
Keesokan harinya.
" Sayang ... bangun." Sultan mengguncang pelan bahu istrinya.
" Hm ... lima belas menit lagi." jawabnya malas, kemudian kembali menaikkan selimutnya.
" Ini sudah siang lho, sudah jam enam." bujuk Sultan, lagi.
Diluar prediksi Sultan, Hanum malah melanjutkan tidurnya, tidak biasanya gadis itu bangun se siang ini. Hanum terbiasa bangun pukul lima pagi, dan biasanya, ketika Sultan mengatakan kata 'sudah siang', gadis itu langsung bangun seketika. Sepertinya hari ini pengecualian bagi Hanum, Sultan jadi tidak tega untuk membangunkannya lagi begitu melihat wajah istrinya yang terlihat sangat pulas.
Akhirnya dia memutuskan untuk mandi, Sultan yang telah terbiasa mendapatkan pelayanan khusus dari istrinya pun merasa ada yang berbeda kali ini. Kalau biasanya setelah mandi, dia tinggal memakai baju yang sudah di siapkan oleh Hanum, memakai dasi pun, seringkali di pasangkan oleh istrinya. Hari ini rasanya benar-benar pengecualian, pasalnya dia harus mengurus dirinya sendiri.
" Hanum ... sayang ... bangun." setelah rapi mengenakan pakaian kerjanya, Sultan mencoba membangunkan istrinya lagi.
" Haaah ..." Hanum hanya melenguh panjang.
" Sudah waktunya sarapan, ayo bangun dulu. Paling tidak kamu harus cuci muka sebelum sarapan."
" Tidak mau." ucap Hanum setengah berteriak, dia merasa suaminya sudah mengganggu tidurnya.
" Semalam kamu juga tidak makan, jangan melewatkan sarapan mu, nanti kalau kamu sakit bagaimana?" bujuknya lagi.
" Jangan menggangguku mas, kumohon ... aku masih mengantuk." Hanum mengacak rambutnya sendiri, merasa geram karena suaminya terus saja menganggunya.
Sultan mengurut dadanya, baiklah ... mungkin istrinya benar-benar masih mengantuk jadi sepertinya dia harus melewati sarapan paginya tanpa di dampingi sang istri.
" Ya sudah, aku ke bawah sekarang ya." Sultan mengecup kening istrinya, " Aku langsung berangkat ke kantor setelah sarapan nanti, jangan lupa untuk makan setelah kamu bangun nanti ya. Aku akan minta mbok Darmi mengantar makananmu ke kamar."
Tidak ada sahutan, Sultan tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Hanum saat terlelap, tetap cantik meski Sultan merasa wajah istrinya menjadi tirus dan sedikit pucat.
Dia meraih tas kerjanya kemudian meninggalkan kamar itu, menutup pintunya sangat pelan.
" Pagi mbok ... Bi ..." sapanya sopan begitu dia sampai di meja makan.
" Pagi tuan." Bi Mar sedang menata makanan di meja makan.
" Kalian sudah sarapan?" Sultan menatap bi Mar dan mbok Darmi bergantian.
" Sudah." kedua perempuan itu menjawab bersamaan.
" Itu ... mbak siapa namanya mbok, Sultan lupa."
" Indah sama Lastri?" mbok Darmi mendekat, dengan membawa segelas susu segar di tangannya.
" Iya mbok, apa mereka juga sudah sarapan, kalian masak terlalu banyak, aku dan Hanum tidak bisa menghabiskan semua ini. Sekali sekali ... sepertinya kita perlu makan bersama." Sultan membuka piring yang sejak tadi tertelungkup di atas meja.
" Mereka juga sudah sarapan den, kami kan mesti bekerja jadi kami tidak bisa kalau harus menunggu tuan dan sarapan bersama."
" Ya ... anggap saja hal itu bisa membuat kita makin akrab mbok, bukan hanya sebatas hubungan antara majikan dan asisten rumah tangganya saja, lebih dari itu, kalian sudah seperti keluarga di rumah ini, jadi jangan sungkan." Sultan mulai menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
" Lho, kok den bagus sarapan sendiri? non Hanum mana?" tanya mbok Darmi saat menyadari Hanum tidak ada disana.
" Sudah berkali-kali saya bangunkan Mbok, tapi sepertinya dia masih mengantuk. Dia belum mau bangun."
" Tumben." lirih mbok Darmi.
" Iya mbok, tadinya aku pikir dia sakit, tapi dia bilang cuma masih ingin tidur."
" Ya sudah, biar si mbok yang cek, sekalian bawakan sarapannya ke atas."
" Ya mbok, terimakasih ya mbok." Sultan mengangguk, " Oh ya, sekalian minta tolong mbok, titip jagain Hanum ya, aku lihat mukanya pucat, tubuhnya juga lemah. Aku rasa dia kurang enak badan tapi dia bersikeras tidak mau ke dokter. Aku masih banyak pekerjaan hari ini dan kemungkinan aku pulang malam, tolong pastikan dia untuk menghabiskan makanannya ya mbok. Kabari Sultan kalau misalnya ada apa-apa."
" Ya den bagus, sudah sana tinggal berangkat kerja saja. Bekerjalah dengan baik, jangan terlalu memikirkan non Hanum. Si mbok akan menjaga non Hanum dengan baik."
Bersamaan dengan selesainya mbok Darmi menyiapkan makanan untuk dia bawa ke atas, Sultan pun telah selesai dengan sarapan paginya. Tak menunggu lama, Sultan pun sudah bangkit dari sana dan bergegas menuju kantor.
Sesampainya di atas, mbok Darmi mengetuk pintu sebelum memasuki kamar Hanum, dia lalu menaruh nampan berisi makanan yang dia bawa di atas meja yang terletak di samping sofa.
Wanita tua itu kemudian membereskan selimut dan juga seprai yang berantakan, Hanum belum sempat merapikannya tadi.
Ceklak ... pintu kamar mandi terbuka lebar, Hanum muncul dari sana kemudian duduk lesu di sofa.
" Mbok." panggilnya lirih.
" Non Hanum sudah bangun?"
" Hm ... baru saja mbok."
Selesai merapikan tempat tidur, mbok Darmi mendekati Hanum lalu duduk di sebelahnya.
" Iya, eh ..." mbok Darmi memeriksa wajah Hanum dengan seksama, apa yang dikatakan Sultan benar adanya karena memang wajah Hanum terlihat pucat.
" Ada apa mbok?" tanya Hanum yang tak mengerti dengan tatapan mbok Darmi.
" Non Hanum sakit?"
Hanum menggeleng.
" Tapi wajah non Hanum kelihatan pucat begitu."
__ADS_1
" Akhir-akhir ini Hanum susah tidur mbok, tidak nafsu makan. Hanum juga sering mengalami sakit kepala."
" Ya sudah kalau begitu, kita ke dokter saja ya?" bujuk mbok Darmi.
" Hanum takut mbok."
" Ealah cah ayu, takut apa toh?"
" Hanum merasa ada yang tidak beres dengan tubuh Hanum mbok, dan Hanum merasakan perubahan itu setelah Hanum jatuh terpeleset di teras waktu itu."
" Lalu? apa yang perlu di takutkan?" tanya wanita tua itu, masih belum mengerti.
" Kepala Hanum kan sempat terbentur waktu itu mbok, Hanum kan juga pernah mengalami cedera otak waktu kecelakaan, Hanum takut jangan jangan ..."
" Hust! jangan cuma berangan-angan non, periksa ke dokter lebih baik daripada hanya menebak-nebak. Biar dokter yang memeriksa non Hanum, biar ketahuan penyakitnya apa."
" Itu dia yang bikin Hanum takut mbok, bagaimana kalau ternyata Hanum mengidap penyakit yang ..."
" Hust! wong sudah dibilangin sama si mbok kok, pokoknya lebih baik segera periksa ke dokter, lebih cepat lebih baik. Biar cepat ketahuan dan bisa segera diberi pengobatan non."
" Ya ampun, bagaimana ini." Hanum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Sudah ... sudah, jangan berpikiran macam-macam, sekarang sebaiknya non Hanum sarapan, habis itu mandi, si mbok temani ke dokter nanti."
Hanum menatap mbok Darmi namun tak sanggup berkata kata lagi, semua yang baru saja di ucapkan wanita tua itu mulai mengusik ketenangan hatinya.
.
Di kantor Dinasty Group.
" Tumben minta izin masuk siang." ucap Sultan begitu melihat Raka masuk ke dalam ruang kerjanya. " Ada apa?"
" Aku baru saja selesai menemani Disha ke dokter." sahut Raka, duduk di depan Sultan.
" Dia sakit?" Sultan bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada layar komputer di hadapannya.
" Bukan."
" Lantas?"
" Dia hamil."
" Apa ...?" Sultan tersentak kaget. "Dia hamil?"
Raka mengangguk, dan seketika Sultan bangkit dari kursi kebesarannya, memeluk Raka dengan begitu riang.
" Astaga, apa yang harus aku katakan kali ini? sepertinya aku kalah lagi." Sultan terkekeh, "Setelah Adam, Reno dan sekarang kamu yang akan menjadi ayah, aku yang menikah lebih dulu tapi, aku belum juga mendengar kabar baik itu sampai sekarang."
" Semoga saja."
Mereka berdua saling melepaskan diri dari pelukan masing-masing.
" Aku rasa memang sudah seharusnya aku dan Hanum menemui dokter untuk melakukan konsultasi." Sultan kembali duduk di kursinya.
" Lebih cepat lebih baik." Raka mengangguk.
" Tapi, kita masih di sibukkan dengan proyek pembangunan rumah sakit, yang baru saja akan kita mulai dalam Minggu Minggu ini. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dulu, jangan sampai ada kesalahan yang terjadi seperti tempo hari."
" Kalau mengurus soal pekerjaan, kapan ada selesainya? ke dokter lebih penting dari apapun sekarang."
Sultan terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya kembali membuka mulutnya.
" Baiklah kalau begitu, tolong atur jadwal pertemuan dengan dokternya."
" OK."
" Aku mau dokter Obgyn terbaik yang ada di sini."
" Tentu saja."
" Kabari aku secepatnya, begitu kamu selesai membuat kesepakatan dengan dokter itu."
" Ada lagi?" tanya Raka sambil terkikik.
" Cukup."
" Ya sudah, aku pun masih harus bekerja sekarang." Raka mengambil beberapa tumpukan map yang tersusun rapi di meja Sultan kemudian membawanya ke meja kerjanya.
Sementara Sultan masih duduk terpaku, angannya mengembara jauh, memikirkan banyak hal tentang seorang bayi yang tak juga kunjung tumbuh di rahim istrinya.
.
Malam harinya.
" Mas kamu mau pulang jam berapa?" tanya Hanum di balik telepon, memainkan rambutnya sambil berbaring di atas kasur.
" Ini sudah mau pulang, habis beres-beres aku langsung pulang. Ada apa?"
" Mau minta tolong boleh?"
__ADS_1
" Apa?"
" Tolong mampir ke kafe, yang ada di seberang jalan, depan mall yang biasa kita kesana itu lho."
" Mau beli apa?"
" Sorbet melon, aku sedang ingin makan itu sekarang, rasanya manis dan menyegarkan. Sudah lama sekali aku tidak memakannya." Hanum mengulum bibirnya, air liurnya menetes ketika mengingat semangkuk kecil sorbet melon yang di sajikan dengan potongan tropical fruit di atasnya di tambah saus melon yang legit.
Untuk sesaat Sultan tertegun dengan permintaan istrinya, dia menatap ke arah luar, jendela kaca di ruangannya sedikit berembun akibat hujan deras yang mengguyur sejak siang.
Hujan hujan begini dia minta sorbet melon? tidak salah? masa iya dingin dingin begini makan es. Kalau minta soto, bebek bakar atau mie pangsit masih mending, ini minta es di tengah hujan, malam dingin begini pula? ada ada saja.
" Mas."
Teriakan Hanum membuat Sultan tersadar dari lamunannya.
" Iya, hm ... apa tidak bisa diganti dengan yang lain saja? makanan berkuah yang bisa menghangatkan tubuh di tengah cuaca dingin seperti ini, soto atau rawon misalnya."
" Tidak mau!" Hanum menyela sebelum Sultan melanjutkan ucapannya, " Aku mau sorbet melon, kalau mas tidak mau membelikannya untukku, aku bisa pergi sama pak Dadang."
" Siapa yang bilang tidak mau, aku kan tadi hanya menawarkan saja."
" Ya sudah, aku tidak mau apapun makanan yang kamu tawarkan tadi, yang aku mau cuma sorbet melon, sekarang."
" Baiklah, tunggu aku pulang ya."
Sultan mendesah panjang, dia belum selesai bicara namun Hanum sudah memutuskan sambungan telepon itu sepihak.
Dia pun segera meninggalkan tempat itu, sepanjang jalan merapatkan jasnya dan memeluk lengannya sendiri. Udara dingin terasa begitu menusuk, belum lagi petir yang sejak tadi terdengar saling bersahutan.
Suasana di kantor sudah sepi karena beberapa karyawan telah pulang, Raka juga sudah pulang sejak setengah jam yang lalu, jadilah Sultan sendiri menyusuri jalan menuju parkiran. Dia segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya, menembus padatnya suasana lalu lintas di malam hari.
Ketika sedang berhenti di persimpangan jalan karena traffic light merah menyala, dia melihat sekumpulan orang yang berlarian ke tengah jalan raya. Mereka menawarkan barang dagangannya, ada yang menawarkan kacang rebus, permen, air mineral, koran, kerupuk, dan masih banyak lagi yang ditawarkan oleh pedagang asongan yang terdiri dari beberapa orang dengan rentang usia yang berbeda. Namun kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang Sultan perkirakan masih duduk di bangku SD dan SMP. Melihatnya membuat Sultan kembali mengingat kejadian dimana Hanum dengan polosnya hendak meminjam uang padanya untuk dia berikan pada anak-anak yang sedang berkumpul di trotoar, dulu. Di raihnya dompet kulit berwarna coklat yang tersimpan rapi di saku belakang celananya. Membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan, dibukanya jendela kaca mobilnya dan memberikan uang itu pada beberapa orang.
Dia merasa begitu bahagia saat melihat mereka menerima uang pemberian darinya dengan penuh suka cita, ada beberapa anak yang mengucapkan terimakasih dan memberikan doa padanya. Lampu hijau pun menyala, membuatnya tidak bisa berlama-lama menikmati masa itu karena mobil di belakangnya sudah beberapa kali menekan klakson.
Sultan pun kembali melajukan mobilnya, menembus jalanan malam yang masih di temani rintik gerimis. Dan tak butuh waktu lama, mobilnya pun sampai di halaman rumahnya.
Dia mengibaskan jasnya yang sedikit basah terkena tetesan air hujan saat dia berlari dari garasi menuju halaman rumahnya. Dan, begitu membuka pintu, Hanum sudah berdiri menyambut kepulangannya dengan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
" Mandilah dulu, aku sudah siapkan air hangat untukmu." Hanum mencium punggung tangan suaminya dan meraih tas serta jas dari tangan Sultan.
Sultan mengangguk dan segera menuju kamar untuk membersihkan diri, seharian ini dia di sibukkan dengan berkunjung ke beberapa perusahaan yang menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Dia merasa sangat lelah dan ingin cepat cepat mandi untuk menyegarkan dirinya.Tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi karena dia merasa sudah sangat lapar sekarang.
Hanum terus memandangi suaminya yang terlihat sangat menikmati makan malamnya, dan ingatannya kembali pada semangkuk sorbet melon yang begitu dia inginkan, tadi.
" Mana pesananku mas?" ucap Hanum tiba-tiba.
" Eh." Sultan menghentikan aktivitas mengunyah makanannya dan berpikir.
Astaga, aku lupa.
" Ya ampun sayang, maaf ... aku lupa." dan Sultan langsung bisa melihat wajah Hanum yang semula terlihat sangat bahagia, menjadi kecewa saat itu juga. " Tadi ada sekumpulan anak jalanan yang menjajakan dagangannya di lampu merah, jadi aku ..."
" Ya sudahlah." lirih Hanum, dia lalu bangkit dari tempat duduknya, " Habiskan makananmu, aku ke atas dulu, ngantuk."
Sultan baru akan membuka mulutnya namun Hanum sudah berjalan cepat menuju anak tangga.
Sepuluh menit kemudian.
" Katanya ngantuk, kenapa malah baca novel?" Sultan merangkak naik ke atas kasur empuknya.
Hening.
Tak ada jawaban, dia pandangi wajah istrinya yang saat itu sedang serius dengan novelnya, perlahan di singkirkan novel itu hingga Sultan bisa melihat wajah istrinya dengan sempurna.
" Kamu menangis?" Sultan kaget melihat air mata yang membasahi pipi istrinya, " Apa kisah dalam novel itu begitu menyedihkan?"
Hanum masih diam, tak menjawab, dia merebahkan tubuhnya dan berbaring memunggungi suaminya. Membuat Sultan keheranan melihat tingkah Hanum.
" Ada apa?" tanyanya lembut sambil mengusap kepala Hanum.
Masih diam.
" Jangan menangis, katakan padaku, ada apa sebenarnya? apa yang membuatmu menangis?"
" Aku sudah menunggu lama, sampai kamu pulang. Aku sudah membayangkan betapa segarnya makan sorbet melon yang sejak sore aku inginkan." Sultan tersentak begitu Hanum secara tiba-tiba bangun dari tidur nya dan berteriak padanya, membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya, sampai dia sempat terjatuh ke belakang.
" Maaf." ucapnya singkat setelah berhasil menguasai dirinya yang sempat begitu terkejut.
Saking terkejutnya dia, baru kali ini melihat Hanum berteriak sambil menangis histeris begitu. Gadis itu memang pernah menangis histeris di depannya dulu, saat mereka berdua sedang mengalami masalah rumah tangga, tapi tidak di iringi dengan teriakan seperti saat ini.
" Tahu begitu, seharusnya aku pergi saja dengan pak Dadang tadi."
"Aku lupa sayang, maaf." Sultan meraih bahu istrinya.
" Jangan menyentuhku!" lagi, Sultan berjengit ketika Hanum kembali berteriak. " Aku sangat membencimu, aku tidak mau melihatmu. Sebaiknya kamu tidur di kamar tamu saja." ucap Hanum sambil terisak.
Astaga, hanya karena aku lupa membelikan sorbet melon untuknya, dia sampai mengatakan kalau dia membenciku, dan parahnya lagi ... dia menyuruhku tidur di ruang tamu? Apa dia sedang kedatangan tamu bulanannya? biasanya dia akan sensitif jika sedang datang bulan.
__ADS_1
.