
Wina meletakkan semangkuk sup jamur asparagus yang masih mengepul beserta sepiring nasi di hadapan Dion. Pria itu terlihat begitu frustasi, tak banyak bicara sejak kedatangannya ke apartemen Wina satu jam yang lalu.
"Makanlah, kau harus mengisi tenaga terlebih dulu untuk bisa menceritakan masalahmu padaku, bukan?" ucap Wina seolah mengerti dengan kesedihan yang tengah dirasakan oleh Dion.
Sejujurnya Wina begitu penasaran dengan apa yang telah menimpa Dion saat ini, ditelisik dari keadaan pria itu sejak ia menampakkan batang hidungnya. Wajah tampannya terlihat sayu dengan mata yang sembab, kesedihan yang tergambar jelas di sana makin menguatkan asumsi Wina kalau pria itu pasti telah mengalami kejadian yang menimbulkan luka dalam hati nya.
Ya, Dion memang telah menceritakan tentang masa lalunya yang pernah ia habiskan dengan menjalani biduk rumah tangga bersama Mauryn, pada Wina. Juga segala kejadian yang membuat keduanya harus mengakhiri hubungan mereka, tak lupa juga Dion menceritakan tentang Yara, buah cintanya bersama Mauryn. Semuanya, Dion menceritakan semua tentang dirinya pada Wina tanpa ada yang terlewat satupun. Dia benar-benar ingin memulai hidup yang baru, bukankah sebelum melangkah ke tahap selanjutnya dia juga harus memberitahukan semuanya pada Wina, wanita yang ia pilih untuk mendampingi hidupnya. Dion percaya, jika memang Wina benar-benar mencintainya, wanita itu pasti akan menerima dengan segenap hati segala kekurangan yang ada dalam dirinya termasuk masa lalu kelamnya.
Lega, itulah kata yang tepat Dion gunakan untuk menggambarkan betapa bahagianya dia begitu mendengar Wina dengan lapang dada menerima masa lalu Dion tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Wina bahkan terang-terangan mengatakan kalau dia siap menerima serta mengasuh Yara begitu mereka resmi menikah nantinya.
"Maafkan aku, kau harus melihatku dalam keadaan seperti ini," kalimat pertama yang berhasil lolos setelah sekian lama Dion mengunci rapat mulutnya.
"Apa yang kau bicarakan? habiskan makananmu terlebih dulu! kita masih punya banyak waktu untuk bicara nanti." Wina menaruh ebi furai dan sepotong ayam katsu hasil karyanya di dapur, tadi.
Wina terus melemparkan tatapannya pada Dion, pria itu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sudut bibir Wina melengkung tak lama setelahnya karena Dion terlihat begitu menikmati makanan yang di sajikan ala kadarnya oleh dirinya.
"Apa kau sangat lapar?" melihat cara Dion menghabiskan isi piring miliknya membuat Wina akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak juga," jawab Dion, datar.
Hal itu sontak membuat Wina mengerutkan keningnya, bingung.
"Masakanmu enak, akan sayang jika tidak dihabiskan," imbuh Dion.
"Huh ..., dasar!" cebik Wina, gadis itu mengerucutkan bibirnya membuat Dion merasa gemas.
"Aku berkata jujur."
Wina menoleh dan seketika pandangan mata keduanya beradu. Dia kembali merasakan getaran dalam hatinya, dilihatnya Dion dengan seksama, sama sekali tak ada yang berubah sedikitpun dalam diri pria itu. Dia masihlah Dion yang sama seperti yang dia lihat beberapa tahun yang lalu, hanya saja Dion yang sekarang lebih tampan di usianya yang matang.
Setelah selesai memindahkan isi piringnya ke dalam perutnya, Dion memilih untuk duduk di balkon. Ya, tempat itu menjadi tempat favoritnya jika bertandang ke apartemen Wina. Selain dia bisa merasakan kenyamanan ketika berada di sana, tempat itu pula yang menjadi saksi bisu pengungkapan perasaan Wina padanya.
"Mulai sekarang, berlatihlah untuk berhenti merokok. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Dion menoleh ketika mendengar Wina mengatakan hal tersebut padanya, gadis itu mendekatinya sambil membawa nampan berisi dua cangkir beserta camilan di tangannya.
"Aku merasa damai ketika menjadikan ini sebagai pelarian atas masalah yang sedang menimpaku." Dion menunjukkan sebatang rokok yang ujungnya masih menyala, pada Wina.
Wina memindahkan isi nampannya ke atas meja lalu dirinya mengambil posisi, duduk di samping Dion. Perlahan direbutnya rokok yang ada di tangan pria itu, mematikan ujungnya kemudian melemparnya kasar ke dalam tong sampah yang berada tak jauh dari tempat duduknya.
"Kau marah karena aku mengotori tempat tinggalmu?" tanya Dion, dia memasang wajah tak suka.
"Bukan hanya marah, aku juga akan sangat menyesal kalau kau terus-menerus menyiksa tubuhmu sendiri hanya karena masalah sepele," ucap Wina, kesal. "Setiap orang punya masalah dan wajar jika mereka butuh melakukan sesuatu sebagai pelarian tapi bukan seperti ini caranya."
"Kenapa kau malah marah?"
"Aku tidak mau menjadi janda setelah menikah denganmu nanti, jika kau meninggal terkena penyakit karena menjadi seorang perokok, bagaimana? aku baru saja akan memulai kebahagiaanku ketika kamu mengatakan dengan serius niatanmu untuk mengajakku naik ke pelaminan," cecar Wina.
Dion terkekeh menanggapi perkataan Wina.
"Kau memang selalu begitu, tidak pernah menganggapku jika sedang membicarakan hal yang serius, kau selalu menganggap apa yang aku katakan seperti sebuah lelucon, iya kan?"
"Aku?" Dion menunjuk dirinya sendiri. "Demi Tuhan aku tidak sedang mentertawakanmu, kau salah paham! aku justru senang karena melihatmu mencemaskan diriku, itu tandanya kamu memang benar-benar mencintaiku."
Hening.
"Kenapa malah cemberut begitu? baiklah aku minta maaf, aku yang salah." Dion menggenggam tangan Wina. "Aku janji, mulai besok aku akan mengurangi kebiasaan merokok. Jangan marah lagi ya jika kamu masih melihatku merokok, aku kan juga butuh waktu untuk benar-benar menghilangkan kebiasaan yang selama ini sudah menjadi bagian dari hidupku."
"Hm, sebisa mungkin aku akan membantumu lepas dari kebiasaan burukmu itu," Wina menyahut.
"Kemarilah!" Dion menepuk pahanya, memberikan gadis itu kode untuk naik ke pangkuannya.
"Tidak mau!" tolak Wina.
"Aku tidak akan melakukan apapun, percayalah. Aku hanya ingin berdekatan denganmu saja."
"Tetap saja, lagipula sekarang juga kita ini kan juga sedang berdekatan."
Wina memekik cukup keras karena secara mengejutkan Dion menarik tangannya, membuat gadis itu duduk di pangkuannya dengan terus melingkarkan tangannya pada perut Wina.
"Lepaskan aku! jangan begini, aku mohon." Wina terus meronta.
"Kau mau aku mencium dirimu?"
"Apa?" Wina menoleh, tatapan matanya tertuju pada wajah Dion yang saat ini sedang tersenyum lebar padanya.
__ADS_1
"Tinggal pilih saja, mau terus memberontak lalu aku menciummu atau tetap diam dan aku akan memaafkanmu," ucap Dion.
"Apa apaan ini? itu bukan pilihan." Wina mengerucutkan bibirnya, kembali membuat Dion gemas.
Untuk beberapa saat lamanya Dion terus menatap wajah kekasihnya, keduanya saling beradu pandang. Tak ada yang mereka ucapkan karena masing-masing dari mereka sedang menggunakan bahasa mata.
Rambut hitam legam milik Wina terus menari tertiup angin yang berhembus semilir. Mengikuti kata hatinya, Dion mengulurkan tangannya, menyelipkan helaian rambut yang masih berkibar agar tak lagi menutupi wajah cantik pujaan hatinya. Diraihnya dagu lancip Wina kemudian dengan gerakan perlahan dia mulai memajukan wajahnya.
Wina memejamkan matanya begitu merasakan sesuatu yang basah menempel pada bibirnya. Dion mengecup bibirnya sekilas, sangat singkat hingga itu lebih mirip seperti salam perkenalan. Dion kembali mengangkat wajahnya, dilihatnya kelopak mata Wina yang masih terpejam seolah mengisyaratkan bahwa gadis itu menginginkan ciuman yang sesungguhnya.
Merasa apa yang diharapkan tak juga kunjung datang, perlahan Wina membuka matanya. Alangkah terkejutnya gadis itu begitu mendapatkan serangan mendadak lagi dari Dion.
Dion kembali menyambar bibir tipis Wina, kali ini bukan hanya kecupan singkat seperti tadi. Pria itu meraih tengkuk wanitanya, memberikan gigitan kecil agar Wina memberikan ruang padanya untuk menjelajah lebih dalam lagi.
Wina tersengal, dia tak mampu mengimbangi permainan Dion, gadis itu terus merem*as kemeja yang dipakai oleh Dion. Dia sama sekali tak menyangka jika dirinya akan begitu hanyut dalam perasaan yang membuatnya terbuai. Permainan yang dilakukan oleh Dion selalu membuatnya serasa melayang di udara.
Ini kali kedua mereka melakukan hal tersebut tapi tetap saja, tubuh Wina bergetar merespon setiap perlakuan Dion pada dirinya.
.
Pagi harinya.
Sultan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, semalaman dia tidur di sofa. Burhan memang tidak pernah main-main dengan ucapannya, kata-katanya sudah seperti sabda seorang raja saja, jika mengatakan sesuatu hal terjadi, maka akan terjadilah sesuai dengan keinginan pria tua itu.
Sebenarnya Sultan bisa saja tidur di kamar tamu yang mana letaknya cukup dekat dari ruang keluarga tapi dia sama sekali tak bisa memejamkan matanya begitu dirinya memasuki kamar tersebut. Cukup lama dia terjaga dalam kamar itu, saking kesalnya akhirnya dia memutuskan untuk menonton TV, untunglah ada salah satu saluran TV yang menayangkan acara pertandingan sepak bola. Acara tersebut berlangsung hingga dini hari dan lambat laun Sultan yang memang didera rasa lelah akhirnya tertidur juga.
"Astaga, badanku sakit semua," keluhnya sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur begitu dia sampai di kamarnya.
"Memang kamu tidur dimana Mas?" Hanum yang baru saja keluar dari kamar mandi pun menyahut.
"Di sofa." pria itu kembali menguap. "Ya ampun." mendadak Sultan terbangun. "Tadi aku bisa masuk, jadi kamu tidak benar-benar mengunci pintunya?"
"Aku memang mengunci pintunya begitu aku masuk, kamu pasti tidak bisa tidur makanya aku berinisiatif untuk membuka kuncinya setelah memastikan kakek tertidur."
"Kenapa kau tidak bilang?"
"Aku berusaha meneleponmu dan ternyata ponselmu tertinggal di sini, aku pikir kamu akan naik dengan sendirinya." Hanum sibuk mengeringkan rambutnya.
"Huh, ya ampun. Merepotkan saja, kakek tua itu benar-benar pembuat onar. Bisa-bisanya aku dilarang tidur dengan istriku sendiri? peraturan macam itu?" sinisnya.
"Hukuman," ralat Hanum.
Hanum tertawa mendengar penuturan suaminya.
"Jangan tertawa! kau mau mengejekku?" ketus Sultan.
"Dilihat dari segi mana aku mengejekmu Mas? ada-ada saja." Hanum menggelengkan kepalanya. "Ah, aku ingat satu hal," serunya tiba-tiba.
"Apa?"
"Aku baru mengetahui kalau ternyata kalian memiliki satu kemiripan," beritahu Hanum.
"Kemiripan apa? jelas-jelas aku dan kakek sangat berbeda. Kami tidak pernah akur dan selalu seperti kucing dan anjing yang akan bertengkar jika bersama."
"Serius."
"Katakan, kami mirip di bagian mananya?" tanya Sultan tak sabar.
"Kalian mirip, sama-sama seperti anak kecil," seloroh Hanum, gadis itu tertawa terbahak.
"Apa?"
"Ya, karena kalian akan terus bertengkar jika bersama, jadi kesimpulannya kalian berdua mirip satu sama lain. Mirip balita kalau sedang memperebutkan mainan," imbuh Hanum.
"Yang benar saja!" Sultan terus menggerutu.
Pria itu memilih untuk masuk ke kamar mandi ketimbang mengurusi celotehan istrinya yang tidak jelas.
.
Matahari begitu terik siang itu, cahayanya terasa panas membakar kulit. Sultan bergegas memasuki ruangannya, meraih remote pendingin udara begitu dia sampai di sana.
"Rasanya kepalaku bisa meledak jika tiap hari kita berkeliaran di jam-jam seperti ini," keluhnya pada Raka.
"Kau pikir dirimu saja yang merasa kepanasan? aku pun sama," jawab Raka tak mau kalah.
__ADS_1
"Orang itu, tidak biasanya dia terlambat. Jika saja lima menit kemudian dia tidak datang, aku pastikan kita akan menggagalkan rencana kerja sama dengan perusahaan mereka," omelnya lagi, menceritakan tentang kliennya yang datang terlambat.
"Yang sudah berlalu biarlah berlalu, yang terpenting sekarang kan proyek kita sudah gol. Kita menang tender jadi setidaknya tenangkan dirimu, toh tidak ada ruginya kita menunggu," hibur Raka.
"Aku tahu betul apa yang saat ini ada dalam pikiranmu, kau pasti membayangkan berapa angka yang akan aku transferkan ke rekeningmu kan?"
"Apa salahnya? itu kan sudah menjadi hak ku?"
"Sudah kuduga," gumam Sultan. "Minta office boy membuatkan minuman dingin!" pintanya pada Raka.
"Sip." Raka mengacungkan jempolnya.
Pria itu mengangkat gagang telepon lalu mulai menelpon bagian pantry dan meminta untuk segera dikirimkan minuman dingin sesuai pesanan Sultan.
"Oh ya, omong-omong bagaimana persiapan nanti malam?"
Tiba-tiba Raka teringat sesuatu, malam ini Adam telah merencanakan makan malam di sebuah restoran mewah dengan mengajak serta istri masing-masing. Anggaplah sebagai perayaan kecil-kecilan atas kebahagiaan yang didapatkan mereka setelah mendengar sidang putusan hakim yang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup pada Mauryn. Sementara Reno, pelaku yang membantu Mauryn dalam melancarkan aksinya, dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.
"Aku sudah memberitahu Hanum tadi pagi," Sultan menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
"Akhirnya kita semua bisa hidup damai dan tenang juga ya, Tan?"
Raka menyandarkan kepalanya di bahu kursi.
"Ya, buah dari kesabaran kita selama ini dalam menghadapi berbagai macam ujian yang datang silih berganti."
Keduanya kemudian terdiam dengan pandangan menerawang jauh, sibuk dengan pikiran masing-masing.
.
Tepat pukul tujuh malam di sebuah restoran bergaya Eropa.
Adam sudah duduk di kursi yang telah di pesannya di ruang private bersama sang istri tentunya. Pasangan suami istri itu kompak mengenakan pakaian berwarna hitam, Adam tampak gagah mengenakan tuxedo sementara Ajeng mengenakan gaun tanpa lengan dengan panjang sebatas lutut namun bagian ekornya menjuntai, sedikit lebih panjang.
Raka dan Disha juga telah hadir di sana, mereka pun mengenakan pakaian dengan warna senada. Raka tak kalah tampannya dengan Adam, pria itu memakai jas dengan dasi kupu-kupu yang tersemat rapi di lehernya. Sedangkan Disha memakai gaun panjang berwarna maroon yang menutupi hingga mata kaki. Perutnya yang membuncit malah semakin menambah kesan seksi pada gaun yang dipakainya.
"Makanan sudah tersusun rapi di atas meja, tinggal menunggu tamu agung yang datang," celetuk Raka.
"Ya, apa dia mengabarimu sudah sampai mana?" Adam melirik jam tangannya. "Dion juga belum datang."
"Sultan sudah di tempat parkir katanya, paling lima menit lagi sampai. Nah kalau Dion, dia bilang masih dalam perjalanan menuju kemari karena dia harus menjemput Wina terlebih dulu," beritahu Raka.
"Malam ini kita benar-benar harus menghabiskan waktu bersama, untunglah Bening sudah tidur tadi jadi kami bisa tenang meninggalkan dia bersama pengasuhnya," curhat Adam pada Raka.
Waktu pun berlalu.
Kini ke empat pria dengan pasangannya masing-masing telah memenuhi ruangan tersebut. Menghabiskan makan malam dengan saling bertukar cerita. Dion dan Wina yang tak luput dari aksi jahil Adam dan Raka yang terus saja meledek pasangan tersebut sejak tadi, membuat Wina salah tingkah.
Setelah jamuan makan malam selesai, mereka terus terlibat perbincangan sambil menikmati hidangan penutup. Para lelaki berbicara mengenai perkembangan bisnis sambil sesekali diselingi candaan, sementara para kaum hawa asyik membahas tentang fashion dan kecantikan.
Makan malam pun berjalan lancar hingga puncaknya mereka harus kembali ke rumah masing-masing.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Terlihat jelas rona kebahagiaan yang tergambar di wajah masing-masing orang.
Sultan berjalan paling depan sambil menggandeng mesra tangan istrinya. Baru beberapa langkah mereka keluar dari restoran tersebut tiba-tiba Sultan mematung. Pria itu menghentikan langkahnya, pandangannya tertuju pada sosok wanita bertubuh ramping yang tengah berusaha untuk menghentikan tangis anaknya.
"Dam," cicit Sultan, memanggil Adam agar pria itu mendekat padanya.
"Ada apa?"
"Kau lihat itu?" Sultan menunjuk wanita yang dia maksud. "Jantungku rasanya nyeri sekali," ucapnya sambil memegangi dadanya.
Pun sama seperti temannya, Adam pun terpaku begitu melihat sosok yang diperlihatkan oleh Sultan padanya. Adam meraup kasar wajahnya, pria itu terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dan ketika dirinya melihat cairan bening yang menggenang di pelupuk mata Sultan, dia segera merangkul temannya.
"Jangan dilihat!" Adam menutup wajah Sultan. "Jantungku pun rasanya seperti tercabik-cabik."
"Biarkan aku melihatnya," cicit Sultan, satu bulir bening berhasil jatuh membasahi pipinya.
"Kau tidak akan sanggup, inilah dirimu yang asli. Sekuat apapun kau tak akan sanggup jika mengenai anak kecil."
"Setidaknya biarkan aku menghentikan tangisnya, Dam."
Sultan mengambil langkah seribu, ingin rasanya dia memeluk anak kecil itu dan mengusap kepalanya, mengatakan sesuatu agar tangisnya terhenti.
Adam membiarkan Sultan melakukan apa yang pria itu inginkan.
__ADS_1
Beberapa pasang mata terus mengawasi Sultan yang saat ini sedang berusaha menenangkan balita dalam gendongannya. Mata mereka pun berkaca-kaca, jika sudah begini ... siapa yang tega melihat kejadian itu?
.