Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Pulang


__ADS_3

Sambil menunggu, William menopang dagu seraya menyaksikan ibu dari anaknya itu selesai berdandan. Cinta tengah memulaskan liptint di bibirnya.


"Rasa stroberi kan? nanti sore ganti yang rasa cokelat ya," kata William.


"Hm." Cinta hanya berdehem sambil menyelesaikan riasannya.


"Kamu tuh sebenarnya nggak usah dandan juga udah cantik Sayang. Bentuk badanmu masih bagus, orang nggak akan percaya kalau kamu udah punya buntut satu."


Cinta mencebik. "Ayo, aku udah lapar."


William meninggalkan kursinya dan mengikuti langkah Cinta menuju ruangan di sebelah kamar. Ada sebuah meja bundar dengan aneka jenis makanan yang terhidang di atasnya. Dengan pemandangan menghadap ke laut lepas, mereka bisa menikmati sarapan sambil memanjakan mata.


"Aku pikir kamu nggak akan makan, cukup makan hidangan utamamu saja." William menyindir saudara kembarnya yang ternyata sudah lebih dulu duduk di sana bersama Raisa. William menarik bangku untuk Cinta tempati, sebelum dia sendiri duduk di sampingnya.


"Cih! Nggak sudi aku ngomong sama kamu Kak. Nyebelin banget! udah tahu aku lagi iya-iya malah sengaja gangguin," oceh Willmar.


"Lho, kok nyalahin aku. Salahin tuh kakak ipar kamu yang katanya nggak tega takut kalian kelaparan."


"Huh, padahal semalam itu aku udah mau samp ..."


Raisa membungkam mulut suaminya sebelum Willmar bicara lebih jauh lagi. "Mas ..."


"Kamu juga Mas, udah deh jangan digodain terus adiknya. Kasihan juga." Cinta turut bicara.


Cinta melirik Raisa, melihat jejak-jejak yang ditinggalkan akibat percintaan mereka semalam membuatnya mengulum senyum.


"Ih, Kak Cinta juga," protes Raisa yang tahu mengapa kakak iparnya itu terus tersenyum.


"Oke. Kita sarapan sekarang. Kamu butuh asupan tenaga bisa kuat menghadapi serangan serigala liarnya Willmar," bisik Cinta.


"Astaga Kakak!"


Cinta terkikik, melihat wajah Raisa yang memerah membuatnya senang. "Rencana kita pagi ini apa Mas?" mengalihkan pembicaraan.


"Kita bisa ke Piaynemo dulu, dengar-dengar spot di sana bagus banget buat foto-foto. Sorenya baru ke Telaga Bintang. Besok kita Wayag terus ke Misool, besoknya lagi khusus seharian di kamar, hari terakhir di sini kita bisa cari oleh-oleh sebelum pulang."


"Oke." Cinta menyahut.


"Kamu mau ikut aku Dek? William menanyai adiknya.

__ADS_1


"Males banget. Aku bisa pergi sendiri sama Raisa, trauma aku kalau nanti digangguin kamu lagi Kak."


Dua bersaudara itu memang memiliki perangai bak langit dan bumi. Meski sering terlibat cekcok, tapi pada dasarnya mereka saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Usai sarapan, sesuai dengan janji William, lelaki itu pun mengajak istrinya menyambangi Piaynemo. Mereka bisa melihat pandangan laut dari atas tangga kayu yang berada persis di atas jernihnya air dalam kubangan raksasa itu.


William mengajak istrinya untuk mengabadikan momen mereka. Beberapa potret berhasil mereka ambil sebagai kenang-kenangan. Sepanjang mereka menelusuri tempat indah itu, William sama sekali tak melepaskan tangan Cinta dari genggamannya.


"Kita duduk dulu, kamu pasti capek."


William mengajak Cinta duduk di bangku yang ada di sisi pembatas pagar, mengeluarkan sebotol air untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


"Mas."


"Apa?"


"Di sini ada tempat istirahat atau kamar kecil gitu?" Cinta mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan tempat tertutup yang bisa ia sewa sebentar.


"Mau apa emangnya?"


"Aku musti perah asi dulu Mas, udah berasa penuh banget nih." Cinta duduk gelisah karena merasa tak nyaman.


"Oh, ayo coba kita cari." mereka kembali mengayunkan kakinya menelusuri setiap bangunan itu. "Kamu bawa peralatannya kan?"


"Iya."


.


.


Sama seperti saudara kembarnya, Willmar pun tak kalah romantis melewati setiap waktu kebersamaannya di Raja Ampat bersama sang istri. Pasangan suami istri itu juga mengunjungi tempat terkenal di sana, hanya saja Willmar memang memilih untuk pergi secara terpisah. Menjengkelkan jika mengingat pelepasannya semalam hampir gagal karena ulah kembarannya.


"Kamu udah bilang sama Kak Willi Mas?" Raisa membuka suara. Mereka tengah duduk sembari menikmati pemandangan laut ditemani es kelapa muda.


"Belum. Aku nggak tahu mau dari mana ngomongnya, lagi pula hal seperti itu harus dibicarakan di waktu yang tepat kan, sementara kamu tahu sendiri akhir-akhir ini kita sama-sama sibuk ngurusin kerjaan kantor yang numpuk," jelas Willmar.


"Iya juga sih." raut wajah Raisa nampak kecewa.


"Berdoa saja, Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kita."


Raisa mengangguk. "Aku sendiri pun nggak punya cukup keberanian untuk mengatakannya pada Kak Cinta."

__ADS_1


"Kita hanya perlu berdoa dan melihat apa keberuntungan ada di pihak kita atau tidak, tapi apapun yang terjadi, aku tetap ada di sisimu. Memiliki Jayden saja sudah cukup membahagiakan bagi kita."


Lagi-lagi Raisa mengangguk.


"Kita pulang, aku nggak mau kamu kecapekan," ajak Willmar.


"Huh, bilangnya aja nggak mau aku kecapekan, giliran udah di kamar aja aku bilang capek nggak ditanggapin." wanita itu mengomel.


"Lain Sayang. Kalau capek yang satu itu justru bikin kamu happy, selain olahraga kamu juga dapat bonus lebih bahagia. Ya kan?" mencolek dagu istrinya, gemas.


"Ya udah ayo pulang, kakiku juga udah nggak kuat kalau musti berkeliling lagi."


"Nggak masalah, ayo aku gendong." membungkuk di depan Raisa, bersiap menggendong wanita itu. "Hm, nanti malam kamu jangan dulu diatas ya, biar kakinya sembuh dulu."


"Mas! sempat-sempatnya kamu ngomong gitu. Ih, nyebelin!"


Willmar tertawa riang saat Raisa memberengut sambil memukuli lengannya. Pria itu menyusuri jalanan berpasir untuk menuju penginapan.


.


.


Dua pasang suami istri itu benar-benar menikmati bulan madunya di sana hingga tak terasa, hari-hari penuh kebahagiaan itu pun harus berakhir. Rutinitas mereka telah menunggu.


Selesai mengemas barang-barangnya ke dalam kopor, mereka pun bersiap untuk menuju helipad. Beruntung penginapan yang mereka tempati itu menyediakan landasan helikopter hingga mereka tak perlu bersusah payah membuang waktu.


Adit kembali menerbangkan pesawat mini itu ke Ibukota. Mereka sengaja menempuh perjalanan malam hari agar sampai di rumah di pagi harinya.


"Akhirnya kita pulang juga. Udah nggak sabar pengen gendong Jayden," seloroh Willmar.


"Pokoknya nanti begitu kita sampai, Jayden harus tidur di kamarku dulu," sahut William.


"Oke, nggak masalah. Semalam dia tidur sama kamu, tiga malam dia tidur di kamar kita, ya kan Rai?" Willmar mencubit gemas pipi Raisa.


"Tanya dulu sama bundanya, boleh nggak," kata Raisa.


"Tentu saja boleh. Jayden juga pasti kangen dengan keributan papa mamanya waktu di kamar."


"Tuh kan, boleh Sayang," ujar Willmar.

__ADS_1


Mereka berempat terus berbincang hingga larut malam. Selalu ada saja topik yang mereka bicarakan dan itu dapat menghangatkan suasana dalam pesawat heli itu. Adit tersenyum mendengar pembicaraan pasangan suami istri di belakangnya, membuatnya rindu pada istrinya juga yang telah menantinya di rumah.


Bersambung ....


__ADS_2