
Rutinitas yang terjadi dalam kamar Willmar kian memanas. Desahan dua insan yang tengah melakukan penyatuan itu terdengar saling bersahutan, menenggelamkan suara derasnya hujan yang masih mengguyur bumi.
"Argh ... Mas." Raisa terus merintih di bawah kungkungan suaminya.
Willmar sering sekali mendengar rintihan tertahan Raisa, tapi entah mengapa ada yang berbeda kali ini. Terasa jauh lebih membahagiakan. Pun saat panggilan 'mas' Raisa sematkan di depan namanya, Willmar merasa sangat dicintai.
Pria itu menghentikan aksinya, membuat Raisa yang hampir mencapai puncaknya menjadi frustasi. Willmar sangat menikmati raut wajah Raisa yang terlihat kesal. Titik-titik peluh yang mengembun di sekitar pelipis wanita itu, juga desahan yang terus lolos, makin dilengkapi dengan mata setengah terpejam. Willmar benar-benar gila dibuatnya. Dengan cepat Willmar membalikkan tubuh Raisa seolah tubuh wanita itu seringan kapas.
"Mas." Raisa hendak protes, bersamaan dengan Willmar yang kembali memasukinya dari belakang. "Argh ... ya ampun."
Senyuman kembali terbit di bibir Willmar. Ia mulai memompa miliknya lagi, membuat Raisa menjerit. Willmar begitu pandai membuat Raisa melayang hingga pada akhirnya wanita itu pasrah menerima siksaan kenikmatan yang bertubi-tubi Willmar berikan.
"Oh, Rai ... kamu membuatku gila." Willmar mulai meracau. Pria itu makin mempercepat tempo permainannya saat merasakan dirinya hampir sampai.
"Pelan-pelan Mas." merasakan gerakan suaminya makin menggila membuat Raisa tak tahan.
Tak lama setelahnya, lolongan panjang penuh kenikmatan terdengar lolos tanpa hambatan dari bibir Willmar, menandakan berakhirnya perjalanan menuju puncak nirwana yang ia daki saat ini. Ya, hanya saat ini karena Willmar sudah berniat untuk terus menggempur istrinya sampai dia lelah.
Masih dalam posisi saling menempel, Willmar menggeser sedikit tubuhnya lalu menarik tubuh Raisa hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Raisa berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuh polos mereka akan tetapi dengan cepat Willmar menendangnya.
"Memang apa lagi yang mau kamu tutupi? nggak ada satu pun bagian dari tubuhmu yang luput dari penglihatanku, aku bahkan sudah menikmatinya jadi tak perlu merasa malu begitu. Terima kasih Sayang."
"Apa kamu bahagia?" lirih Raisa.
"Tentu saja. Aku sangat bahagia berkatmu."
"Aku takut jika aku tak bisa memu ..."
"Aku sangat puas, dan aku sangat bahagia. Memilikimu saja sudah cukup Sayang, jangan bebani otakmu dengan pikiran-pikiran buruk karena sedikit pun aku nggak rela jika kamu sampai tersakiti. Kamu mengerti?"
Raisa mengangguk. Entah kebaikan apa yang pernah dia lakukan sehingga dia dianugerahi suami yang begitu baik. Willmar sama sekali mempermasalahkan soal keturunan, pun dengan keluarganya dan itu yang membuatnya merasa sangat beruntung.
"Jangan tidur dulu."
Raisa hampir saja tersentak begitu mendengar peringatan keras dari sang suami. "Kan udah dua kali juga."
"Siapa yang membangunkan singa tidur tadi? kamu kan? jadi kamu yang harus tanggung jawab juga untuk menidurkannya," ucap Willmar.
"Bukankah aku sudah melakukannya?"
"Memang, tapi kamu harus memastikan dia benar-benar lelap dan nggak bangun lagi."
Bersamaan dengan itu, Raisa mulai merasakan milik suaminya kembali menegang dan menusuk kulitnya. Ia berjingkat, menggeser sedikit tubuhnya, tapi sepertinya Raisa lupa jika suaminya bukan orang yang mudah melupakan janji. Apa yang pria itu katakan, tentu saja hal itu akan menjadi kenyataan.
Willmar kembali naik ke atas tubuh Raisa, mengusap puncak kepala wanita itu kemudian berpindah ke wajahnya.
"Aku sangat mencintaimu."
Tak peduli seberapa sering Willmar mengatakan itu padanya, yang jelas Raisa selalu tersentuh tiap kali dia mendengarnya. Raisa memejamkan mata saat Willmar mengusap setitik cairan yang menerobos dari sudut matanya.
"Jangan menangis karena aku nggak akan pernah ikhlas jika kamu meneteskan satu butir air mata pun." Willmar memajukan wajahnya, memangkas jarak dan memberikan kecupan di kening Raisa.
__ADS_1
Raisa membuka matanya perlahan. Senyuman terindah ia persembahkan pada pria berhati seluas samudera yang telah merelakan sisa hidupnya demi bisa bersama wanita penuh kekurangan seperti dirinya. Lalu, tanpa pernah Willmar duga, dengan cepat wanita itu meraih tengkuknya. Cara Raisa menikmati bibirnya sungguh membuat Willmar hilang kendali.
Raisa dibuat merintih saat telapak tangan Willmar mulai memanjakan bongkahan dadanya bergantian. Malam masih panjang bagi dua insan yang sibuk menyelami madu cinta.
.
.
"Mas, makan dulu. Habis mandi kamu langsung main sama Jayden, ini udah malam lho," kata Cinta.
"Nanti aja Sayang."
"Selalu ngomong begitu dari tadi. Ya udah deh, aku ke dapur dulu ya, aku bawakan makan malam kamu ke sini aja."
William tersenyum memamerkan deretan giginya. "Terima kasih Sayang."
Tanpa menjawab, Cinta gegas mengayunkan kakinya menuju ruangan yang kini telah sepi. Hanum memang menyuruh para pekerjanya untuk masuk kamar setelah jam delapan malam, dan meminta anggota keluarganya untuk melakukan segala sesuatu sendiri dari batas waktu itu. Berkat didikannya, William dan Willmar pun menjadi sosok yang mandiri.
Setelah mengambil nasi lengkap dengan lauknya, juga botol air minum dan menaruhnya di nampan, Cinta pun kembali ke kamarnya. Dia sedikit kesusahan saat berusaha membuka pintu, saat itulah dia dengan jelas mendengar suara nakal yang terus bersahutan dari kamar adiknya. Wanita itu pun tersenyum sambil memasuki kamarnya.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" William yang tengah sibuk bermain dengan Jayden pun membenahi posisinya.
"Emangnya Mas nggak dengar ya?"
"Dengar apa?"
"Rai sama Willmar sedang mendayung sampan di pulau kenikmatan Mas," jawab Cinta, jujur.
"Aku sampai merinding dengarnya Mas." Cinta menghempaskan bokongnya di bibir ranjang.
"Hati-hati Sayang," kata William pada istrinya.
"Kenapa?"
"Takut kamu nggak tahan terus perkossa aku." tawa William meledak usai mengatakan itu.
"Ih, nggak lucu ya Mas, awas aja kamu! aku tambah jatah puasa kamu jadi lebih lama, mau?"
"Ya ampun Yang, bercanda doang. Ya deh iya, maaf."
"Udah, sebaiknya Mas makan dulu," kata Cinta mengalihkan pembicaraan.
"Tapi masih mau main sama si ganteng," rengek pria itu, manja.
Terpaksa, Cinta mengalah. "Ya udah sini aku suapin."
William bersorak kegirangan. Ia pun mulai menerima suapan Cinta dan makan dengan lahap tanpa mengalihkan perhatiannya dari bayi mungil yang tengah berbaring menatapnya di kasur.
"Sayang," panggil William.
"Kamu ngerasa nggak kalau mata si ganteng itu mirip kamu?"
__ADS_1
"Masa sih?"
"Iya, pas pertama lahir wajahnya itu mirip kamu banget, tapi lama-lama aku perhatikan kok jadi mirip aku ya?"
Cinta mengamati wajah putranya, netra bening Jayden masih terus tertuju pada William. "Ah, masih mirip aku, kan biasanya anak laki-laki emang mirip ibunya Mas."
"Mirip aku lah, coba kamu perhatikan wajahnya baik-baik. Pasti mirip aku," ujar William, kekeuh dengan pendapatnya.
"Itu mah maunya kamu aja Mas. Nanti kita tinggal bikin lagi, syukur perempuan karena katanya kan anak perempuan mirip ayahnya, biar adil. Biar kamu nggak ngaku-ngaku kalau ketampanan Jayden itu warisan dari kamu," oceh Cinta.
"Kita pakai kontrasepsi aja nanti, aku masih ngeri membayangkan kamu melahirkan. Aku yang rasanya seperti mau mati, Yang."
"Semuanya itu udah diatur sama Tuhan Mas, kita kan cuma ditugaskan untuk menjalaninya saja. Lagian nggak semua proses melahirkan itu seberat waktu aku melahirkan Jayden, Mas," balas Cinta dengan santainya.
"Aku pikir-pikir dulu deh nanti."
Cinta terkekeh. Mungkin akan terasa aneh mengingat kebanyakan suami istri biasanya para suami yang cenderung ingin memiliki banyak anak, sedangkan dalam kasusnya saat ini malah suaminya yang ketakutan jika kembali memiliki anak.
Acara suap menyuapi itu selesai, Cinta kembali ke dapur untuk mencuci peralatan makan kotor itu dan menaruhnya di rak piring.
"Sayang, sepertinya Jayden haus, kamu susui dia dulu deh," kata William begitu Cinta kembali ke kamar.
"Iya Mas." Cinta mencari posisi ternyaman agar dia dapat memberikan ASI-nya dengan baik untuk bayinya.
William masih menggenggam tangan mungil Jayden sambil mengecupi pipi gembul bayi itu. "Cepat besar anak Ayah, biar kita bisa main bola sama-sama."
"Iya Ayah," jawab Cinta menirukan suara anak kecil.
"Hm, Sayang."
"Ya Mas?"
"Kayaknya rumah kita yang dikasih sama mama bakalan aku jual deh."
"Kenapa emangnya?"
"Mama bilang sayang kalau nggak ditempati kan? sedangkan kita nggak mungkin kembali lagi ke sana, jadi atas saran papa juga aku niat mau jual rumah itu, uangnya nanti buat investasi yang lain."
"Aku sih terserah kamu aja Mas, kamu yang lebih ngerti soal begituan."
"Ya udah kalau kamu udah kasih izin, aku akan jual rumah itu. Willmar pun sama, mereka akan menetap di sini jadi sayang juga kalau rumahnya dianggurin."
"Ya, setelah melihat situasinya memang akan lebih baik jika kita tinggal bersama di sini."
William menguap. Rasa lelah berpadu dengan kantuk membuatnya tertidur lebih dulu. Tentu dengan posisi seperti biasa dengan Jayden di tengah mereka. William melarang Cinta menidurkan Jayden di box bayi.
Setelah memastikan anak dan ayah itu tertidur, Cinta menaikkan selimutnya, mengecup kening William dan Jayden bergantian sebelum merebahkan diri dan menyusul suaminya ke pulau mimpi.
Ternyata benar bahwa hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. William membuktikan kesungguhannya dengan membantu membalut luka Cinta hingga setiap kesakitan yang Cinta rasakan dulu, kini berganti menjadi kebahagiaan tiada tara. Cinta telah mengikhlaskan kepergian Tania dengan sepenuh hati, dan mencoba berdamai dengan keadaan. Melihat ketulusan William membuat keraguan dalam hatinya lenyap tak berbekas.
Bersambung ....
__ADS_1