menahan amarah. Cukup lama Cinta mengabaikannya, dan dia sudah tak tahan lagi.
"Kamu selalu mencari alasan ketika saya mengajakmu pulang, apa karena kamu mau merasakan bagaimana rasanya dijemput laki-laki lain!" Tuding William.
"Apa maksudmu?"
"Azka. Kamu pikir saya nggak tahu. Kamu selalu menolak satu mobil denganku karena ingin berduaan dengannya kan?"
Cinta tersenyum masam. William benar-benar sudah keterlaluan. "Saya memang bukan berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan, tapi saya selalu menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan saya."
Cinta berlalu dari sana. Baru tiga langkah, dan dia menghentikan kakinya. "Setidaknya saya memiliki perasaan, jangan pernah samakan saya denganmu yang mudah mengobral ucapan manis pada wanita."
William meninju tembok. Amarah menguasainya. Dia sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Bagaimana bisa dia marah dan menuduh Cinta tanpa alasan sedangkan baru saja dia mendengar dengan jelas pembicaraan Cinta dan Azka.
"Bodoh! Ada apa denganmu Will? Sial!" William terus memaki dirinya.
Bersambung ....
__ADS_1