
"Kalau kamu berpakaian seperti ini lantas apa gunanya kancing baju ini hah? sama saja kamu telanj*ng, Mas. Mau aku cabut semua kancing kemeja kamu, iya?"
"Jangan!" kata Sultan diiringi tatapan memelas.
"Lagian di kantor, kok bisa-bisanya kamu berpakaian seperti ini, Mas ... Mas. Seharusnya kamu bisa membedakan mana kantor, mana rumah."
"Ya ampun, dengarkan dulu penjelasanku." Sultan meraih bahu istrinya. "Jadi begini, hari ini kan cuacanya panas sekali, karena kegerahan makanya aku mandi. Karena ini jam lembur jadi ku pikir tidak perlu berpakaian formal seperti biasanya, lagipula aku kan juga ...,"
"Bukan berarti kamu bisa berpakaian seperti ini kan?"
"Ya, ternyata di situ letak kesalahanku. Bodohnya aku yang hanya memasang satu kancing bajuku dan itu pun terpasang pada lubang yang tak semestinya. Kancing bajuku tersesat pada lubang atasnya, jadi ...,"
"Kamu sama saja seperti tak berpakaian alias telanj ...,"
"Ya baiklah, aku minta maaf," potong Sultan.
Hanum masih tak melepaskan jeratnya dari sang suami, belum puas rasanya dia mengintrogasi Sultan dan tiba-tiba saja Raka muncul.
"Astaga," pekiknya. "Maafkan aku sudah mengganggu waktu kalian, aku tidak tahu kalau istrimu datang."
Raka yang memang terbiasa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, merasa canggung ketika melihat suami istri itu dalam posisi sangat dekat seolah hendak berciuman.
Selama ini Sultan memang telah menganggapnya lebih dari sekedar asisten, itu sebabnya dia mendapatkan perlakuan khusus dari Sultan. Hal-hal kecil yang menurut Sultan tidak penting seperti mengetuk pintu sebelum masuk contohnya, tidak berlaku untuk Raka.
"Ini semua tidak seperti yang ada dalam pikiranmu, Kak," kata Hanum. "Masuk saja, aku akan menunggu di sana." menunjuk sofa kemudian duduk di sana. "Aku tidak akan menganggu, serius," janjinya pada dua pria yang masih saling bertatapan.
"Baiklah kalau begitu." Raka mengalah, dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan tersebut kemudian memutar tubuhnya.
"Apa semua laporan ini sudah kau periksa?" tanya Sultan begitu keduanya telah duduk berhadapan di meja kerja.
"Ya."
"Ada kesalahan?" lagi, Sultan bertanya.
"Perfect, tidak ada satu pun yang salah," Raka menyahut.
"Baiklah, jadi aku tinggal tanda tangan saja." Sultan mengambil pulpen yang ada di meja, bersiap membubuhkan tanda tangannya pada tumpukan kertas yang ada di hadapannya.
"Apa sebegitu percayanya kau padaku?" seloroh Raka, melihat Sultan yang hanya melihat dokumen itu sekilas sebelum menandatanganinya.
"Aku sudah membacanya," gumam Sultan, tangannya mulai bergerak di atas kertas.
"Kau hanya membaca sekilas, bisa saja aku berbuat curang padamu,melakukan korupsi, menggelapkan dana perusahaan untuk keperluan pribadiku?" ucap Raka di bumbui dengan tatapan mata berapi-api.
"Cih! lakukan saja jika kau bisa. Aku tidak mudah di bodohi. Aku memang sangat mempercayaimu tapi aku tetap membaca segala sesuatunya terlebih dulu sebelum aku memberikan tanda tanganku pada sebuah dokumen," balas Sultan.
"Mana bisa kau memeriksa dokumen dalam waktu singkat begitu?" selidik Raka.
"Kau lupa berapa nilai IPK ku waktu lulus kuliah dulu? IQ ku juga kan jauh di atas rata-rata, aku sampai naik dari kelas satu langsung ke kelas tiga sekaligus, dulu waktu SMA. Aku bisa menyelesaikan tugas matematika tersulit sekalipun dalam waktu kurang dari satu menit. Piagam yang aku dapatkan sewaktu mengikuti lomba tingkat internasional, aku selalu menjadi juara satu dalam setiap perlombaan yang di selenggarakan,"ucap Sultan menyombongkan diri.
"Ya ... ya, aku lupa kalau kau ini sangat cerdas. Kau hampir menguasai segala macam mata pelajaran, tidak heran jika perusahaanmu berkembang pesat kemudian melebarkan sayapnya merambah di bidang lain," cibir Raka.
Sultan tersenyum menang, melanjutkan pekerjaannya.
"Kau memang hebat dalam segala hal," Raka melanjutkan ucapannya, membuat Sultan kembali menatap dirinya. "Sampai-sampai aku tidak bisa menemukan dimana kekuranganmu, tapi mendadak aku ingat satu hal. Kau bodoh, sangat bodoh!"
"Apa?" Sultan menaikkan volume suaranya.
"Kalau kau tidak bodoh, saat ini mungkin di antara kita bertiga, anakmu-lah yang paling besar dan mungkin saja kau sudah punya banyak anak."
Hanum yang mendengar kegaduhan yang berasal dari dua pria di meja kerjanya itu pun menoleh, dia meletakkan majalah bisnis yang sempat dibaca olehnya tadi. Dia menajamkan indra pendengarannya demi mendengar apa yang sedang di ributkan oleh dua pria itu.
"Kau memang ahli dalam segala bidang, tapi kau sangat bodoh dalam hal percintaan,"
Ucapan yang dilontarkan Raka terdengar sangat pedas di telinga pria itu, sejenak Sultan mengentikan aktifitasnya, kembali meletakkan pulpen itu ke atas meja.
"Ini curang namanya! kenapa membahas soal percintaan di tengah urusan kerja? kita tidak bisa mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan!" seru Sultan.
"Giliran sudah begini saja masih belum mengaku kalah," Raka mencebik.
__ADS_1
"Itu karena kau curang!" sergah Sultan.
Hanum menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap pria dewasa di depannya yang bertingkah kekanak-kanakan.
.
Dion mengusap lengannya, menghalau angin yang bertiup kencang membelai kulitnya yang hanya terbalut kemeja yang dia kenakan.
Rasanya malam ini begitu dingin, kalau tahu dirinya akan merasa kedinginan, Dion menyesal karena melepas jas nya dan meninggalkannya di dalam mobil tadi.
Sudah lebih dari setengah jam Dion duduk di sana, menunggu Wina yang belum juga keluar dari ruangannya padahal jam praktek wanita itu telah berakhir satu jam yang lalu.
Entah apa yang tengah dilakukan oleh Wina di dalam ruangan itu, sepertinya dia betah sekali berada di dalam. Padahal setelah seharian berkutat dengan pasien, bukankah istirahat di ranjang yang nyaman adalah hal yang paling menyenangkan yang dibutuhkan wanita itu saat ini? begitu pikir Dion.
Dion tergopoh begitu mendengar suara pintu terbuka dan tak lama Wina keluar dari sana.
"Wina," panggilnya.
Untuk beberapa saat Wina terpaku, tatapan mata pria itu seakan membawanya pada dimensi lain. Dia seakan berada di taman dengan hamparan bunga yang luas. Membayangkan Dion mengenakan jas dengan bunga korsase di bagian dadanya, sementara dirinya berdiri memakai gaun putih berekor panjang, menggenggam buket bunga di tangannya.
"Wina," ulang Dion memanggil wanita dengan raut wajah lelah namun masih tetap cantik, yang saat ini berdiri membeku.
Wina terperanjat, lamunannya buyar seketika begitu mendengar namanya kembali disebut.
Dia berjalan cepat meninggalkan tempat itu begitu kesadarannya telah kembali sepenuhnya, tak menghiraukan Dion yang berlari mengejar sambil terus memanggilnya.
Begitu sampai di tempat parkir, Dion menggapai tangan gadis itu, mendorong tubuh Wina hingga membentur mobil.
"Lepaskan aku!" Wina berontak.
Berada dalam posisi sangat dekat seperti itu membuat degup jantung Wina tak beraturan. Sekuat apapun dia berusaha melepaskan diri dari kungkungan Dion yang mengunci pergerakannya, tetap tak akan bisa karena tenaganya kalau jauh dibanding pria itu.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum aku mendapatkan apa yang ku mau."
"Memang apa yang kau inginkan dariku? cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu," ucap Wina.
"Ayo kita habiskan waktu bersama, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Ku mohon turuti aku, kali ini saja!" kata Dion dengan nada tinggi.
"Tidak mau!"
"Baiklah, aku akan tetap bicara sekalipun kamu tidak mau mendengarkanku."
"Lepaskan aku, Dion! tanganku sakit."
Sekuat tenaga Wina mendorong tubuh Dion tapi itu tak berarti apa-apa karena tubuh Dion tetap dalam posisinya, pria itu tak bergerak sedikit pun.
"Aku akan membuatmu mendengarkan penjelasanku, baik itu dengan sukarela, atau sekalipun aku harus memaksamu!"
"Dion, lepas!"
Rasanya tubuh Wina sampai lemas tak berdaya, tenaganya terkuras habis tapi tak membuahkan hasil. Dion tetap memegang kendali atas dirinya. Keadaan di sana yang memang telah sepi karena malam telah larut membuat Wina tak bisa melakukan apapun. Mungkin akan berbeda ceritanya jika di sana banyak orang berlalu lalang yang bisa dia mintai pertolongan.
Wina masih berusaha memberontak dengan sisa-sisa tenaganya hingga kemudian dia merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menempel di bibirnya, membuat tubuhnya menegang seketika.
Tak terima dengan perlakuan Dion padanya, Wina mendorong tubuh Dion, kali ini berhasil karena Dion sempat mundur beberapa langkah.
Sungguh dia tidak bisa menguasai dirinya hingga tak sengaja dia menampar pipi Dion dengan sangat keras. Menimbulkan bunyi yang cukup nyaring dan menggema di tengah suasana sepi yang tercipta di sana.
Dion kembali mundur satu langkah, dia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan sebuah tamparan dari Wina. Sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri, dipandanginya lekat wajah gadis itu.
Pun sama terkejutnya, pandangan Wina terus tertuju pada tangan yang telah ia gunakan untuk menampar Dion. Dia sendiri tidak sadar kenapa dirinya sampai bertindak sejauh itu, sungguh dia sangat menyesal. Bukan ini yang dia inginkan tapi mau bagaimana lagi, semuanya terjadi begitu saja dengan sangat cepat.
"Tampar aku lagi kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku," lirih Dion.
"Ma ... maafkan aku, ak ... aku tidak ...,"
"Tidak apa-apa, mungkin ini memang pantas aku dapatkan, sebagai balasan atas perbuatanku mengerjaimu tempo hari," kata Dion, tersenyum masam.
__ADS_1
"Demi Tuhan, aku sama sekali tidak berniat untuk menamparmu."
Dion terkejut saat melihat Wina terus memukul tangan kanannya, tangan yang telah ia gunakan untuk menyentuh pipi Dion. Bukan sentuhan lembut yang berasal dari hati yang tulus, sebaliknya, dia melayangkan sebuah pukulan yang bisa melukai pipi pria itu, Wina yakin hati Dion pun sama terlukanya.
"Apa yang kau lakukan? hentikan!" cegah Dion saat Wina masih memukuli tangannya sendiri.
"Aku telah melakukan kesalahan besar,tidak seharusnya aku menamparmu," sahut Wina.
"Tidak, jangan! kamu sama sekali tidak salah jadi jangan lukai dirimu sendiri!"
Dion kembali mencekal tangan Wina, mengunci kembali pergerakan gadis itu, sama seperti sebelumnya.
Hening.
Keduanya saling beradu tatap, Dion bisa dengan jelas melihat cairan bening yang menggenang di kedua bola mata Wina. Bibir gadis itu bergetar seolah hendak berkata-kata tapi tak jua kunjung keluar kalimat dari bibir tipis yang tersapu lipstik warna peach tersebut.
Masih dengan posisi yang sama, Dion semakin dibuat gila dengan bibir yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Tepat saat gadis itu membuka sedikit bibirnya, berniat mengatakan sesuatu, saat itu pula lah Dion kembali mendaratkan bibirnya di sana.
Wina terbelalak, matanya membulat sempurna. Ingin rasanya dia kembali memberontak tapi tangan Dion masih digunakan untuk mencekal kedua tangannya.
Perlahan tangan Wina mengendur, gadis itu memejamkan matanya, mulai menikmati setiap sentuhan Dion yang terasa begitu lembut. Merasa sudah tidak mendapatkan perlawanan dari Wina membuat Dion semakin tidak bisa mengendalikan diri. Dia terus menghimpit tubuh Wina, tangannya mulai menyusup ke belakang leher gadis itu untuk mempermudah jalannya. Memberikan gigitan kecil agar Wina memberikan akses padanya untuk bisa menjelajah ke seluruh rongga mulut wanita itu dengan leluasa.
Suasana panas melingkupi keduanya, decapan lidah yang saling bertautan memecah keheningan di tengah dinginnya malam dalam tempat parkir yang sepi.
.
Keesokan paginya.
Tak seperti biasanya, pagi ini Hanum masih mengenakan piyama tidurnya. Rasa malas masih menggelayutinya, duduk diam di sofa sembari terus memperhatikan suaminya berganti baju.
Sejak kejadian semalam, dia masih menutup rapat mulutnya, sama sekali tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka meskipun seringkali Sultan lebih dulu berusaha membuka suara.
Sesekali ada lengkungan kecil di bibir Hanum, tatapannya terus tertuju pada suaminya hingga kini pria itu telah selesai dengan kegiatannya.
Dalam hati Hanum terus memuji suaminya, tinggi badan yang pas di tambah dengan bentuk tubuhnya yang proporsional masih di tunjang dengan penampilan yang memukau. Rasanya kadar ketampanan suaminya itu tak pernah berkurang, malah semakin hari kian meningkat saja.
"Aku sudah selesai, kau mau aku panggilkan Mbok Darmi untuk membawakan sarapan ke balkon lagi?" tanya Sultan membuyarkan lamunan istrinya.
Hanum menjawab pertanyaan suaminya melalui sebuah anggukan kepala.
Lima menit kemudian.
Sepasang suami istri itu sudah berada di balkon samping kamar mereka. Terdengar kicauan burung yang saling bersahutan menemani sarapan pagi keduanya.
"Apa perlu aku minta sarapanmu diganti dengan sereal? aku melihatmu makan dengan lahap kemarin," ucap Sultan yang melihat Hanum hanya mengaduk-aduk piringnya yang berisi nasi goreng.
"Tidak usah, aku yang meminta Mbok Darmi membuatkan nasi goreng Jawa untukku," sahut Hanum.
"Lalu kenapa dari tadi hanya diaduk-aduk terus? memang tidak enak?"
"Enak kok," jawab Hanum acuh.
"Kalau begitu, habiskan!"
Mereka pun melanjutkan makan paginya, isi piring Sultan baru berkurang setengahnya begitu dia mendengar ponselnya berdering nyaring.
Sejenak dia terpaku, melihat nama yang tertera di layar ponselnya kemudian beralih menatap Hanum.
"Siapa Mas?" tanya Hanum.
"Sebentar aku angkat dulu ya!"
Hanum menatap punggung suaminya yang berjalan menuju pembatas.
Telepon dari siapa sampai membuat dia menjauhiku seolah tidak ingin percakapannya aku dengar. Batin Hanum.
.
Hayo ... kira-kira Sultan dapat telepon dari siapa coba? 🤭
__ADS_1
Minta dukungannya dong guys, mana nih like, komen sama votenya? 🥰🥰🥰
Semoga kalian terhibur dan gak bosan dengan jalan ceritanya ya. Love you All 😘😘😘