Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Gagal Berlayar


__ADS_3

William mengulas senyum saat matanya menangkap potret yang dikirimkan Cinta padanya beberapa saat lalu. Dalam foto itu nampak dengan jelas Jayden tengah terlelap dengan satu tangan melingkari leher Willmar. Pria itu pun dengan cepat menekan icon gagang telepon untuk menghubungi istrinya.


"Ya Mas?" suara Cinta langsung terdengar menyapa William pada dering ke dua panggilan itu.


"Si ganteng rewel? apa dia sakit?" pria itu melepas kacamatanya, beralih menatap jendela kaca.


"Jayden baik-baik aja Mas, cuma tadi dia sempat rewel pas mau tidur nyariin kamu. Dia bilang mau tidur sama kamu." Cinta mengadu.


"Kasihan banget anakku," gumam William.


"Untung mau tidur sama kembaran kamu Mas, setelah melalui proses panjang bujuk membujuk."


"Habis proyek ini kelar, aku akan ambil cuti, kita liburan bertiga sama Jayden," kata William di ujung telepon.


"Iya Mas, terserah kamu aja."


"Aku tutup dulu teleponnya ya, masih ada kerjaan."


"Hm, kamu yang semangat kerjanya."


"Oke. Bye Sayang."


"Dah."


Cinta menurunkan benda pipih itu dari daun telinganya. Jayden telah tidur pulas dalam pelukan Willmar sekarang dan ia akan mempergunakan waktu sebaik mungkin untuk mengerjakan pekerjaan lain yang sempat terbengkalai. Wanita itu mengayunkan kakinya menuju kamar yang berada persis di samping kamar Jayden. Semenjak Raisa dan Willmar pindah kamar, kamar itu memang menjadi kosong dan telah dirubah dekorasi serta tata ruangannya oleh Cinta. Kamar bernuansa biru langit dengan berbagai hiasan di dinding itu sangat kental akan suasana anak-anak.


"Kak."


Cinta menoleh saat seseorang memanggilnya, perempuan berperut besar berdiri di ambang pintu.


"Iya Dek, ada apa?"


"Kakak itu udah capek ngurusin Jayden, kenapa hal sekecil ini musti Kakak kerjakan sendiri? ada banyak orang yang bisa mengerjakannya Kak." Raisa duduk di tepi ranjang, di sebelah kakak iparnya.


"Anakmu anakku juga Rai, aku menyayanginya dan aku cuma mau memastikan dia mendapatkan yang terbaik." Cinta masih melanjutkan pekerjaannya memilih baju-baju bayi yang baru saja sampai di sana. Ratih dan Hanum yang membelinya secara online dari toko perlengkapan bayi terkenal, dan kebetulan barangnya memang baru dikirim.


"Harusnya Kak Cinta bisa pergunakan waktu untuk istirahat kalau Jayden tidur."


"Udah, nggak usah sungkan begitu. Kayak sama siapa aja." Cinta menimpali.


Raisa tersenyum simpul, menarik beberapa potong kain dan mulai menirukan apa yang dilakukan Cinta.


"Eh, kamu mau apa?"


"Ya mau bantuin Kak Cinta lah," jawab Raisa.


"Nggak usah Rai, mending kamu istirahat aja deh."


"Nggak mau, masa Kak Cinta sibuk beberes keperluan anakku tapi aku leha-leha."


"Siapa bilang leha-leha? kamu itu perempuan hamil, kamu hamil kembar jadi butuh lebih banyak waktu buat istirahat dibandingkan ibu hamil yang hanya mengandung satu bayi, Rai," ceramah Cinta.


"Bosan Kak, kalau disuruh istirahat terus. Aku di sini aja ya, bantuin kamu ya Kak?"


Cinta tersenyum tipis. "Baiklah, tapi kamu nggak boleh kecapekan."


"Iya Kak."


Dua wanita itu pun menghabiskan banyak waktu untuk saling bertukar cerita. Raisa menceritakan betapa kini kehidupan rumah tangganya dengan Willmar mengalami peningkatan di segala segi. Raisa yang semula tak begitu mengerti perannya sebagai seorang istri, berkat meniru Cinta, ia menjadi tahu hakikatnya sebagai seorang istri. Raisa menjadi lebih baik lagi dalam melayani, mencintai dan memperlakukan Willmar dan itulah yang menjadikan rumah tangga mereka menjadi semakin harmonis.


.

__ADS_1


.


Malam telah menjemput bumi sepenuhnya. Makan malam di keluarga besar Pradipta telah usai sejak setengah jam yang lalu, semua orang pun telah kembali ke kamar masing-masing untuk sekedar melepas penat. Terkecuali Cinta, Jayden memang telah tidur, tapi kepulangan suaminya yang mundur dari jam biasa pria itu pulang, tak urung membuatnya gelisah.


Ceklak.


Suara pintu terbuka berhasil mengalihkan perhatian Cinta, reflek dia berlari menyambut kepulangan sang suami tercinta.


"Pulang malam lagi?"


"Ini yang terakhir, besok udah nggak ada lembur karena semua kerjaan udah kelar," balas William, mengusap puncak kepala istrinya.


"Aku udah siapin air buat mandi di bak, nanti aku cek dulu suhunya ya takut udah nggak hangat lagi karena udah dari tadi." Cinta meletakkan jas dan tas kerja William di sofa, dan berlalu dari sana.


"Nggak usah Yang. Aku bisa cek sendiri kok," cegah pria itu.


"Nggak apa-apa cuma sebentar."


"Beneran, kamu ambilin minum aja deh," pinta William.


"Oh ya hampir lupa. Maaf ..."


"Nggak apa-apa."


"Aku buatin air jahe aja ya, kamu kayaknya capek banget jadi secangkir kopi nggak akan mempan," kata Cinta.


William mengangguk. Ia melepas simpul dasinya agak kasar lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Tiga kancing teratas kemejanya juga telah ia lepas. Rasanya hari ini dia amat lelah.


Cinta membuka gagang pintu dengan satu tangan sedangkan satu tangannya memegang nampan berisi secangkir air jahe dan juga sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Suaminya yang tampan itu biasanya akan minta makan malamnya dibawa ke kamar jika ia pulang terlambat.


Wanita itu menggeleng pelan mendapati suaminya tengah menyandarkan punggungnya di sofa sambil memejamkan mata. Penampilannya sungguh sangat berantakan, terlebih dengan sepatu yang masih melekat di kakinya. Usai meletakkan nampan itu di meja, Cinta pun berjongkok untuk membuka sepatu William. Ia lalu berpindah ke belakang sofa dan memberikan pijatan lembut di kepala dan bahu pria itu. Beberapa kali kecupan di kening pun Cinta berikan pada pria itu.


"Eh, Sayang." Pria itu terkesiap.


"Iya, capek banget. Badan pada pegal-pegal."


"Mendingan sekarang Mas mandi, nanti biar aku lanjut lagi pijat kamunya," kata Cinta.


"Mau mandi juga males."


Cinta menghembuskan napas panjang. "Ya udah, gimana kalau kita berendam bersama?"


Sorot mata sayu William berubah menjadi berbinar-binar, istrinya memang tahu betul hal apa saja yang bisa membuatnya bahagia.


"Seriusan?" tanya William, takut Cinta hanya sedang mengerjainya saja. Bisa saja tawaran berendam bersama adalah gurauan semata.


"Iya, tapi aku lihat Jayden dulu ya, kita nggak mungkin cukup hanya berendam selama setengah jam." Wanita itu menggeser posisinya.


"Oke. Jangan kelamaan," ucap William setengah berbisik.


Cinta mengulum senyum sebelum pergi dari ruangan itu. Ia membuka pintu kamar Jayden dan kaget mendapati kedua mertuanya telah berbaring di sisi Jayden dengan posisi Hanum tengah memegangi botol asi bocah itu.


"Mama?"


"Sssttt!" Hanum dan Sultan kompak menaruh telunjuk di depan mulut.


"Mama sama papa belum ngantuk, makanya kami memutuskan untuk ke sini. Jayden sempat bangun tadi dan kehausan itu sebabnya Mama buru-buru kasih asi biar dia bisa tidur lagi," jelas Hanum.


"Kembali saja ke kamarmu, William pasti butuh kamu sekarang," timpal Sultan.


"Baik Pa, Ma. Terima kasih." Cinta kembali menutup pintu dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Luar biasa beruntung wanita itu memiliki suami yang mencintainya dan juga keluarga besar yang menerima dan menyayanginya sepenuh hati.


"Gimana Jayden?"


Cinta langsung disambut suaminya dengan pertanyaan begitu ia kembali ke kamar.


"Dia sedang minum susu," jawab Cinta.


"Ya Tuhan, kenapa ditinggal?" pria itu kaget.


"Ada mama sama papa kamu yang jagain," beritahu Cinta.


"Oh ya?" William kembali dibuat kaget, tapi kemudian dengan cepat bersikap biasa. "Mama sama papa emang yang terbaik," imbuhnya sesaat sebelum mengapit pinggang ramping Cinta dan membawanya masuk ke kamar mandi.


Sepasang suami istri itu melucuti pakaiannya masing-masing dan langsung memasukkan diri ke dalam bak berisi air hangat dengan busa diatasnya.


William menarik tangan Cinta agar lebih dekat dengannya. "Terima kasih ya?" William mengecup kening istrinya begitu dalam.


"Untuk apa?" tanya Cinta, tangannya terus bergerak menyabuni tangan William.


"Terima kasih sudah melakukan tugasmu dengan baik, terima kasih untuk semuanya. Aku sangat beruntung memiliki istri yang luar biasa sepertimu."


Cinta menunduk, ia tersipu malu. Tak peduli seberapa sering William mengatakan cinta dan mengungkapkan isi hati padanya, tetap saja hal itu membuatnya malu sekaligus berdebar-debar.


"Mas," desis wanita itu menyingkir jari William di dagunya, lalu kembali menunduk.


William terkekeh. "Kenapa?"


"Aku malu," kata Cinta.


"Kenapa harus malu? aku ini suamimu, kita bahkan sudah sering tidur bersama, berbagi rasa hingga tak ada satupun bagian dari tubuhmu yang lolos dari penglihatanku. Katakan, kenapa kau musti malu." William kembali menaikan dagu Cinta. Wanita itu pun dengan cepat menoleh tapi sebelum itu terjadi, William telah lebih dulu membenamkan bibirnya.


William mulai menyesap bibir ranum itu dan menggigiti kecil, meraih tengkuk Cinta dan memperdalam ciumannya. Cinta yang merasa terbuai pun mulai mengangkat tangannya dan mengalungkan di leher William.


Ciuman panas itu terus berlanjut hingga dua insan itu terengah. William melepaskan bibirnya dan mereka berebut meraup oksigen sebanyak mungkin. William terpaku untuk waktu yang lama saat melihat wanitanya masih memejamkan mata dengan dada naik turun. Perempuan beranak satu itu terkadang lupa caranya mengambil napas ketika sedang berciuman, dan itu membuat William gemas.


Pria itu merengkuh Cinta. Membiarkan mereka saling bersentuhan tanpa adanya kain penghalang. William kembali melumaat bibir Cinta, menyalurkan kerinduannya akan bibir dan tubuh itu setelah hampir lima hari lamanya tak menjamahnya. Dengan dipenuhi busa sabun, telapak tangan lebar pria itu terus bergerak merayapi kulit Cinta, mencari bagian yang menjadi favoritnya semenjak dua insan itu mengarungi samudera kenikmatan berpayung halal di bawah naungan ikatan suci pernikahan.


Belum lagi William menyentuh tempat yang menjadi favoritnya, suara pintu kamar mandi lebih dulu digedor.


"Kakak, Cinta ..." Hanum terus mengetuk pintu.


"Astaga! mama, Mas."


"Ada apa ini? apa malam ini juga gagal lagi," sungut William. Meski ia kesal bukan main tapi bukan saat yang tepat baginya merajuk.


"Ya Ma, sebentar." Cinta meraih jubah mandi yang dia gantung di dinding dan memberikan satu pada suaminya.


"Cepetan Sayang, buka pintunya," desak Hanum.


"Ada apa Ma? apa yang terjadi? apa terjadi sesuatu pada Jayden? dia jatuh atau ..." William terus memberondong ibunya dengan pertanyaan.


"Sepertinya kalian harus menunda lagi berlayar di samudera cinta," kata Hanum. "Cepat ganti baju dan kita ke rumah sakit sekarang."


"Ke rumah sakit? mau ngapain?" William dan Cinta saling berpandangan.


"Udah jangan banyak tanya, cepetan ganti baju Kak!" Hanum mendorong lengan anaknya dan meminta dia segera berpakaian.


"Ada apa Ma?" tanya Cinta tak kalah panik.


"Itu ...."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2