Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Gerak Cepat


__ADS_3

Langit telah menjelaga saat sepasang suami istri itu ke luar dari tempat spa. Berjalan bergandengan tangan, William mengajak Cinta menuju pantai.


Semilir angin mengibarkan surai hitam legam Cinta, menutupi sebagian wajah gadis itu dan menambah kesan cantik pada wajahnya yang oval.


"Yaah, sayang banget nggak bisa lihat matahari terbenam," gumam Cinta.


"Kita masih seminggu di sini Cinta, masih banyak waktu untuk kita dapat melihat matahari terbenam, atau matahari terbit juga nggak kalah indah," sahut William.


"Iya."


"Mau makan sekarang? Mas udah lapar."


Cinta mengangguk.


"Kita cari makan sekalian jalan pulang ya?"


"Ya, terserah Mas aja."


William maju dua langkah dan membungkukkan tubuhnya di depan Cinta.


"Ayo naik, Mas nggak mau kamu kecapekan!"


Cinta terpaku di tempatnya, ia belum bisa menguasai keterkejutannya usai mendengar William mengatakan hal itu.


"Ayo, naik, tunggu apa lagi?"


William mundur dan mau tidak mau Cinta pun naik ke punggung pria berkemeja pendek warna soft blue itu.


"Emangnya nggak apa-apa Mas?" Tanya Cinta, ragu.


"Nggak apa-apa gimana? Emang ada larangan yang mengatakan kalau suami nggak boleh gendong istri?"


William terus mengayunkan kakinya meninggalkan pantai. Kini keduanya telah sampai di jalanan yang dipenuhi oleh penjaja makanan.


"Kamu nggak alergi seafood kan?"


"Nggak Mas."


William menurunkan tubuh istrinya. "Mau makan apa?"


"Terserah Mas aja."


"Ya udah ayo!"


Mereka memasuki salah satu kedai makanan seafood. Ada banyak pengunjung di sana yang kebetulan kebanyakan turis.


"Habis makan mau pergi lagi?" William tersenyum menatap istrinya yang makan dengan lahap.


"Nggak mau, capek!"


"Mau langsung pulang aja berarti ya?"


"Ya Mas."


Acara makan malam pun berlangsung dengan cepat. Tak berapa lama kemudian mereka kembali ke penginapan.

__ADS_1


Cinta memutuskan untuk mandi terlebih dulu, sementara menunggu Cinta selesai, William memilih untuk mengecek pekerjaannya di laptop.


"Saya udah selesai Mas, handuk sama baju gantinya sudah saya siapkan."


"Ya."


William menutup komputer lipatnya dan menaruhnya di nakas. Ritual mandi yang memakan waktu agak lama, dia singkat menjadi hanya sepuluh menit saja.


Keluar dengan rambut basah dan handuk di tangan, William terpaku saat melihat istrinya sedang berdiri di depan jendela. Menyaksikan dewi malam yang sedang duduk anggun di langit.


"Cinta."


"Eh, ya Mas. Mau kopi?" Cinta mendekati suaminya.


"Nggak usah."


"Sini aku bantu keringkan rambutmu!" Meraih handuk kecil dari tangan William, menyuruh lelaki itu duduk dan mulai bergerak untuk mengeringkan rambut William.


"Cinta."


"Ya Mas?"


"Apa masih sakit?"


Cinta mengerutkan kening saat mendengar suaminya menanyakan hal yang dirasa ambigu. "Maksud Mas Willi?"


"Milikmu, apa masih sakit?" Ulang William.


Seketika saja gerakan tangan Cinta terhenti. Ia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya miliknya memang masih terasa sakit, tapi tidak seburuk sebelumnya.


Namun, jika Cinta mengatakan dia telah membaik. Cinta yakin, William pasti tak akan pernah melepaskannya malam ini hingga pagi menjelang.


"Ah, iya Mas." Cinta terkesiap.


William bangkit dari kursinya, merebut handuk dari tangan Cinta dan membuangnya asal. Dengan cepat lelaki itu membenamkan bibirnya hingga bertemu dengan bibir Cinta.


Meraih tengkuk Cinta, William menggigit kecil bibir bawah Cinta. Gadis itu lupa jika suaminya tak suka ketika ciumannya diabaikan.


William semakin bergairah saat Cinta membalas ciumannya. Lidah mereka saling membelit, menyesap manisnya bibir masing-masing hingga menimbulkan decapan yang menggema di kamar itu.


Tangan William mulai bergerak melepas tali baju tidur Cinta, menyisakan pakaian dalam berwarna saleem. Kemudian William menggiring tubuh mungil itu menuju pembaringan, tempat yang akan mereka gunakan sebagai istana mereguk madu cinta.


Malam itu. Di bawah payung rembulan malam, di tengah desau angin dan deburan ombak, semesta menjadi saksi dua insan yang melebur menjadi satu. Bermadu kasih menjemput kenikmatan berlabel halal. Berharap cinta akan tumbuh subur seiring dengan benih yang William tabur.


Pagi harinya.


Cinta ingin sekali menangis. Rasanya sia-sia saja dia menjalani serangkaian perawatan di tempat spa kemarin jika pagi ini tubuhnya kembali remuk redam.


Sesuai dugaan Cinta, sang suami merengek meminta mengulangi kejadian itu, lagi dan lagi. Jam tiga pagi, William baru benar-benar melepaskan Cinta.


"Selamat pagi Sayang," sapa William dengan suara seraknya.


"Pagi Mas."


"Mau mandi bareng?" Lelaki itu mengerling nakal, membuat Cinta mendelik.

__ADS_1


"Nggak mau! Saya duluan aja, saya nggak lama kok."


William tergelak melihat istrinya berlari menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya.


Begitulah hari-hari sepasang suami istri itu. Hari kedua di Bali, William mengajak Cinta mengelilingi pulau itu. Dimulai dari Bukit Campuhan di Ubud, mengunjungi sawah terasering di Jatiluwih hingga sampai di Kintamani pada sore harinya.


William mengajak Cinta menikmati sunset, di mana sunset menjadi musik pengiring pengantar malam. Hari ketiga mereka manfaatkan untuk berburu oleh-oleh di toko souvernir. Hari berikutnya, William mengkhususkan untuk kembali mereguk madu cinta dengan mengurung diri bersama Cinta hingga baru pada hari kelima, siangnya mereka memutuskan untuk kembali ke Ibukota.


.


.


"Kapan kita ke rumah Mama Mas, buat ngasih oleh-oleh ini?" Tanya Cinta malam itu.


"Hari minggu aja ya, besok Mas ada ketemu klien penting," balas William seraya memangku laptopnya.


"Mau langsung ngantor besok?"


"Iya. Kamu istirahat aja dulu di rumah kalau masih capek, ada Daniel yang bisa handle kerjaan kamu."


"Ya udah."


William menutup laptopnya. "Oleh-oleh buat Willmar sama Raisa udah kamu pisahin?"


"Udah, mau diantar sekarang?"


"Ayo, mumpung baru jam setengah tujuh. Harusnya sih mereka udah pulang dari kantor."


"Ya udah."


Cinta meraih paper bag untuk Raisa dan mengikuti suaminya menuju rumah yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah itu.


Tak lama setelah menekan bel, Bik Rohmah tergopoh-gopoh membukakan pintu. "Eh, Den Willi sama Non Cinta, silakan masuk."


"Adik saya mana Bi? Udah pada pulang kan?"


"Den Willmar sudah beberapa hari ini nggak pulang, lagi pergi ke luar negeri. Kalau Non Raisa ada, kebetulan hari ini Nona cuti gak kerja."


"Cuti? Dia sakit Bi?"


"Katanya cuma nggak enak badan," jawab Bik Rohmah.


"Kenapa nggak ke dokter aja sih?"


Cinta mengelus dada melihat suaminya kembali bertingkah berlebihan.


"Siapa yang nganter?" Bik Rohmah menatap William.


"Kan bisa panggil dokter keluarga."


"Udah sih Mas, kenapa jadi kamu yang riweuh?" Cinta yang sejak tadi bungkam akhirnya tak tahan lagi untuk tak membuka suara.


William terhenyak, menyadari sikapnya kali ini. Kemudian lelaki itu terdiam.


Dua orang itu menunggu Raisa yang tengah dipanggil oleh Bik Rohmah. Suasana kembali canggung, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


'Aku harus bergerak cepat,' batin Cinta.


Bersambung ....


__ADS_2