Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kran bocor


__ADS_3

Hari ini telah menjadi ajang pembuktian bagi keempat pria itu yang mana memang mengkhususkan hari ini untuk pergi memanjakan diri dan bersenang-senang.


Adam yang selama menjalani proses di spa tersebut sampai tertidur karena begitu menikmatinya.


Menjelang pukul lima sore mereka terlihat baru keluar dari gedung tersebut, mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Bukankah belum lengkap rasanya petualangan mereka hari ini jika mereka belum berhasil membawa pulang barang belanjaan yang akan mereka dapatkan di sana?


Bertingkah layaknya remaja gadis yang suka berkeliaran dalam gedung yang menjajakan barang serba ada tersebut, mereka seolah tak pernah lelah memasuki satu toko ke toko lainnya. Ternyata jiwa shopping dalam diri seorang pria, lumayan juga. Mereka cukup jeli dalam memilih dan membeli barang yang mereka inginkan seperti sepatu, jam tangan ataupun aksesoris yang menjadi penunjang penampilan mereka.


Kini, mereka berempat tengah berada di sebuah restoran mewah yang terdapat di salah satu lantai gedung tersebut.


Memanjakan perut pun sudah masuk dalam daftar agenda mereka, memesan makanan spesial sebagai penutup petualangan mereka yang begitu mengesankan hari ini.


"Hm, aku pikir setelah berkeliling dunia dan menetap beberapa tahun di luar negeri akan membuat selera makanmu berubah menjadi ke bule-bule an. Nyatanya jiwa Indonesia mu itu benar-benar masih melekat dalam dirimu," kata Adam.


"Memang apa hubungannya? ada yang salah dengan selera makanku?" tanya Dion sambil terus sibuk mengunyah makanannya.


"Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja setelah tinggal lama di luar negeri aku pikir selera makanmu juga berubah. Mengikuti selera makan mereka, tapi aku perhatikan setiap kita kedapatan makan bersama, kau selalu memesan makanan lokal. Aku pikir kau akan memesan steak, pasta misalnya." Adam terus melirik Dion yang masih asyik menikmati makanannya.


Meja bundar di tengah-tengah mereka penuh dengan menu yang dipesan oleh Dion, gurame bakar, babat gongso, oreg tempe, cah kangkung terasi, capcay kuah, bacem tahu dan tempe dan tak ketinggalan pula lalapan lengkap dengan sambalnya. Sungguh berbeda dengan yang di pesan oleh ketiga temannya. Sultan, Adam dan juga Raka sepakat untuk memesan seporsi steak, pasta, dessert dan juga wine sebagai pelengkap makan malam mereka kali ini.


"Justru itu, lama tinggal di sana membuatku bosan memakan makanan mereka. Jauh lebih nikmat masakan khas Indonesia, selama tinggal di sana pun aku sering mencari restoran yang menyajikan masakan Indonesia, restoran Padang juga sering aku kunjungi sekedar untuk mengobati rasa rinduku pada kuliner Nusantara yang memang selalu menggugah selera," Adam menyahut, tangannya masih cekatan memisahkan daging ikan bakarnya dari duri.


"Pantas saja. Eh, memangnya ...," Raka segera menghentikan ucapannya begitu menyadari dia kembali hendak membicarakan tentang Mauryn, hal yang sangat terlarang bagi mereka.


"Kenapa tidak diteruskan?" tanya Dion.


"Ah, tidak jadi." Raka menggeleng sambil tersenyum kikuk.


Sultan dan Adam pun saling bertatapan, mereka sempat dibuat heran dengan tingkah Raka tapi tak bertahan lama karena keduanya langsung mengerti apa yang akan dikatakan oleh Raka, tadi.


Drrtt ... drrtt ... drrtt ...


"Aduh! siapa sih yang telepon, menganggu saja. Tidak tahu orang lagi makan apa ya?" ucap Dion, kesal.


Dion tak menghiraukannya, dia terus melanjutkan aktifitasnya mengisi perutnya yang begitu lapar. Baru tahu dia, kalau dirinya akan sangat kelaparan setelah berkeliling untuk belanja.


"Hah, siapa yang berani mengangguku? jika dia lelaki dan hanya menelepon untuk sesuatu yang tidak penting, akan aku hajar dia!" Dion kembali menggeram marah begitu merasakan ponsel dalam kantong celananya kembali bergetar.


Berbalik ke arah Adam yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Bro, tolong bantu aku ambilkan ponselku. Kau lihat sendiri tanganku kotor terkena sambal sementara tanganmu kan bersih," pintanya pada Adam.


"Cih! merepotkan saja!" gumam Adam.


Adam mengulurkan tangannya untuk merogoh saku celana Dion, tak sampai hati jika dirinya menolak permintaan Dion.


"Wah, aku rasa sepertinya setelah ini memang akan terjadi baku hantam," celetuk Adam begitu dia berhasil mendapatkan benda pipih tersebut dan melihat nama yang tertera di layar.


"Cepat tolong bantu aku untuk mengangkat telepon itu sekarang! biar aku maki orang gila yang telah menganggu makan malamku," kata Dion, tak sabar.


"Dan sepertinya bukan hanya dia yang gila karena kau juga akan menjadi gila tak lama lagi." Adam menyeringai.


"Kau ini bicara apa? cepat kemarin ponselnya!"


Dion mencondongkan tubuhnya, sedikit memiringkan kepalanya mengkode Adam untuk meletakkan gawai itu di telinganya.


"Yaah ...! kenapa kau terus mengangguku? memang ada kepentingan apa sampai kau menelponku malam-malam begini? apa kau tidak punya rasa malu sedikitpun karena telah mengganggu privasi orang?" makinya tanpa henti begitu adam menyelipkan ponsel tersebut di telinganya.


Hening.


Dion tak mendengar suara apapun, sepertinya si penelpon begitu terkejut mendengar umpatan yang dilontarkan oleh Dion padanya.


Sementara Adam terkikik, dia terus membekap mulutnya.


"Hei! punya mulut tidak? jika tidak ada sesuatu yang mendesak sebaiknya kau matikan saja teleponnya! tidak berguna!" Dion masih memarahi orang yang saat ini sedang menghubunginya.


"Jangan galak-galak begitu sama calon istri!" gelak Adam begitu selesai mengucapkan kalimat tersebut.


"Apa?"


Reflek Dion menjauhkan telinganya dari ponsel yang saat ini masih dalam genggaman Adam. Meraih beberapa lembar tisu untuk mengelap tangannya yang kotor kemudian mengambil alih ponsel tersebut.


"Astaga!" gumamnya sambil menepuk dahinya manakala melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Seketika berbalik kembali menatap Adam dengan menampilkan wajah garang.


"Kenapa kau tidak memberitahuku siapa orang yang menghubungiku? ya ampun," bisik Dion sambil menjauhkan ponselnya. "Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" lagi, dia mengeluh.


Melihat Adam mengangkat kedua bahunya dan terus tersenyum membuat Dion makin kesal saja. Dia pun bangkit dari kursinya, sedikit menjauh dari sana untuk kembali berbicara karena sambungan teleponnya yang memang masih menyala.


"Memang siapa yang menghubunginya?" tanya Sultan.

__ADS_1


"Wina," jawab Adam singkat.


"Apa? pffttt ...,"


Tak butuh waktu lama suasana di sekitar meja tersebut pun dipenuhi dengan gelak tawa mereka. Mereka terus mentertawakan Dion, sesekali menggosipkannya di belakang pria yang saat itu sedang berdiri di depan jendela kaca, agak jauh dari sana.


"Maaf," lirih Dion, pilu.


Entah apa kata yang dapat dia gunakan untuk mengungkapkan perasaannya saat ini, antara malu, marah, kesal, tapi juga merasa ini semua sangat lucu.


Dalam batinnya pria itu terus merutuki Adam yang tak memberitahu dirinya siapa sebenarnya orang yang telah menghubunginya.


"Sekali lagi aku minta maaf, sungguh aku tidak tahu kalau orang yang menghubungiku adalah kau. Aku sedang makan dan ...,"


"Sudahlah jangan dibahas," balas Wina.


"Oh ya, memang apa yang membuatmu menelponku?" suara Dion telah melunak, tak sekeras ketika dia berbicara di hadapan teman-temannya tadi.


"Bisakah kau kemari? maksudku, ke apartemenku?"


"Ada masalah?"


"Kran wastafel di kamar mandiku bocor, airnya terus menyembur dan membanjiri lantai. Aku tidak bisa menelpon jasa tukang di jam seperti ini," keluh Wina.


"Tunggulah! dua puluh menit lagi aku sampai."


Dion segera mematikan ponselnya, kembali memasukkan benda tersebut ke dalam kantong celananya dan mendekati meja dimana teman-temannya masih menyelesaikan makan malam yang baru berjalan setengah main.


"Mau kemana? bukankah kau masih lapar? buktinya kau sampai memarahi calon istrimu, tadi." goda Adam begitu melihat Dion meraih jaketnya yang terlampir di bahu kursi.


"Aku harus menemui calon istriku, tolong kau bawa pulang barang belanjaanku ya! aku tak punya banyak waktu," kata Dion, membalas ledekkan Adam.


"Memangnya kau mau kemana? kau kan tidak bawa mobil," sahut Adam.


"Kan tadi sudah kubilang aku mau bertemu dengan calon istri. Aku sudah pesan taksi online," seru Dion sambil melangkah pergi meninggalkan ketiga temannya.


"Apa ada masalah serius? kau buru-buru sekali?" teriak Adam yang melihat Dion sudah agak menjauh dari tempat duduknya. Dia berdiri dengan terus menatap kepergian Dion.


"Jangan mencemaskan aku. Aku akan memperjuangkan masa depanku." tanpa menoleh, Dion melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Dasar sinting! " maki Adam.


.


__ADS_2