Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Calon Mertua


__ADS_3

Cinta menelan salivanya kelat. Tenggorokannya serasa tercekat hingga tak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir tipisnya.


Sejujurnya, jauh dalam lubuk hati terdalam dia begitu merasa bahagia terlebih lagi saat lamaran itu datang dari pria yang sejak remaja diidolakannya. Namun, dia merasa ada yang aneh di sana. Tak ada angin, tak ada hujan. Cinta pun tak pernah merasakan adanya tanda-tanda cinta dari atasannya, lalu kenapa tiba-tiba laki-laki itu datang dan memintanya untuk menikah?


"Saya serius Cinta!" Tegas Sultan.


"Tapi ... Bapak ... Saya kira ..." Cinta merutuki dirinya yang mendadak bicara tak jelas.


"Saya ingin menjadikan kamu sebagai istri saya, apa perlu kalimat itu saya perjelas lagi?"


"Bukan itu, maksud saya adalah ... Kita tidak saling mencintai," Cinta memberanikan diri mengatakan itu.


"Siapa bilang? Cinta akan hadir dengan sendirinya seiring kebersamaan kita. Mungkin kamu masih bingung dengan ajakan saya yang mendadak, saya akan kasih kamu waktu untuk berpikir. Hanya satu hari," cetus William.


"Sehari Pak?"


"Ya. Kau harus sudah memberikan keputusan, lusa. Saya tidak akan memaksamu, tapi saya akan memohon agar kamu mau menerima pinanganku," ujar William, mantap.


"Baik Pak. Akan saya pikirkan."


"Habiskan makananmu, setelah ini saya akan mengantarkanmu pulang."


"Tidak usah, Pak. Saya masih bisa naik taksi online, kebetulan belum terlalu malam," tolak Cinta, halus.


"Dan saya memaksa. Lagi pula saya juga ingin berkenalan dengan calon mertuaku."


Blush!


Cinta langsung memalingkan wajahnya. Dia yakin sekali, saat ini wajahnya sudah sangat memerah.


Makan malam pun berjalan lancar. Sesuai janjinya, William akan mengantarkan Cinta pulang. Saat ini keduanya sudah berada di mobil dengan Cinta memangku bungkusan makanan yang William berikan sebagai oleh-oleh.


"Apa setiap pulang dan berangkat kerja, kau naik bus?"


"Iya."


"Kau berapa bersaudara?" Tanya William lagi mencoba lebih akrab.


"Saya anak tunggal, bapak saya meninggal sewaktu saya masih SMP."


"Hm, lalu di rumah kau tinggal dengan siapa saja?"


"Ibu saya," jawab Cinta.


"Kalian hanya tinggal berdua." Cinta mengangguk, membenarkan.


"Hm, baiklah kalau begitu. Nanti kalau misalnya kita jadi menikah, ajak Ibumu untuk tinggal bersama kita." Entah sadar atau tidak, tiba-tiba saja William berkata begitu.


Cinta merasa semakin terbang di atas awan. Gadis itu sama sekali tak menyangka jika lelaki yang sangat dia impikan sejak lama berniat menjalin hubungan serius dengannya.


William memarkir mobilnya di halaman depan sebuah rumah sederhana. Rumah itu tak begitu luas, tapi sangat nyaman dan asri. Cinta mengetuk pintu, lalu tak berselang lama pintu pun terbuka seiring dengan munculnya wanita paruh baya yang memakai syal di lehernya.


"Cinta, pulangnya malam sekali, Nak," tegur Tania.


"Maaf Bu, saya yang mengajaknya mampir sebentar untuk makan malam," William menjawab.


"Oh, begitu. Nak ... Siapa namamu?"

__ADS_1


"William, Bu." Pria tampan itu menyambut tangan Tania dan menciumnya penuh hormat.


"Jadi ... Nak William ini bos sekaligus laki-laki yang sering diceritakan Cinta sama Ibu?" Wanita itu menatap putrinya, membuat Cinta gelagapan.


"Iya Bu."


"Mari silakan masuk, Nak."


Ketiganya pun duduk di bangku kayu usang, tapi masih layak dipakai. "Cinta buat teh dulu ya Bu," pamit gadis itu.


"Nggak usah Cinta! Kamu duduk saja di sini!" Titah William.


Dengan sangat terpaksa akhirnya cinta mendaratkan bokongnya di dekat Tania. Dadanya berdebar kencang saat melihat reaksi William.


"Jadi begini Bu, kedatangan saya kemari bertujuan untuk mengenal Ibu. Saya berniat melamar putri Ibu," ucap William, serius.


"Apa?" Tania terkejut bukan main, dia dan putrinya memang sering membicarakan William. Tentu dengan cerita Cinta yang begitu mengagumi lelaki itu, tapi dia tidak menyangka jika William juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Cinta rasakan.


William merupakan sosok pengusaha muda yang sukses, selain dia tampan dan juga kaya, akan ada ada banyak wanita yang tergila-gila padanya, dan William bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang bahkan lebih dari Cinta.


"Apa Nak William serius?"


"Iya, Bu, saya sangat serius. Saya sudah membicarakan soal ini pada Cinta tadi, dan saya rasa saya perlu memberinya waktu untuk berpikir," beber William.


"Benar begitu, Cinta?" Tania memastikan, dan Cinta mengangguk sebagai jawabannya.


"Bagaimana dengan Ibu sendiri? Apa Ibu akan merestui kami?" William bertanya.


"Sebagai orang tua, Ibu akan memberikan restu, tapi kembali lagi, semua keputusan tetap Ibu serahkan sepenuhnya pada Cinta karena dia yang akan menjalaninya."


"Tapi mohon sekali, Nak. Cinta cuma perempuan biasa, dia tidak seperti kebanyakan gadis di luaran sana, Ibu takut dia tidak bisa seperti apa yang orang tua Nak William harapkan."


"Soal itu Ibu tenang saja, saya sudah memberitahukan pada orang tua saya jauh-jauh hari dan keluarga saya setuju. Orang tua saya orang yang sangat demokratis, mereka membebaskan anak-anaknya untuk mengambil keputusan selama kita bisa mempertanggung jawabkannya," jelas William panjang lebar.


"Syukurlah kalau begitu."


"Ya sudah Bu, sudah malam. Saya permisi dulu."


"Baiklah."


"Saya dan keluarga saya akan segera datang melamar jika Cinta memutuskan untuk menerima pinangan saya."


"Ya. Terima kasih. Hati-hati di jalan, ya," pesan Tania.


"Ya Bu, saya permisi dulu." William kembali meraih jemari Tania dan mencium punggung tangannya untuk kedua kalinya.


Cinta dan Tania mengantar kepergian William hingga mobil lelaki itu lenyap di ujung gang.


"Seperti yang sering kamu bilang, Nak. Ternyata dia itu sangat baik. Ramah, sopan, jarang sekarang ada anak muda yang masih memiliki sopan santun sepertinya," kelakar Tania begitu keduanya kembali masuk ke dalam rumah.


"Dia memang hidup dengan didikan keras Bu, dengar-dengar Kakek dan Buyutnya pensiunan tentara. Segala apa yang ada di hidupnya juga dipastikan harus teratur."


"Hm, pantas saja dia sangat pandai bersikap pada orang lain. Lalu bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" Cinta menautkan kedua alisnya, bingung.


"Jangan pura-pura! Soal lamaran dia," beritahu Tania.

__ADS_1


"Aku pikirkan dulu Bu, aku nggak mau gegabah mengambil keputusan. Dia memang lelaki idamanku, tapi tetap saja aku harus menyakinkan diri dulu."


"Baguslah! Apapun keputusanmu nanti, Ibu akan tetap mendukungmu. Restu ibu selalu bersamamu."


"Terima kasih Bu."


Dua wanita beda generasi itu pun saling berpelukan.


Di sisi lain belahan bumi berbeda.


William memasuki rumahnya. Gurat kelelahan nyata terlihat di wajahnya. Dasi yang sudah terlepas, lengan kemeja yang digulung sampai siku, juga kedua kancing teratas kemejanya telah terbuka.


"Selamat malam semuanya," sapanya saat melewati ruang tengah. Tempat di mana keluarga besarnya tengah berkumpul.


"Pulangnya malam sekali, Sayang," tegur Hanum.


"Iya Ma, kebetulan tadi mampir sebentar, ada keperluan." Usai menyalami para orang tua, William duduk di sofa single. "Willmar mana?"


"Dia sedang siap-siap di kamarnya."


"Untuk?"


"Besok pagi-pagi sekali dia harus sudah terbang ke Singapura, ada pekerjaan mendadak di sana katanya."


"Ooh." William ber-oh ria.


"Bagaimana Kak, kamu sudah mengutarakan niatmu pada gadis itu?" Tanya Sultan.


"Sudah Pa."


"Lalu apa tanggapannya," penasaran, Arya angkat bicara.


"Dia butuh waktu untuk berpikir," William menyahut.


"Yaaaah ..." Desis Arya, sorot kecewa hinggap pada kedua manik matanya.


"Hanya sehari, Opa. Lusa dia akan memberikan jawaban."


"Jawaban apa?" Willmar muncul dan langsung duduk di tengah-tengah antara Arya dan Ratih.


"Lamaranku, di terima atau tidak."


"Wah, pantas Kakak pulang terlambat," celetuk Willmar.


"Ya, aku baru saja pulang dari rumahnya."


"Cie ... Yang habis ketemu calon mertua," goda Willmar, membuat William tersipu.


"Cie ... Yang mau lamaran," William balas menggoda.


"Kan aku habis Kakak."


"Oh, iya ya!" William menepak dahinya.


Bersambung ....


*Happy reading Kesayanganku, semoga suka dengan jalan ceritanya ya. Mohon dukungannya 🙏, buat kalian yang suka dengan cerita ini, boleh dong bantu promosikan atau ajak teman buat baca juga. Membaca komentar positif dari kalian adalah hal paling membahagiakan buatku. Kalian adalah penyemangatku, aku tanpa kalian bukan apa-apa. Selalu kutunggu dukungan kalian 🙏🙏🙏❤️❤️❤️😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2