
Sepanjang rapat berlangsung Sultan terlihat begitu gusar, berulang kali dia berganti posisi, penjelasan yang diuraikan oleh seorang staf ahli yang sedang berdiri di depan sama sekali tidak masuk ke dalam kepalanya karena sejak keberangkatannya ke kantor tadi pagi, Hanum lah yang selalu mendominasi isi kepalanya. Terlihat sekali Sultan tidak fokus dengan rapat penting pertama yang berjalan pagi ini, padahal masih ada dua jadwal rapat penting yang masih akan berlanjut siang dan sore nanti.
Raka yang sedang duduk di samping kanan Sultan pun bisa menangkap kegelisahan temannya. Dia paham betul apa yang membuat perhatian Sultan terbagi, saat ini.
Sedetik kemudian Sultan menjentikkan jarinya pada Raka, memberikan kode pada pria itu untuk mendekatkan wajahnya.
"Aku sama sekali tidak bisa konsentrasi, kalau terus begini bisa jatuh pingsan, aku," keluhnya pada Raka begitu pria itu mendekatkan wajahnya.
"Lebay," bisik Raka.
Raka memundurkan kursinya kemudian berdiri.
"Mohon maaf, Pak Sultan sedang kurang sehat, sebaiknya kita tunda dulu rapat ini," pintanya sopan sambil membungkuk hormat pada hadirin yang duduk di sana.
"Ya sudah kalau begitu," salah seorang pria menyahut.
"Saya akan meminta sekretaris kami untuk mengatur ulang jadwal rapatnya, sisanya kalian atur, saya harap tidak ada satu pun kesalahan ataupun kekurangan yang kita temui pada rapat selanjutnya. Sekian, sampai bertemu lagi pada kesempatan berikutnya." sekali lagi Raka membungkuk sopan.
Seperti dikomando, sekumpulan orang yang menghadiri rapat tersebut pun bergegas membubarkan diri. Satu per satu orang keluar dari sana hingga menyisakan Sultan dan Raka.
"Terus terang saja, aku sepertinya sudah tidak kuat bekerja denganmu lagi. Aku mau resign saja," gagas Raka.
"Berhenti bicara omong kosong! aku sama sekali sedang tidak berminat mendengarkan ocehan recehmu itu," sengit Sultan menanggapi pernyataan temannya.
"Lagian kamu tuh, sebelum kamu jadi budak cinta istrimu, aku perhatikan kamu nggak begini-begini amat deh. Kalau terus menerus mengurus kamu yang nggak jelas begini, bisa-bisa aku sama Mira botak, rontok rambut kami karena stress mengurusmu."
Sultan terpingkal mendengar penuturan temannya.
"Malah tertawa, aku serius," kata Raka sambil menyenggol bahu Sultan.
"Aku hanya sedang membayangkan akan seperti apa jeleknya dirimu kalau botak."
Tawa Sultan makin pecah.
"Tidak lucu!" sentak Raka.
Kesal, Raka pun pergi meninggalkan Sultan sendirian.
"Sensitif amat sih?" goda Sultan begitu dia berhasil mengejar temannya.
"Aku serius Tan, coba kamu pikir, berapa banyak kerugian yang dialami oleh perusahaan selama ini akibat dari ketidakprofesionalanmu? bukan hanya rugi secara materiil, kita juga rugi waktu. Nanti kalau misalnya ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab?" celoteh Raka panjang lebar.
Raka yang merasa jengkel pun segera mendaratkan bokongnya di sofa begitu dia sampai di ruangan Sultan. Meneguk segelas air putih hingga habis kemudian menarik kasar dasinya.
"Sorry ...," cicit Sultan pelan, dia memang selalu begitu, akan menjadi penakut di hadapan temannya jika Raka mulai menunjukkan sifat aslinya, tegas.
"Kalau saja aku tidak menanggung biaya hidup Ibu dan juga anak orang yang telah aku peristri, entahlah ... mungkin aku sudah mundur. Tidak hanya stress, bisa-bisa aku sudah kehilangan akal sehatku dan berakhir di rumah sakit jiwa seandainya terus mengikuti cara kerjamu," sinisnya pada Sultan.
"Apakah seburuk itukah performaku selama ini?" ragu, Sultan bertanya.
"Lebih dari ini," jawab Raka.
"Astaga." Sultan memijat pelipisnya.
Keduanya diam, saling mengunci rapat mulut masing-masing. Untuk sesaat Raka termenung, melihat keadaan dirinya saat ini yang tak jauh berbeda dengan pria di hadapannya, berantakan.
"Pulanglah! sidang putusan Mauryn akan digelar satu jam lagi. Jangan sampai kau terjebak macet dan terlambat sampai di pengadilan," ucap Raka, datar.
"Maaf ...," hanya itu yang sanggup Sultan ucapkan.
"Sejujurnya aku juga sangat ingin menghadiri sidang itu, aku sangat penasaran dengan vonis hukuman yang akan dijatuhkan oleh hakim pada perempuan jahat itu tapi rasanya tidak memungkinkan. Pergilah, biar aku yang akan mengurus pekerjaanmu di kantor."
__ADS_1
Raka kembali meneguk segelas air putih, rasanya dahaganya belum terpuaskan. Keningnya berkerut begitu melihat Sultan masih berada di tempatnya.
"Tunggu apa lagi?" tanyanya pada Sultan.
"Sedang memikirkanmu," celetuk Sultan.
"Ish," Raka mencebik. "Aku tidak butuh permintaan maaf atau kompensasi apapun darimu. Kita ini kan saudara, dan dalam sebuah hubungan persaudaraan tidak ada kata maaf atau ...,"
"Aku suka gayamu," potong Sultan tiba-tiba. Raut wajah cerianya telah kembali.
"Cih! cepat pergi atau aku akan berubah pikiran?"
Raka melihat Sultan begitu aneh hari ini, sepertinya suasana hati temannya itu benar-benar sedang tidak stabil. Sedikit-sedikit murung, sekejap kemudian ceria kembali dan kali ini, Sultan kembali menampilkan wajah sedihnya.
"Ck ... masih belum pergi juga?" Raka berdecak.
"Apa menurutmu aku harus pergi?" lirih Sultan, di tatapnya lekat wajah Raka.
"Kau mau dengar pendapatku?" Raka balik bertanya.
"Kalau aku tidak membutuhkan pendapatmu untuk apa aku bertanya?"
"Kalau menurutku kamu dan Hanum memang wajib hadir di sidang itu," Raka mengemukakan pendapatnya.
"Hanum?" tanya Sultan. Pria itu mengernyitkan keningnya, tak habis pikir dengan usulan Raka yang meminta istrinya hadir di persidangan.
"Ya," jawab Raka singkat.
"Alasannya?"
"Wanita jahat itu telah memberikan begitu banyak penderitaan pada istrimu, dia bukan hanya berniat menghancurkan rumah tanggamu saja, tapi lebih dari itu."
"Dan bukannya tadi pagi kamu bilang kalau Hanum sempat meminta izin padamu untuk datang ke persidangan itu kan?"
"Ya, tapi kan ...,"
"Ada kalanya kita harus menguatkan hati untuk melihat sesuatu yang tidak ingin kita lihat," ucap Raka, memotong perkataan temannya. "Coba kamu pikir, sejauh ini sudah berapa banyak kejahatan yang Mauryn lakukan pada Hanum, bukan hanya pada Hanum saja tapi juga ada banyak orang yang wanita itu sakiti, dan melihat orang yang telah berbuat jahat pada kita di saat-saat terakhir adalah momen terpenting yang sayang jika dilewatkan."
"Begitukah?" tatapan mata Sultan penuh tanda tanya.
"Aku rasa Hanum akan jauh merasa bahagia dan tenang menjalani kehidupannya setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana orang jahat itu dihukum," terang Raka.
"Tapi rasanya aku takut sekali, takut terjadi sesuatu pada Hanum nanti."
"Itu berarti kau tidak mempercayai istrimu sendiri."
"Hah?"
"Seharusnya kau mengenal istrimu dengan baik,selama ini Hanum tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak dia yakini. Dia tidak akan repot-repot meminta izin darimu jika dia merasa dengan kembali melihat Mauryn itu bisa membahayakan dirinya. Aku rasa Hanum cukup cerdas untuk mengambil keputusan." Raka kembali meraih gelasnya, gelas ketiga yang ia gunakan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Tunggu apa lagi? apa penjelasan dariku belum cukup membuatmu mengerti?" imbuh Raka.
"Baiklah, aku pergi," pamitnya pada Raka.
"Hati-hati! ajaklah Adam ikut serta, bukankah selama ini dia sudah menjadi kakak sekaligus bapak buat kita?"
"Tentu," jawab Sultan singkat.
Pria itu meraih kunci mobilnya, bergegas meninggalkan kantor.
.
"Sayang ...," Sultan berteriak memanggil istrinya begitu dia tak mendapati Hanum berada di kamar.
__ADS_1
Sedikit berlari menuruni anak tangga, turun ke bawah untuk mencari dimana keberadaan istrinya.
"Hanum ... Sayang ...," panggilnya lagi.
"Ada apa Mas? kenapa berteriak?" Hanum muncul dari pintu dapur yang menghubungkan langsung dengan taman belakang. "Kenapa sudah pulang, tadi katanya ada rapat penting? apa kamu sakit?" imbuhnya sambil memegang kening Sultan begitu mereka sudah berdekatan.
"Pergilah ganti baju, kita akan menuju gedung pengadilan."
"Apa?" Hanum terlihat bingung.
"Aku sehat, aku baik-baik saja. Tadi katamu kamu mau menghadiri sidang itu kan? Lekas ganti baju agar kita tidak terlambat," beritahu Sultan pada istrinya.
Membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk Hanum berpikir hingga kemudian gadis itu mengulas senyumnya dan bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Memang apa yang membuatmu berubah pikiran Mas?" tanya Hanum begitu keduanya sedang dalam perjalanan menuju kantor pengadilan.
"Aku mau kamu melihat perempuan jahat itu untuk yang terakhir kalinya, melihat bagaimana wanita itu dihukum atas segala perbuatan jahatnya."
"Memang kamu tidak takut jika nanti aku drop lagi?"
"Aku percaya padamu, kamu tidak akan mengambil resiko untuk sesuatu yang tidak kamu yakini," terang Sultan.
Hanum kembali melemparkan senyum manisnya, meraih tangan Sultan dan menggenggamnya dengan erat.
"Setelah ini aku harap hidup kita lebih tenang kedepannya tanpa dibayang-bayangi perempuan jahat itu lagi. Mari kita mulai hidup yang baru, kita akan bahagia dengan hadirnya mereka di tengah-tengah keluarga kecil kita," Sultan melepaskan genggaman istrinya dan kemudian mengelus perut istrinya yang mulai membuncit.
"Pasti," gumam Hanum pelan.
.
"Berdasarkan bukti-bukti dan juga pernyataan beberapa saksi mata yang berhasil dihadirkan di hadapan hakim ketua, saudari Mauryn dinyatakan bersalah dan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, saudari dijatuhi hukuman vonis pidana kurungan selama seumur hidup," suara hakim ketua terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut disusun ketukan palu sebanyak tiga kali.
Dan sedetik kemudian suasana dalam ruangan tersebut dipenuhi sorak-sorai juga tepuk tangan pada hadirin yang datang.
Berbeda dengan wajah kebanyakan orang yang tersenyum menang karena merasa puas dengan vonis hukuman yang dijatuhkan oleh hakim pada Mauryn, Hanum terlihat menyeka butiran air yang yang menggenang di pelupuk matanya. Tubuhnya masih bergetar bahkan sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di sana.
"Sayang," bisik Sultan sambil menarik tubuh Hanum ke dalam pelukannya. "Kau baik-baik saja?"
"Hm." gadis itu mengangguk.
Hanum masih larut dalam perasaannya, ada rasa yang sulit dia definisikan, dia merasa bahagia mengetahui Mauryn mendapatkan hukuman atas perbuatan jahatnya tapi di sisi lain dia juga merasa kasihan. Secara tidak langsung dia menyalahkan dirinya sendiri atas segala yang terjadi.
"Hanum."
Hanum mendongak, menatap sosok orang yang telah memanggil namanya, dan begitu melihat orang tersebut hatinya kembali trenyuh.
Ditatapnya wanita berseragam navy dengan wajah pucat, matanya yang sembab mengisyaratkan kalau dia menghabiskan setiap harinya dengan menangis.
"Kau pasti sangat membenciku, aku sudah begitu jahat padamu dan aku bisa maklum jika kamu tidak mau memaafkan aku tapi ... biar bagaimanapun aku tetap akan meminta maaf padamu," ucap Mauryn dengan bibir bergetar.
Hanum membisu, tubuhnya kaku sementara lidahnya kelu, ingin rasanya dia berucap tapi kerongkongannya serasa tercekat.
Hingga dua orang polisi yang mengawal Mauryn menyeret tubuh wanita itu, mengatakan jika dia harus segera masuk ke dalam sel tahanan.
Dengan langkah terseok Mauryn mengikuti langkah dua orang yang menyeret tangannya. Air matanya jatuh berderai, membayangkan dirinya yang telah begitu kejam melakukan segala kejahatan, dia terus melangkah dengan sejuta penyesalan. Sampai di ambang pintu gadis itu menoleh, menatap wajah wanita yang telah dia sakiti. Dalam hatinya dia terus mengucapkan ribuan kata maaf yang meskipun dia tahu kalau Hanum tidak akan pernah bisa mendengarnya.
Sementara di sisi lain, Hanum yang masih berdiri di tempatnya terus menatap kepergian Mauryn. Sultan terus menggenggam tangan istrinya, mencoba memberikan kekuatan pada wanita yang saat ini sedang mengandung anaknya.
.
Mohon maaf ya kalau feel-nya kurang ngena di hati kalian, aku tuh sebenarnya lagi ada kesibukan di dunia nyata jadi agak gimana gitu pas nulisnya karena perhatiannya terbagi. Semoga kalian terhibur dengan tulisan recehku ini ya dan terimakasih buat kalian yang selalu menyempatkan waktu untuk membaca kelanjutan cerita HanSul.🙏🙏🙏🥰🥰🥰
__ADS_1