Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Terkesan


__ADS_3

Seandainya saja Cinta bisa mengendalikan hatinya, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Terkadang dia dapat merasakan ketulusan William, tapi di satu sisi dia sangat membencinya jika mengingat kejadian apa saja yang telah mereka lewati selama ini.


"Jika aku tidak sedang dalam keadaan hamil, apa kamu juga akan memperjuangkanku Mas?"


"Tentu saja. Berhenti berpikiran aku melakukan semua ini karena bayi kita. Aku memang melakukannya demi dia, tapi bagiku kamu jauh lebih penting."


"Seandainya aku nggak hamil, mungkin aku sudah menerima pinangan Azka lalu menikahi dengannya," lirih Cinta.


"Silakan lakukan, tapi aku akan tetap berjuang untuk merebutmu darinya, dengan caraku sendiri," ucap William penuh percaya diri.


Cinta bangkit dari kursi, dan kembali mengayunkan kakinya.


"Mau ke mana? Kamu masih sakit?"


"Cari makan, lapar."


"Kenapa nggak bilang dari tadi?"


"Aku pikir orang akan menjadi peka jika menyangkut seseorang yang dicintainya," sindir Cinta.


"Ya Tuhan. Ck, oke. Kita pulang," ajak William.


"Pulang aja sendiri."


Duh gusti, rasanya William benar-benar kehabisan akal menghadapi setiap tingkah laku istrinya.


"Katanya tadi lapar?"


"Emang di rumah ada lontong sayur?"


"Oh, jadi kamu mau sarapan itu? Oke, aku kasih tahu tempat makan lontong sayur yang enak ya. Sekarang kamu duduk dulu, aku nggak mau kamu kecapekan!" Titah William.


"Di sini nggak ada orang jualan lontong sayur Mas."


"Emang nggak ada, tapi kamu tenang aja. Tugasmu sekarang cukup duduk diam, oke?"


Cinta tak lagi mengatakan apapun, sampai ketika sebuah mobil berhenti di depan mereka, Cinta baru menyadari apa yang dilakukan suaminya.


"Maaf lama Den, tadi habis anter Mbok Darmi belanja di pasar tradisional," lapor Pak Ujang, keluar dari mobil.


"Nggak apa-apa Pak. Maaf ya, bapak bisa pulang jalan kaki kan?"


"Siap Den, nggak usah sungkan begitu. Silakan masuk."


Cinta tak menolak ketika William membukakan pintu mobil untuknya.


'Kapan dia telepon Pak Ujang?'


"Kok Pak Ujang ditinggal," protes Cinta.


"Kan katanya kamu pengen sarapan lontong sayur."


"Ya tapi kan kasihan."


"Udah nggak apa-apa."


William melajukan kereta besinya menuju tempat di mana dia bisa mendapatkan apa yang istrinya inginkan. Acara makan berlangsung dengan cepat, lalu keduanya memutuskan untuk kembali pulang.


Di ruang keluarga, semua orang tengah berkumpul sembari menikmati akhir pekan dengan ditemani secangkir teh juga kudapan manis berupa kue.


"Kalian dari mana aja Sayang, Mama nyariin kamu tadi," ujar Hanum.


"Maaf Ma, mendadak aku pengen jalan-jalan tadi," balas Cinta.


"Ya udah kalau gitu buruan bersih-bersih biar bisa langsung sarapan," Ratih menimpali.


"Tadi udah sarapan di luar Oma, maaf ... Cinta pengen makan lontong sayur tadi jadi Cinta makan itu sama Mas Willi."


"Ya udah, sekarang kalian istirahat ya. Kak, bawa istrimu ke kamar!" Titah Hanum.

__ADS_1


"Iya Ma, tapi sebelum itu aku perlu ngomong sesuatu dulu," sahut William.


"Mau ngomong soal apa?"


Wajah semua orang berubah menjadi serius.


"Iya Kak, emang mau ngomongin apaan mukamu sampai tegang gitu?" Willmar menanyai saudara kembarnya.


"Soal ..." William melirik istrinya sebentar, seolah mengkode bahwa dia akan melakukan misinya.


"Soal apa? Bikin penasaran aja," cetus Hanum.


"Hm, Rai ..."


"Auw!"


Ucapan William terhenti tepat saat Cinta menjerit sambil memegangi perutnya.


"Ya ampun Cinta." Memeluk perempuan itu agar tubuhnya tak jatuh di lantai.


"Sayang, ada yang sakit?"


"Katakan apa yang dirasa?"


"Bawa ke rumah sakit aja!"


Masih banyak lagi pertanyaan yang membuat Cinta pusing. Ia harus segera bertindak sebelum keluarga suaminya benar-benar membawanya ke rumah sakit.


"Cinta nggak apa-apa Ma, beneran. Cinta cuma, aduh ..." Lagi, perempuan itu meringis sambil memegangi perutnya.


"Tuh kan, kamu sakit Cin?" William mulai panik.


"Nggak Mas, aku nggak sakit."


"Jelas-jelas kamu kesakitan gitu masih bilang nggak sakit," timpal William.


"Tapi aku emang beneran nggak sakit Mas, bayi kamu nendangnya kenceng banget."


"Iy ... Argh!"


"Kak, kamu pegang perutnya, kasih tahu dia biar nggak nendang ibunya kencang-kencang kasihan Cinta," omel Hanum.


"Ya gimana aku melakukannya Ma?"


Semua orang nampak panik sekaligus bahagia. Beruntungnya anak dalam kandungan Cinta bisa diajak bekerja sama menggagalkan rencana William mengusir Raisa.


Hanum sampai menangis haru saat merasakan gerakan cucunya yang begitu aktif, membuat sebagian perut Cinta menonjol.


"Kamu bawa ke kamar aja deh, takutnya Cinta kecapekan," kata Hanum pada putra sulungnya.


"Iya Ma."


Semua orang kembali memposisikan diri di sofa setelah William menggendong istrinya dan membawanya menuju kamar. Dengan penuh kehati-hatian pria itu merebahkan tubuhnya di kasur.


"Maafin aku ya, aku jadi gagal ngomong sama Raisa," sesal William.


"Nggak apa-apa Mas. Udah nggak usah dipikirin."


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat."


"Aku mau mandi. Gerah," rengek Cinta.


"Ya udah biar aku siapin airnya dulu ya."


"Langsung aja, aku nggak mau berendam di bak kok."


"Ya udah ayo." William kembali menggendong istrinya, kali ini menuju kamar mandi.


"Mas mau ke mana?"

__ADS_1


William yang bersiap keluar dari sana pun membalikkan badannya.


"Bantuin aku gosok punggungku, tanganku udah nggak sampai Mas."


Meskipun sangat menjengkelkan, tapi William tak bisa sekedar membantah atau melakukan apapun. Pasrah, pria itu menahan siksaan luar biasa ketika melihat dengan mata kepalanya saat Cinta mulai melepaskan helaian benang yang menempel di kulitnya. Gerakan gadis itu sangat anggun, hingga William begitu menikmatinya.


"Mas, aku nyuruh kamu masuk bukan untuk diam, tapi buat bantuin gosok punggungku."


Ucapan Cinta membuat William tersadar, ia melangkah kaku mendekati wanita itu. "Ap ... Apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya gugup.


"Nih, tolong sabuni dan gosok punggungku sampai bersih."


William kepayahan meneguk ludahnya, ia dapat melihat dengan jelas keseluruhan tubuh Cinta ketika gadis itu membalikkan badannya tadi.


Entahlah, tapi William merasa istrinya itu sengaja melakukannya. Untuk apa jika bukan hanya untuk menyiksanya?


Angan William terus mengembara. Tangannya terus bergerak di punggung Cinta, percikan air yang mengenai bajunya membuat pria itu terpaksa membuka kain itu dan menaruhnya asal di lantai.


William mematikan kran shower, meraih handuk dan membantu mengeringkan tubuh Cinta. Kesabarannya benar-benar sedang diuji, hanya bedanya kali ini terasa sangat menyiksa.


Keduanya keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. William terpaksa ikut mandi sekalian karena bajunya basah.


"Hm, pantesan kamu kegerahan ternyata mau turun hujan," ujar William, melihat titik-titik air yang runtuh dari langit itu kian deras.


"Kamu duduk dulu ya, biar aku ambilkan baju ganti."


Cinta tak merespon ucapan suaminya, dan menurut dengan duduk di tepian ranjang hingga suaminya kembali datang dengan setumpuk kain.


"Kamu bangun biar memudahkan aku memakaikan baju kamu."


Tak ada bantahan, Cinta bangkit dari duduknya. Ia tersenyum tipis sebelum menarik handuknya dengan sengaja. Satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya itu merosot ke bawah, membuat William kembali didera gejolak yang luar biasa menyakitkan baginya.


Cinta tahu jika milik suaminya sudah memberontak sedari tadi, dia sengaja melakukannya dengan terus menggoda William. Membuat pria itu tersiksa merupakan kesenangan tersendiri baginya.


Cinta berusaha mengambil kain itu dari lantai meski terlambat karena William sudah lebih dulu mengambilnya, dan menaruh kain itu di kasur.


'Kenapa dia bisa bersikap biasa begitu, padahal aku tahu dia sangat tersiksa.'


Dengan cekatan William mulai memakaikan satu per satu kain di badan Cinta. "Udaranya dingin jadi akan lebih baik kalau kamu memakai baju ini," ujarnya seraya merapikan gaun berlengan panjang sesiku dengan panjang menjuntai sampai mata kaki.


Bukan tanpa alasan William memilih pakaian itu untuk Cinta kenakan, selain hangat tapi juga bisa menghalanginya dari menatap sesuatu yang bisa membuatnya terus bergejolak. William tahu, Cinta belum sepenuhnya menerima kehadirannya, jadi untuk sementara waktu dia masih harus bersabar. Ia juga tahu sedari awal Cinta berusaha menggodanya, tapi akan William tunjukkan bahwa dia benar-benar tulus mencintai Cinta, tanpa embel-embel kontak fisik yang merupakan bagian terpenting dari sebuah hubungan pernikahan. William ingin Cinta menerimanya sepenuh hati, juga melihat betapa dia tulus menyayangi Cinta.


'Aku tidak tahu apa aku harus merasa senang, atau sedih. Mas Willi pasti tersiksa, dan mungkin juga karena ingin menunjukkan padaku bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya terhadapku. Itulah mengapa dia begitu sabar memperlakukanku meski terkadang aku membuatnya sangat jengkel.'


"Sekarang tidur ya? tidur siang baik untuk ibu hamil sepertimu," ujar William dipenuhi kelembutan. Tak hanya ucapannya saja, tindakannya pada Cinta juga sangat lembut, dia benar-benar memperlakukan Cinta dengan hati-hati.


"Mas," panggil Cinta, pelan.


"Apa Sayang, kau butuh sesuatu?"


Cinta mengangguk. "Mau jus alpukat, pakai topping pasta cokelat yang banyak."


"Iya. Tunggu sebentar ya, aku akan segera kembali."


William gegas meninggalkan kamarnya, tak mau membuat wanita yang dicintainya itu menunggu. Perasaannya sekarang sudah jauh lebih baik, meski sesekali Cinta masih ketus padanya, tapi itu lebih baik dari pada harus berjauhan dengan wanita itu.


"Ini Sayang, kau mau apa lagi? camilannya tidak sekalian?" tanya William begitu pria itu kembali ke kamar dengan segelas jus alpukat sesuai dengan permintaan Cinta.


"Hem, kelihatannya enak banget." air liur Cinta terbit saat melihat lelehan cokelat di atas jus dalam gelas panjang yang dibawa suaminya.


"Semoga rasanya cocok di lidahmu." William membantu istrinya meminum jus itu, padahal Cinta bisa meminumnya sendiri akan tetapi wanita itu tak menolak ketika William memperlakukannya seperti anak kecil.


"Enak?" tanya pria itu.


"Ini adalah jus terenak yang pernah aku minum Mas," puji Cinta usai berhasil meneguk keseluruhan isi gelasnya.


"Terima kasih," bisik Cinta disusul dengan sebuah kecupan di pipi pria itu.


Tubuh William membeku, ia memegangi pipinya tepat di bagian bibir Cinta menempel tadi. Debaran jantungnya kian menggila, taman bunga dalam hatinya mulai bermekaran. Ini awal yang baik karena dia telah berhasil membuat Cinta terkesan padanya.

__ADS_1


Sesepele itu, tapi sungguh William sangat bahagia.


Bersambung ....


__ADS_2