Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Pertama bertemu


__ADS_3

Flashback on


Pagi itu kala mentari masih malu-malu keluar dari persembunyiannya, cahayanya yang belum sepenuhnya muncul namun tetap masih bisa sedikit menghangatkan di tengah udara dingin yang menusuk.


Duduk di sebuah halte bis seorang gadis berseragam putih abu-abu yang menggendong tas sekolah berwarna biru muda. Sembari menunggu kedatangan bis yang bisa dia naiki menuju sekolahnya, gadis muda nan cantik itu sibuk dengan buku pelajaran yang dia genggam di tangan kirinya. Untuk sesaat pandangan matanya tertuju pada lembar demi lembar yang berisi tulisan rapi tersebut, sejenak kemudian dia mengalihkan pandangannya diiringi dengan mulutnya yang bergerak seolah sedang membaca mantra.


Ya, gadis cantik itu tengah menghafalkan sebuah mata pelajaran. Rambutnya yang dibiarkan tergerai sesekali menutupi wajah cantiknya yang bersemu merah. Hembusan nafasnya pun kentara sekali sembari sesekali memeluk dirinya sendiri, bukti jika saat ini dirinya tengah kedinginan.


Hal itu terus berlangsung lama, gadis itu tak mempedulikan keadaan sekitarnya yang penuh sesak dengan orang yang saat ini tengah berkerumun di sana.


Sebuah bis berwarna merah terlihat muncul dan mendekati halte tersebut, orang-orang yang sejak tadi berdiri mengantre di sana segera berlari menuju pintu dan berdesakkan masuk.


Gadis itu mengedarkan pandangannya, tak ada bangku kosong untuk bisa dia tempati, belum juga dia sempat berpegangan dan bis itu pun melaju hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya melesat, dia memejamkan matanya, tak bisa membayangkan betapa malunya jika dia sampai terjatuh dan di saksikan oleh banyak orang.


Gadis itu menghela nafas panjang, tubuhnya tak terasa sakit sama sekali, dia justru merasakan sedikit kehangatan yang entah berasal dari mana. Diliputi oleh rasa penasaran akhirnya dia membuka matanya secara perlahan. Dan ketika matanya telah terbuka dengan sempurna, alangkah terkejutnya dia, tubuhnya terpaku, matanya tak henti menyapu bersih wajah seorang yang saat ini pun melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Untuk sekian detik keduanya saling beradu pandang, hingga seorang pria itu meringis.


"Ah, ma ... maaf," cicit gadis itu.


"Tidak masalah," jawab sang pria sembari membantu si gadis bangun dari atas pangkuannya.


Dion remaja bangun dari kursi penumpang, dia mengusap lengannya yang terasa sedikit nyeri. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menopang tubuh sang gadis ketika jatuh tadi.


"Duduklah!" perintah Dion, mempersilahkan kepada gadis cantik itu untuk mengambil tempatnya.


"Nanti kamu bagaimana?" jawabnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Aku anak lelaki, tidak masalah kalau sepanjang perjalanan aku berdiri sedangkan kau, kau kan anak perempuan, mana tega aku duduk diam sementara ada anak perempuan yang tengah berdiri. Sudah duduklah! atau bangkunya keburu di ambil orang nanti." Dion muda menaruh tangannya pada bahu gadis itu kemudian sedikit menekannya.


Dion menatap ke arah jalanan, ada sebuah lengkungan tipis di bibirnya, lengkungan yang begitu samar hingga orang tak menyangka bahwa pria itu sedang tersenyum.


Sementara di sisi lain, sang gadis yang saat ini duduk di bangku penumpang tersebut terus saja memandangi lelaki yang telah menolongnya. Bibirnya terus di hiasi dengan senyuman manakala mengingat kembali kejadian tadi. Saat tubuhnya terasa melayang dan tiba-tiba ada seseorang yang menangkapnya. Dia tidak menyadari jika hal itu terus berlangsung lama, hingga tanpa sadar pria yang sejak tadi ada di depannya itu berjalan menuju pintu bis kemudian sosoknya lenyap dari jangkauan matanya.


"Kenapa Win, pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri," tegur seorang gadis begitu melihat kedatangannya di dalam kelas.


"Siapa yang senyum-senyum?" timpal Wina, dia menarik bangkunya kemudian meletakkan satu per satu barang bawaannya.


"Ngaku deh! jelas-jelas bibirmu terus melengkung dari tadi, awas lalat masuk lho! lagian nggak takut apa tuh bibir jadi kering," ledek gadis itu lagi yang diketahui bernama Mawar.


"Sembarangan!" cebiknya.


"Eh, aku serius. Omong-omong ... memang apa sih yang membuatmu kelihatannya bahagia sekali?" gigih, Mawar kembali menanyakan hal yang di anggapnya tak biasa itu.


"Tidak ada."


"Bohong! kamu tuh nggak pernah berubah, kita berteman sejak duduk di bangku Taman kanak-kanak, aku tahu betul tabiatmu. Selalu kalau ada apa-apa kamu nggak pernah mau cerita, kamu itu tipikal perempuan yang tertutup. Tak peduli dengan siapa pun itu termasuk aku sekalipun."


"Iya kah?"


"Huh, kata-kata pamungkas kalau kamu sudah tersudut."


"Se ... sebenarnya aku itu ...,"


Wina mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya karena bel tanda masuk kelas sudah berbunyi dengan nyaring.


"Apa?" Mawar begitu antusias ingin segera mengetahui perihal apa yang membuat temannya itu terlihat begitu bahagia.


"Sudah bel, nanti saja ya."


"Janji!" Mawar menyodorkan jari kelingkingnya, hal yang biasa mereka lakukan jika keduanya l sepakat melakukan perjanjian.


"Iya janji." Wina menyambut hangat jari kelingking temannya dan mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka masing-masing.

__ADS_1


Keduanya mulai bersiap untuk menerima pelajaran karena tak lama setelahnya seorang guru laki-laki berumur masuk dan mulai memberikan materi pelajaran.


.


"Cepat ceritakan apa yang tadi mau kamu katakan tadi di kelas?"


Sepanjang jam pelajaran itu berlangsung, Mawar sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Penjelasan panjang lebar yang di berikan oleh gurunya sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam otaknya.


Mau bagaimana lagi, ketika dia berniat untuk memperhatikan penjelasan dari gurunya yang terus berceramah di depan papan tulis, nyatanya pandangannya tak lepas dari temannya yang masih betah mengulum senyum. Membuatnya semakin yakin kalau memang ada sesuatu yang membuat temannya itu dilanda kebahagiaan.


"Aku lapar, setidaknya biarkan aku menghabiskan makananku dulu," Wina menjawab dengan mulut penuh berisi makanan.


"Ya sudah cepat habiskan! aku makin tidak sabar inih."


Wina meraih es jeruknya, dia yang kalap sempat membubuhkan tiga sendok sambal ke dalam mangkuk berisi bakso yang di pesannya di kantin sekolah.


Byurrrr ...


Mawar terlonjak kaget ketika melihat temannya menyemburkan es nya.


"Ada apa? apa ada yang salah dengan es nya?" tanya Wina, dia mengambil beberapa lembar tisu yang tersedia di meja dan mengulurkannya pada Wina.


Wina tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kenapa juga Wina terpaku sambil terus menatap pada satu titik tanpa berkedip. Mau tak mau Mawar pun menoleh demi bisa melihat apa yang saat ini menjadi pusat perhatian Wina.


Mulutnya membulat membentuk huruf O, kembali menoleh dan memberikan tepukan lembut di pipi temannya untuk mengembalikan kesadaran Wina.


"Kau menyukainya juga?" tanya Mawar.


Sudah hampir satu bulan ini sekolah mereka di buat heboh dengan kedatangan seorang siswa pindahan dari Jakarta. Sosok siswa yang rupawan dan ramah itu membuatnya langsung di senangi oleh banyak anak tak terkecuali para kaum siswi yang sekolah di sana.


"Tidak." Wina menggeleng pelan.


"Kalau memang kau tidak menyukainya kenapa sampai ekspresimu berlebihan begitu melihat kedatangannya tadi?" selidik Mawar.


"Menolong apa? kapan?" Mawar memajukan tubuhnya untuk lebih mendekati Wina.


"Tadi pagi sewaktu aku naik bis, dia ...,"


Wina pun menceritakan kembali kejadian dalam bis yang dialaminya.


.


Menjelang sore hari.


Dion yang baru saja keluar dari tempat les pun menghentikan langkahnya ketika melihat sosok gadis yang dia temui pagi tadi, tengah duduk di halte.


Angin kencang yang bertiup membuat rambutnya menari-nari dan entah kenapa itu membuat Dion kembali mengulas senyum.


"Hai, kita ketemu lagi," sapa Dion.


Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada dinding karena memang bangku penunggu telah penuh, banyak orang juga yang senasib dengannya, berdiri menghalau nyamuk juga rasa dingin hanya untuk menunggu kedatangan bis yang bisa membawa mereka pulang ke rumahnya masing-masing.


"Ah, ya." Wina tersenyum kikuk, dia menyelipkan rambutnya yang terus berkibar tertiup angin.


Melihat Wina beberapa kali mengusap lengan telanjang nya karena gadis itu sama sekali tak memakai jaket atau sejenisnya yang bisa dia gunakan untuk menghangatkan tubuhnya, membuat hati Dion tersentuh. Tanpa pikir panjang dia segera melepas sweater yang di pakainya dan mengulurkan kain berwarna biru elektrik itu pada Wina.


Gadis itu mendongak, di pandanginya pria yang masih setia mengulurkan sweater padanya.


"Kenapa terus melihatku? aku bukan hantu, pakailah!" Dion menarik tangan Wina kemudian meletakan sweater itu.


Yang di tunggu-tunggu akhirnya menampakkan diri juga, sebuah bisa berhenti tepat di halte tersebut.

__ADS_1


Wina yang hendak berlari sepertinya harus segera mengurungkan niatnya karena Dion mencekal lengannya.


"Pakai dulu jaketnya!" perintah Dion.


"Kita tidak punya banyak waktu, ayo cepat."


"Kenapa terburu-buru sekali?"


Belum sempat Wina menjawab, dia dibuat terkejut ketika mendengar deru mesin mobil yang mulai bergerak meninggalkan keduanya.


"Itu bis terakhir yang lewat, tidak akan ada bis lagi yang lewat, bagaimana kita bisa pulang?"


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" panik, Dion membantu memasangkan sweater itu di tubuh Wina.


"Aku sudah berusaha untuk mengatakannya padamu tapi ternyata bis itu jalan lebih cepat dari dugaanku."


Dion menghirup udara sebanyak mungkin, reflek dia menautkan tangannya dengan tangan Wina.


"Ayo!" serunya.


Wina begitu kaget karena tak menyangka kejadian seperti ini akan di alami olehnya, Dion terus menggenggam erat tangannya dan mengajaknya berlari tanpa henti.


"Sebentar lagi!" ucapnya pada Wina.


Dion terus berlari meneriaki sang supir agar menghentikan laju bis nya dan membiarkan mereka naik.


Masih berlari.


"Katakan jika kau capek."


"Memang apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan itu padamu?" dengan nafas terengah, Wina bertanya pada pria di sampingnya.


"Aku bisa menggendongmu."


Mendengar jawaban Dion membuat Wina tersenyum, belum pernah ada pria yang menyita perhatiannya selama ini dan sekarang, pria yang masih setia menggenggam jemarinya itu adalah pria pertama yang membuatnya merasakan jantungnya berdebar kencang ketika bertemu dengan lawan jenis.


"Dapat!" Dion berhasil melompat naik ke atas bis dan menarik tangan Wina.


Karena sentakan yang cukup keras membuat Wina menubruk tubuh Dion hingga keduanya jatuh.


Ada beberapa orang yang sempat membantu keduanya berdiri.


Setelah hampir separuh perjalanan, mereka akhirnya bisa duduk juga di jok penumpang bagian belakang karena kebanyakan penumpangnya telah turun.


"Kau duluan."


Entah kenapa setiap perlakuan Dion terasa begitu manis Wina rasakan. Dia tak pernah melepaskan pandangannya sedetik pun dari pria itu.


"Apa yang kau lihat?" merasa Wina terus memandangnya membuat Dion bertanya.


"Ah, tidak! aku hanya ... aku belum mengucapkan terimakasih padamu," ucap Wina yang salah tingkah begtu Dion balas menatapnya.


"Tidak perlu."


"Kenapa? kau kan sudah membantuku, wajar aku ingin mengucapkan terimakasih padamu."


Dion menatap lekat wajah gadis yang tengah duduk di sampingnya, dia menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Dia mengulurkan tangannya.


"Dion."


"Wina."

__ADS_1


Keduanya saling berjabat tangan dengan menyebut nama masing-masing.


.


__ADS_2