
"Mas," panggil Hanum pada suaminya. "Aku haus," ucapnya lagi sambil memegangi tenggorokannya.
Sultan menoleh, setelah lebih dari satu jam berada dalam ruang periksa, disinilah sekarang mereka berada, di ruang tunggu bagian farmasi.
"Aku ke kantin dulu ya, mau beli air minum." Hanum bangun dari tempat duduknya.
"Jangan!" cegah Sultan. "Apa kamu tidak bisa menahannya sebentar lagi? aku tidak bisa membiarkanmu sendirian."
"Hanya ke kantin," bujuk Hanum.
"Masalahnya kalau aku yang pergi untuk membelinya, aku tidak mau meninggalkan kamu sendirian di sini dan jika kamu pergi ke kantin sendirian juga bisa berbahaya, lantas siapa yang akan menunggu obatmu?" terang Sultan.
"Ya sudah." pasrah, Hanum kembali duduk di tempat semula.
"Sebentar lagi, ya ...,"
Hanum mengangguk, dia yang merasa sudah tidak tahan lagi untuk menahan dahaganya terus melirik jam tangannya.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya seorang petugas apoteker memanggil namanya, bergegas Sultan bangkit dari sana kemudian kembali mendekati istrinya setelah berhasil mendapatkan sekantong obat di tangan kanannya.
"Ayo," Sultan meraih pinggang Hanum.
"Beli minum," rengek Hanum lagi.
"Ya, maaf membuatmu menunggu. Aku lupa tidak membawa botol minuman untukmu padahal aku tahu betul jika dirimu mudah haus, terlebih selama pemeriksaan kehamilan tadi juga menghabiskan waktu cukup lama. Kau pasti sangat kehausan." gemas, Sultan mengacak pelan rambut istrinya.
"Makanya, ayo cepat belikan aku minum!" Hanum mempercepat langkah kakinya hingga membuat Sultan hampir terseok begitu Hanum menyeret lengannya.
Di dalam mobil.
Hanum menghembuskan nafas lega begitu ia berhasil membasahi tenggorokannya, menghabiskan separuh isi botol air mineral dingin yang diberikan oleh Sultan padanya.
Tak terasa hari telah berganti menjadi gelap, Sultan melirik arlojinya, pukul setengah tujuh malam.
"Mau mampir makan malam dulu?" ajak Sultan.
"Pulang saja ya, kasihan kakek kalau harus makan malam sendirian," tolak Hanum.
Baru saja Hanum selesai mengatakan hal tersebut ketika dia mendengar suara getaran ponsel yang berasal dari saku celana suaminya.
Tak butuh waktu lama untuk Sultan meraih ponselnya, pria itu menyunggingkan sebuah senyuman begitu melihat nama yang tertera di layar. Menggoyangkan benda pipih nan canggih tersebut di depan Hanum.
"Panjang umur kakek tua itu," gumamnya pada Hanum.
"Hust! bicara yang sopan, beliau itu kakekmu," omel Hanum pada suaminya.
"Begitu saja marah," celetuk Sultan.
"Apa?" Hanum menaikkan sedikit volume suaranya.
"Tidak ... tidak ..., tolong terima teleponnya sebelum kakek memarahiku karena menunggu terlalu lama," titahnya pada sang istri.
__ADS_1
Hanum mengambil alih gawai tersebut.
"Hall ...,"
"Heh, berandal kecil! mau sampai kapan kamu terus berada di pengadilan? ini sudah malam," maki Burhan karena mengira kalau Sultan lah yang mengangkat panggilan tersebut.
Hanum sampai terlonjak saking kagetnya hingga dia hampir saja menjatuhkan ponsel tersebut.
"Apa kau tuli?" lagi, Burhan memaki cucunya yang dia anggap tidak sopan karena telah mengabaikannya.
Ini semua memang kesalahan Sultan, seharusnya sebelum memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, hendaknya mereka berpamitan pada Burhan terlebih dulu agar pria tua itu tak begitu mencemaskan keadaan cucunya. Sama halnya dengan suaminya, Hanum pun sampai melupakan hal sepenting itu. Jadilah mereka berdua menjadi tersangka yang siap untuk di interogasi habis-habisan oleh Burhan begitu mereka sampai di rumah nanti.
"Yaaah ...," teriak Burhan. "Kau kemana kan cucu kesayanganku? dia sedang mengandung penerusku, apakah kau menjaganya dengan baik?"
"Ka ..., Kakek," ucap Hanum tersendat. "Ini Hanum Kek."
"Cucu kesayanganku, kau baik-baik saja kan, Nak?"
"Ya, Kek. Hanum baik-baik saja, ini Hanum sama Mas Sultan masih dalam perjalanan pulang. Kakek sudah makan malam?"
"Mana bisa aku makan dengan tenang jika aku tidak mengetahui dimana keberadaan cucuku," sergah Burhan.
"Maaf, sebenarnya Hanum sudah pulang dari pengadilan sejak jam satu siang, Kek. Hanum mampir ke pusat perbelanjaan dan lupa mengabari kakek. Maaf membuat kakek khawatir," ucapnya memelas, berharap Burhan tidak memarahi dan memberikan hukuman pada Sultan.
"Tidak masalah selama kau baik-baik saja. Lain kali jangan terlalu lama menghabiskan waktu di tempat keramaian seperti itu. Kakek takut kamu kelelahan," kata Burhan, mencemaskan cucu menantunya.
"Tidak, Kek. Hanum tidak selama itu berada di sana. Setelah pulang dari pusat perbelanjaan, kami mampir ke rumah sakit terlebih dulu dan ...,"
"Hanum baik-baik saja jadi kakek tidak perlu cemas, Hanum ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kandunganku, Kek."
"Syukurlah, kakek kira kenapa. Ya sudah, segeralah pulang, kakek menunggu kalian."
"Baik, Kek."
"Beritahu berand ..., maksud kakek, beritahu suamimu untuk mengemudikan mobilnya dengan benar," pesannya pada Hanum sebelum panggilan tersebut berakhir.
"Ya, Kek. Sebentar lagi kami sampai di rumah."
"Heran aku, memang Mbok Darmi kasih makan Kakek apa sih sampai-sampai beliau itu galaknya nggak ketulungan," seloroh Sultan sambil menggelengkan kepalanya, heran. "Tiap hari kerjaannya marah melulu, bagaimana nggak kena darah tinggi, tuh,"
"Kamu tuh, selalu saja begitu kalau sama Kakek, nggak pernah akur. Ribut terus ...," Hanum mencebik.
"Ya, mau bagaimana lagi. Seperti ini adanya antara aku dan Kakek."
"Tapi omong-omong, kenapa kamu tidak ada mirip-miripnya sedikitpun dengan Kakek ya? biasanya antara kakek dan cucunya pasti ada kemiripan meskipun hanya satu, tapi rasanya ... sama sekali tidak ada satupun dalam dirimu yang mirip dengan Kakek, Mas." Hanum mengawasi suaminya mulai dari kepala hingga ujung kaki pria itu.
Secara fisik, jelas sekali terlihat kalau Sultan memang tidak mewarisi satu pun bentuk tubuh dari kakeknya sedangkan perangainya, jangan di tanya lagi. Hampir tiap hari kedua pria itu selalu bertengkar bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, keduanya sungguh jauh berbeda bak langit dan bumi.
"Mami, orang-orang bilang aku mirip Mami. Dan yang mirip dengan Kakek adalah mendiang Sakti, banyak sekali kemiripan yang di temukan dalam diri Sakti hingga membuat orang-orang menjuluki Sakti sebagai cerminan Kakek sewaktu muda, itulah sebabnya Kakek menjadikannya sebagai cucu kesayangannya,dulu," Sultan menyahut.
Hanum tergugu, untuk pertama kalinya setelah menikah, tentunya menikah dalam artian yang sesungguhnya yang mana dia dan Sultan telah saling menyatu dan menjalani kehidupan rumah tangganya dengan normal layaknya pasangan suami istri lainnya, Sultan menyebut nama mendiang adiknya.
__ADS_1
"Ah, maafkan aku. Aku sampai tidak sadar kalau aku baru saja me ...," belum sempat Sultan meneruskan ucapannya, Hanum sudah menyahut.
"Tidak apa-apa, lagi pula apa yang Mas ceritakan, itu kan hanya masa lalu. Dan sekarang kamulah masa depanku, tidak masalah sekalipun kamu menceritakan tentang mendiang Mas Sakti."
"Sekali lagi maaf ...," Sultan menggenggam tangan Hanum dengan tangan kirinya.
"Aku mencintaimu."
Sultan terpaku, tak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Hanum, terlebih ketika Hanum mengecup pipinya, setelahnya.
.
Hanum dan Sultan segera membersihkan diri begitu mereka sampai di rumah lalu bergegas menuju meja makan, merasa tak enak hati karena telah membuat Burhan menunggu lama.
Selang beberapa menit kemudian, mereka tengah duduk di ruang keluarga, mereka jarang sekali berkumpul di sana semenjak kejadian penculikan Hanum waktu itu.
"Jadi bagaimana hasil USG nya?" Burhan tak sabar untuk mendengarkan penuturan Hanum.
"Semuanya baik-baik saja, Kek. Bayinya aktif bergerak,mereka tumbuh dengan baik," Hanum menyahut sambil mengelus perutnya.
"Lalu, apakah mereka bayi kembar laki-laki atau perempuan? atau satu lelaki satunya perempuan?" kakek tua itu terus mengulas senyum di bibirnya.
"Menurut kakek, apa jenis kelamin mereka?" tanya Sultan. "Bagaimana kalau tidak sesuai dengan keinginan Kakek?"
"Dasar berandal kecil!" Burhan memukul kepala cucunya. "Kau ini selalu saja membuat keributan, merusak suasana saja."
"Apanya yang merusak suasana? aku kan hanya bertanya." Sultan menampilkan raut wajah kesalnya.
"Apapun jenis kelamin mereka itu tidaklah penting, yang terpenting adalah mereka lahir dengan selamat, tidak kekurangan juga tidak kelebihan suatu apapun. Bisa melihat tumbuh kembang mereka, itu sudah cukup untuk kakek."
"Lihat saja nanti begitu Hanum melahirkan, kakek akan kewalahan jika harus menjaga kedua cicit laki-laki yang kadar ketampanannya dua puluh empat karat, melebihi ketampanan ayahnya, ini." Sultan terkekeh, merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Tunggu dulu! jadi mereka kembar laki-laki?" tanya Burhan, tangannya yang telah mengeriput ia gunakan untuk membelai perut Hanum.
Sepasang suami istri itu mengangguk bersamaan.
"Syukurlah, tadinya kakek berharap mereka adalah bayi kembar laki-laki dan satunya perempuan. Biar nanti kalau kakek sedang bermain bola dengan cicit laki-laki, cicit perempuannya akan menyiapkan makanan dan minuman ketika kami selesai bermain. Dua cicit laki-laki pun tidak masalah, kakek akan mengajari mereka bela diri nantinya dan satu hal yang pasti, kakek tidak akan membiarkan mereka tumbuh menjadi anak bengal seperti ayahnya, dulu," celoteh Burhan panjang lebar.
"Apa?" pekik Sultan, tatapan membunuh pada pria tua di hadapannya, seolah tak terima diperlakukan seperti itu oleh Burhan. "Yang benar saja, aku kan ayahnya. Dan lagi, apa itu bengal? aku kan ...," Ucapan Sultan terpotong.
"Sayang, Nak. Ayo sebaiknya kita kembali ke kamar." Burhan bangkit sambil menggandeng tangan Hanum yang memang sejak tadi berada di sampingnya. "Istirahat ya, kau pasti lelah seharian di luaran. Jangan lupa kunci pintunya dan jangan biarkan anak nakal itu masuk," pesannya pada Hanum disusul lirikan mata sengit pada Sultan.
"Yaaah ... sebenarnya ada masalah apa kakek denganku? kenapa kakek selalu memperlakukan aku dengan tidak adil seperti ini?" Sultan menjambak rambutnya, frustasi.
"Sudah cepat, masuklah ke kamarmu! ingat untuk mengunci pintunya dan jangan membiarkan suamimu masuk." Burhan memperingatkan cucu perempuannya.
Sementara Hanum berjalan kaku meninggalkan suaminya, Burhan menyeringai licik seakan mengejek cucunya.
"Kakek ...," teriak Sultan.
"Kasihan!" Burhan menjulurkan lidahnya, membuat Sultan makin meradang.
__ADS_1
.