
Sultan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya berkecamuk, hatinya gusar. Dia begitu mencemaskan keadaan istrinya saat ini, suara gadis itu terdengar begitu ketakutan tadi sewaktu di telpon.
Apa yang membuat istrinya begitu ketakutan masih menjadi misteri selama Sultan belum bertatap muka langsung dengan pujaan hatinya.
Sultan terus memacu laju mobilnya, seperti seorang pembalap profesional dia mulai menyalip setiap kendaraan yang di depannya, sementara mobil Adam dan Raka menyusul tak kalah cepat di belakangnya.
Sama seperti Sultan, wajah kedua temannya pun diliputi kecemasan.
Sultan segera menepikan mobilnya begitu dia memasuki pelataran rumahnya, berbagai macam pikiran buruk berkecamuk di kepalanya begitu melihat keadaan rumahnya yang tak ubahnya seperti kapal pecah.
"Hanum ... Sayang!" panggilnya sambil menaiki anak tangga.
Sultan segera membuka lebar pintu kamarnya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan demi menemukan sosok wanita yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya.
Tergesa membuka pintu kamar mandi begitu melihat Hanum tak ada di sana. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika melihat isi kamarnya yang sangat berantakan.
"Sayang ... kamu di mana? jangan membuatku takut." Sultan berlari meninggalkan ruangan tersebut dan kembali turun ke bawah.
Kemana semua orang? kenapa tidak ada satu orang pun di rumah ini, apa yang telah terjadi? ya Tuhan.
Sultan mulai menyisir setiap ruangan untuk mencari keberadaan istrinya, jantungnya mempompa lebih cepat di iringi deru nafas yang memburu dan keringat yang bermunculan di dahinya.
Kilasan kejadian buruk yang menimpa Hanum sewaktu mereka masih tinggal di apartemen dulu, mulai bermunculan di benaknya.
"Brengsek! sialan! siapa yang berani melakukan ini padaku?" teriaknya saat melihat keadaan yang sama seperti ruang tamu dan kamarnya, hampir seluruh ruangan dalam rumah tersebut sama berantakannya.
Tangisnya mulai pecah begitu melihat ada noda darah yang berceceran di lantai, terdapat pecahan kaca di mana-mana. Semua perabotan yang ada di sana hancur, dan melihat sekilas keadaan rumahnya saja Sultan sudah langsung bisa mengerti kalau baru saja terjadi keributan di sana.
Tubuh Sultan lunglai merosot di atas dinginnya lantai, di sentuhnya cairan merah kental yang menyisakan noda di sana.
Dia kembali terisak.
Ya Tuhan ...
"Astaga! Sultan."
Adam dan Raka yang baru saja sampai rumah itu di buat terkejut dengan sambutan yang tidak di sangka oleh keduanya. Pos keamanan yang sepi, keadaan di dalam rumah yang begitu hancur berantakan, noda darah di lantai.
Keduanya berlari menuju tempat di mana Sultan tengah menangis dengan kaki tertekuk di lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Adam begitu dirinya sampai ruang tengah, tempat di mana Sultan menangis.
"Dam, katakan padaku. Di mana Hanum? di mana dia Dam! ku mohon beritahu aku di mana dia?" Sultan mencengkeram kemeja yang di kenakan Adam. Rasanya dia begitu frustasi sampai tidak bisa berpikir jernih sekarang.
Tangis Sultan masih belum reda, pria itu masih larut dalam perasaan yang dia sendiri tidak bisa mengartikannya. Di mana rasa takut, marah, cemas bercampur menjadi satu, air matanya luruh begitu saja, semakin menjadi-jadi manakala kembali mengingat kondisi Hanum yang lemah dan sedang mengandung.
"Aku sudah lapor polisi, sebentar lagi mereka akan tiba di sini," ucap Raka.
"Bagaimana bisa tidak ada satu orang pun yang ada di rumah ini Dam? kemana perginya mereka semua? apa yang sudah terjadi? di mana Hanum, di mana istriku!" Sultan masih terisak.
Tak ada yang bisa Adam lakukan selain memeluk teman sekaligus orang yang sudah dia anggap sebagai adik itu. Melihat keadaan rumah ini membuatnya bisa memahami apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Sultan. Pastilah Sultan merasa begitu ketakutan, dia juga tertekan ketika tidak mendapatkan satu orang pun di rumah ini untuk sekedar menanyakan keberadaan istrinya, bagaimana kondisinya? dan itu semua sungguh membuat Sultan hampir gila.
Selang beberapa menit kemudian terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan teras rumah Sultan.
Mereka bertiga pun segera berlari menuju ke depan, berharap kedatangan seseorang akan memberikan sedikit gambaran tentang apa yang baru saja terjadi di sana.
__ADS_1
Terlihat beberapa orang berseragam cokelat memasuki rumah Sultan, dan yang membuat ketiga pria itu terkejut adalah ketika melihat seorang pria paruh baya muncul di belakang para anggota kepolisian yang datang.
"Pak Dadang." dengan langkah kaku Sultan mendekati pria itu, pria yang hampir satu tahun ini dia pekerjakan sebagai supir pribadinya untuk mengantarkan istrinya bepergian.
Di sentuhnya kening pria itu yang terbalut kain perban, melihat bibir pria paruh baya itu yang pecah dan berdarah meninggalkan luka, lengannya yang memakai penyangga tangan di tambah sekujur tubuh pria itu yang di penuhi luka lebam sungguh membuat batin Sultan semakin terluka.
"Apa yang terjadi Pak?" lirih Sultan, terlalu lama menangis membuat suaranya serak.
.
Sultan duduk di tengah, di apit oleh Adam dan Raka sementara pak Dadang duduk di hadapan Sultan. Ada kurang lebih lima orang anggota kepolisian yang saat ini sedang mengecek seluruh ruangan di rumah itu.
Sultan kembali meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja. setelah menghabiskan dua gelas air, tangisnya sedikit reda, keadaannya mulai stabil dan saat ini dirinya telah siap mendengarkan cerita dari pak Dadang.
"Cepat ceritakan padaku Pak, apa yang terjadi di rumah ini selama aku pergi?" suara Sultan terdengar meninggi dengan bibir bergetar.
"Saya akan menceritakan semuanya, tapi harap Tuan tenang ya." tangan keriput pak Dadang bergetar, dia merasakan hatinya kembali sakit saat di paksa untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi di rumah itu.
"Iya Pak, ayo katakan!" Adam menyentuh bahu Sultan, dia menatap sendu kedua bola mata yang kembali di penuhi cairan bening tersebut.
"Sekitar pukul enam sore, Non Hanum baru pulang dari luar setelah bertemu dengan teman-teman nya. Saya lihat ada dua orang perempuan yang berwujud seperti lelaki yang mengikutinya."
"Iya Pak, itu bodyguard wanita yang aku sewa untuk melindungi Hanum." Sultan meraih tangan pria tua itu, seolah memberikan kekuatan padanya untuk kembali bercerita.
"Kira-kira jam tujuh, satu jam sejak kepulangan Nona, tiba-tiba ada dua buah mobil yang memaksa masuk. Dua mobil itu hendak menerobos gerbang, petugas keamanan sudah melarang mereka untuk masuk tapi mendadak keluar segerombolan orang dari dalam mobil dan secara membabi buta memukuli tiga orang petugas keamanan hingga belur, Tuan."
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Pak?" tanya Sultan begitu tak sabar.
"Saya yang sedang duduk di teras pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam dan memberitahu kejadian itu pada Nona. Waktu itu Nona dan Tuan sepuh sedang makan malam. Tapi belum sempat saya memberitahukan hal tersebut, langsung terdengar pecahan perabot yang dihancurkan oleh sekelompok orang itu." netra coklat pria yang sebagian rambutnya telah memutih itu, berkaca-kaca, menandakan betapa suasana hatinya sedang kacau saat ini.
"Kira-kira Bapak tahu siapa orang itu? dari mana datangnya? apa tujuan mereka datang kemari dengan cara seperti ini?" Adam menatap lurus pria tua di hadapannya.
"Saya kurang tahu Tuan, penampilan mereka seperti preman, tubuh mereka besar-besar dan berotot, terlihat sangat menakutkan." pak Dadang menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Setelah selesai menghancurkan ruang tamu, mereka berteriak memanggil nama Non Hanum."
"Jadi benar dugaanku, orang-orang itu ke sini bukan untuk mencuri melainkan untuk membawa Hanum," tanpa sadar Adam mengatakan hal tersebut, kembali mengundang tangis Sultan.
"Lanjutkan ceritamu Pak," titah Raka.
"Apa yang di katakan oleh Tuan Adam memang ada benarnya, orang-orang jahat itu kemari untuk membawa Nona Hanum pergi. Tuan sepuh mencoba melindungi Nona tapi naas, mereka juga memukuli tuan Sepuh hingga Tuan sepuh jatuh pingsan."
"Astaga ... ya Tuhan." rasanya Sultan tidak sanggup untuk mendengar cerita pak Dadang lagi. Mendengar Kakeknya di aniaya membuatnya begitu terpukul, pria itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Bukan hanya Tuan sepuh dan satpam saja yang di pukuli, mereka juga memukuli semua orang yang ada di rumah ini." pak Dadang melanjutkan ceritanya.
"Bagaimana dengan Hanum Pak? bagaimana dengan istri saya?" Sultan hendak bangun dari tempat duduknya namun Adam menekan bahu Sultan agar kembali duduk.
"Tenanglah!" seru Adam.
"Bagiamana aku bisa tenang? kau menyuruhku untuk tetap tenang dalam keadaan seperti ini? aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaan istriku saat ini dan kau menyuruhku untuk tetap tenang? bisakah kau melakukan itu juga kau yang berada di posisiku?" Sultan menaikkan volume suaranya.
"Setidaknya biarkan pak Dadang menyelesaikan ceritanya." Adam membalas dengan nada tak kalah tinggi.
"Sudah-sudah, lebih baik kita mendengarkan kembali apa yang ingin di ceritakan oleh pak Dadang. Kalian juga ingin mengetahui dengan jelas apa yang baru saja terjadi kan?" Raka berusaha untuk menengahi, tidak ingin keadaan semakin memanas dengan perdebatan dua orang di sampingnya.
Hening sejenak.
__ADS_1
"Mereka menyeret Non Hanum dan membawanya pergi bersama mereka, mereka terus memukuli orang yang berusaha menggagalkan upaya mereka membawa pergi Non Hanum, tak terkecuali. Kedua pengawal wanita Non Hanum juga di pukuli, mereka sempat berkelahi namun melihat kenyataan yang ada, kami kalah jumlah di bandingkan dengan mereka, membuat dua pengawal itu pun terluka parah. Tuan sepuh pingsan, kedua pengawal itu, pak Parmin juga tidak lolos dari serangan membabi buta mereka. Suasana di ruang makan benar-benar kacau Tuan, tidak hanya kami para pria saja yang dipukuli. Mereka yang seolah tak punya hati pun sampai tega memukuli para wanita, hingga puncaknya Non Hanum yang tidak tahan akhirnya memilih untuk ikut pergi bersama mereka."
"Bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa menimpa istriku? dia wanita yang baik kenapa dia selalu menderita." Sultan mengusap kasar wajahnya yang basah dengan air mata. "Kenapa dia menyerahkan diri dengan sukarela pak dan pergi begitu saja dengan mereka?"
"Karena Non Hanum merasa mungkin sudah tidak ada jalan lain lagi Tuan, tujuan utama orang-orang jahat itu kemari memang untuk menculik Non Hanum. Itu sebabnya daripada semakin banyak orang yang dipukuli dan menjadi korban, Nona memilih untuk mengalah." pak Dadang mencengkeram erat gagang cangkirnya.
"Apa orang-orang itu juga melukai Hanum Pak?" Sultan menegakkan kepalanya yang sejak tadi terus tertunduk.
"Tidak Tuan, mereka sama sekali tidak berbuat kasar pada Nona kecuali menyeret tangan Non Hanum saja."
"Lalu?"
"Setelah berhasil membawa Non Hanum pergi, kami saling membantu satu sama lain. Diantara kami semua Indah lah yang lukanya tidak parah, dia masih bisa menelpon ambulans dan membawa kami ke rumah sakit."
"Jadi sekarang Kakek dan yang lainnya ada di rumah sakit?" tanya Sultan.
"Betul Tuan, Tuan sepuh sudah sadar dan hanya mengalami sedikit cedera di bahu kanannya yang kena pukul."
"Pria tua itu, beliau benar-benar kuat. Aku salah karena aku telah meremehkan beliau, bisa-bisanya Kakekku itu tidak mengalami luka parah padahal sudah di pukuli oleh preman yang pastinya memiliki tenaga dan juga pukulan yang keras." Sultan tersenyum getir.
"Tuan akan jauh lebih kagum lagi jika melihat Tuan sepuh sempat berkelahi dengan beberapa preman itu sekaligus, saya yakin sekali kalau sewaktu Tuan sepuh masih muda itu beliau pasti jago beladiri, terbukti dari caranya berkelahi."pak Dadang pun memuji Burhan.
"Kakekku itu jawaranya, kalau mendengar cerita orang-orang, di Semarang sana, tidak ada satu pun orang yang berani pada beliau. Semua orang tunduk dan kagum terlebih dengan segudang prestasi yang beliau dapatkan. Beliau juga banyak melakukan kontribusi demi kemajuan kota Semarang, jadi tidak heran kalau semua orang begitu mengagumi dan menghormati beliau."
"Saya juga bisa melihatnya Tuan," pak Dadang menyahut.
"Lalu bagaimana keadaan yang lainnya Pak?" tanya Sultan sedikit lebih tenang.
"Kami semua memang terluka Tuan, tapi sudah mendapatkan perawatan dari dokter dan sekarang sudah lebih baik."
"Ya sudah kalau begitu, kembalilah ke rumah sakit Pak, Bapak juga masih memerlukan perawatan," ucap Sultan, dia mencemaskan kondisi pak Dadang yang memang belum membaik secara keseluruhan.
"Iya Tuan, tadi memang saya memaksa dokter untuk mengizinkan saya pulang sebentar, saya harus segera melaporkan kejadian ini ke kantor polisi dan kebetulan ketika saya sampai di sana, Tuan Raka menelpon petugas polisi yang sedang berjaga,jadilah saya ikut sekalian."
"Iya Pak, terima kasih karena Bapak sudah berjuang untuk menyelamatkan istri saya sampai Bapak terluka begini," ucap Sultan tulus.
"Tidak perlu berkata begitu Tuan, ya sudah saya pergi dulu."
Baru saja pak Dadang melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat tersebut namun dia pria paruh baya itu kembali membalikkan badannya.
"Tuan, saya hampir lupa." menatap Sultan sejenak. "Sebelum pergi, Non Hanum sempat berpesan pada saya."
"Dia bilang apa Pak?" Sultan merubah posisinya menjadi berdiri.
"Non Hanum bilang, dia tidak apa-apa, menyuruh Tuan untuk tidak terlalu mencemaskan keadaan nya. Dia bilang dia sangat mencintai Tuan, percaya pada takdir yang sudah di gariskan Tuhan untuk kalian. Tuhan pasti akan menuntun Tuan dan membawanya segera menemukan di mana keberadaan istri Anda. Ada satu hal lagi yang perlu Tuan tahu."
"Apa itu?" tanya Sultan.
"Non Hanum pergi sambil tersenyum, dia bilang kalau Tuan pasti tidak akan bisa tidur karena terus memikirkan keadaan nya. Dan sekali lagi Non Hanum mengatakan kalau, biarkan Tuhan yang akan menuntunmu, Tuhan akan memberikan jalan pada Tuan dan mempersatukan kalian kembali."
Mendengar penuturan pak Dadang membuat Sultan sedikit lega, dia memang belum mengetahui di mana dan bagaimana keadaan wanita itu sekarang tapi mendengarkan pesan yang di sampaikan oleh istrinya, memberikan kekuatan kepada dirinya untuk segera bangkit.
Sultan tidak punya waktu untuk meratapi kesedihannya lagi, jika istrinya saja bisa dengan lapang dada menerima setiap cobaan dari Yang Maha Kuasa, kenapa dirinya tidak bisa melakukan hal yang sama? bukankah selama ini Tuhan lah yang sudah mempertemukan mereka dan dengan caraNya yang luar biasa juga menyatukan keduanya lewat ikatan suci pernikahan.
Hanum mengatakan hal itu dengan sangat yakin, tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya karena dia percaya sepenuhnya akan cinta dari suaminya untuknya. Dan Tuhan merestui itu. Tidak mungkin akan ada campur tangan Tuhan jika memang mereka tidak di takdirkan untuk hidup bersama. Rasa cinta yang ada dalam diri Sultan maupun Hanum adalah murni rasa yang di titipkan oleh yang Kuasa kepada mereka, lihat bagaimana cara Tuhan menjaga dan memelihara rasa cinta di antara keduanya, mereka bahkan sempat berpisah dan berjalan di atas kehidupan yang berliku namun pada akhirnya mereka tetap bersatu juga. Dan akan tetap seperti itu, selamanya, itulah yang diyakini oleh Hanum.
__ADS_1
.