
"Mau sampai kapan kau akan terus berdiri di situ? Kemarilah!" Titah William saat melihat istrinya masih berdiri di depan pintu kamar mandi usai mencuci muka dan menggosok gigi.
Perlahan Cinta mendekat, menaiki kasur yang tentu saja tidak sebesar dan senyaman kasur di rumah suaminya.
"Ayo tidur! Tunggu apa lagi?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Cinta merebahkan tubuhnya, tepat di samping William.
"Besok libur, bagaimana kalau kita jalan-jalan," cetus William.
"Memangnya nggak apa-apa Mas?"
"Nggak apa-apa, gimana maksudnya?"
"Mas kan capek sepekan kerja, takutnya Mas mau istirahat di rumah."
"Nggak apa-apa, kita kan belum pernah pergi bersama."
Cinta mengangguk, bibir tipis merah jambu itu terus mengembangkan senyum.
"Tidurlah, sudah malam."
Lagi, Cinta dibuat melayang saat William mengusap puncak kepalanya. "Selamat tidur ya, mimpi indah," bisik lelaki itu disusul sebuah kecupan di kening Cinta.
"Selamat malam."
Cinta mematikan lampu kamar. Rasanya ia ingin malam cepat berganti menjadi pagi, tak sabar rasanya untuk pergi berduaan dengan suaminya.
Pagi yang Cinta nantikan pun hadir. Hangat mentari pagi berpadu dengan semilir angin yang berhembus menggoyangkan gorden jendela kamar Cinta.
Dua Minggu menikah, Cinta mulai tahu sedikit demi sedikit kebiasaan suaminya. William selalu bangun jam lima pagi, dan dia butuh secangkir teh chamomile sebagai pengantar aktivitasnya. Cinta beruntung karena William tipikal orang yang tidak memilih makanan, memudahkannya untuk mengurus lelaki itu. Setiap sarapan pun Cinta tidak pernah direpotkan, segelas air putih dengan dua butir rebus, atau setangkup roti lapis isi daging, juga menu sarapan simple lainnya.
"Mas, sarapannya sudah jadi," beritahu Cinta pada suaminya yang tengah sibuk membaca koran di teras rumah.
"Hm, baiklah." Meletakkan koran di atas meja dan mengikuti istrinya menuju meja makan.
"Ibu Mana? Kenapa nggak sekalian sarapan bersama?"
"Sedang keluar. Setiap akhir pekan Ibu memang selalu mengadakan bakti sosial di panti asuhan dekat sini."
William melirik benda bundar yang melilit pergelangan tangannya. "Sepagi ini? Kenapa kau tidak memberitahuku, saya bisa saja mengantar beliau."
"Tidak apa-apa. Ibu perginya rombongan sama ibu-ibu warga sekitar."
William mengangguk. Cinta tahu, jika sudah begitu, artinya suaminya itu telah paham sepenuhnya.
"Maaf ya Mas, cuma ada sosis sama telur," celetuk Cinta.
"Nggak apa-apa. Berapa kali harus saya katakan? Saya akan makan apa pun yang kamu masak."
William mulai sibuk memotong sosis sapi panggang dalam piringnya. Dua butir sosis dan satu butir egg crumble, cukup untuk mengganjal perutnya.
"Sudah ada ide? Kita mau pergi ke mana, nanti?"
Cinta mengangguk, malu-malu.
"Ya sudah, cepat habis sarapanmu. Nanti aku bantu beberes rumah, setelahnya baru kita berangkat."
Tiga jam kemudian.
William yang sedang duduk di ruang tamu terpana saat melihat penampilan Cinta kali ini. Rok jeans sebatas lutut yang dia padukan dengan kaos oblong warna putih. Rambut panjangnya dia cepol sebagian, dengan sedikit riasan di wajahnya. Sempurna. Hanya satu kata itu yang dapat William pikirkan saat ini.
"Mas," tegur Cinta.
__ADS_1
"Ayo!" Reflek William menautkan tangannya dengan tangan gadis itu.
Setelah sempat terjebak dalam kemacetan, akhirnya tibalah mereka di salah satu pusat perbelanjaan. Rencananya mereka akan pergi menonton di bioskop dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Namun, saat sudah berada di lantai empat bangunan tersebut. Ternyata film yang rencananya mereka tonton baru akan tayang satu jam lagi.
"Gimana Cin? Satu jam itu lama lho." William terus memegang dua buah tiket yang baru saja dibelinya.
"Kita turun dulu ke bawah, belanja kebutuhan bulanan," tawar Cinta.
"Ide bagus."
Akhirnya mereka pun meninggalkan lantai tersebut dan segera turun ke bawah. William memberikan tiket bioskop tadi untuk Cinta simpan.
William mengambil troli, sementara Cinta berjalan di depannya dengan secarik kertas di tangan. Demi apapun juga, hal sekecil ini saja sudah membuat Cinta begitu bahagia. Mereka terlihat romantis seperti pasangan suami istri lainnya.
Keranjang itu telah terisi setengahnya. Kali ini Cinta menuju stand buah dan sayur.
"Mas suka buah apa?"
"Semua buah saya suka, tapi saya paling suka buah apel hijau," beritahu William.
"Baik, saya pilihkan buah yang terbaik untukmu," ucap Cinta menyelipkan candaan.
Tak mau kalah, William pun terus melemparkan senyum yang selama ini sangat jarang diperlihatkan pada Cinta. Padahal sudah lebih dari setahun Cinta bekerja padanya, memang pada dasarnya William tipikal pria dingin dan introvert.
William yang sejak tadi sibuk melihat istrinya memilih apel, merasakan ponsel dalam sakunya bergetar. Panggilan masuk. Nama saudara kembarnya terpampang di sana.
"Iya, Dek?"
"Kakak bisa ke sini nggak?"
"Ke mana?" William mengerutkan keningnya.
"Ke rumah sakit. Raisa jatuh dari tangga," sahut Willmar di seberang sana.
"Kok bisa sampai jatuh? Ceroboh banget kamu."
"Ya sudah. Tunggu, setengah jam lagi aku sampai."
Panik luar biasa meliputi William. Lelaki itu gegas menghampiri istrinya.
"Cinta, saya harus pergi ke rumah sakit sekarang. Kamu saya tinggal nggak apa-apa kan?"
"Iy ... Iya Mas." Melihat reaksi William, membuat Cinta ikut-ikutan panik.
"Nanti kamu tunggu di bioskop ya, aku nggak lama kok!" Pesannya sebelum pergi.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
Cinta membuang napas kasar. Suaminya telah menjauh karena lelaki itu terus berlari.
"Astaga! Kenapa aku lupa nggak menanyakan sama Mas Willi, siapa yang sakit?" Cinta menepak dahinya.
Masih banyak daftar belanjaan yang belum masuk ke dalam keranjang. Cinta pun memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya.
Di rumah sakit.
William terus berlari menyusuri lorong panjang. Adik kembarnya telah memberitahukan padanya kalau Raisa sudah ada di ruang rawat.
Selalu seperti ini, William akan sangat panik jika Raisa terluka. Air mata gadis itu menjadi titik kelemahannya, dan hal itu sudah terjadi sejak mereka masih kecil. Willmar yang memang sudah terbiasa pun tak segan menghubungi William meskipun hanya untuk masalah kecil.
Pintu terbuka dan lelaki itu langsung menghambur menuju ranjang pesakitan Raisa. Gadis yang dia sukai sejak kecil, gadis yang kini sudah menjadi adik iparnya, tapi nyatanya William tak dapat menghapus nama itu dari dalam hatinya, hingga detik ini.
"Rai, bagaimana keadaanmu?" Raut wajahnya dipenuhi kecemasan.
__ADS_1
"Sakit Kak," rengek gadis itu manja.
"Ini pasti ulahmu Dek, kalian pasti bercanda kan sampai akhirnya jadi seperti ini!" Tuding William.
"Dari mana kau tahu Kak?" Willmar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu kan sudah menjadi kebiasaan kalian sejak kecil. Kalian berdua selalu saja bercanda tanpa tahu aturan, lihat sekarang bagaimana keadaannya? Kalian sudah dewasa! Kalian bahkan sudah menikah. Kapan kalian akan berubah?"
"Ya Kak, marahi saja Willmar," seloroh Raisa.
"Kau juga! Lain kali harus lihat situasi dan kondisi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Hah?"
Raisa menundukkan kepalanya, begitupun dengan suaminya.
"Maaf," cicit sepasang suami istri itu bersamaan.
"Lupakan!"
"Sebaiknya Kakak duduk dulu! Temani aku Kak, setidaknya sampai Mama dan Papa datang," pinta Willmar.
"Hm." William hanya berdehem, tapi kemudian dia duduk di sofa panjang dekat jendela.
Di sisi lain.
Cinta gelisah menantikan William yang tak kunjung datang. Berulang kali dia mencoba menghubungi suaminya, tersambung, akan tetapi tidak diangkat.
Hingga teater di buka, Cinta masih menunggu. Pun sampai orang-orang berdesakan keluar dari pintu bioskop, Cinta masih setia menanti di bangku tunggu.
Tiga jam.
Empat jam.
Cinta masih belum mendapatkan kabar dari suaminya. Merasa lelah, akhirnya Cinta memutuskan untuk pulang. Terlebih matahari telah tergelincir, sudah cukup lama dia pergi.
Begitu membayar ongkos taksi, Cinta bergegas masuk membawa barang-barang belanjaannya. Tania yang sedang duduk di teras pun terheran-heran melihat kepulangan anaknya yang tanpa didampingi sang suami.
"Sayang? Sewaktu berpamitan kau bilang akan pergi dengan suamimu, di mana dia? Kenapa pulang sendirian?" Tanyanya beruntun.
"Tadi sewaktu kami sedang belanja, mendadak dia dikabari untuk segera ke rumah sakit." Cinta duduk di kursi, melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama menunggu suaminya di kursi tunggu depan bioskop.
"Siapa yang sakit? Kenapa kamu nggak ikut?"
"Mana bisa, Bu. Aku kan belum selesai belanja. Aku lupa nggak menanyakan soal itu, Mas Willi kelihatan panik banget makanya aku lupa tanya."
"Terus kenapa nggak coba hubungi dia langsung?"
"Sudah Bu, tersambung, tapi nggak di angkat," ungkap Cinta.
"Ya sudah, masuklah! Biar Ibu yang bereskan barang-barang ini."
"Terima kasih Bu."
Cinta langsung menuju kamarnya. Baru saja dia merebahkan tubuhnya di kasur, ponselnya terdengar menjerit-jerit. Secepat kilat Cinta menggeser icon hijau setelah tahu siapa orang yang menghubunginya.
"Mas, kamu ke mana saja? Kenapa nggak bisa di hubungi?"
"Maaf Cinta, ponselku ketinggalan di mobil. Sekarang kamu di mana? Maaf saya lupa kalau saya meninggalkan kamu di mall tadi."
"Nggak apa-apa, Mas. Oh ya, memang siapa yang sakit?"
"Raisa."
Duar!
__ADS_1
Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Cinta menegang seketika. Dia pikir suaminya sudah mulai berubah, ternyata dugaannya salah. Kristal bening itu berjatuhan tanpa bisa Cinta kendalikan. Melihat bagaimana reaksi suaminya tadi, membuat hatinya serasa diiris sembilu.
Bersambung ....