
"Memangnya Mas nggak malu apa? nanti apa kata orang begitu mereka melihat seorang suami terus mengikuti istrinya bahkan ke tempat-tempat tertentu seperti salon kecantikan khusus wanita, misalnya? kamu bisa dijadikan sebagai bahan gosip lho." Hanum masih berusaha membujuk suaminya agar membiarkannya pergi tanpa di buntuti oleh pria itu atau pun pengawal yang sejak tadi sibuk di bicarakan oleh nya. Berharap dengan dia mengatakan hal itu suaminya akan berubah pikiran, mungkin saja pria itu akan malu kalau kedapatan membuntuti istrinya ke salon kecantikan khusus wanita yang tidak mungkin bisa di masuki oleh seorang pria.
"Berbicaralah sesuka hatimu, kalau kau pikir itu bisa membuatku merubah keputusanku, kau salah besar karena aku akan tetap pada pendirianku." Sultan begitu serius dengan ucapannya.
"Hah ...," Hanum melenguh panjang, bukti dari keputusasa-annya, dia terus merutuki sikap suaminya yang ternyata bisa menjadi seorang yang keras kepala juga.
Dia bisa memaklumi kekhawatiran suaminya, tapi masih tidak menyangka juga kalau Sultan akan bersikap berlebihan begitu.
"Kau hanya tinggal memilih, Sayang. Apa susahnya?"
"Apa tidak ada pilihan lain lagi?" tanya Hanum, berharap masih ada celah untuk dirinya bisa lolos dari syarat mutlak yang diberikan Sultan padanya.
"Ada," jawab Sultan singkat.
"Apa itu?" Hanum merubah posisinya, tubuhnya sedikit condong ke depan. Tak sabar dengan jawaban yang akan diberikan Sultan.
"Duduk manis di rumah."
Seketika Hanum melemas, dia kembali menyandarkan tubuhnya di bangku.
"Itu namanya bukan pilihan, tapi lebih mengarah ke sebuah anjuran," sungut gadis itu, kesal.
"Ya lagi pula apa susahnya coba? pilih salah satu. Kalau dipikir-pikir ... coba cari sana suami di luaran sana. Mana ada suami yang mau membuang waktunya demi untuk menemani sang istri mendapatkan perawatan di salon kecantikan khusus wanita. Sudah pasti pria dilarang masuk, aku yang tampan ini masih rela lho menemanimu pergi ke sana. Aku sih tidak masalah, biarkan saja kalau aku menjadi bahan pembicaraan orang, dikatain macam-macam. Toh aku ini sedang mengemban tugas mulia dan menjalankan misi utamaku menjadi seorang suami yang baik. Lagi pula aku kan sedang mengantar istriku dan bukannya sedang mengantar selingkuhanku jadi apa salahnya?"
"Sudah, diam!"
Sultan tersentak begitu mendengar Hanum berteriak.
Astaga ... apa karena hormon kehamilannya juga yang membuatnya seperti itu? selalu berteriak. Apa jangan-jangan anak-anak ku itu calon penyanyi ya? semenjak hamil dia sering sekali memperdengarkannya suaranya dengan nada tinggi yang melengking. Sultan mengelus dadanya.
Dia melihat istrinya sedang berusaha mengatur ritme nafasnya yang sempat tak beraturan. Jika sudah begini, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain diam, akan sangat fatal akibatnya jika dia terus berbicara sementara Hanum sudah mengeluarkan atmosfer yang berbeda. Suasana mencekam dan hawa panas mulai tercipta sejak perempuan di sampingnya itu mengeluarkan suara nya setingkat lebih tinggi dari biasanya.
"Minumlah," ragu, Sultan menyodorkan sebotol air mineral pada istrinya.
"Aku bisa mengambilnya sendiri kalau aku haus." menepis kasar tangan suaminya dan itu membuat Sultan lagi-lagi harus berolah raga jantung pagi ini.
Mood swing nya orang hamil benar-benar ekstrim. Batin Sultan sembari meletakkan botol minuman itu ke tempat semula.
Hening.
Cukup lama sampai akhirnya Hanum membuka mulutnya, memecah kebekuan suasana dalam mobil tersebut.
"Cepat telepon pengawal yang tadi Mas sebutkan. Suruh mereka datang ke salon ini!" Hanum menunjukkan alamat salon kecantikan yang hendak dia tuju, di layar ponselnya.
Dan lagi-lagi dengan pasrahnya Sultan menuruti perintah istrinya tanpa bersuara, ponsel yang sejak tadi bersarang di saku kemejanya sudah berada dalam genggamannya.
Hanum terus melemparkan tatapan tak suka nya begitu melihat suaminya menelpon seseorang di seberang sana, sampai ponsel itu berakhir dengan kembali lagi masuk ke saku kemeja berwarna biru langit yang membalut tubuh bagian atas suaminya.
.
__ADS_1
Begitu sampai di tempat parkir gedung sebuah salon kecantikan yang pernah dikunjunginya dulu dengan Ajeng, Hanum segera keluar dari mobil dengan penuh semangat. Bayangan akan keseruan jika dirinya berkumpul dengan teman-temannya yang telah lama tidak dia temui sudah menggodanya sejak tadi.
"Pelan-pelan saja jalannya, Sayang. Kamu selalu lupa kalau saat ini kamu sedang mengandung. Ubah cara jalanmu yang seperti itu, untung saja kamu memakai flat shoes, coba kalau pakai heels? aku sampai takut membayangkannya."
"Mana ada orang hamil pakai heels Mas? kamu tuh ada-ada saja," jawab Hanum, tangannya mengapit mesra lengan suaminya dan mengajaknya segera masuk ke lobby.
"Ada, aku pernah melihatnya."
"Memakai sepatu ber hak tinggi itu tidak dianjurkan bagi wanita hamil."
"Mungkin saja mereka tidak tahu." Sultan menghentikan langkahnya begitu mereka sampai di depan pintu.
"Kenapa Mas?" tanya Hanum, heran. "Aku hanya minta di antar sampai masuk ke dalam saja."
"Tunggu sebentar." Sultan mengedarkan pandangannya, tak lama setelahnya dia menjentikkan jarinya, memberikan kode agar orang yang dia maksud itu mendekat.
Hanum terperangah, melihat dua sosok wanita bertubuh tegap berdiri di hadapannya, wanita yang jauh berbeda dengan kebanyakan wanita pada umumnya. Dia pikir pengawal yang di minta Sultan untuk menjaganya adalah seorang pria, tak tahunya malah wanita, tapi tak apalah, mungkin pengawal wanita bisa membuatnya sedikit nyaman ketimbang pengawal pria, begitu pikirnya.
Wanita-wanita yang selama ini dilihatnya itu feminim, kalau pun ada beberapa wanita tomboy yang dilihatnya, itu pun masih dalam batas wajar, sementara dua wanita di depannya ini ... berkali-kali Hanum menghembuskan nafasnya. Hanya dengan melihat sekilas tampilan mereka saja sudah membuat Hanum menelan ludahnya kelat. Wanita bertubuh kekar yang selama ini hanya bisa dilihatnya dalam film-film yang biasanya menceritakan tentang orang kaya yang menyewa pengawal wanita terlatih demi melindungi wanita yang dicintai oleh tokoh utama pria, nyatanya dia bisa melihatnya dengan jelas di kehidupan nyata, di depan mata kepalanya sendiri.
Beginikah rasanya menikah dengan seorang pria kaya? ah ... aku sama sekali tidak menyangka kalau aku pun akan mengalami kejadian seperti yang ada di film-film.
"Tidak perlu berbasa basi lagi, kalian tentu sudah mengetahui siapa saya dan apa tugas kalian?" ucap Sultan.
"Siap Tuan, kami sudah diberi tahu oleh atasan kami."
"Good ... ini istri saya, namanya Hanum. Saya titip dia sama kalian, tolong jaga dia baik-baik! jangan sampai terjadi sesuatu padanya." memegang bahu Hanum.
Apa jangan-jangan mereka ini wanita setengah pria ya? tidak hanya potongan rambut yang mirip pria, tubuh mereka juga kekar dan berotot. Dan lihat dada mereka ....
Hanum menutup mulutnya, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran gadis itu.
"Sayang aku pergi dulu ya, ingat apa saja pesanku tadi. Jangan nakal dan jangan membuat mereka susah, jadilah anak manis selagi aku bekerja." Sultan mendaratkan sebuah kecupan di kening Hanum, merasa tak canggung untuk melakukannya sekalipun di depan orang lain.
"Iya, akan aku ingat dengan baik pesanmu tadi." Hanum meraih punggung tangan suaminya dan mengecupnya, setelahnya Sultan pun melakukan hal yang sama, diciumnya tangan sang istri.
Sementara dua orang wanita yang sejak tadi berdiri di hadapan mereka saling membuang muka, menatap sembarang arah tak ingin melihat keromantisan dua anak manusia yang tengah kasmaran itu.
.
"Gila benar suamimu itu Num."
"Iya, dulu aku pikir dia itu pria yang jahat, tahunya malah jadi budak cinta nya kamu."
"Dan parahnya lagi, sekalinya bucin malah nggak tanggung-tanggung, sampai dia menyewa pengawal pribadi untuk menjaga istrinya."
"Kamu benar-benar beruntung Num dapat suami macam Sultan."
"Tidak sia-sia pengorbanan yang kamu lakukan untuknya selama ini, sekarang dia benar-benar menunjukkan kalau dia tergila-gila sama kamu."
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu? apa kamu bahagia hidup seperti ini sekarang?"
Hanum masih terdiam, sama sekali tak berniat menjawab segala macam ucapan temannya yang tiada henti seperti burung yang berkicau saja. Merasakan pijatan lembut pegawai salon yang sedang memanjakan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Ya ampun Num, diajak ngobrol malah tidur." Ajeng yang juga sedang dipijat dan berada di samping Hanum menyentuh tangan sahabatnya.
"Bahas yang lain saja, sebal aku sama Mas Sultan. Sejak tahu aku hamil, rasa khawatir dalam dirinya itu meningkat tajam sampai tidak ketulungan."
Dan ucapan yang dilontarkan Hanum disambut gelak tawa para sahabatnya.
"Giliran aku ngomong malah kalian mentertawakan aku."
"Habisnya kamu lucu," celetuk Metha.
"Apanya yang lucu? orang aku lagi marah kok malah di tertawakan. Dia itu bukan hanya menyebalkan, tapi juga selalu membuatku kesal. Aku dilarang begini, dilarang begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Pokoknya dia itu sangat menyebalkan, aku ini hanya sedang hamil, bukan orang yang sedang sakit. Tapi dia selalu saja berlebihan, menganggapku orang yang lemah yang seolah aku bisa sakit jika hanya melakukan aktivitas fisik biasa sekalipun."
"Wajarlah Num, namanya juga suami, itu karena dia tidak mau terjadi sesuatu padamu. Dan menurutku itu dia lakukan karena saking bahagianya, kehamilanmu kan sudah lama di nanti-nantikan. Aku saja yang baru menikah langsung hamil, diperlakukan seperti itu sama Raka, apalagi kamu," Disha menyahut.
Ke empat wanita yang lama tak bersua itu pun terus melanjutkan pembicaraan mereka sampai sesi pijat lulur itu selesai, sementara dua pengawal pribadi Hanum hanya duduk sambil membaca majalah di sudut ruangan tersebut. Sebenarnya Hanum sudah melarang mereka untuk masuk, Hanum memaksa mereka untuk menunggu di luar saja namun keduanya bersikeras, berdalih kalau mereka ingin menjalankan tugasnya dengan baik untuk bisa selalu mengawasi dan menjaga Hanum. Jadilah mereka berdua selalu berada tak jauh dari wanita yang sangat ingin mereka jaga.
Setelah menghabiskan waktu selama berjam-jam di dalam salon tersebut, akhirnya selesai juga ke empat sahabat itu menjalani perawatan mempercantik diri. Mereka sudah berada di pelataran gedung sekarang dan hendak menuju pusat perbelanjaan.
Ketika mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba saja muncul sosok yang sangat Hanum kenal yang datang dari arah berlawanan. Keduanya sudah semakin mendekat, dan begitu Ajeng menyadari hal tersebut, dia langsung menarik tangan Hanum.
"Ternyata wanita kampung bisa ke salon juga ya? sayang uangnya, karena sekalipun kamu melakukan perawatan termahal di salon ini, itu tetap tidak akan merubah kenyataan kalau kamu tetaplah gadis kampung yang norak dan jelek," ucapan Mauryn terdengar begitu pedas.
Kedua pengawal wanita yang sejak tadi berada di belakang Hanum sudah bersiap untuk bergerak maju namun Hanum menghalangi mereka dengan membuka kedua tangannya. Merasa belum memerlukan bantuan dari mereka, selagi Mauryn tidak melakukan tindak kekerasan, Hanum akan berusaha menahan mereka untuk tidak menimbulkan keributan di tempat umum seperti ini.
Sementara Ajeng sudah berdiri di depan Hanum, pasang badan karena tahu kedatangan Mauryn merupakan sebuah ancaman baginya. Takut kejadian buruk di toko perlengkapan bayi akan terulang lagi, dengan penuh percaya diri Ajeng akan berusaha melawan perempuan jahat itu, setidaknya dia tidak membawa Bening bersamanya saat ini dan itu akan memudahkannya dalam pergerakannya.
"Benar-benar muka tembok kamu ya, tidak tahu malu! perempuan tidak tahu diri kamu! seenaknya saja kalau bicara," hardik Ajeng.
"Memang ada yang salah? pada kenyataannya memang benar kan kalau Hanum itu perempuan kampung yang buruk rupa," ucap Mauryn terang-terangan menghina Hanum.
"Astaga! seharusnya kamu segera memeriksakan diri ke dokter, periksa matamu. Matamu itu jelas bermasalah, rabun kamu, kotok ayam, katar*k!" Ajeng balas memaki Mauryn. "Jelas-jelas Hanum itu cantik, tinggi semampai dengan body bak model. Kecantikannya itu mirip member girlband K-Pop A-pink, Oh Hayoung."
"Huh, masih kalah cantik di bandingkan denganku." Mauryn melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Jangan samakan barang KW murahan dengan barang ori, seharusnya aku yang ngomong begitu sama kamu. Jangan pernah samakan dirimu dengan Hanum, kamu tuh nggak ada apa-apa nya dibandingkan dengan Hanum. Apa yang kamu banggakan? dahi kamu aja lebarnya mengalahkan bandara Soekarno Hatta, pipi kamu itu!" dengan berapi-api Ajeng menunjuk pipi Mauryn. "Sudah mirip Korean garlic bread kelebihan pengembang, meleber kemana-mana, ditambah blush on warna menyala sekaligus berantakan begitu, itu wajah apa traffic light? belum lagi dadamu itu, ah ya ampun. Masa kutilang darat mau ngajakin angsa saingan sih? sadar diri dong!" Ajeng terkekeh di sambut gelak tawa Metha dan Disha, sementara Hanum terdiam masih menghalangi kedua pengawal wanita nya.
"Kutilang darat apaan Jeng?" bisik Metha penasaran.
"Kurus tinggi langsing dada rata."
"Pffftttt ...,"
Tawa mereka pecah bersamaan.
Mauryn yang merasa geram karena begitu tersakiti dengan semua ucapan Ajeng pun pergi begitu saja. Tangannya merem*s kuat dress yang saat ini di pakainya, rasanya dia sudah tidak berniat lagi untuk mempercantik diri di salon sehingga memutuskan untuk kembali pulang ke rumah setelahnya mood nya berantakan.
__ADS_1
.
Harap bijak menyikapi tulisan di dalamnya ya guys, tidak untuk di contoh 😁 kan dilarang menghina fisik seseorang 🤭 Apapun itu, ciptaan Tuhan tetaplah indah. Gak tau aja mungkin Ajeng kalap kali ya, geregetan juga karena merasa Hanum lemah dan selalu diam saja tidak melakukan perlawanan. Ditambah dia melihat ada kesempatan, ya sudah, hajar terus Jhon 🤣🤣🤣 Semoga kalian gak bosan dengan tulisanku ya 🥰🥰🥰 Ditunggu dukungan kalian dalam bentuk apapun 🙏🙏🙏