
Helikopter yang mereka naiki masih mengudara. Kurang lebih tiga puluh menit lagi mereka akan tiba di helipad terdekat dengan resort yang telah direservasi Hanum sebagai tempat mereka menginap selama empat hari di sana. Semula Hanum meminta mereka berlibur selama satu Minggu, akan tetapi para wanita menolak keras dengan alasan tak ingin terlalu lama berjauhan dengan Jayden.
Cinta terlelap dengan bersandar di bahu suaminya. Hingga tak lama berselang pilot yang membawa mereka itu mengatakan bahwa mereka telah sampai.
Si kembar kompak membuka mata, lalu membangunkan istri masing-masing. Jarum jam menunjukkan angka dua belas lebih sepuluh menit saat mereka tiba di resort.
"Kak, aku mau langsung ke kamar," pamit Willmar.
"Aku juga. Istirahatlah biar besok pagi kita bisa melihat matahari terbit."
Adik kembar William itu pun mengangguk dan menyusul Raisa yang telah lebih dulu masuk ke kamar. Pun dengan William yang langsung merebahkan diri di kasur usai meletakkan kopornya begitu saja di dekat lemari.
"Mas." Cinta menepuk pelan pipi suaminya.
"Ya Sayang. Apa?"
"Aku lapar."
"Sebentar, aku hubungi pihak pengelola resort untuk minta dikirim makanan." William berjingkat. Ia mengucek matanya pelan dan menuruni kasur.
"Nggak mau." Cinta menggeleng pelan.
"Katanya lapar?"
"Kita coba cari makan di luar aja."
"Begitu? ya udah tunggu sebentar, aku cuci muka dulu."
Semenjak hubungannya membaik, William memang tak sekalipun berkata tidak kepada istrinya. Semua yang diinginkan Cinta, sebisa mungkin akan ia turuti.
Meraih jaket yang sempat William gantung di dinding, dia memasangkan baju hangat itu di tubuh Cinta. "Ayo, kita cari makan." menggandeng tangan Cinta dan keluar dari penginapan itu.
"Maaf Mas, aku selalu bikin kamu repot."
"Berhenti ngomong begitu, aku nggak suka ya." keduanya terus mengayunkan kakinya. William sempat meminta informasi dari petugas resort yang mengatakan ada tempat makan yang khusus buka dari sore hingga pagi di sekitaran resort itu. Mereka hanya perlu berjalan kaki sepuluh menit saja dari sana.
Cinta melingkarkan tangannya di pinggang William.
"Kenapa?" tanya pria itu heran. Tak biasanya Cinta akan memamerkan kemesraannya di depan umum, terlebih dengan keadaan jalanan yang masih ramai karena banyak pengunjung berlalu lalang.
"Nggak apa-apa, cuma pengen meluk kamu aja."
"Heum ... nanti di kamar kamu harus memberikan yang lebih dari ini," goda William.
"Baiklah," jawab Cinta pasrah.
Langkah kaki mereka terhenti di tengah hiruk pikuk penjaja makanan kaki lima. Ada banyak sekali jenis makanan yang diperjualbelikan di sana, jalanan yang disulap menjadi ladang mencari nafkah bagi sebagian orang. Di antara berbagai macam jenis makanan berat dan juga aneka jajanan, tentu saja makanan laut yang masih mendominasi pasar.
"Mau makan apa?" William mengikuti arah pandang Cinta saat ini.
Lobster dengan ukuran cukup besar di atas alat pemanggang itu tengah diolesi bumbu oleh penjualnya. Cinta menatapnya penuh rasa lapar.
__ADS_1
"Mau itu juga?" tanya William.
"Ya." Cinta mengangguk cepat.
"Ya udah ayo!"
Masih dengan tangan saling bertautan, mereka memasuki kedai makanan itu. William memesan Lobster bakar, cumi masak hitam dengan tambahan cabe, udang asam manis, oseng kangkung dan dua gelas es jeruk sebagian pelengkapnya.
"Yakin nggak mau nambah? masih ada banyak menu lain lagi di sini," tawar pria itu.
"Enggak, takut perutku nggak muat. Rasanya pasti nggak enak saat kamu memakanku dalam keadaan kenyang, perutku bisa sakit nanti."
William terkekeh. Hanya mendengar Cinta berbicara hal kecil yang menjurus ke arah itu saja sudah membuatnya berbunga-bunga. Sementara kelahiran Jayden dan juga selama tidak ada halangan, mereka akan tetap melakukan kegiatan ranjang yang mengasyikkan. Meski telah ratusan kali bahkan lebih, malam panjang mereka lewati dengan saling mencicipi tubuh masing-masing, tapi rasanya mereka berdua tak akan pernah merasa bosan melakukannya, terlebih William. Kapanpun jika waktunya memungkinkan dan tidak terganggu oleh Jayden, pria itu akan terus menggarap Cinta habis-habisan.
"Enak," gumam Cinta ketika potongan daging lobster bakar yang telah dicelup saus pedas itu masuk ke dalam mulutnya. Ia kembali mencelupkan potongan daging lobster itu dan menyuapkan ke dalam mulut William. "Enak kan?"
"Hm, enak banget. Dagingnya lembut dan juicy, sambalnya juga pedas dan segar, ini sangat enak. Makan yang banyak ya."
"Ya, dan setelah aku bertenaga maka kamu yang akan membuatku kehabisan tenaga." Cinta mencibir.
William sama sekali tak peduli dengan reaksi Cinta jika dia telah memberikan kode untuk mengajak wanitanya itu naik ke kasur, karena faktanya apa yang dilakukan istrinya dalam keadaan santai begini akan jauh berbeda dengan ketika mereka menghabiskan malam bersama di atas kasur. Cinta benar-benar memperlakukan dirinya layaknya raja. Cinta mampu menjalankan perannya dengan baik hingga William tak pernah mengeluh soal urusan ranjang sedikit pun.
"Mas," panggil Cinta.
"Heum?"
"Apa nggak sebaiknya kita membawanya pulang juga untuk Raisa dan Willmar? takut mereka juga kelaparan," usul Cinta.
"Kamu kayak nggak tahu adikmu aja. Dia tidak mungkin membiarkan Raisa menganggur, terlebih dalam situasi romantis seperti ini. Tidak ada yang mengganggu mereka, memang Mas pikir mereka sepolos itu untuk langsung tidur begitu kita sampai?"
William mencerna ucapan Cinta. Memang ada benarnya karena mustahil bagi Willmar menahan diri. Sama seperti dirinya, saudara kembarnya juga sangat menyukai kegiatan yang satu itu.
"Baiklah. Kamu atur aja Sayang."
Mereka kembali melanjutkan makannya. Cinta begitu kelaparan hingga dia mampu menghabiskan makanan yang dipesan suaminya. Setelah urusan mengisi perut selesai, mereka pun kembali ke penginapan.
Sesekali Cinta melirik suaminya yang tak melepasnya barang sekejap. Pria itu terus mengapit tubuhnya sepanjang jalan begitu keluar dari kedai makan. Tingkah mereka berdua bahkan melebihi orang pacaran.
"Mas."
"Apa?" William menoleh.
"Apa yang membuat kamu pada akhirnya jatuh cinta sama aku? secara dalam pernikahan pertama kita dulu aku tahu kalau bukan aku yang ada di hatimu, meskipun aku sudah menyerahkan diri sepenuhnya padamu."
Helaan napas pria itu terdengar berat. Bukan karena William tak suka Cinta mengusik masa lalunya, hanya saja dia tak ingin membuka luka lama Cinta lagi.
"Jika kamu mengharapkan aku bisa menjawabnya, maka akan aku katakan aku tidak bisa, tapi jika kamu meminta kejujuran maka akan aku akui kalau aku sangat mencintaimu, aku tergila-gila dan bisa mati karena hampir kehilangan dirimu." William menghentikan langkahnya, melepas tangan yang bertengger di bahu Cinta dan berpindah untuk membingkai wajah cantik wanitanya.
"Aku sendiri nggak tahu mengapa aku bisa jatuh sedalam ini padamu, tapi bukankah cinta tak memiliki alasan? hati adalah bagian yang paling sensitif dalam diri manusia, kita nggak pernah tahu dan bisa mengendalikan kepada siapa dia akan berlabuh? tapi aku selalu mengikuti kata hatiku." meletakan telapak tangan Cinta di dadanya. "Hatiku mengatakan kamulah cinta sejatiku," imbuhnya.
Cinta mengangguk. Desau angin yang berhembus kencang dari laut mengibarkan surai panjang Cinta. Perlahan, wanita itu berjinjit demi bisa menggapai bibir William untuk dia kecup. Cinta menatap wajah suaminya yang dia lihat sempat memejamkan mata menikmati ciuman mendadak darinya. Cinta baru saja melepas bibirnya, sadar mereka masih berada di jalan akan tetapi William menahan tengkuk Cinta hingga ciuman panas itu pun tak bisa terelakkan lagi.
__ADS_1
William terus menyesap manis bibir ranum itu, membuat Cinta terbuai. William terus memperdalam ciumannya sementara tangan Cinta berangsur turun ke bawah dan mencengkeram kain penutup tubuh William.
.
.
Desahan demi desahan terus terdengar bersahutan memenuhi kamar dengan view menghadap laut lepas itu. Diiringi debur ombak nan jauh di sana, dua insan masih terus berbagi peluh mendaki puncak rasa bernama kenikmatan.
"Auw! jeritan Raisa terdengar menggema dalam ruangan bernuansa temaram itu.
"Kenapa Sayang? bukankah ini sangat nikmat?"
"Rambutku ketarik Mas, tanganmu bisa nggak sih," dumel wanita itu.
Willmar tak sengaja menarik rambut istrinya saat dirinya hampir digulung gelombang nikmat.
"Maaf, nggak sengaja Sayang. Maaf ya." kecupan di kening Willmar berikan sebagai ungkapan permintaan maafnya.
Masih sambil memompa miliknya, Willmar kembali menelusuri dada Raisa. Jerit kenikmatan mereka terdengar riuh rendah, tenggelam bersamaan dengan debur ombak yang menghantam karang. Sedikit lagi yang harus mereka daki agar kenikmatan itu bisa mereka raih sepenuhnya. Hingga tiba-tiba saja ketukan daun pintu di kamar mereka kembali membuyarkan konsentrasi Willmar.
"Rai, kamu sudah tidur?"
Raisa menatap suaminya mendengar suara Cinta di depan pintu kamarnya. Willmar menggeleng, tak ingin diganggu. Raisa yang paham pun menuruti suaminya dengan menahan diri untuk tidak bersuara, sementara di sisi lain Willmar terus memberikan kenikmatan bertubi-tubi padanya. Sungguh menyiksa ketika Raisa harus menahan desahannya.
"Hanya manusia gila yang masih berkeliaran di dini hari begini," rutuk Willmar berbisik lirih.
Raisa hampir meledakkan tawanya melihat ekspresi wajah suaminya yang kesal.
"Rai, Dek! aku bawakan lobster bakar untuk kalian, saus sambalnya enak lho, lain dari yang lain, kalian pasti suka."
"Kak Willi sialaan!" maki Willmar lagi begitu mendengar kakaknya ikut mengganggu aktivitasnya. Tak peduli meski Raisa meminta untuk berhenti sejenak, Willmar terus memaju mundurkan pinggulnya.
"Dek! Kakak tahu kamu belum tidur, setidaknya terimalah makanan ini dulu sebelum melanjutkan pergulatan kalian. Kasihan kakak iparmu ini jika terus dibiarkan menunggu," kata William lagi, kali ini dengan berteriak.
"Mas, sebentar doang kok, ambil makanannya maka mereka akan pergi," bujuk Raisa.
Willmar dengan tegas menggeleng. Sebentar lagi juga dia akan sampai.
"Dek! cepat keluar dan ambil makanannya!" lagi-lagi William berteriak.
"Kak Willi brengseek! enyah dari kamarku sekarang juga! kau sangat menggangguku Kak, aku mau sampai ini!" teriak Willmar tak kalah kerasnya, bahkan ia sempat melempar bantal ke arah pintu.
Raisa reflek membungkam mulut suaminya, sementara di luar kamar William dan Cinta berdiri kaku dengan mata saling beradu pandang. William meraih tangan Cinta dan menariknya menuju kamar mereka.
"Cepat pergi sebelum Willmar semakin mengamuk," kata pria itu.
Sepasang suami istri itu pun tertawa terbahak seraya meninggalkan tempat itu.
Bersambung ....
*Happy reading Dears, terima kasih yang udah membuang waktu demi membaca tulisan recehku ini. Buat yang suka aja nih ya, jangan lupa like, komen dan Vote nya (Buat yg suka aja, buat yg gak suka ya aku gak maksa). Membaca komentar positif dari kalian adalah hal yang menggembirakan bagiku, aku jadi semangat ngebut nulisnya. Terima kasih buat kalian yang setia mengikuti kelanjutan kisah ini 🙏🤗 sayang kalian banyak-banyak ❤️❤️❤️
__ADS_1