Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Dua Adik Yang Menggemaskan


__ADS_3

Tepat pukul sembilan, Raisa menaiki kasurnya dengan di bantu suaminya. Sebagai suami yang baik pun Willmar selalu sigap dan memperlakukan Raisa sebaik yang dia mampu. Meletakkan kepala Raisa dengan pelan di bantal, pria itu meraih sebuah botol di nakas.


"Kaki kamu bengkak banget Yang." Willmar membuka botol tersebut dan mengeluarkan isinya untuk memijat kaki Raisa.


"Kata dokter nggak apa-apa Mas, ini masih normal."


"Sakit nggak?" Willmar sedikit menekan bagian betis Raisa.


"Sama sekali enggak kok."


"Yakin kamu?" tanya Willmar.


"Iya. Kata Rania wajar kok kaki ibu hamil itu bengkak. Penyebab kaki bengkak itu ada dua hal Mas, satunya karena faktor hormon dan satunya lagi karena adanya gejala penyakit. Kata Rania bengkak di kakiku masih normal."


"Syukurlah kalau gitu. Kamu kalau misalnya ada yang sakit atau ada yang mau dimakan, langsung ngomong aja sama aku, jangan apa-apa dipendam sendiri, oke?"


"Iya."


"Aku perhatikan porsi makanmu juga nggak bertambah."


"Ish, kamu itu semenjak aku hamil jadi makin cerewet tahu nggak sih, Mas?" Raisa memajukan bibirnya, sebal.


"Aku kan cuma nanya."


"Ya aku akan makan kalau misalnya aku lapar Mas, dan aku juga akan berhenti kalau udah kenyang. Aku bukan anak kecil lagi Sayang, jadi jangan terlalu mencemaskan aku, oke?"


Willmar mengangguk, tangannya masih terus memberikan pijatan lembut di kaki Raisa.


"Udahan dulu Mas."


"Kenapa?"


"Aku kebelet pipis, bantuin bangun," pinta Raisa.


Willmar menjadikan tangannya sebagai tumpuan Raisa. Perlahan wanita itu menuruni kasur hingga kakinya menapak lantai dengan sempurna. Willmar pun menuntun Raisa hingga ke kamar mandi, tapi belum sempurna langkah mereka memasuki ruangan itu tiba-tiba saja Raisa menjerit.


"Ada apa Sayang?"


"Air ketubanku pecah Mas," adu wanita itu, merasakan sesuatu mengalir di pangkal pahanya.


"Astaga! Kan jadwal operasi sesar kamu masih lima hari lagi," jawab Willmar panik.


"Ya nggak tahu, namanya juga kuasa Tuhan, kalau bayinya emang udah nggak sabar ingin keluar, gimana?"


"Astaga! gimana ini? ya Tuhan ..." Willmar yang panik malah sibuk mondar mandir dan tak mempedulikan Raisa.


"Mas, ih! bukannya bantuin aku juga ... malah sibuk sendiri," omel Raisa.


"Eh, iya Sayang. Hampir lupa. Kamu duduk dulu, aku panggil mama."


Willmar kecewa karena tak mendapati orang tuanya ada di kamar. Ia langsung menuju kamar Jayden, dan benar saja, Hanum sedang berbincang dengan Sultan sembari mengusap kepala Jayden.


"Mama, Pa," panggil Willmar.


"Astaga, Dek! nggak kira-kira kamu ya bikin kaget Mama tahu nggak sih! ketuk pintu dulu, bisa kan?" Hanum dan Sultan terperanjat dan langsung bangun dari kasur, beruntung Jayden tida terganggu dengan kegaduhan itu sama sekali.


"Bukan saatnya berdebat Ma, please ... Raisa mau melahirkan." Willmar mengambil langkah panjang mendekati kedua orang tuanya yang masih duduk di bibir ranjang.


"Melahirkan? dia kan baru mau sesar lima hari lagi Dek, jangan ngelantur kamu."


"Seriusan Ma, air ketubannya udah pecah," lapor Willmar.


"Astaga. Ya udah ayo, kita ke rumah sakit sekarang. Papa hubungi pihak rumah sakit untuk bersiap-siap, sekarang juga kita ke sana," kata Hanum. Kini wanita itu yang panik.


"Ya, sekalian Papa siapin mobil." Sultan berlari keluar dengan ponsel menempel di daun telinganya.


"Kamu bawa Raisa dulu ke mobil, Mama mau kasih tahu kakak kamu dulu." tanpa menunggu jawaban putra bungsunya, Hanum gegas berlari ke kamar William.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" tanya Cinta pada ibu mertuanya.


"Kamu jagain Jayden ya, aku sama Willi mau ke rumah sakit."


"Memang mau apa?"


"Raisa mau melahirkan," jawab Hanum.


"Apa! bukannya jadwal operasi sesar dia masih lama Ma?"


"Ya Sayang, tapi kata Willmar air ketuban Raisa udah pecah."


"Iya Ma." Cinta beralih menatap suaminya. "Jangan kelamaan Mas, kasihan Raisa."


"Iya Yang." pria itu setengah berlari, mengecup kening Cinta sebelum meninggalkan rumah.


"Aku pergi dulu ya, kamu tidur sama Jayden aja dulu."


"Iya Mas. Hati-hati."


Wii menggenggam tangan ibunya dan buru-buru masuk ke mobil yang lain karena mobil yang dikemudikan Sultan sudah lebih dulu meluncur ke rumah sakit membawa Raisa.


Suasana begitu tegang. Seluruh keluarga berkumpul di depan ruang operasi, terkecuali Willmar yang memang telah bertekad untuk mendampingi Raisa ketika berjuang melahirkan buah cinta mereka.


.


.


Matahari masih mengintip malu-malu. Udara dingin yang membelai kulit Cinta terasa mengusik tidur wanita cantik itu. Merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya, membuat pandangan Cinta turun ke bawah. Sepersekian detik bibir wanita itu melengkung, Cinta beralih menatap wajah pria yang kini tengah mengurungnya dalam sebuah pelukan.


"Mau ke mana?" tanya William dengan suara serak tanpa membuka mata.


"Udah siang Mas. Aku musti beberes dulu, mau masak juga buat Jayden."


"Udah aku masakin tadi."


"Tadi? masak apa? kapan?" tanya Cinta beruntun.


Cinta menengok jam dinding, baru pukul setengah enam pagi, dan dia terlambat satu jam dari jam biasanya dia bangun. Kapan suaminya itu pulang dan memasak, pikir Cinta.


"Aku pulang jam empat. Aku memasak itu sebelum tidur tadi," kata William, masih dengan mata terpejam.


"Ya sudah, lepaskan dulu."


"Apa lagi alasanmu kali ini?"


"Aku nggak mencari alasan Mas, aku mau beberes," sergah Cinta.


"Yang selama itu gagal. Giliran Jayden anteng, tapi papa sepaket sama mama kedua juga adik-adiknya yang menggagalkan rencana indah kita Yang," racau William.


"Jangan begitu, biar begitu dia itu adik kembarmu. Mereka sangat menyayangi Jayden sepenuh hati, jadi jangan pernah berkata buruk tentang mereka."


"Kamu cerewet."


"Dari dulu, Mas saja yang baru menyadarinya."


"Jangan banyak bicara, aku sakit jadi cepat tolong obati aku?"


"Mas pusing? atau butuh dipijat lagi? biarkan aku bangun untuk mengambil obatnya."


"Mana bisa, senjataku yang sakit dan itu gara-gara kamu. Sekarang cepat obati aku!"


Cinta menghela napas panjang, ia tahu jika suaminya sudah berkata demikian maka tak akan ada kesempatan lagi baginya untuk menghindar. Maka, pada akhirnya Cinta memberikan hak pria itu.


Begitu penyelesaian kedua William berakhir, Cinta buru-buru masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Jayden benar-benar anak yang manis, dia terus tidur dan sama sekali tak terusik padahal ruang tempat memadu kasih orang tuanya berada tepat di samping kamar itu. Selepas mandi Cinta mengajak Jayden bermain sebentar sebelum memandikan bocah itu. William masih memakai kamar mandi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan diri usai pergumulan panasnya dengan Cinta beberapa waktu lalu.


Selang satu jam kemudian.

__ADS_1


"Akhirnya pengantin baru keluar juga," sindir Arya. Pria tua itu mencebik sambil melipat tangan di depan dada.


"Maaf Opa," lirih Cinta seraya menunduk malu.


"Ngapain kamu minta maaf, kita nggak salah Yang. Opa sama Oma kan bisa pergi ke rumah sakit dulu, ada banyak mobil, ada supir. Ngapain nungguin pengantin baru yang belum jelas keluarnya kapan," timpal William.


"Mas." Cinta menggeleng, tak suka dengan sikap suaminya, meski pria itu tak sungguh-sungguh saat mengucapkannya.


"Emang benar kan? Opa sama Oma nggak ada niat buat bikin om buat aku kan?" tawa William makin melebar.


"Hais! anak ini," desis Arya.


"Kenapa marah pada cucuku, bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk menunggu mereka?" Ratih membela cucu kesayangannya. Jika Willmar menjadi kesayangan Arya, maka William menjadi cucu kesayangan wanita itu.


"Kamu juga mau ikut-ikutan menyerangku?" decih Arya, melirik tajam istrinya.


"Biang masalah," umpat Ratih, beranjak dari sofa dan mengambil tasnya. "Jangan berani menggendong super tampanku si Jayden, atau aku akan menyuruhmu tidur dengan cucu kesayanganmu itu, si Willmar," ancamnya.


"Kenapa kamu malah mengancamku?"


"Jangan berani mengusik cucu kesayanganku atau kau akan rasakan sendiri akibatnya."


Biarpun usia pasangan suami istri itu kian merambat senja, tapi Ratih tetap dengan auranya sebagai seorang istri bekas veteran tentara. Tegas dan berkarisma. Pepatah mengatakan setinggi apapun pangkat seorang pria di luaran sana, dia tetaplah menjadi makhluk yang akan tunduk pada wanita bergelar istri.


Arya diam, kalah telak. Pria tua itu harus lebih waspada lagi jika ingin berurusan dengan William.


"Mau tetap di situ?" Ratih menaikkan volume suaranya.


Cinta memukul pelan lengan suaminya saat pria itu mentertawakan Arya. Perjalanan menuju rumah sakit tak semenyeramkan yang dibayangkan oleh Cinta karena pada akhirnya suasana dalam mobil itu amat meriah dengan obrolan ringan mereka. Seolah tak terjadi perdebatan sebelumnya, William bahkan dengan santainya berbincang dengan kakeknya.


Mereka harus menaiki lift untuk sampai di lantai tujuh bangunan megah itu. Raisa menerima semua perlakuan khusus selama menjalani operasi sesar dan juga masa pemulihannya di rumah sakit tersebut karena Willmar mengcover biaya rumah sakit dan meminta perawatan nomor satu untuk wanitanya.


"Ma, aku bawakan sarapan buat kalian semua," kata Cinta begitu sampai di ruang rawat Raisa.


"Iya Sayang, terima kasih."


Sultan dan Hanum keluar untuk sarapan dan memberikan ruang pada orang tua serta kembaran Willmar untuk menjenguk dua malaikat kecil yang telah terlahir dengan selamat itu.


Ratih menggendong Jayden dan memperlihatkan kedua adik kembarnya pada bocah itu. Arya menggendong salah satu dari bayi kembar itu.


"Selamat ya Rai. Aku turut bahagia." Cinta memeluk adik iparnya. Setangkup haru yang kini merasuk ke dalam relung hati membuatnya menitikkan air mata.


"Iya Kak, terima kasih."


Dua bersaudara kembar itu juga saling berpelukan. "Udah jadi ayah, nggak boleh rese lagi," kata si sulung pada adiknya.


"Bantu aku ya Kak, ajari aku biar bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk keluargaku," kata Willmar.


"Tentu. Kita bisa belajar sama-sama."


"Siapa namanya? akan Opa ajari Jayden dan si kembar ilmu bela diri nanti, biar mereka bisa menjaga keluarga besar kita nantinya," tutur Arya.


"Iya, siapa namanya? aku juga penasaran." William ikut menimpali.


"Aku kasih nama si kakak Aaron Lee Pradipta," ucap Willmar. "Maaf Kak, aku membawa nama belakang Jayden agar mereka ingat mereka punya kakak laki-laki yang sangat menyayangi mereka," imbuh pria itu.


"Lalu adiknya?" tanya Arya tak sabar.


"Adiknya aku beri nama Aarick Lee Pradipta," jawab Willmar, mantap.


"Nama yang bagus," sahut Cinta.


"Iya Kak, maaf membawa nama Lee di belakang nama mereka, Raisa yang minta," adu Willmar.


"Nggak masalah, aku harap mereka bisa tumbuh bersama dengan baik dan Jayden bisa menjalankan perannya sebagai kakak yang baik."


"Ya ampun, Sayang. Jangan di tusuk-tusuk begitu pipi adikmu, dia masih bayi merah, Nak. Kau bisa melukainya." Omelan Arya mengalihkan perhatian semua orang.

__ADS_1


Jayden nampak asyik menekan pipi si mungil Aaron dengan jari telunjuknya. Bocah kecil itu nampak bahagia memiliki keluarga baru. Semua orang tertawa renyah. Akhirnya kebahagiaan mereka semakin bertambah lengkap dengan hadirnya buah hati Willmar dan Raisa yang akan semakin menyemarakkan suasana rumah keluarga Pradipta.


Bersambung ....


__ADS_2