
Setelah mobil yang ditumpanginya telah jauh dari pusat perbelanjaan, tiba-tiba saja seseorang muncul dari belakang dan membekap mulut Cinta dengan sapu tangan. Tak butuh waktu lama bagi Cinta memejamkan mata, seketika kesadarannya menghilang.
"Kerja bagus," puji Azka pada anak buahnya. "Aku akan membayarmu mahal nanti. Karena ide dan kerja kerasmu, aku berhasil membawa kabur Cinta."
"Siap Bos, rencana ini pasti berhasil," sahut pria itu.
"Semuanya sudah kamu atur kan?"
"Tentu saja. Saya sudah merencanakannya dengan sangat matang, tingkat resiko kegagalan sama sekali tidak ada."
"Beruntung aku tak mengalami banyak kesulitan untuk membawa pergi Cinta," tukas Azka.
Mobil terus melaju menuju sebuah tempat tersembunyi yang telah Azka persiapan jauh-jauh hari.
'Kau harus menjadi milikku, apapun yang terjadi Cinta. Sudah cukup selama ini aku mengejarmu.' Azka tersenyum penuh kemenangan.
Di gedung pusat perbelanjaan.
William menjatuhkan bungkus makanan yang dia genggam saat melihat wanita yang dicintainya tak lagi ada di sana. Ia benar-benar ingat jika dia meninggalkan Cinta di sana, William tak mungkin salah. William mencoba untuk tetap tenang, ia mulai menanyakan istrinya pada pengunjung yang kebetulan duduk di sekitar sana. Pengunjung yang melintas pun tak luput William tanyai, tapi tak ada hasil.
"Ponsel. Aku harus segera menghubunginya." Dengan cepat William merogoh saku celananya dan mulai menghubungi istrinya. Tersambung, tapi tak diangkat. William terus mencoba menghubungi Cinta, tapi usahanya tak membuahkan hasil.
Pria itu berlarian seperti orang gila menuju pusat bagian informasi. Dia meminta bantuan agar mengumumkan pada Cinta jika dirinya tengah menunggu. Berharap dengan begitu Cinta akan mendengar pengumuman dan segera menyusulnya.
Tubuh William mulai bergetar. Peluh membasahi keningnya. Berbagai macam pikiran buruk mulai melintas di benaknya. Telah lebih dari satu jam pengumuman itu dibuat akan tetapi Cinta tak juga datang menemuinya. William akhirnya meminta bantuan petugas keamanan untuk menyisir setiap lantai bangunan itu demi mencari keberadaan Cinta.
"Ke mana kamu Sayang? jangan buat aku khawatir Cinta," monolog William, frustasi.
Tak kehabisan akal, William pun mencoba menghubungi orang rumah. Namun jawaban yang diberikan justru malah semakin membuatnya cemas. Pasalnya, Cinta sama sekali tidak pulang ke rumah.
William mulai menangis. Dia tak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk menimpa istrinya. Mereka baru saja merasakan kebahagiaan, tapi mengapa sudah langsung dipertemukan dengan masalah baru, pikir William.
Sultan dan Hanum yang panik pun segera menyusul putranya untuk mengetahui kejadiannya lebih lanjut.
.
.
Cinta membuka matanya pelan. Pening, kepalanya berdenyut nyeri saat dia mencoba membuka mata, tapi Cinta tetap memaksa untuk membuka mata demi melihat keadaan sekelilingnya.
Samar Cinta melihat bayangan seorang pria tengah duduk sambil menatapnya, makin lama pandangannya kembali dengan jelas.
"Azka," lirih Cinta hampir tak terdengar.
"Ya Sayang."
Cinta mulai mengumpulkan kepingan ingatannya dari mulai dia berada di mall sampai dirinya berada di tempat asing seperti ini.
"Ya Tuhan Azka, di mana aku? kamu bilang mau mengantarkan aku menemui Mas Willi, di mana suamiku Azka? kenapa kamu malah membawaku ke mari?" tanya Cinta beruntun.
__ADS_1
"Hei, tenangkan dirimu Sayang. Kamu aman selama bersamaku."
Cinta mulai ketakutan melihat sorot mata Azka yang tak terbaca. Ia menepis tangan Azka saat pria itu berusaha memeluknya.
"Azka. Jangan gila kamu, katakan di mana Mas Willi? tolong antarkan aku padanya," pinta Cinta. Cairan bening yang sejak tadi ditahannya kini runtuh. Berjatuhan membasahi pipinya.
"Kamu pikir aku sudi melakukan itu? Kalau itu aku lakukan, buat apa aku susah payah membawamu ke sini?"
"Azka, tolong ... Apa mau kamu sebenarnya, bukankah tadi kamu bilang mau mempertemukan aku dengan Mas Willi?"
"Diam!" bentak Azka, membuat tubuh Cinta bergetar hebat karena ketakutan. "Aku muak mendengarmu selalu menyebut namanya."
"Azka ..." Cinta menatap sahabat SMA nya itu penuh luka.
"Aku yang lebih dulu mencintai kamu Cin. Aku yang seharusnya menikahi kamu, bukan Willi. Aku pikir setelah kalian berpisah, kesempatanku untuk mendapatkanmu terbuka lebar dan jalanku akan mulus, tapi ternyata aku salah."
"Kenapa kamu berubah seperti ini Azka? Bukankah kamu sendiri sudah mengikhlaskan kalau kita memang nggak berjodoh?"
"Siapa bilang? Sampai detik ini aku nggak rela kamu menjadi milik Willi. Aku yang harusnya menjadi suami kamu Cinta, bukan Willi."
"Jadi apa yang kamu ucapkan tadi itu nggak benar? kamu sengaja jebak aku biar kamu bisa bawa aku?"
"Cerdas. Tepat sekali."
"Tapi kami kan sudah menikah Azka, kamu nggak bisa memiliki aku karena aku terikat hubungan suci dengan Mas Willi."
"Soal itu kamu nggak usah khawatir Sayang. Aku sudah menyiapkan rencana untuk menyingkirkan dia."
"Kamu pikir aku peduli? Aku akan tetap pada pendirianku. Kamu harus menjadi milikku, apapun yang terjadi."
"Azka, tolong ... Aku mohon lepaskan aku. Nggak masalah kamu nggak mau antar aku pulang, tapi biarkan aku pergi dari sini. Aku mohon," pinta gadis itu memelas.
"Kita bicara lagi nanti. Sekarang sebaiknya kamu istirahat karena nanti malam akan menjadi malam yang paling indah untuk kita Sayang," kata Azka.
"Ya Tuhan Azka. Tolong jangan lakukan ini padaku, aku mohon." Cinta terus mengiba pada pria itu, berharap Azka akan luluh.
Namun pria itu tetap dengan egonya. Azka meninggalkan kamar itu dan menguncinya dari luar.
Cinta tak lagi sanggup menahan tangisnya. Dia menangis sejadi-jadinya, merasa bodoh karena telah begitu mudah mempercayai ucapan Azka ketimbang suaminya.
'Maafkan aku Mas.'
Satu jam berselang. Azka kembali menemui Cinta. Pria itu berjalan amat pelan, tak ingin mengganggu tidur wanita cantik yang kini tengah terlelap. Wajah Cinta yang basah dan sembab sama sekali tak mengurangi kadar kecantikannya.
Tangan Azka terulur untuk mengusap pipi Cinta. Halus dan sangat lembut. Jemarinya terus menelusuri wajah Cinta hingga membuat gadis itu terkesiap.
"Azka!" bentak Cinta.
"Maaf, kamu terlalu cantik dan aku nggak bisa menahan diri. Setelah menjadi milikku nanti, tak akan aku biarkan kamu pergi sedetik pun dariku."
__ADS_1
"Jangan gila Azka. Jangan seperti ini!" Cinta terus berusaha menepis tangan Azka saat hendak menjamahnya.
"Salahkan dirimu. Aku menjadi gila karenamu."
"Tolong Azka, masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih cantik dan lebih segala-galanya dibandingkan aku. Tolong lepaskan aku. Aku mohon ..."
"Jangan pernah meminta sesuatu yang tidak bisa aku kabulkan. Tak peduli ribuan wanita di luar sana, karena aku hanya menginginkan kamu seorang."
"Kamu benar-benar sakit jiwa Azka."
Azka terus memangkas jarak dengan wanita itu. Cinta bergidik ngeri dan rasanya mau muntah ketika melihat Azka menatapnya dengan sangat mendamba.
Cinta menjerit dan terus memukuli Azka. Ia tak sudi jika ada bagian tubuhnya yang disentuh pria lain karena dirinya hanya milik William seorang. Tak peduli seberapa banyak William pernah menggoreskan luka di hatinya, tapi Cinta tak akan pernah bisa menghapus pria itu dari hati dan juga hidupnya. Cinta terlampau mencintai William.
Azka terus mendekat hingga Cinta terpojok. Tubuh wanita hamil itu membentur dinding, tak ada jalan untuk melarikan diri. Cinta berpikir riwayatnya akan tamat detik itu juga.
"Aku ingin tahu bagaimana rasamu karena sepertinya William sekarang sudah mulai tergila-gila padamu." Azka mulai melucuti kancing kemejanya.
"Menjauhlah Azka, aku mohon. Kamu mau apa?"
"Pertanyaan bodoh yang tak perlu aku jawab. Aku juga ingin mencicipi bagaimana nikmatnya dirimu Sayang. Lihat!" mengusap leher Cinta. "William begitu banyak meninggalkan jejak percintaan di tubuhmu, menandakan betapa nikmatnya berada dalam dirimu."
"Menjijikan! Kamu sangat menjijikan Azka. Aku nggak sudi disentuh pria rendahan seperti dirimu!"
Azka menyeringai penuh arti. Kilatan di matanya menunjukkan betapa dia murka. "Aku tak peduli. Bagiku yang terpenting adalah memilikimu."
Azka bersiap merobek baju yang dipakai Cinta, saat sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.
Plak!
"Auw!" tubuh Cinta terjatuh di kasur. Tamparan Azka terasa sangat pedih hingga sensasi panas menjalar ke sekujur tubuhnya. Cairan pekat mengalir dari sudut mata Cinta.
"Berani sekali kamu meludahiku! Apa aku sangat menjijikan sampai kamu melakukan ini padaku."
"Ya, sudah aku bilang kalau kamu hanyalah pria rendahan. Memang apa yang kamu harapkan dariku? Kamu jauh lebih rendah dari binatang sekalipun."
Plak!
Tubuh Cinta kembali tersungkur. Cairan pekat berwarna merah yang mengalir dari sudut bibirnya makin deras. Tak hanya sakit di wajahnya, Cinta juga merasakan pandangannya menjadi buram.
"Jangan salahkan aku karena kamu yang memilih untuk diperlakukan kasar," sinis Azka.
Mengabaikan kondisi Cinta, pria itu merobek baju Cinta. Tak mempedulikan teriakan Cinta, baginya tak ada yang lebih penting selain mendapatkan Cinta sepenuhnya.
Brak!
Belum lagi bibir Azka menyentuh kulit Cinta, pintu kamar telah lebih dulu di dobrak. Azka yang terperanjat pun tak bisa berkutik saat pria berseragam cokelat mengacungkan senjata, mendekati dan membelenggu tangannya. Pria itu benar-benar kehilangan nyali hingga tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Cinta menangis tersedu. Dia pikir hidupnya akan berakhir. Cinta pikir Tuhan tak menyayanginya karena dirinya selalu ditimpa masalah bertubi-tubi. Namun, dirinya salah. Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan baginya untuk tetap bernapas dan menjalankan sisa waktu yang harus dijalaninya.
__ADS_1
Seseorang membalutkan jaket di tubuh Cinta, membuat gadis itu menoleh demi bisa melihat orang yang telah menyelamatkan dia dan juga bayi dalam kandungannya. Tak bertahan lama, Cinta kembali meledakkan tangisnya ketika melihat orang yang menolongnya sedang menatapnya sedemikian rupa.
Bersambung ....