Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bau kopi


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian jatuhnya Hanum di teras depan rumah.


Sultan gegas turun dari mobil begitu selesai memarkirkan mobilnya di garasi, berlari masuk ke dalam rumah.


Sepi, padahal biasanya jam segini, istri tercintanya sedang asyik menonton drama Korea favoritnya di ruang tengah.


Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, baru pukul setengah tujuh malam tapi kenapa suasana di rumah itu sudah sepi.


Dia beralih menuju dapur, barangkali saja istrinya ada disana. Nihil, hanya ada mbok Darmi dan bi Mar yang saat itu sedang beberes.


" Tuan sudah pulang?" sapa bi Mar, perempuan tua itu mendekat begitu melihat kedatangan tuannya.


" Ya Bi, Hanum ..." Sultan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut dapur.


"Non Hanum ada di kamarnya tuan."


" Di kamar?"


" Iya tuan, sejak pagi nona terus berada di dalam kamar, makan siangnya saja di antar ke atas, tapi nona tidak menyentuhnya sedikit pun."


" Apa dia sakit Bi?"


" Saya sudah menanyakan soal itu tuan, tapi nona bilang, kalau dia baik-baik saja."


" Ya sudah Bi, terimakasih."


Sultan berlari, menaiki dua buah anak tangga sekaligus dalam sekali langkah, langsung membuka pintu begitu dia sampai di depan kamarnya.


Dia mendekati istrinya yang saat itu sedang berbaring di atas ranjang.


Apa dia sakit? tidak biasanya dia tidur jam segini.


Sultan menjulurkan tangannya, menyentuh kening istrinya, barangkali saja gadis itu demam. Dia menghembuskan nafas lega begitu apa yang di cemaskan olehnya tak terjadi.


Kemudian dia meraih selimut yang ada di bagian bawah kasur, dan menyelimuti tubuh Hanum.


Mendapatkan perlakuan dari suaminya membuat Hanum terbangun, padahal suaminya berusaha hati-hati dalam melakukannya karena tidak ingin membuat istrinya terganggu. Dan sekarang, mata gadis itu sudah terbuka dengan sempurna, seolah sudah hilang rasa kantuknya.


" Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu."


" Mas sudah pulang?"


" Baru saja." di usapnya puncak kepala Hanum, " Aku mengganggu istirahatmu ya?"


" Tidak." Hanum bangkit, " Aku sudah tidak mengantuk sekarang."


" Tidak biasanya kamu tidur jam segini? kamu sakit?"


" Tidak, aku sehat kok, mungkin kecapekan saja. Kemarin Bening rewel sepanjang hari, dia baru di imunisasi, Ajeng sama pengasuhnya sampai kewalahan mengurus bayi itu. Dan ajaibnya, dia bisa tenang dan tidur dengan nyenyak begitu aku peluk." Hanum bercerita.


" Aku tahu kamu senang berada di sana, tapi aku rasa, kamu tidak perlu setiap hari kesana. Sekarang kamu kecapekan, besok, kamu bisa sakit kalau terus begini setiap hari."


" Iya, lagi pula, hari ini juga aku tidak kesana." mencium tangan suaminya.


" Aku mandi dulu, habis itu kita makan."


Dengan rasa malas, Hanum bangkit dari tempat tidurnya, menuju lemari pakaian berukuran besar yang ada di ruang ganti, memilihkan baju ganti untuk dipakai suaminya.


Lima belas menit kemudian.

__ADS_1


Mereka sudah duduk berhadapan di meja makan, seperti biasa, Hanum begitu telaten melayani suaminya. Mulai dari mengambilkan nasi, sayur beserta segelas air minum untuk pria itu.


Sultan mengernyitkan keningnya saat menyadari kalau sejak tadi hanya dia sendiri yang makan. Isi piring miliknya sudah berkurang separuh sementara milik Hanum masih utuh, padahal gadis itu hanya mengisi piringnya dengan separuh porsi makannya saja.


" Kenapa tidak di makan juga?" tanya Sultan yang sejak tadi melihat istrinya hanya mengaduk-aduk makanan nya. " Tidak enak?"


" Kenyang." jawabnya malas.


" Kau bahkan belum menyentuh makananmu, dan kau bilang sudah kenyang?"


" Tapi memang aku tidak lapar."


Mendengar perkataan istrinya membuat Sultan makin bingung, Bi Mar juga bilang kalau Hanum sama sekali tidak menyentuh makan siangnya, jadi bagaimana bisa gadis itu kenyang sementara tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


" Ya sudah kalau begitu, mau diganti saja makanannya? atau kamu mau makan sesuatu?"


Lagi-lagi Hanum menggeleng, membuat Sultan semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada istrinya.


Makan malam pun selesai, ya ... meskipun hanya Sultan seorang diri yang makan, dikarenakan Hanum hanya menemaninya saja, sebenarnya.


Hanum meraih gelas kosong yang di sodorkan suaminya dan hendak membawanya ke atas tempat cucian piring.


Baru saja dia bangun namun tubuhnya limbung, kepalanya mendadak pusing dan pandangan matanya menjadi buram.


" Kamu kenapa?" tanya Sultan panik, dia merebut gelas dan juga piring kotor yang sedang di pegang istrinya dan menaruh kembali di atas meja, " Duduk saja dulu." Sultan menuangkan segelas air untuk istrinya. " Apa perlu kita ke dokter?"


" Aku hanya sakit kepala biasa, tidak perlu cemas." menerima air pemberian suaminya dan menghabiskan isinya.


" Tapi wajahmu pucat sekali." sembari menyeka keringat yang muncul di dahi Hanum.


" Aku tidak apa-apa, sungguh. Dibawa tidur, palingan besok pagi juga sudah sembuh. Aku akan periksa ke dokter kalau memang aku sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya."


" Ya sudah kalau begitu, kita kembali ke kamar saja." Sultan menggotong tubuh istrinya.


" Dan aku ingin menggendongmu."


Lalu keduanya tertawa bersama.


Entah kenapa sejak kejadian dia terpeleset waktu itu, Hanum seringkali merasakan sakit kepala, bukan hanya itu saja, dia juga merasa tubuhnya lemah dan enggan melakukan apapun. Sebenarnya dia ingin periksa ke dokter, dia berpikir, sakit kepala yang kerap menderanya sudah berlangsung lebih dari tiga hari. Dan rasa itu seringkali muncul tiba-tiba dan hilang begitu saja setelah beberapa saat, menandakan kalau memang ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya. Tapi tiap kali dia berniat pergi ke rumah sakit, rasa cemas menghantuinya, membuatnya urung melakukan tes kesehatan.


Apa mungkin ini akibat dari kecelakaan waktu itu? kepalaku sempat membentur tembok tempo hari dan mungkin saja mengenai luka terdahulu. Aku sempat mengalami cedera otak cukup parah, apa jangan-jangan karena benturan yang cukup keras makanya aku jadi sering merasa pusing sekarang.


Hanum merinding, dia ketakutan tiap kali memikirkan hal itu, sebenarnya dia sendiri ingin mengetahui penyakit apa sebenarnya yang saat ini menimpa dirinya, tapi lagi-lagi rasa takut membuatnya tak berani menghadap ke dokter untuk memeriksakan diri.


" Mau aku buatkan teh? atau susu coklat?" ucapan Sultan membuat Hanum tersadar dari lamunannya.


" Tidak usah, aku mau tiduran saja."


" Ya sudah kalau begitu, aku mau lanjut kerja dulu ya. Ada beberapa file yang harus aku periksa." setelah membetulkan letak selimut istrinya, Sultan bangkit dari kasur.


Baru saja dia mau turun dari ranjang namun lengannya sudah di cekal oleh Hanum.


" Ada apa?" suaranya terdengar lembut.


" Bisa tidak, kamu bekerja di sini saja, tidak perlu di ruang kerja."


" Kenapa? kalau aku bekerja di kamar, yang ada malah berisik, dan ganggu waktu istirahatmu."


" Ah ... tidak masalah, di sini saja, ya?" bujuk Hanum.

__ADS_1


" Baiklah."


Sultan mengalah, dia mengambil laptopnya, meletakkan benda itu di atas pangkuannya dan mulai sibuk memeriksa beberapa email yang masuk.


Selang lima belas menit, Sultan yang merasa butuh kopi pun menaruh laptopnya di kasur.


" Aku ke bawah sebentar ya, mau buat kopi. Kamu mau sekalian aku buatkan?"


" Tidak usah." jawabnya singkat.


Tak lama, Hanum melihat suaminya sudah kembali dengan membawa nampan kecil berisi secangkir kopi yang dibuatnya sendiri.


Pria itu kemudian duduk lagi di atas kasur, di samping Hanum, menyesap kopi itu sebelum kembali sibuk dengan laptopnya.


Hanum yang sebenarnya belum mengantuk pun hanya bisa memandangi suaminya, pria itu akan terlihat sangat serius jika sedang bekerja. Dan Hanum sangat menikmati wajah suaminya yang tetap saja tampan dalam kondisi apapun. Hanum mulai merasa bosan setelah satu jam di lalui bersama suaminya yang terus saja menatap layar laptop tanpa bicara apa-apa. Dia mulai berguling-guling di atas kasur, mencoba mencari posisi ternyaman agar dia bisa tidur. Tapi dia belum juga bisa tidur karena memang dia belum mengantuk.


Setelahnya, Sultan pun melepas kacamata yang sejak tadi bertengger di atas hidungnya, menutup laptopnya dan menaruhnya di atas nakas.


Dia berganti posisi, dari duduk menjadi rebahan, kemudian mendekap tubuh istrinya.


" Apa yang membuatmu susah tidur?"


" Entahlah, aku sendiri tidak tahu sebenarnya apa maunya aku. Aku merasa lelah tapi tidak bisa tidur."


" Atau jangan-jangan kamu sedang menginginkannya?" ucap Sultan di iringi senyum.


" Menginginkan apa?" tanyanya polos.


" Itu." tangan Sultan mulai merayap, menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya.


" Itu apa?" tanya Hanum, ketus.


" Jangan berpura pura tidak tahu."


" Ish, dasar." Hanum menepis tangan suaminya.


" Kamu bilang kamu tidak bisa tidur, jadi aku pikir saat ini kamu sedang menginginkannya. Kita bisa melakukanya dua ronde, aku jamin habis itu kamu bisa tidur dengan nyenyak." Sultan mengangkat tubuhnya, menindih tubuh Hanum. " Karena kamu sedang lemas, jadi kamu perlu di beri suntikan vitamin, dan vitamin yang kamu butuhkan pertama kali agar tubuhmu kembali segar adalah vitamin C."


" Jadi kamu mau membuatkan aku jus jeruk begitu?" Hanum mengerjapkan matanya, " Atau air lemon hangat?"


" No." Sultan menggeleng, " Ada yang lebih manjur dari itu."


" Apa? tadi kamu bilang, aku butuh vitamin C kan? setahuku, buah yang kaya akan kandungan vitamin C ya buah keluarga Citrus. Jeruk, lemon, Jeju orange misalnya."


" Vitamin yang kamu butuhkan saat ini memang vitamin C, tapi bukan berasal dari buah, melainkan dari ini." Sultan menyentuh bibirnya, " Vitamin C, cium." Sultan menyeringai licik.


Dia mulai melancarkan aksinya, hendak melakukan foreplay, namun baru saja bibirnya dengan bibir Hanum bersentuhan. Gadis itu mendorong tubuhnya ke belakang, membuat Sultan terkejut.


" Bau kopi." cicit Hanum sambil membekap mulutnya.


" Hah?" Sultan tertawa, " Memangnya kenapa kalau bau kopi? kan enak?"


" Aku tidak suka bau kopi." Hanum beranjak dari atas kasur menuju kamar mandi.


Butuh waktu lima menit untuk Hanum berada di kamar mandi, dia langsung merebahkan tubuhnya begitu saja. Membiarkan suaminya yang saat ini terpaku dengan terus menatapnya.


" Tidurlah, aku lelah." Hanum menaikkan selimutnya hingga menutupi bagian dadanya, berbaring membelakangi suaminya.


Yah ... kasihan sekali kamu. Sepertinya malam ini kamu harus berpuasa, sabar ya, aku pastikan besok kamu akan mendapatkan hak mu. Sultan bermonolog dalam hati sambil melihat bagian bawah tubuhnya.

__ADS_1


Dia pun memutuskan untuk memejamkan matanya begitu mendapatkan kode keras dari istrinya yang tidak ingin dia ganggu malam ini.


.


__ADS_2