Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Gara-gara kancing baju


__ADS_3

Hanum membiarkan suaminya tetap berada dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat lamanya. Sepertinya Sultan masih belum rela menjauhkan kepalanya dari perut sang istri meskipun dia merasa sudah tidak ada lagi getaran dalam perut Hanum.


Hanum mengusap lututnya yang terasa kaku karena terlalu lama berdiri.


"Mas ...," rengeknya. "Mau sampai kapan kita akan terus seperti ini?"


"Sebentar lagi."


"Sebentar lagi ... sebentar lagi, sejak tadi kamu terus bicara seperti itu. Lagi pula aku juga sudah tidak merasakan apa-apa lagi sekarang, Mas. Mungkin bayi-bayi kita sedang istirahat," Hanum mencebik.


"Tunggu sebentar lagi, barangkali saja mereka akan menendangmu lagi," pinta Sultan.


"Aku lelah." kesal, Hanum menghentakkan kakinya ke lantai.


"Ya sudah ayo aku bantu duduk di sana." 


Sultan menyelipkan satu tangannya di leher istrinya sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menumpu kaki Hanum.


"Aku bisa jalan sendiri Mas."


Gadis itu menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya yang selalu saja berlebihan padanya.


"Tadi kau bilang lelah." menaruh tubuh Hanum di bangku panjang yang ada di sana. "Maafkan aku ya, saking senangnya aku sampai tidak memikirkan dirimu yang kelelahan karena aku terus memaksamu untuk berdiri." 


Setelah dirinya mengambil posisi tepat di samping istrinya, Sultan mengangkat kedua kaki Hanum kemudian menaruh di atas pahanya.


"Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Hanum sambil mencekal tangan suaminya.


"Mau memijat kakimu," Sultan menjawab. Tangannya mulai bergerak di atas kaki Hanum dan memberikan pijatan lembut di sana.


"Kau bisa terlambat ke kantor, nanti. Sudah sana berangkat saja!"


"Memang berapa lama waktu yang diperlukan untuk memijat kakimu? ini tidak akan lama jadi nikmati saja." kekeuh, Sultan melanjutkan aktivitasnya. 


"Tidak usah Mas. Aku harus segera membersihkan pecahan mangkuk itu, akan sangat berbahaya jika tidak segera dibersihkan."


"Aku akan menyuruh Mbak Lastri untuk membersihkannya, kamu duduk saja!" titahnya pada sang istri. "Oh ya, omong-omong kenapa mangkuknya sampai pecah?" 


"Itu ..., karena aku kaget begitu merasakan ada yang bergerak dalam perutku. Awalnya aku tidak mengerti tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin seperti inilah rasanya jika bayi dalam kandungan sedang menendang."


"Begitu ya," ucap Sultan, dia berpikir sejenak. "Lalu kapan jadwal rutin pemeriksaan kandunganmu? karena sibuk dengan masalah kemarin aku sampai lupa kapan harus membawamu ke dokter kandungan."


"Masih tiga hari lagi," terang Hanum.


"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu ya," pamit Sultan. "Hm, jangan berkeliaran kemana-mana sebelum pecahan mangkuk itu dibersihkan! aku akan turun sekalian menyuruh Mbak Lastri segera naik untuk membereskannya." Sultan mengecup kening istrinya.


"Iya," jawab Hanum, singkat.


"Jadilah istri yang baik, yang selalu menuruti semua perkataan suami. Jangan melakukan aktivitas fisik yang bisa membuatmu kelelahan. Telepon aku jika kau menginginkan sesuatu atau jika ada sesuatu yang penting," pesannya pada Hanum.


"Iya, sudah sana nanti terlambat!" usir Hanum.


"Aku pergi."


Sultan melambaikan tangannya dan memberikan kecupan jarak jauh begitu dirinya sampai di depan pintu. Sambil berjalan, sesekali dia mengecup punggung tangannya, tepat dimana Hanum mencium bagian itu, tadi.


.


Siang harinya.


Adam berjalan memasuki kantor Dinasty Group, kedua tangannya dia gunakan untuk menenteng paper bag yang berisi makanan yang dia bawa dari restoran miliknya.


Ada yang berbeda kali ini, jika biasanya dia seorang diri menuju ruang kerja Sultan, kali ini ada seseorang yang mengikuti langkahnya di belakang. Orang itu, siapa lagi kalau bukan Dion. 


Seperti biasa, Adam akan segera memasuki ruangan itu setelah sebelumnya sempat mengetuk pintu.


"Apa aku datang di waktu yang salah ya?" tanya Adam, heran.


Sesampainya Adam di sana, dia melihat kedua orang yang saat itu duduk berseberangan di meja kerjanya masing-masing, masih saja berkutat dengan layar komputer di depannya.


"Bukannya ini jam istirahat ya?" gumam Dion.


"Diam kau, pengangguran mana tahu kesibukan seorang pengusaha." seru Raka.


"Kau lupa siapa yang menyabotase proyek kita, dulu?" Sultan melirik Raka.  "Dia kan pengusaha karbitan, usahawan yang langsung menduduki posisinya tanpa melalui perjuangan, jadi mana tahu dia pekerjaan sesungguhnya seorang pengusaha itu seperti apa," Sultan menyahut.


"Apa kau masih menyimpan dendam padaku?" Dion menatap manik mata Sultan dalam-dalam. "Katakan saja terus terang!" 


"Ya, aku memang masih menaruh dendam padamu!" Sultan tersenyum sinis. Dia meninggalkan kursi kebesarannya kemudian duduk di sofa. "Waktunya makan siang, Ka." memberikan kode pada Raka untuk menghentikan pekerjaannya.


"Ya." 

__ADS_1


Mereka berempat pun mengambil posisi duduk masing-masing. Dengan cekatan Adam membuka satu per satu makanan yang dia bawa. Sengaja dia membawa agak banyak mengingat mereka akan makan siang bersama.


"Bagaimana kemarin, apakah proses pendekatanmu berjalan lancar?" tanya Sultan pada Dion.


"Lancar apanya, yang ada malah dia marah padaku dan menyuruhku untuk tidak menemuinya lagi," Dion menyahut sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Apa?" 


Tidak hanya Sultan yang kaget, pun sama seperti dirinya, Raka dan Adam sampai berteriak bersamaan.


"Bagaimana bisa?" tanya Adam tak percaya.


"Tentu saja bisa, karena aku ...," 


Dion pun menceritakan kejadian di apartemen Wina pada malam itu, semuanya dia ceritakan dengan jelas tanpa ada yang terlupa satu pun termasuk soal Wina yang sempat tak sengaja memberitahukan isi hati nya pada Dion.


"Lagian kamu sih, bercandanya nggak kira-kira. kamu pikir saja sendiri, kalau aku jadi Wina, malah bukan hanya marah tapi sudah aku pukul dirimu," kata Adam begitu Dion selesai menceritakan kejadian itu.


"Sumpah Dam, aku nggak ada niatan untuk menyakiti perasaannya. Waktu itu murni aku benar-benar ingin mengerjainya saja, aku juga nggak tahu kalau kejadiannya malah akan berakhir menjadi sangat kacau waktu itu." 


Terlihat jelas sekali di mata Dion yang menyiratkan penyesalan yang mendalam ketika dia mengatakan hal tersebut.


"Setelah kejadian itu, apa dia menghubungimu lagi?" tanya Adam.


Dion menggeleng. "Aku sudah berusaha menghubunginya tapi dia tidak pernah mau mengangkat telepon dariku. Aku juga sering mengirimkan pesan dan itu juga hanya sekedar di baca tanpa membalas satu pun dari sekian banyaknya pesan yang aku kirimkan padanya."


"Kacau! sudah di beri lampu hijau tapi kau malah menyia-nyiakannya. Payah!" Raka menimpali.


"Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan?" merasa tiba-tiba kehilangan selera makannya membuat Dion menaruh kasar sendoknya.


"Kenapa bertanya pada kami, kau sendiri yang akan menjalaninya jadi kau pasti tahu betul apa yang harus kamu lakukan," ucap Adam tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring di hadapannya.


"Tapi aku masih bingung," lirih Dion.


"Tanyakan pada hatimu, jika kau tidak mencintainya, hal ini lebih baik karena dengan menjauhimu dia tidak akan terluka meskipun aku tahu dia akan tersakiti karena tidak bisa memilikimu. Dan jika kau mencintainya, kejar dia, lakukan segala cara agar dia mau memaafkanmu," kata Adam dengan bijaknya.


"Masalahnya dia sangat marah sampai membuat dia tak mau mengangkat teleponku. Jangankan mengangkat telepon, membalas pesan saja dia tidak sudi." 


"Dasar bod*h! kau ini sebenarnya laki-laki apa bukan sih? apa jangan-jangan kamu ini pria jadi-jadian?" goda Adam.


"Pria jadi-jadian apa?"


"Astaga, amit-amit Dam. Nggak kira-kira kalau ngomong," Dion mendengus kesal.


"Ya ..., barangkali saja. Siapa yang tahu kalau kau ini sebenarnya ...," 


"Cukup!" potong Dion. "Lebih baik kau diam daripada terus bicara yang bukan-bukan. Aku kesini karena ingin bertukar pikiran, aku butuh solusi untuk permasalahanku." 


"Kau mencintainya?" tanya Adam.


"Kenapa malah menanyakan hal itu?" kelit, Dion.


"Kau bilang mau minta solusi, untuk memberikan solusi tentu saja aku harus mengetahui isi hatimu terlebih dahulu." 


"Harus?" tanya Dion.


"Wajib! seperti yang aku bilang tadi. Kejar dia kalau kau benar-benar menyukainya tapi jika kau tidak menyukainya, biarkan dia terus menghindar darimu seperti ini."


Dion termenung, memikirkan setiap perkataan Adam yang terasa begitu mengena di hatinya. Setidaknya dia harus meyakinkan satu hal terlebih dulu sebelum dia membuat keputusan, apakah dia akan maju, ataukah mundur.


.


Pukul lima sore.


Hanum sudah mendapatkan pesan dari suaminya yang mengatakan kalau pria itu akan pulang terlambat karena harus lembur malam ini.


Dia sudah rapi dengan mengenakan dress sebatas lutut berbahan katun yang terasa nyaman dipakai olehnya. Mengikat tinggi rambutnya, wajahnya yang memang sudah cantik alami membuatnya cukup hanya menyapukan cushion dan liptint saja. Tidak perlu make up berlebihan karena itu saja sudah cukup untuk membuatnya terlihat begitu menawan.


Sepanjang perjalanan menuju kantor suaminya, Hanum terus bersenandung. Dia duduk di mobil yang dikendarai oleh Pak Dadang, pandangannya terus saja tertuju pada sebuah kotak makan yang sengaja dia bawa untuk makan malam suaminya.


Di kantor. 


Sultan baru saja selesai mandi kala itu, merasa gerah dengan tubuh yang lengket karena aktifitas seharian ini. Dia lupa kalau dia tidak membawa baju ganti, dan di lemari pakaian yang ada di kamar pribadinya juga hanya ada sebuah kemeja. Tidak menemukan kaos dalam ataupun sejenisnya, masih untung ada celana dalam dan selembar kemeja yang bisa dia pakai.


Sultan keluar dari kamarnya, menggunakan celana yang sama tapi dengan kemeja baru yang bersih. Merasa kalau dia ada di jam lembur membuatnya berpakaian seenaknya. Lagi pula, hanya tinggal beberapa karyawan yang masih berada di sana, sebagian besar anak buahnya telah pulang jadi dia tidak perlu berpakaian formal seperti pagi hari.


Dia berniat melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, merasa haus, dia pun meraih gelas yang ada di samping meja kerjanya. 


Ternyata gelasnya kosong, jadilah dia pergi menuju pantry, kebetulan Raka sedang meminta berkas laporan pengeluaran bulan ini, di departemen keuangan.


"Ada perlu apa Pak?" tanya Mira ramah, begitu melihat Sultan keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Mau ke pantry."


"Saya saja yang ambilkan, Pak."


"Tidak usah, saya bisa sendiri. Kamu selesaikan saja pekerjaanmu." 


Sepeninggal atasannya, Mira kembali bekerja.


Di sisi lain, Hanum yang telah sampai di ruangan suaminya kebingungan karena tak mendapati pria itu berada di sana.


"Mbak Mira," panggilnya pada sekretaris suaminya.


"Iya Bu, ada apa?" 


"Nggak usah formal begitu Mbak, malu aku." Hanum tersenyum simpul. "Mas Sultan mana?" 


"Bapak ada di pantry, mau ambil minum katanya." 


"Oh, ya sudah Mbak, terimakasih." 


Hanum mengedarkan pandangannya, ada sekitar sembilan orang yang masih bekerja. Tiga orang pria, sisanya perempuan.


Tak lama, pria yang dicarinya itu pun muncul. Hanum membelalakkan matanya, mulutnya menganga, tak percaya dengan penampilan suaminya yang, ah ... tidak bisa Hanum ceritakan.


"Mas ...!" teriaknya begitu melihat langkah suaminya terhenti karena ada seorang karyawati yang entah sedang membicarakan apa dengan suaminya.


Sultan tersentak kaget, dia sama sekali tak menyangka akan kembali di perdengarkan dengan suara nada tinggi istrinya lagi.


"Sa ... yang!" panggilnya terputus.


"Cepat masuk!" 


Hanum sedikit menyeret tubuh suaminya untuk memasuki ruang kerjanya.


Sultan kembali dibuat kaget karena begitu mereka sampai di dalam, Hanum segera mengunci rapat pintunya dan kemudian mendorong tubuhnya ke tembok. 


"Ada apa Sayang?" tanya Sultan yang masih dilanda kebingungan.


"Ini kantor Mas, apa ini?" tegas Hanum sambil menarik kemeja suaminya.


"Astaga, aku pikir apa. Ini kemeja yang ada di lemari pakaian di dalam sana Sayang," menunjuk kamar pribadinya. "Aku kepanasan, makanya aku mandi."


"Bukan itu yang ingin ku tanyakan."


"Lantas?" Sultan masih belum bisa menangkap arah pembicaraan istrinya.


"Kenapa kau berpakaian seperti ini?" 


"Memang apa yang salah dengan kemeja ini? kemejanya masih baru, bersih, wangi juga."


"Kenapa kau tidak mengancingkan kemejamu dengan benar?" 


Entah untuk ke berapa kalinya tubuh Sultan kembali terlonjak kaget begitu mendengar teriakkan istrinya.


Reflek Sultan melihat ke bawah, dipandanginya teliti setiap bagian kemejanya. 


Astaga.


Ternyata dia hanya mengancingkan satu buah kancing kemejanya, itu pun pada lubang kancing yang tak semestinya. Jadilah dia memakai kemeja dengan ujung yang tidak sama,dengan kata lain, dia sama saja seperti tidak berpakaian karena kemeja itu tak mampu menutupi bagian atas tubuhnya. 


"Apa gunanya ini Mas kalau kau tidak memasang kancingnya dengan benar? mau pamer perut seksi? pamer dada bidang sama anak buahmu, begitu? di luar banyak karyawan perempuan, Mas."


Sultan baru menyadari letak kesalahannya begitu Hanum menyerangnya dengan rentetan kata-kata tersebut.


Dia tertawa kecil ketika melihat Hanum dengan kasar memasangkan kancing kemejanya satu per satu pada tempatnya.


"Awas saja kamu Mas! malam ini kamu tidur di luar!" 


Mendengar ancaman istrinya membuat Sultan merinding.


"Apa perlu kau sampai menghukumku begitu, Yang? aku kan juga nggak sengaja."


"Jangan mencari alasan! kamu sengaja kan melakukan ini? mau tebar pesona kan?" Hanum mendelik, tatapan matanya tajam menyelidik.


"Ampun, Sayang!" 


Sultan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pengampunan dari istrinya. 


Telah lama kejadian seperti ini tak terjadi, dan dia bisa bernafas lega karena berpikir masa mengidam istrinya telah berakhir. Nyatanya malah dia masih kembali harus merasakan ganasnya wanita itu jika sedang murka.


.

__ADS_1


__ADS_2