
"Mas," desis Cinta saat tangan William kembali merayap di bagian tubuhnya yang menjadi favorit pria itu. Melirik jam dinding yang menggantung di atas pintu, membuat cinta menggeram marah.
"Say ..."
"Mau apa lagi, ini sudah ketiga kalinya, apa kamu merasa belum puas juga," sambar Cinta, memotong ucapan suaminya. "Kamu selalu mengatakan 'sekali lagi' tapi kamu terus mengulanginya. Awas saja berani kamu mengganggu tidurku Mas, aku akan memberikan hukuman yang tidak bisa kau bayangkan," ancam Cinta.
Reflek William memundurkan tubuhnya, pria itu merinding membayangkan sikap Cinta ketika wanita itu menghukumnya. Kira-kira hukuman seperti apa yang Cinta berikan, hanya wanita itu dan Tuhan saja yang tahu.
"Galak banget kamu Yang," ringis William.
"Aku lelah, setelah semua yang Mas lakukan padaku, habis-habisan seperti singa lapar bahkan hingga tiga kali putaran, apa Mas masih belum puas juga?"
"Bukan soal itu," sanggah William.
"Lalu soal apa? Benar-benar kamu Mas." rentetan omelan Cinta masih panjang.
"Iya, maaf."
"Kita bisa melakukannya sebanyak yang kamu mau, tapi beri aku jeda. Dengan posisiku sekarang aku sangsi bisa mengimbangimu Mas. Kita akan melakukan lagi, masih banyak waktu, percayalah ..."
William beringsut dari kasurnya, Cinta pikir suaminya marah tapi ternyata dugaannya salah. William mengambil kaos dan celana pendek miliknya dan memakaikannya di tubuh Cinta. Ia tak mungkin memakaikan Cinta baju tidur minim bahan lagi, yang ada bisa-bisa Cinta benar-benar menghukumnya.
"Sekarang tidur ya Sayang," bisik William.
"Kita bisa melakukannya lagi besok. Oke?"
"Iya," balas William, singkat.
"Jangan ngambek Mas. Aku udah susun jadwal buat besok," celetuk Cinta.
"Jadwal? Jadwal apa? katamu kamu nggak mau jalan-jalan dan hanya ingin menikmati masa-masa berdua di kamar hotel saja."
"Jadwal untuk menyenangkan hati kamu Mas."
"Hah?" William masih belum mengerti.
"Ajak aku jalan-jalan Mas, kita nonton ke bioskop atau melakukan apa saja kegiatan yang bisa kita lakukan berdua," usul Cinta.
"Malamnya gimana?"
"Tenang. Aku akan tetap memberikan hakmu malam ini," balas Cinta.
"Oke. Terima kasih Sayangku." mengecup kening juga wajah wanita itu.
William tersenyum, tentu saja apa yang akan diberikan Cinta sudah lebih dari cukup. William pun tak mau sampai kegiatan ini mengganggu bayi mereka.
Pagi harinya.
Aneka jenis makanan telah terhidang di meja dekat kamar saat Cinta keluar dari kamar mandi. Suaminya yang semula duduk manis sembari memainkan tangannya pada keyboard laptop langsung menutup komputer lipatnya. Mendekati istrinya dan membimbingnya untuk duduk.
"Mau makan yang mana dulu?" Sengaja William memesan makanan berat untuk sarapan karena istrinya yang cantik jelita itu tak akan puas jika hanya sarapan dengan dua lembar roti berlapis selai.
"Ini aja."
William mengangkat piring yang ditunjuk istrinya. Nasi goreng seafood dengan wangi yang menggugah selera, topping berupa telur mata sapi, acar dan juga taburan bawang goreng di atasnya membuat air liur Cinta terbit.
Menikmati sarapannya sambil terus menatap William, Cinta merasa diperlakukan layaknya ratu dengan setiap perlakuan William. Ketakutan itu sesekali muncul di hati Cinta, takut jika apa yang sedang ditunjukkan William hanyalah semu semata, tapi rasa itu berangsur punah saat ketulusan demi ketulusan William tunjukkan padanya.
"Mas," panggilnya lirih.
"Heum, apa Sayang? minum?"
Cinta menggeleng, ia genggam tangan suaminya.
"Kenapa?" pria itu menatap penuh tanya.
"Enggak apa-apa," sangkal Cinta.
"Jangan bohong. Katakan padaku apa yang ingin kamu katakan. Bukankah kita udah sepakat untuk saling terbuka."
Cinta menundukkan kepalanya, tapi William bergerak cepat dengan menaikkan dagunya. "Ada apa, heum?"
Cinta masih membisu.
__ADS_1
"Kalau Mas ada salah, tolong kasih tahu biar aku bisa memperbaikinya."
"Bukan itu."
"Lantas?"
"Aku takut." Cinta kembali menunduk, menyembunyikan ketakutannya.
"Apa yang kamu takutkan?" William menggeser kursinya demi bisa lebih dekat dengan Cinta. "Aku akan selalu ada di dekatmu, jadi kamu nggak perlu takut," imbuhnya.
"Aku takut kedekatan kita ini hanya mimpi. Aku takut semuanya akan berakhir sama seperti ketika pernikahan kita yang pert ..."
Cinta terkejut bukan main saat William dengan cepat meraih tengkuknya dan membenamkan ciuman di bibirnya, membuat semua kalimat yang berhasil dia rangkai kembali tertelan. William terus membungkam mulut istrinya dengan ciuman panas akan tetapi dilakukannya dengan sangat lembut.
Dirasa cukup, William melepaskan tautan bibirnya, menempelkan dahinya di dahi Cinta. "Ini sama sekali bukan mimpi, dan nggak akan ada kata berakhir dengan hubungan kita karena sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankannya. Aku tahu sulit bagimu untuk kembali menerimaku seperti sedia kala, tapi aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu."
William mengusap bibir istrinya yang lembab dan sedikit bengkak akibat ulahnya. "Jika aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu, aku nggak akan repot-repot berjuang untuk mendapatkanmu Sayang. Apa kamu pikir aku mengejarmu karena adanya dia?" mengusap perut Cinta.
"Aku sangat menyayanginya, aku juga merindukan kehadirannya, tapi asal kamu tahu. Alasan utamaku mengejar kamu adalah karena ini." memukul dadanya sendiri. "Karena aku menyadari aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Cinta yang ada di sini selalu menyiksaku jika sehari saja aku tak melihatmu." William mengecup kening Cinta.
"Jika memang aku tidak memiliki cinta untukmu, kita masih bisa membesarkan anak kita sama-sama tanpa menikah, kamu juga pernah mengatakan hal itu padaku sebelumnya. Tapi aku nggak bisa! Aku nggak bisa kalau harus berpisah sama kamu Sayang!" tegas William.
Suasana meja dengan view menghadap pemandangan indah di bawahnya itu berubah menjadi sendu. William dengan cepat membawa Cinta ke dalam dekapannya. Ia memeluk istrinya sangat erat, seolah menegaskan bahwa di sini dirinyalah yang paling takut untuk ditinggalkan.
"Berhenti meragukanku Sayang. Aku mohon ..."
"Maafkan aku Mas. Aku hanya takut kamu akan ninggalin aku lagi," lirih Cinta.
"Oh, Sayang. Justru akulah yang lebih takut jika ditinggalkan sama kamu."
"Maafkan aku."
"Jangan terus meminta maaf, atau aku akan menghukummu," ancam William.
"Oke, aku siap menerimanya," jawab Cinta, mantap.
"Sungguh?" Wajah pria itu bersemu merah, paham dengan maksud perkataan Cinta.
Ah, jantung William serasa meledak melihat cara Cinta menatapnya. Sangat menggoda.
"Mas? kok diam?"
"Habiskan dulu sarapanmu," ucap pria itu bergetar, menunjuk isi piringnya yang masih menyisakan sedikit nasi di sana.
"Udah kenyang Mas, sekarang tinggal bersiap-siap."
"Siap-siap untuk apa?" tanya William dengan polosnya.
Dengan gemulai Cinta meninggalkan kursinya, mengedipkan matanya nakal pada pria yang masih duduk mematung di meja makan.
Sial!
Cinta benar-benar membuat pria itu terpesona hingga William merasa jatuh begitu dalam di pelukan wanita itu.
Cinta menaikkan kakinya dan duduk di pangkuan suaminya. Jemari lentiknya menelusuri rahang William, sementara satu tangannya dengan lincah melucuti kancing baju suaminya.
"Sayang, jangan seperti ini. Aku takut bayi kita tertekan."
"Aku sudah memastikan dia tetap aman Mas." Cinta menyentak kain yang membungkus dada bidang William, lalu membuangnya, sama persis seperti ketika William menghempas pakaiannya.
"Aaah ... Cinta."
William mengerang saat lehernya serasa disengat. Ini kali pertama seumur pernikahannya dengan Cinta, gadis itu menyerangnya terlebih dulu.
Cinta tersenyum penuh arti. Puas menelusuri leher William, gadis itu kembali menggoda suaminya dengan terus mengusap dada polos William dengan gerakan sensual.
"Sudah cukup, dasar nakal."
William menyambar bibir merah jambu Cinta dan menyesapnya tanpa ampun. Kepala pria itu terus bergerak menyesuaikan dengan posisi agar istrinya masih dapat bernapas.
Cinta meraih punggung William, mengeratkan pelukannya. Pria itu menjeda sejenak ciumannya, menggotong istrinya dan membaringkannya di kasur.
"Sayang." William hendak protes ketika Cinta bangun dari sana.
__ADS_1
"No!" menggeleng tegas. "Kali ini biarkan aku yang melakukannya lebih dulu Mas," ujar Cinta.
Wanita hamil itu dengan cepat merubah posisi, mendorong William hingga punggung pria itu membentur kasur. Cinta kemudian menarik tali kimononya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
"Diamlah, jangan banyak bicara dan biarkan aku melakukannya Mas."
William pasrah saat Cinta mengikat kedua tangannya ke atas dengan tali kimono yang dipakainya. Setelah memastikan ikatannya rapi, Cinta menurunkan tubuhnya dan mulai beraksi. Leher pria itu kembali dia serang.
William tak percaya jika istrinya yang cantik itu mengambil alih tugasnya. Ini kali pertama Cinta menguasai permainan.
Demi Tuhan.
William berani bersumpah jika ini adalah kegiatan ranjang terpanas yang pernah dia lewati bersama Cinta.
"Aaah ... Sa ... Sayang." desahan pria itu terdengar naik turun, terlebih saat Cinta menggodanya dengan terus memanjakan miliknya.
Sungguh, sulit dijabarkan dengan kata-kata untuk mengungkapkan kenikmatan tiada tara yang kini menggulung William.
Cinta tersenyum penuh kemenangan. Melihat suaminya menggeram frustasi sambil menahan nikmat adalah hal paling menyenangkan baginya.
"Ya Tuhan Cinta ..." lagi-lagi pria itu menggeram. Lepaskan aku Sayang, aku mohon," lirih William, memelas.
"Oh, nggak semudah itu Mas, aku akan melepaskanmu nanti. Ada saatnya."
Cinta kembali melanjutkan aksinya. Seperti William memanjakannya, seperti itu pula dia ingin memanjakan suaminya. Cinta mempercepat gerakannya hingga tubuh William menegang.
"Cinta, hentikan ini Sayang!" teriaknya, tapi jangan harap Cinta akan mendengarkannya. Gadis itu terus dengan melanjutkan aksinya.
"Ya Tuhan Cinta." Pria itu terus menggeram riuh rendah, frustasi karena tak bisa melakukan apa-apa dengan tangan terikat di atas kepala.
William melolong panjang. Beruntung kamar hotel yang ditempati mereka kedap suara hingga dia tak perlu was-was orang akan mendengar jeritannya yang memalukan. William memejamkan mata menikmati rasa yang sulit dia gambarkan. Nikmat. Sangat nikmat.
William mengatur napasnya yang memburu. Ia membuka mata dan melihat istrinya sibuk menyeka bibirnya dengan tisu. Gadis itu menggodanya lagi dengan mengedipkan matanya.
"Sayang, kamu ini," gumam William. "Lepaskan ikatanku Sayang, kamu perlu dihukum."
"Tentu saja, tapi nanti," bisik Cinta.
"Sayang, ayolah! kau tidak tahu betapa aku tersiksa." pria itu memohon.
"Oke Sayang, tenang. Aku masih punya satu kejutan lagi untukmu."
"Sayang, jangan macam-macam."
"Tidak. Aku hanya mau satu macam."
Oh, tidak!
William benar-benar dibuat gila oleh wanita hamil yang sekarang pandai menyenangkan hatinya. Di depan matanya, William melihat Cinta melepaskan kain yang menutupi tubuhnya. William tersentak Cinta dengan cepat membuang kain itu dan naik ke kasur.
William menggeram. Ingin rasanya dia menempelkan bibirnya di bibir ranum Cinta. Pria itu benar-benar menggila saat ini.
Lalu dengan gerakan perlahan, Cinta kembali menaiki tubuh suaminya. Sengaja dia bergerak untuk terus menggoda William. Cinta mengusap rahang suaminya yang kini basah oleh keringat. William frustasi, ia terus mencoba menghentikan aksi Cinta, tapi Cinta terlalu lihai menggodanya.
"Sayang, ku mohon jangan siksa aku."
Cinta tersenyum. Ia sengaja menggoda William dengan terus mengusap wajah juga dada pria itu dengan gerakan amat lembut.
"Sayang, sudah cukup kita bermain-main, sekarang biarkan aku melakukan tugasku. Aku mohon," pinta William memelas.
"Oh ya, apa yang akan Mas lakukan seandainya aku berhenti bermain-main?"
"Maka dari itu berhentilah dulu, lepaskan ikatanku dan biarkan aku membuktikan ucapanku padamu. Kamu mau bukti kan?"
"Oke."
Cinta pun menuruti suaminya, ia terpaksa mengakhiri perannya kali ini dan membiarkan William juga mengambil bagian atas penyatuan indah mereka.
Ternyata dua insan yang tengah dimabuk cinta itu kembali merasakan indahnya menjadi pengantin baru, hal yang tidak mereka rasakan pada pernikahan pertama mereka dulu. Melihat ketulusan William membuat Cinta pun memberanikan diri membuka hati dan menerima pria itu sepenuhnya. Ketulusan yang ditunjukkan William tak main-main, Cinta sendiri telah merasakan betapa cinta itu telah hadir dan menjadikan namanya sebagai satu nama yang kini bertahta menguasai kerajaan hati pria bernama William itu.
Bersambung ....
__ADS_1