
Hari berlalu dengan cepat. Willmar senantiasa berada di sisi istrinya hingga hal itu sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan Raisa yang menjadi lebih cepat pulih. Dokter telah mengizinkan wanita itu untuk pulang seminggu yang lalu, dan semenjak kepulangannya ke rumah, Willmar pun tak absen menemaninya. Pria itu sampai menyulap kamarnya menjadi ruang kerja dadakan jika sewaktu-waktu Willmar harus bekerja di sela-sela kesibukannya menjaga istrinya.
"Masih mual?"
Willmar sigap menghampiri istrinya yang kedapatan tengah membekap mulutnya seusai wanita itu memakan cheesecake.
Raisa menggeleng. "Nggak enak, kuenya pahit."
"Hah? sejak kapan cheesecake rasanya pahit? bukankah kamu sangat menyukai kue ini?"
"Pahit Mas, kamu cobain deh kalau nggak percaya."
Karena penasaran, Willmar pun mencicipi sepotong kecil kue berbalut taburan keju itu dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Enak kok," ucap pria itu.
"Ya Mas makan cuma secuil gitu, mana kerasa." Raisa kembali memotong kue dalam piringnya, kali ini potongannya agak besar dari potongan Willmar tadi. "Cobain deh, aku belum pernah makan kue sepahit ini Mas, apa jangan-jangan tukang bikin kuenya salah masukin bahan?"
Willmar mencoba merasai kue tersebut hingga setiap kunyahan di mulutnya seolah ia resapi. Lidahnya tak mungkin salah, kue itu memang enak seperti biasanya.
"Enak kok Yang, nggak pahit. Beneran."
Raisa memundurkan wajahnya. "Sebenarnya lidah kamu atau aku yang bermasalah Mas?"
'Ya jelas lidah kamu lah Yang, orang udah jelas-jelas kuenya enak. Cuma ya dari pada bikin masalah mending aku ngalah. Aku nggak mau tidur di ruang TV.' Willmar membatin.
"Ya Yang, sepertinya aku lagi sariawan makanya nggak bisa merasakan kue ini dengan baik. Kita buang aja ya, takut beracun." Willmar pura-pura bergidik ngeri.
"Tuh kan, berarti benar kuenya pahit Mas. Udah buruan buang, jangan sampai aku sama bayi kamu kenapa-kenapa," sahut Raisa.
'Kue sialan emang, gara-gara kamu istriku yang cantik jelita ini ngomel terus.'
"Oke, aku mau buang dulu ke belakang. Kamu mau dibuatin susu?"
"Aku mau makan Mas."
"Ya udah nanti Mas ambilkan sekalian. Mau makan pakai apa?"
"Bubur timnya Jayden," cetus wanita itu.
"Hah!" Willmar mengerjapkan matanya tak percaya.
"Ya ampun Mas, nggak usah teriak gitu kali." mengusap wajah suaminya, lembut.
"Ya lagian kamu ngaco. Masa mau makan bubur timnya Jayden, ada-ada aja kamu, ah!"
"Mas, serius. Aku kepengen banget Mas, beneran."
"Ya tapi kan itu buburnya Jayden, Sayang. Kak Cinta juga kayaknya masaknya terbatas."
"Tapi kayaknya enak banget Mas, ada jamurnya gitu, pakai brokoli sama ikan salmon. Tadi pas nggak sengaja mau ambil buah aja aku nyium wanginya gurih banget Mas, aku ingin itu pokoknya," rengek wanita itu bersikeras.
"Ya udah, oke. Aku coba minta sama Kak Cinta dulu ya," sahut Willmar.
"Pasti boleh lah."
"Iya, tunggu sebentar."
"Awas sampai sepuluh menit kamu nggak kembali, jangan salahin aku kalau kamu aku hukum." Raisa mengancam suaminya. Selama ini pria itu selalu berkata demikian, tapi pada kenyataannya Willmar membiarkannya menunggu lama.
"Baiklah permaisuriku."
Buru-buru Willmar pergi sebelum istrinya kembali berpidato. Ia membuang kue sisa tersebut di tempat sampah. Kebetulan dia juga melihat kakak iparnya tengah berdiri di depan kompor.
"Hm, Kak," panggilnya ragu.
Cinta menoleh. "Ya Dek, ada apa?"
"Hm, gini ... Rai merengek minta makan," beritahu Willmar hati-hati.
"Ya udah sih tinggal dikasih aja."
"Ya masalahnya dia minta makan bubur timnya Jayden Kak."
"Ooh, bubur tim Jayden. Bilang kek dari tadi." Cinta menggeser tubuhnya dan mengambil mangkuk.
Willmar menghela napas lega, awalnya dia mengira Cinta keberatan memberikan bubur itu padanya, tapi sekarang dia mendapatkan bubur nasi itu.
"Nah, ambil dan bawa ke kamarmu. Rai pasti sudah menunggu. Masih untung kamu Dek, dia nggak ngidam yang aneh-aneh."
"Ya Kak, terima kasih Kak. Aku ke kamar dulu ya," pamit Willmar setelah berhasil mendapatkan mangkuk itu.
Pria itu mengendus aroma bubur yang masih mengeluarkan sedikit asap panas itu, dan memang wanginya sangat gurih. Namun melihatnya tetap saja dia tak berselera.
"Gimana Mas, dapat buburnya?" Raisa sangat antusias begitu melihat kedatangan suaminya.
__ADS_1
"Dapat dong Yang, masa enggak sih, nanti bisa-bisa gelarku sebagai suami paling romantis dan kece bisa-bisa dicopot," kelakar pria itu.
"Aku nggak berniat meladeni lawakan kamu ya Mas, udah sini buruan," kata Raisa tak sabar.
"Mau disuapi apa makan sendiri?"
"Suapin," cicit Raisa.
"Oke." Willmar duduk dan segera menyuapi istrinya. "Enak?" tanyanya saat Raisa berhasil menelan suapan pertamanya.
"Enak banget. Nanti buat makan siang suruh Kak Cinta buat masakin ini juga ah," balas Raisa dengan mulut penuh.
"Ini dihabiskan dulu, nanti aku minta ajari Kak Cinta cara buatnya ya, biar aku aja yang bikin."
"Seriusan?"
"Ya, demi kamu dan anak kita aku harus mulai belajar masak. Kak Willi aja bisa masak, malah aku perhatikan sekarang hampir tiap libur dia akan masakin sesuatu buat Kak Cinta," beber Willmar.
"Ya ampun, so sweet banget sih mereka? pantesan rumah tangga mereka itu harmonis, mereka aja saling romantis."
"Jadi menurutmu aku nggak romantis, gitu?"
"Kamu juga romantis Sayang, romantis banget malah, hanya saja kita romantisnya beda sama mereka." Raisa buru-buru memperbaiki ucapannya sebelum hal itu jadi boomerang untuk dirinya sendiri. Semenjak hamil bukan hanya dia yang berubah menjadi lebih sensitif, Willmar juga. Pria itu seringkali ikut menderita saat melihat Raisa mual muntah, atau mendadak terkapar lemah di kasur. Dari sekian banyak hal yang dilakukan suaminya, hal itulah yang membuat Raisa semakin mencintai Willmar.
"Terima kasih," jawab Willmar dengan nada menggoda. Raisa menjentikkan jarinya, meminta suaminya agar lebih mendekat.
"Ada apa?" tanya Pria itu.
Cup.
Willmar membeku di tempatnya sambil memegangi pipi kanannya, tempat di mana Raisa menempelkan bibirnya tadi.
"Bayaran buat kamu Mas karena udah mau ambilin bubur buat aku."
"Terus upah buat kerjaan aku yang lain-lain mana?"
"Ada. Akan ada saatnya, tapi nanti bukan sekarang," balas Raisa.
"Janji? beneran lho."
"Iya, janji." Raisa terkekeh. Pria itu biasanya sebulan paling lama tahan untuk tidak menyentuhnya selama ini, tapi dalam situasi seperti sekarang tentu saja pria itu akan merasa jauh tersiksa jika harus menunggu lebih lama.
Beruntungnya Raisa bisa mawas diri, selama pria itu tak boleh menyentuhnya sebisa mungkin Raisa tidak akan melakukan hal-hal yang bisa memancing gairah pria itu. Terlebih lagi dalam kondisinya yang tengah hamil, menjadikan Willmar tak tega.
"Kamu bayarnya pakai kiss aja tiap hari, dicicil gitu. Kalau bayar pakai itu mah aku nggak mau sampai Rania bilang kita udah boleh melakukannya."
Cup.
"Tentu saja. Aku bahkan sudah menginginkanmu menjadi istriku sejak aku masih kecil," jawab Willmar.
Begitulah sepasang suami istri itu menjalani kehidupannya. Mereka berdua benar-benar saling melengkapi satu sama lain.
.
.
Cinta tengah merapikan mainan Jayden yang berserakan di atas karpet dengan karakter lucu. Ia membiarkan Jayden bermain dengan beberapa jenis mainan yang memang diperuntukkan bagi usianya sekarang. Menginjak satu tahun Jayden memang sedang latihan berjalan. Cinta bersyukur karena tumbuh kembang putra pertamanya itu berkembang dengan sangat baik.
"Sayang, jangan diberantakin lagi dong, Bunda udah rapikan yang itu. Jayden main yang ini aja ya." memberikan mainan berbentuk seperti kue donat dengan warna cerah yang bisa dibunyikan.
Jayden menerimanya, memainkan benda itu sebentar sebelum akhirnya bocah itu membuang mainannya.
"Sayang, Jayden. Nggak boleh dibuang-buang ah." Cinta memungutnya kembali, lalu diberikan pada anaknya lagi sementara dia melanjutkan pekerjaannya.
Cinta dan William sepakat untuk tidak membiarkan orang masuk ke dalam kamar Jayden. Cinta sendiri yang selalu membersihkan ruangan itu beserta mainan-mainannya. Biar saja menjadi lelah asal segala sesuatunya aman teruntuk buah hati mereka.
Benda pipih yang sejak tadi Cinta sembunyikan di meja pun berdering nyaring. Cinta menggendong Jayden lalu mengambil benda itu. Jayden pernah terjatuh saat Cinta sedikit lengah, dan hal itu menjadi pelajaran baginya untuk tidak meninggalkan Jayden sendirian tanpa pengawasan biarpun hanya sebentar.
"Hm, ayah kamu video call, Sayang," gumam Cinta. Tanpa pikir panjang wanita itu pun gegas menerima panggilan video itu.
"Halo Sayang. Hei jagoan Ayah, kalian lagi apa?" pria itu tampak luar biasa gembira, terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri.
"Jayden lagi main donat-donatan yang dibelikan Mama Raisa. Kamu nggak sibuk Mas? tumben jam segini bisa video call?" Cinta membawa anaknya ke kasur.
"Enggak, semua deadline udah selesai kemarin. Tahu gitu juga aku ambil cuti aja tadi, mending di rumah ngurus si ganteng. Ya kan, Sayang?" tanyanya pada Jayden.
Bocah itu mengoceh sambil menekan-nekan layar ponselnya.
"Kok tumben dia nggak tidur, Sayang?" William membenahi kacamatanya.
"Belum Mas, biasanya nanti jam sepuluh."
"Hm, tahu gitu aku pulang aja lah. Nggak ada kerjaan juga."
"Beneran mau pulang?" tanya Cinta memastikan.
__ADS_1
"Iya Sayang, kenapa emangnya?"
"Nanti kalau Mas pulang, aku suruh-suruh buat jagain Jayden lho."
"biarin aja, aku emang niat pulang buat main sama Jayden," jawab pria itu, cepat.
"Ya udah. Aku tunggu."
"Oke, Sayang. Aku beres-beres dulu ya."
Tak lama setelahnya panggilan video itu pun berakhir. Cinta kembali menaruh benda itu di tempat yang sulit dijangkau bayinya, lalu membersihkan diri dan anak itu sebelum ia memberikan asi.
"Sayang, kamu udah ngantuk ya?" Cinta menopang kepalanya dengan tangan, sementara satu tangannya menggenggam jari mungil Jayden.
William buru-buru memasuki kamarnya. Usai mengganti baju dan membersihkan diri, pria itu gegas menghampiri istri serta anaknya yang ia ketahui tengah berada di kamar Jayden.
"Kak, kamu cuti? perasaan aku lihat kamu berangkat kerja tadi," seloroh Willmar saat berpapasan dengan kakak kembarnya.
"Ya emang aku berangkat ke kantor tadi, tapi terus pulang karena kebetulan semua kerjaan penting udah selesai. Aku membawa beberapa pekerjaan ke rumah."
"Dih, modus palingan. Dari tadi aku nggak dengar Jayden ngoceh, palingan dia udah tidur sekarang udah jadwal tidurnya dia juga." Willmar menimpali.
"Modus apaan? orang mau nyantai juga."
"Ya modus biar bisa iya-iya sama Kak Cinta di siang hari. Ngaku," goda si bungsu.
"Ih, enak aja. Kamu tuh yang pikirannya ngeres melulu, mentang-mentang disuruh puasa sama Rania. Baru juga dua Minggu udah mesuum parah kamu."
"Seriusan? aku emang disuruh puasa Kak, tapi demi calon anakku tentu saja aku bisa menahannya."
"Oh ya? ya udah selamat menikmati puasa panjang, aku sama kakakmu mau main kuda-kudaan mumpung Jayden tidur jadi jangan ganggu kami." William memutar gagang pintu.
"Hati-hati lho Kak, jangan sampai Jayden kebangun gara-gara dengar kalian berisik." Willmar terkekeh-kekeh.
"Terima kasih atas nasehatnya adikku Sayang, kamu nggak perlu khawatir karena yang saat ini perlu kamu khawatirkan adalah milikmu itu. Aku aja disuruh puasa cuma dua bulan habis Cinta lahiran, kamu sampai tiga bulan lebih, apa nggak karatan nanti senjata pamungkas kamu itu," canda William.
"Enak aja karatan. Kak ... Kakak," panggil si bungsu mengetuk pelan pintu kamar karena William meninggalkannya dengan cepat tadi. "Aku belum selesai ngomong Kak."
"Cie, yang ngambek. Mau ngomong? ngomong aja sama cicak di dinding sana." William terkikik di balik pintu.
"Ih, awas aja kamu Kak. Nyebelin!"
William memutar anak kunci lalu berjalan mengendap ke arah ranjang. Melihat suaminya terus terkikik membuat Cinta menaruh jari telunjuknya di bibir, mengkode agar pria itu diam karena Jayden baru saja tertidur.
William mengangguk, kemudian dengan gerakan amat pelan dia menaiki kasur dan berbaring di belakang Jayden, mengusap puncak kepala anak itu.
"Udah cuci tangan?" tanya Cinta dengan mulut terbuka tanpa menimbulkan suara apapun.
"Udah," jawab pria itu setengah berbisik.
Cinta melepaskan tangki ASI-nya dari mulut Jayden, lalu bersiap menuruni kasur saat dengan cepat tangan pria itu menahannya.
"Mau ke mana?"
Tanpa menjawab, Cinta menunjuk karpet dengan dagunya, ada sebagian mainan Jayden yang tercecer di sana dan belum sempat dia bereskan.
"Nanti saja," kata William.
"Kenapa bisa nanti kalau aku bisa melakukannya sekarang."
William ikut beringsut dari kasur, menyusul istrinya.
"Karena sekarang ada hal penting yang harus kamu urus ketimbang mengurusi mainan-mainan itu," cetus pria itu.
"Hal penting apa? masak bubur Jayden udah, semua kerjaanku udah selesai Mas."
"Sisa satu pekerjaan lagi dan kamu melupakannya."
Cinta tampak berpikir keras, seingatnya dia tidak melupakan sesuatu.
"Kamu juga harus urus dia." William meraih tangan Cinta dan membimbingnya dan berakhir dengan menekan di bagian bawah tubuhnya.
"Ya ampun Mas, mesuum," omel Cinta.
"Aku udah disuruh nunggu pas tamu kamu datang lho Yang, terus habis itu disuruh nunggu lagi karena kamu musti pasang kontrasepsi, sekarang udah berapa hari Yang, masa iya aku disuruh nunggu lagi."
"Jayden baru aja tidur Mas."
"Ya justru bagus lah, dia nggak akan bangun karena tidurnya pasti nyenyak. Dia kan kalau tidur nggak mungkin bangun kalau popoknya kering dan perutnya kenyang. Ayolah," rengek pria itu lagi. Tangan kokohnya bahkan telah membelit indah di tubuh Cinta.
"Aku nggak mau melakukannya di sini Mas, aku nggak mau kita melakukannya sekamar sama Jayden, kita udah sepakat."
"Ada tempat yang aman buat kita." William menyeringai.
"Awas kalau sampai kamu berisik dan Jayden kebangun," ancam Cinta.
__ADS_1
"Nggak akan, janji," ucap William, lalu menarik tangan Cinta memasuki ruang kecil dalam kamar Jayden.
Bersambung ....