Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bahagiamu adalah bahagiaku


__ADS_3

"Kau sudah dewasa sekarang dan bukan anak kecil lagi, kau sudah memiliki anak dan tanggung jawabmu sudah semakin besar sekarang dengan kehadiran Yara. Sekali lagi aku peringatkan, jangan bertindak gegabah karena jika sesuatu yang buruk terjadi padamu bukan hanya dirimu saja yang akan menanggung akibatnya, anakmu juga. Tadi itu kamu masih beruntung karena aku masih bisa mengajukan permohonan bebas bersyarat agar kamu tidak di tahan. Aku tidak janji akan bisa membebaskanmu kembali jika hal seperti tadi sampai terulang lagi. Semua keputusan ada di tanganmu, kau tinggal memilih jalan mana yang akan kau ambil."


Dion mengecup kening putrinya sekali lagi sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan rumah itu.


"Tunggu!"


Mendengar seruan itu membuat Dion yang hendak membuka handle pintu pun mengurungkan niatnya. Dia membalikkan badannya, pandangannya menyapu bersih pada satu titik di mana seorang wanita tengah berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Apa kau mau mengulang kembali semuanya dari awal jika aku memutuskan untuk berhenti?" ucap Mauryn.


Dion mendesah panjang, menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata, dia merasa perlu untuk berpikir sebelum mengucapkan sesuatu yang akan merubah hidupnya. Satu jawaban saja yang keluar dari mulutnya akan menentukan masa depannya. Dia tidak bodoh, dia tahu betul ke mana arah pembicaraan Mauryn saat ini. Gadis itu sedang mencoba untuk melakukan penawaran dengannya.


"Maksudmu?" akhirnya kata itu yang dia pilih untuk dijadikan tameng untuk menutupi ketidaksiapannya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mauryn.


"Jika aku memutuskan untuk menghentikan semua ini ... apa kamu masih mau kembali padaku dan mengulang semuanya dari awal?" Mauryn mengulangi ucapannya, berusaha sampai membuat Dion mengerti akan maksud hatinya.


Kembali, Dion hanya bisa mendesah nafas panjang. Ada begitu banyak keraguan dalam hatinya, tidak di pungkiri jika dia merasakan sedikit kebahagiaan begitu mendengar ucapan Mauryn yang mengajaknya untuk rujuk kembali,tapi separuh hati dia juga merasa ragu akan kesungguhan wanita itu.


"Baiklah, lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan itu padamu," ucap Mauryn, menyadari Dion yang sepertinya masih belum siap untuk menanggapi pernyataannya.


Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya ... bagaimana bisa aku menerima semua ini begitu saja setelah semua yang telah kamu perbuat padaku? Luka yang kamu torehkan begitu mendalam hingga membekas, lukanya bahkan masih belum kering sampai saat ini. Kau masih terus memberikan luka yang bertubi-tubi padaku dan tiba-tiba dengan mudahnya kau mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Pulanglah! aku ingin istirahat." Mauryn mendorong kereta bayinya menuju kamar.


Dion terkesiap, dia yang belum sepenuhnya tersadar dari lamunannya terus menatap kepergian Mauryn hingga bayangan wanita itu lenyap di balik tembok.


.


"Habiskan makananmu, ingat kalau saat ini ada dua nyawa yang bergantung padamu," ucap Ratih pada menantu nya.


"Iya Mi," jawab Hanum sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya. Semoga saja dia tidak mengeluarkan makanan itu lagi seperti yang sudah-sudah, begitu pikirnya.


Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tengah, menikmati secangkir teh sambil bercengkerama.


"Besok rencananya Papi sama Mami mau pulang ke Semarang," ucap Arya memulai percakapan.


"Hm ...," Sultan melirik kakek tua yang sedang menyesap teh nya.


"Kau mengusirku?" hardik Burhan pada cucunya, merasa terintimidasi oleh tatapan Sultan.


"Kakek yang bilang begitu, bukan aku." Sultan menggendikan bahunya.


"Dasar berandal ke ...," Sultan berjengit lalu menggeser posisinya begitu melihat Burhan hendak memukulnya dengan majalah.


"Aku rasa kakek harus segera mengganti panggilan kesayanganku menjadi lebih baik. Seperti anak tampan misalnya, usahawan sukses," Sultan tersenyum, menaik turunkan alisnya. "Aku sudah bilang aku punya nama, kalau kakek ingin mengganti nama panggilanku setidaknya gantilah dengan yang lebih baik dari 'berandal kecil', bagaimana kalau kebiasaan kakek itu tidak bisa hilang sampai anak-anakku lahir nanti, apa kata mereka nanti jika mendengar buyutnya memanggil ayahnya dengan panggilan seperti itu?" Sultan berkilah.

__ADS_1


"Kau selalu saja pandai mengolah kata."


"Memang Kakek pikir keahlianku itu aku dapat darimana? tentu saja dari Kakek karena aku mewarisi trah keluarga Pradipta, darahmu mengalir dalam diriku." Sultan tersenyum menang.


"Anak ini selalu saja membuatku kesal," dengus Burhan.


"Sudah hentikan! selalu saja begitu," Arya menyela.


"Biarkan saja Pi," Ratih menyenggol bahu suaminya.


"Kalau mereka dibiarkan terus beradu mulut seperti itu tidak akan pernah ada selesainya, Mi."


"Ya sudah," Ratih beralih menghadap ke arah Sultan, "Pokoknya ... besok Mami sama Papi mau pulang dan untuk sementara Kakek akan tinggal disini. Kakekmu masih betah disini jadi Mami baru akan menjemput beliau kalau Kakekmu sudah mengabari Mami ya."


"Tidak apa-apa Mi, Hanum malah senang ada Kakek disini. Kalau bisa malah Mami sama Papi tinggal di sini sekalian, biar Hanum nggak kesepian."


"Sayang ... maafkan Mami ya, karena urusan di Semarang tidak bisa di tunda-tunda. Tapi akan Mami usahakan untuk sering menginap di sini, kamu jangan sedih begitu." Ratih memeluk menantunya.


.


Di kamar utama.


"Mas ...," panggil Hanum. Dia membalikkan badannya, mengguncang bahu suaminya, "Mas ...," ulangnya.


"Aku tidak bisa tidur," cicitnya manja.


"Kenapa? memang kau mau makan apa?" tanya Sultan, karena terbiasa di bangunkan di tengah malam jika Hanum menginginkan sesuatu membuat Sultan pun berpikir jika saat ini Hanum sedang menginginkan sesuatu untuk dimakan.


"Tidak ... bukan itu."


Sultan yang bingung dengan maksud istrinya pun seketika bangkit dari tidurnya.


"Bukan apa maksudmu?" menyibakkan rambut Hanum yang menjuntai dan menyelipkannya ke balik telinga istrinya.


"Aku bukannya mau makan."


"Lantas?"


"Aku tidak bisa tidur. Aku sudah berusaha untuk memejamkan mataku tapi aku tetap tidak bisa tidur."


Sultan meraih remote lampu yang tergeletak di atas nakas, menekan nya hingga cahaya terang muncul seketika, setelahnya Sultan mematikan lampu tidur.


"Jadi ... mau apa sekarang?" Sultan berbisik tepat di telinga istrinya kemudian memeluknya.


"Bukan itu juga yang aku inginkan." Hanum menepis tangan suaminya yang mulai merayap untuk melepas kancing piyamanya.

__ADS_1


"Heh?" Sultan tertegun, dia menatap wajah istrinya.


Jika Hanum tidak membangunkan dirinya karena menginginkan sesuatu untuk di makan, hanya ada satu pilihan lagi, yaitu mengajak pria itu bercinta seperti tempo hari. Tapi sepertinya kali ini tebakannya telah salah begitu Hanum menolak ajakannya secara halus, tadi.


Sultan meraup wajahnya kasar, dia sama sekali tidak membayangkan apa yang sedang di inginkan istrinya saat ini dan itu membuatnya stress.


"Kalau begitu katakan apa maumu?"


"Buatkan aku susu rasa mocca, setelah itu temani aku. Kita bisa menghabiskan malam dengan bercerita."


"Cerita apa?" tanya Sultan yang masih belum mengerti maksud pembicaraan Hanum.


"Apa saja, cerita tentang masa lalumu, masa kecilmu, atau masalah pekerjaan. Yang jelas aku sedang ingin mendengarkan ceritamu."


"Kamu tuh, Mas perhatikan sejak kamu hamil jadi sering aneh-aneh." Sultan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya kemudian merangsak turun dari tempat tidur.


"Mas ...,"


Sultan membalikkan badannya, "Ada lagi selain susu rasa mocca?" tanyanya.


"Maafkan aku ya ... selama ini aku selalu merepotkanmu."


Sultan memutar langkahnya, mengurungkan niatnya untuk turun ke dapur lalu mendekati Hanum.


"Siapa yang bilang kalau kamu membuatku repot? aku ikhlas melakukannya dan malah aku sangat bahagia jika aku bisa menuruti semua keinginanmu." Sultan meraih dagu istrinya yang sejak tadi terus menundukkan kepala nya, membuat mereka saling bertatapan. "Aku mencintaimu, dan aku sudah pasti akan melakukan segala hal yang bisa membuatmu bahagia, karena bahagiamu adalah bahagiaku juga, sayang."


Sultan mendekatkan kepala Hanum dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening istrinya.


"Jangan terus menekuk wajahmu begitu, yang ada aku malah tambah gemas lho."


Hanum masih terdiam, tak menanggapi ucapan suaminya. Melihat hal itu membuat ide jahil muncul di kepala Sultan.


Secara mengejutkan dia langsung merebahkan tubuh Hanum di atas kasur, disusul tubuhnya yang mulai naik ke atasnya. Menjadikan tangannya sebagai penopang agar tak langsung menindih tubuh hanum, takut menyakiti bayi yang tumbuh dalam rahim wanitanya.


"Kau sudah membangunkan sesuatu yang sejak tadi berusaha aku tahan. Dan sekarang, sudah terlambat jika kau ingin mundur."


Dan sedetik kemudian, terjadilah apa yang seharusnya terjadi antara sepasang suami istri yang begitu saling mendamba.


Desahan nakal nan manja yang lolos dari bibir Hanum terasa begitu menggelitik dan makin membangkitkan gairah pria itu. Keduanya pun larut dalam kegiatan yang membuat keduanya merasakan sesuatu yang sering orang sebut dengan surga dunia.


.


Sementara tepat di seberang jalan rumah Sultan, terparkir mobil berwarna merah yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Seseorang di dalamnya terus saja menatap kamar Sultan sambil sesekali memukul kemudi mobilnya, terlihat jelas kilatan amarah di matanya.


.

__ADS_1


__ADS_2