
Selesai membersihkan diri, Sultan mengambil komputer lipatnya di atas nakas, dia perlu memeriksa beberapa email masuk dari Raka. Hal yang sama dia lakukan beberapa hari ini semenjak kepulangannya ke Semarang, teman sekaligus asistennya itu rajin mengiriminya email yang harus di periksa olehnya.
Dia mengayunkan langkahnya menuju taman, tidak ingin menganggu tidur siang sang istri jika dia bekerja di dalam kamar.
" Dimana istrimu?"
Tanya Burhan yang tiba-tiba muncul di sana dan duduk di sebelah cucunya.
" Hanum sedang tidur siang Kek." menoleh sekejap kemudian kembali fokus dengan laptopnya.
Semoga saja pria tua ini tidak akan mengajakku berdebat ataupun membicarakan hal yang tidak penting.
" Kapan kalian pulang?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Sultan menatap kakeknya, alisnya bertaut, bingung.
" Kakek tidak sedang mengusirmu." ucap pria tua itu seolah tahu apa yang saat ini sedang ada di pikiran cucunya, " Kenapa kalian tidak menetap di sini saja?"
" Saya dan Hanum sudah membahasnya semalam Kek." jawab Sultan.
" Lantas?"
" Dia tidak mau."
" Hanum bilang begitu?" tanya Burhan, tidak yakin dengan pernyataan cucunya.
" Sebenarnya aku sudah menyarankan kepada Hanum agar dia tinggal di sini, biar aku pulang ke Jakarta, sendiri saja. Aku bisa pulang seminggu sekali, tapi Hanum tetap tidak mau. Dia bilang, seorang istri akan tinggal dimana suaminya berada."
" Tapi kakek khawatir, mengingat kamu yang begitu gila kerja dengan jam kerja di luar batas normal orang pada umumnya."
" Kakek tenang saja, Sultan mana mungkin menelantarkan Hanum, Kek."
" Iya, tapi mengingat kondisinya, dia itu sedang mengandung bayi kembar. Di tambah dengan kondisinya yang cukup lemah, kakek khawatir bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya ketika kamu sedang bekerja?" ucap pria tua itu diliputi kecemasan.
" Kan ada Mbok Darmi dirumah, kek."
" Seandainya dia disini, akan ada orang yang mengawasinya dua puluh empat jam." pandangannya menerawang, " Kakek sudah tua, entah berapa lama lagi waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada kakek, kakek hanya ingin menimang cicit sebelum tiba waktunya kematianku. Berharap dengan adanya Hanum disini, kami semua bisa membantunya menjaga kehamilannya."
" Kakek tenang saja, aku akan menjaga Hanum dengan baik, lagian ada Mbok Darmi juga yang akan selalu mengawasi Hanum jika Sultan sedang tidak ada dirumah." menepuk lembut tangan pria yang telah berkeriput itu, " Percayalah, kakek akan panjang umur untuk bisa melihat anak-anakku tumbuh besar."
Pria beda generasi itu pun saling berpelukan. Keduanya memang sering bertengkar layaknya anak kecil. Hubungan keduanya pun sempat menegang beberapa tahun yang lalu, tapi hal itu tidak pernah menyurutkan kasih sayang di antara keduanya. Hubungan mereka bahkan semakin dekat saja, Sultan tidak pernah mengambil hati setiap perlakuan kasar kakeknya, terhadapnya. Juga sekalipun pria tua itu memanggilnya dengan panggilan kasar sekalipun, Sultan tidak pernah menganggapnya serius karena Sultan tahu, itu semua dilakukan oleh kakeknya semata sebagai bentuk perhatian yang diberikan padanya.
.
Di kamar.
Hanum yang sedang terlelap langsung membuka matanya begitu mendengar suara ponsel yang bergetar di atas nakas. Merangkak pelan meraih benda pipih canggih miliknya, kemudian senyum gembira tercetak jelas di wajahnya begitu melihat nama si penelpon.
" Hallo Jeng, ada apa? tumben telepon." Hanum meletakkan bantal di belakang tubuhnya agar dia bisa bersandar dengan nyaman.
" Hanum, berapa lama lagi kamu di situ?"
" Memangnya ada apa? aku masih betah di sini, jadi tidak tahu kapan akan pulang."
" Ya ampun, jangan lama-lama dong Num. Bening sakit, sudah dua hari ini dia demam." ucap Ajeng, memberitahukan kondisi bayinya kepada sahabatnya.
" Sudah di bawa ke dokter?" tanya Hanum, panik.
" Sudah, tapi dokter mengatakan kalau Bening baik-baik saja, kalau kata Mbak Sari sih, dia bilang Bening kangen sama kamu."
" Kangen?"
" Iya, lagian seminggu sebelum kepulangan kamu ke Semarang kan, kamu juga tidak sempat main kesini. Karena terbiasa kamu gendong, mungkin dia kangen begitu lama tidak digendong sama kamu."
" Ya sudah, nanti aku tanya sama mas Sultan dulu."
" Usahakan jangan lama-lama pulangnya ya Num?"
" Iya."
" Terimakasih Num."
" Sama-sama Ajeng, jagain Bening baik-baik."
__ADS_1
Sambungan telepon terputus, Hanum kembali meletakkan ponselnya, merangkak turun dari atas kasur. Cacing dalam perutnya sudah berdemo meminta hak nya.
Dia pun berjalan menyusuri setiap ruangan, mencari keberadaan suaminya.
" Mi." panggilnya pada ibu mertua yang sedang membaca majalah di ruang tengah.
" Sayang ... kamu sudah bangun." meletakkan majalahnya kemudian menepuk sofa di sebelahnya, " Duduk sini."
" Dimana Mas Sultan, Mi?"
" Sultan ada di taman, katanya mau periksa email soal pekerjaan yang dikirim Raka, dia baru sempat memeriksanya."
" Di taman?" Hanum tidak habis pikir, diantara banyaknya ruangan di rumah tersebut, kenapa suaminya memilih bekerja di taman.
" Dia bilang tidak mau menganggu waktu istirahatmu."
" Hm." Hanum mengangguk.
" Ya sudah sana, susul dia. Kalian pasti lapar, Sultan juga belum sempat makan karena dia menunggumu bangun agar bisa makan bersama, katanya."
" Ya sudah Mi, Hanum susul mas Sultan dulu."
Perlahan Hanum melangkahkan kakinya menuju taman, mengedarkan pandangannya begitu dia sampai di lahan luas yang penuh di tumbuhi aneka jenis bunga dan beberapa pohon buah berukuran cukup besar di sana.
Dia tersenyum jahil begitu melihat posisi suaminya yang saat itu sedang duduk membelakanginya. Pria itu terlihat sedang serius dengan pekerjaannya, kemudian Hanum memelankan langkahnya. Berjalan mengendap-endap mendekati suaminya, tidak mau kehadirannya diketahui oleh pria itu.
Dan begitu jarak keduanya sudah sangat dekat, Hanum menaikkan kedua tangannya, bergerak cepat dengan menutupi mata pria itu.
" Kamu sudah bangun, sayang?" ucapnya lembut, menyentuh tangan istrinya.
" Hm, curang." gadis itu mencebik, " Aku sudah berjalan dengan sangat pelan supaya kamu tidak mengetahui kedatanganku, bagaimana bisa kamu tahu kalau ini aku?"
" Tentu saja aku tahu." menarik tubuh Hanum untuk duduk di atas pangkuannya, " Aku sudah sering merasakan belaian dari tangan ini." mengecup telapak tangan istrinya, " Aku juga hafal betul aroma tubuhmu, jadi aku bisa langsung mengetahui kehadiranmu sekalipun mataku tertutup."
" Tidak asyik." Hanum mengerucutkan bibirnya.
" Jangan cemberut begitu, aku jadi gemas. Bagaimana jika nanti aku tidak bisa menahan diri dan langsung memakanmu?" kata Sultan, menggoda istrinya.
" Ah ... tidak lucu." Hanum mengelus perutnya, " Aku kelaparan."
" Kalau sudah lapar, kenapa mesti menungguku bangun? kenapa tidak makan saja dulu."
" Mana bisa aku makan tanpamu, setidaknya aku harus memastikan kamu makan terlebih dahulu, baru aku bisa makan." jawabnya, tangannya lincah menyimpan beberapa data penting sebelum mematikan laptopnya.
Kemudian dia menuntun tangan istrinya, membimbingnya untuk mengikuti langkahnya menuju meja makan.
Sultan menarik sebuah bangku untuk bisa di duduki oleh istrinya, lalu membuka tudung saji. Hanum berpangku tangan, nafsu makannya mendadak hilang setelah melihat isi piring di atas meja tersebut.
" Kenapa?" tanya Sultan saat melihat raut wajah Hanum berubah begitu melihat isi tudung saji tersebut.
" Tidak jadi."
" Tadi katanya lapar."
" Sekarang aku sudah tidak lapar lagi."
Sultan menundukkan kepalanya, mendekat ke arah perut istrinya, kemudian berbicara lembut di sana.
" Anak-anak ayah lapar? tapi tidak mau makan apa yang ada di meja?" ucapnya sambil melirik sang istri, " Kalau begitu, sekarang katakan pada ayah, apa yang sedang ingin kalian makan?" mengelus perut Hanum beberapa kali.
Melihat kesempatan terbuka lebar di depan matanya, Hanum merasa tidak boleh menyia-nyiakannya. Dia akan meminta pada suaminya untuk membelikan sesuatu untuknya.
" Ayo, katakan saja. Memang apa yang sedang ingin kamu makan sekarang?" Sultan mengulangi pertanyaannya.
" Apapun yang aku mau?"
" Iya."
" Kamu akan membelikan semua yang aku mau?" tanyanya lagi, " Janji?" ucapnya begitu melihat suaminya mengangguk.
" Iya, masa hal kecil seperti ini saja, aku mesti janji." Sultan terkekeh.
" Baiklah kalau begitu, aku mau makan Tom yam." ucapnya, cepat.
__ADS_1
" Baik, delivery order saja ya." Sultan merogoh kantong celananya dan mulai berselancar di dunia maya, memesan makanan yang di inginkan istrinya.
Sementara Hanum masih duduk manis sambil memainkan gelas, menatap suaminya yang sibuk dengan gawainya.
" Sudah, kita tinggal menunggu, semoga saja tidak lama." kata Sultan.
" Mau iga penyet juga."
" OK." Sultan membentuk huruf O dengan jari telunjuk yang terhubung dengan ibu jarinya, kemudian sibuk mulai mencari menu yang dipesan Hanum, di layar ponselnya.
" Sop buah juga."
Sultan menoleh seketika, kedua alisnya bertautan. Apakah istrinya akan memakan semua makanan yang di pesannya.
" Memangnya perutmu muat menampung itu semua?" tanya Sultan.
" Tadi katanya mau belikan apapun yang aku inginkan."
" Bukan begitu, aku akan belikan, apapun itu. Maksudku, memangnya kamu bisa makan itu semua?"
" Bisa."
" Baiklah." mengusap puncak kepala Hanum.
" Lumpia, pizza, tteoboki, Boba milk." Hanum mengeja beberapa nama makanan yang dia inginkan.
" Ada lagi?"
" Sudah, aku rasa cukup." Hanum tersenyum jahil begitu melihat suaminya menuruti semua keinginannya.
Mereka menunggu cukup lama sampai akhirnya semua makanan yang dipesan Hanum telah di antar oleh kurir, tanpa ada yang kurang satu pun.
.
Malam harinya.
Sultan melirik jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya, pukul sembilan malam, dia baru akan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Hanum yang telah lebih dulu menuju alam mimpi.
Setelah menghabiskan makan malam bersama keluarga besar, dia sempat bercengkrama dengan mereka. Kecuali Hanum yang memang langsung masuk ke dalam kamarnya begitu acara makan malam tersebut selesai.
Di kecupnya kening Hanum, cukup lama, kemudian dia melingkarkan tangannya untuk mendekap wanita yang amat di cintainya itu.
Menutup matanya dan mengistirahatkan tubuhnya yang telah letih dengan aktivitas kesehariannya. Belum juga dia sampai di alam mimpi, dirinya kembali membuka matanya ketika mendengar dering ponselnya berbunyi. Awalnya dia membiarkannya sampai si penelpon menghentikan panggilan itu, namun tak lama kemudian ponsel itu kembali berdering.
Dengan rasa malas, dia meraih handphonenya.
" Ya, hallo." jawabnya sedikit menaikkan volume suaranya karena merasa terganggu.
" Hallo, Sultan. Pulanglah ke Jakarta, sekarang." ucap Raka terburu-buru.
" Memangnya ada apa?"
" Gawat, kita dalam masalah besar. Pokoknya kamu harus kembali ke Jakarta, malam ini juga."
" Gila apa? ini sudah malam. Jangan menggangguku untuk masalah kecil."
"Memangnya kau pikir aku mau apa, malam-malam begini mengorbankan waktu bersama istriku untuk melakukan hal yang tidak penting."
" Jadi apa masalahnya?"
" Tidak bisa aku bicarakan di telepon, masalahnya sangat kompleks. Yang jelas kamu harus kembali secepatnya."
" Malam ini juga?" tanya Sultan, ragu.
" Harus, kamu harus pulang sekarang juga. Aku sudah memesankan tiket pesawat untukmu. Masih ada satu jadwal penerbangan ke Jakarta satu jam lagi. Bersiaplah."
Tut ... tut ... tut.
Shit! ada apa sebenarnya? kenapa Raka menyuruhku kembali ke Jakarta malam ini juga. Sial.
Sultan terus memaki dalam hati, sepertinya ada masalah serius. Raka tidak mungkin menyuruhnya pulang malam-malam begini jika tidak ada sesuatu yang sangat mendesak.
.
__ADS_1
Kesel aku tuh 😪, udah capek mikir, capek ngetik, udah dapat 1200k kata malah ilang gak tau kemana. Niat hati mau double up, eh naskah bab pertama malah ilang. Jadilah aku ketik ulang 🙈 nambah lama deh.
Maaf, malah jadi curhat 🤭 habisnya BT 🤣🤣🤣 jangan lupa dukungannya yes 👌🙏🙏🙏