
Pun sama seperti Dion, Sultan juga masih terpaku berdiri di tempatnya, bibirnya bergetar hendak berucap namun karena kejadian yang membuatnya terguncang itu sampai membuatnya tak kuasa untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
"Pergilah ke ruangan sebelah, barangkali saja Hanum ada di sana." Raka menepuk pundak Sultan yang sejak tadi masih berdiam diri.
"Ah, ya." Sultan terkesiap.
Setelah tersadar dari lamunannya, Sultan pun segera mengayunkan kakinya menuju sebuah ruangan kosong yang masih belum sempat dia periksa, Raka mengekor di belakang pria itu. Dengan tangan bergetar, Sultan mencoba menekan handle pintu yang memang tak terkunci.
Dan begitu pintu terbuka lebar, dia segera berlari ke sudut ruangan, tempat di mana istrinya meringkuk dengan tubuh menggigil. Sultan merasakan jantungnya seolah di tikam sebuah belati, rasanya sangat menyakitkan saat melihat keadaan istrinya yang begitu memprihatinkan.
"Sayang," panggilnya dengan lembut begitu tidak ada lagi jarak di antara keduanya.
Hanum yang sejak tadi menunduk pun mendongak, di tatapnya wajah pria yang begitu lama dia nantikan kedatangannya. Air matanya kembali lolos kemudian dia menangis tersedu sedu dalam pelukan suaminya.
Dasar bodoh, seharusnya sebelum berpelukan kau melepaskan dulu tali yang menjerat tangan dan kaki istrimu. Ada-ada saja ... Raka menggeleng pelan.
Berjalan mendekati sepasang suami istri yang sedang saling melepas kerinduan di antara mereka, Raka berjongkok kemudian perlahan tangannya mulai bergerak untuk membuka kaitan yang membelenggu kaki Hanum.
"Apa yang kau lakukan? kenapa menyentuh kaki istriku?" pekik Sultan begitu menyadari Raka sudah berada di sampingnya.
"Dasar sinting! kau tidak lihat aku sedang membuka tali yang mengikat kaki istrimu? jangan berteriak pada orang yang sudah membantumu. Dasar!" Raka mendengus kesal.
"Maaf, aku pikir kau mau apa?" suara Sultan sudah terdengar melunak.
"Memang apa yang kau pikirkan hah? setidaknya sebelum berpelukan bukankah seharusnya kau melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki istrimu terlebih dulu? agar dia bisa membalas pelukanmu dengan erat. Kau ini bodoh atau bagaimana? payah! dasar Misngad!" Raka terus saja memaki temannya.
"Apa itu Misngad?" tanya Sultan yang masih berusaha membuka tali yang mengikat tangan istrinya.
"Nama orang," jawab Raka acuh.
"Aku belum pernah mendengarnya, dia berasal dari mana? memang siapa dia?" tanya Sultan masih penasaran.
"Misngad itu nama orang gila yang tak pakai baju dan selalu memanggil nama mendiang istrinya yang telah mati. Dia selalu stand by di perempatan jalan sebelum masuk kawasan perumahanku," terang Raka.
"Sialan!" dengus Sultan.
"Apa ada yang terluka? ada yang sakit?" tanya Sultan begitu dia berhasil membuka ikatan yang menjerat tangan istrinya.
Hanum yang masih menangis di dada Sultan pun menggeleng, keduanya masih belum ingin melepaskan satu sama lain. Sultan membiarkan istrinya menangis, setidaknya itu akan membuat gadis itu merasa sedikit lega. Tangannya terulur ke bagian tubuh Hanum untuk mengecek siapa tahu saja ada salah satu bagian tubuh istrinya yang terluka. Dan secepat kilat Sultan menjauhkan dirinya dari jangkauan Hanum ketika dia merasakan ada sesuatu yang salah.
"Ada apa?" tanya Hanum yang begitu terkejut.
"Bajumu basah?" sekali lagi Sultan menyentuh kain yang menutupi tubuh Hanum untuk memastikan kalau baju yang dipakai istrinya memang basah.
Hanum mengangguk pelan.
"Bagiamana bisa?" lagi, Sultan bertanya.
"Perempuan itu menyiramkan sebotol air padaku tadi pagi," cicit Hanum.
__ADS_1
Astaga, selain jahat Mauryn juga kejam. Tega sekali dia menyakiti seorang wanita hamil dan memperlakukannya dengan sangat buruk. Sebagai sesama perempuan apa dia tidak punya sedikit pun perasaan kasihan? di mana hati nuraninya.
Sultan membenamkan kepala Hanum di dadanya, dan tak butuh waktu lama untuk dia kembali mendengar tangisan tertahan dari bibir istrinya.
"Jangan di tahan, keluarkan saja semuanya. Menangis lah yang keras," kata Sultan, dia terus menepuk lembut punggung Hanum dan menghujani puncak kepala gadis itu dengan kecupan. "Aku sudah ada di sini sekarang jadi kau tidak perlu takut lagi. Maafkan aku yang terlambat menemukan keberadaanmu."
Raka yang melihat keduanya sedemikian rupa saling berbagi rasa, dirinya tertegun sambil terus menatap dua orang yang masih berpelukan. Rasa haru yang begitu menyesakkan dada membuatnya pun tak kuasa menahan tangis. Dia yang begitu mengerti perasaan Sultan pun membiarkan mereka menuntaskan perasaannya untuk beberapa saat lamanya.
Beberapa menit kemudian.
"Kalian bisa melanjutkannya lagi nanti, sekarang ayo cepatlah kita pergi dari tempat terkutuk ini,"
Ucapan Raka membuat keduanya mulai mengendurkan pelukannya, mereka pun saling melepaskan diri.
Sultan membuka jaket yang sejak tadi membalut tubuhnya untuk kemudian dia pakaikan pada tubuh Hanum.
"Secepatnya kita harus ke rumah sakit, sepertinya kondisi istrimu sangat lemah," ucap Raka menganjurkan.
"Iya, mana Adam dan Dion?" tanya Sultan sambil mengangkat tubuh lemah Hanum.
Di ruangan sebelahnya.
Mauryn yang menyadari kedatangan orang yang bisa membahayakan dirinya pun segera berlari menuju tempat di mana dia menyekap Hanum. Setelah cukup lama berdiam diri karena begitu terkejut dan tak menyangka kalau Sultan akan datang ke tempat ini, dia yang teringat akan sesuatu pun memutuskan untuk meraih pisau lipat yang tadi di letakkan oleh Reno di meja kecil yang ada di belakangnya sebelum berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Dion yang melihat gelagat tidak baik pun memutuskan untuk mengikuti perempuan itu, membiarkan Adam yang masih belum selesai meluapkan emosinya dengan terus menghajar Reno.
Baru saja Mauryn keluar dari ruangan tersebut namun kakinya terhenti begitu dia berpapasan dengan Sultan yang sedang menggendong wanita yang begitu dia benci.
"Bagaimana aku bisa sampai ke sini itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku sudah menemukan istriku, aku pastikan kamu akan di hukum dengan berat. Bersiaplah untuk membusuk di penjara!" balas Sultan.
"Kurang ajar!" Mauryn berteriak. "Aku tidak terima! aku tidak akan tinggal diam melihat perempuan kampung itu hidup bahagia bersamamu. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang boleh memiliki dirimu." Mauryn tersenyum licik dalam tangisnya.
Perlahan Mauryn mengeluarkan pisau yang sejak tadi dia sembunyikan, dia tertawa sambil menangis, sikapnya tak ubah seperti orang gila. Pelan tapi pasti tubuhnya mulai maju mendekati Sultan.
"Aku akan menghabisi wanita yang telah merebutmu dariku, setelahnya aku akan membunuhmu." menatap Sultan.
"Jangan gila kamu!" Sultan bergerak mundur.
Raka yang ada di samping temannya pun berniat untuk menghentikan Mauryn namun belum sempat Raka melangkah maju, Mauryn kembali berteriak.
"Tetap diam dan jangan bergerak atau aku akan langsung menusuk Hanum sekarang juga!" ancam Mauryn.
"Tenanglah Ka, jangan melakukan tindakan bodoh yang bisa memancing kemarahannya dan membahayakan kita semua." Sultan mengedipkan matanya pada temannya.
"Aku sudah tidak tahan lagi sekarang." Mauryn mulai berjalan maju lagi. "Setelah ini tidak akan ada lagi yang bisa merebutmu dari sisiku. Hanya akulah yang berhak atas diri suamimu, pergilah ke neraka." Mauryn menghunuskan pisau nya.
Sultan membalikkan badannya, berusaha melindungi istrinya dan membiarkan dirinya saja yang terluka. Dia memejamkan matanya, bersiap menerima benda tajam yang akan menembus punggungnya.
Sesaat kemudian Sultan kembali membuka matanya begitu dia merasakan tubuhnya baik-baik saja tanpa luka tusukan atau pun sejenisnya. Dan tepat ketika dia berbalik dia bisa melihat Dion tersungkur dengan pisau di perutnya yang mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
"Dion ...," Sultan dan Raka berteriak bersamaan, sementara Hanum yang melihat Dion bersimbah darah itu pun kehilangan kesadarannya. Masing dalam gendongan suaminya, tubuh Hanum lunglai, dia jatuh pingsan.
Raka segera berhambur, dia mengangkat kepala Dion dan meletakkan kepala pria itu di atas pangkuannya.
"Ada apa ini?" tanya Adam, dia segera berlari mendekat ke sana begitu mendengar teriakkan temannya memanggil nama Dion.
Adam membekap mulutnya begitu melihat keadaan Dion yang mengenaskan.
"Astaga! apa yang kalian lakukan? kenapa kalian diam saja? bagaimana bisa dia terluka?" teriak Adam, lagi.
"Jangan ceramah di saat genting seperti ini! ku mohon cepat telepon ambulans!" ujar Raka dengan nada yang tak kalah tinggi dari suara Adam.
Dengan tangan bergetar Adam merogoh ponselnya dalam kantong celananya.
"Cepat kirim ambulans kemari!" teriak Adam begitu saluran telpon telah tersambung pada sebuah rumah sakit. "Alamatnya ada di jalan ...,"
Tut ... tut ... tut ...
Adam menatap sekilas layar ponselnya.
"Bangs*t! kenapa mesti mati di saat situasi darurat seperti ini? polisi juga kenapa belum datang juga? sial!"
"Sul ... Sultan ...," terbata, Dion memanggil Sultan sambil memegangi perutnya yang terluka.
Yang di panggil pun mendekat, dia pun duduk di atas lantai tanpa memindahkan posisi Hanum sedikit pun.
"Ma ... maaf, maafkan aku. Ak ... aku minta ma ... af padamu." Dion meraih tangan Sultan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegangi perutnya.
"Jangan bicara apapun, ku mohon!" Sultan menangis melihat kondisi Dion.
"Aku ju ... juga memin ... ta maaf. Atas nama Mauryn." air mata Sultan semakin jatuh berderai melihat Dion yang tersengal masih berusaha mengucapkan beberapa kalimat.
"Lupakan semuanya, kau akan baik-baik saja. Kami akan segera membawamu ke rumah sakit." Sultan menggenggam erat tangan Dion.
Bahu Sultan berguncang, nafasnya tak beraturan seiring dengan makin derasnya air mata yang jatuh membasahi pipinya ketika dia merasakan tangan Dion melemah dan jatuh dari genggamannya.
"Jangan pergi! jangan lakukan ini aku mohon! bertahanlah ku mohon!" teriak Sultan.
Hal yang sama di rasakan oleh Raka dan Adam. Raka membuang wajahnya ke sembarang arah karena tidak kuat melihat Sultan yang terus menangis, sementara wajahnya sendiri pun sudah bengkak karena terlalu lama menangis.
Jangan tanya Adam, pria itu sama emosionalnya, tubuhnya merosot ke lantai. Berbeda dengan kedua pria yang tengah menangis di hadapannya. Adam menangis dalam diam, bulir bening yang melesat dari sudut matanya bak manik-manik yang putus talinya, terus menganak sungai seolah enggan berhenti dan terus mengalir hingga berakhir di atas lantai.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Dion, aku pastikan bukan hanya polisi saja yang akan menghukummu. Aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu, dengan tanganku sendiri." Adam mendelik pada Mauryn yang saat itu pun sedang menangis tersedu-sedu. "Untuk apa kau menangis hah? bukankah ini yang kau inginkan? kau benar-benar wanita yang menjijikkan!"
"Denyut nadinya sudah tidak ada lagi."
Ucapan yang di lontarkan Raka semakin membuat batin Sultan dan Adam teriris. Hanya terdengar suara tangis yang begitu memilukan memenuhi seluruh penjuru ruangan tersebut.
.
__ADS_1
Masih mau lanjut? jangan lupa like nya ya? jangan pelit-pelit juga kasih vote, OK? 🤭🥰🥰🙏🙏🙏