Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Dilema


__ADS_3

"Apa kau berniat untuk memberitahu Dion tentang kejadian ini?" 


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Raka membuat nyali Adam menciut, setitik keraguan muncul dalam hatinya.


Rasanya bukan hal yang baik jika memberitahukan berita tentang percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Mauryn hari ini, bersamaan dengan  Dion dan Wina sedang melakukan fitting baju pengantin.


Ya, kedua sejoli yang kembali merajut kasih setelah sebelumnya cukup lama berpisah itu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan.


Tak butuh waktu lama untuk Dion bisa meyakinkan Wina agar wanita itu mau menerima pinangannya.


Untunglah Wina bukan tipikal wanita yang memandang status sosial seseorang, dan nilai lebihnya adalah dia memang telah lama menaruh hati pada Dion. Adanya Yara di tengah hubungan mereka juga sama sekali tidak menjadi hambatan untuk keduanya naik ke pelaminan.


"Tapi biar bagaimanapun juga Mauryn kan mantan istrinya, dia juga perlu tahu tentang kejadian hari ini kan?" Adam berujar.


"Aku rasa sebaiknya kita tunda dulu membicarakan perihal percobaan bunuh diri Mauryn, pada Dion. Aku takut itu akan merusak hari baik mereka. Dion dan Wina kan sedang melakukan fitting baju pengantin," Sultan menyela.


"Tapi aku merasa pendapat kalian itu salah, bagaimana nanti jika Dion marah karena kita terlambat mengabarinya," cecar Adam.


"Dan bagaimana jika setelah mengetahui hal ini Dion malah melakukan kesalahan, meninggalkan Wina di butik misalnya," sambung Raka. "Apa tidak keterlaluan mengingat Dion sering melakukan hal itu. Terkadang dia melupakan Wina jika menyangkut Mauryn dan apa kau sanggup membayangkan betapa sakitnya jika Wina terus menerus diperlakukan seperti itu oleh calon suaminya?"


"Aku sependapat denganmu." Sultan menepuk pundak Raka. "Pasti Wina akan sakit hati dan beranggapan jika Dion masih mencintai mantan istrinya." 


"Kalian berdua sudah seperti ibu-ibu yang kebanyakan menonton sinetron saja," gumam Adam.


"Bicaramu ngawur! Memang kau pikir aku ada waktu untuk menonton sinetron apa?" sentak Raka.


"Apalagi aku, aku sampai lupa kapan terakhir menyentuh remote TV," timpal Sultan.


"Lagian kalian berdua paranoid, belum tentu juga apa yang kalian takutkan akan terjadi juga kan? Justru di sinilah kita harus menguji kadar cinta Dion terhadap Wina," ujar Adam.


"Maksudmu?"


Adam menelan salivanya begitu mendapatkan sorotan tajam dari kedua temannya.


"Jika dia benar-benar mencintai Wina, apapun yang terjadi begitu dia mendengar berita tentang percobaan bunuh diri mantan istrinya, dia pasti akan tetap mendampingi wina, kan?" 


"Jadi kamu mau menjadikan Mauryn sebagai umpan?" tanya Sultan.


"Aku hanya ingin menguji Dion saja, sejauh mana dia mencintai Wina. Apakah rasa cintanya tulus ataukah karena ada unsur lain."


"Unsur lain?" kedua alis Raka saling bertaut.


"Kasihan misalnya, atau bisa juga karena pelarian?" sambung Adam.


"Pemikiranmu terlalu jauh Dam." Sultan menyahut.


"Tidak ada yang tahu perasaan seseorang kecuali dirinya sendiri. Siapa yang tahu kalau sebenarnya Dion masih sangat mencintai mantan istrinya."


.


Wina tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, dia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna broken white tanpa lengan dengan aksen menggembung di bagian bawahnya. 


Dua orang wanita yang tengah membantunya melakukan fitting baju pengantin pun terus melontarkan pujian. Mereka bilang Wina seperti putri dalam negeri dongeng, tubuhnya yang ramping bak model begitu pas ketika mengenakan gaun rancangan desainer ternama di negara ini.


Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya Wina mengangguk, mengisyaratkan bahwa dirinya sudah siap dilihat oleh sang calon mempelai pria.


Dion masih sibuk bergelut dengan ponsel pintarnya ketika gorden mulai di buka dan sedetik kemudian dia terperangah. Melihat betapa cantik calon pengantinnya. Saat ini Wina belum dirias, begitu saja sudah mampu membuat Dion tak bisa berkata-kata saking terpukaunya dengan kecantikan Wina, bagaimana nanti jika gadis itu sudah di dandani layaknya pengantin yang sesungguhnya?


Pun sama, dada Wina terus berdesir, dilihatnya sang pangeran pujaan hati memakai jas pengantin. Dalam hati terus memuji Dion yang terlihat tampan, ah tidak ... baginya memang Dion lah satu-satunya pria tertampan di dunia.


"Kau sangat cantik." 


Wina makin tersipu mendengar pujian dari calon suaminya, semburat warna kemerahan muncul di pipinya.


"Kau juga sangat tampan," ucapnya membalas pujian Dion.


Sementara karyawati yang sedang bertugas untuk membantu Wina pun ikut tersenyum melihat keduanya yang malu-malu kucing saling melemparkan sanjungan.


"Kita mampir isi bensin terlebih dulu?" ajak Dion pada Wina begitu mereka keluar dari bridal house tersebut.


"Memangnya mobilmu kehabisan Bakan bakar?" tanya Wina.


"Bukan mobilnya yang kehabisan bahan bakar tapi kita yang kehabisan tenaga. Kita sampai berjam-jam dalam di dalam, tadi. Tidakkah kau lapar?"


Wina terkekeh begitu mengerti maksud dari perkataan Dion. Ternyata pria itu tidak benar-benar mengajaknya menuju pompa bensin melainkan ke restoran.


"Ya," jawab Wina singkat.


Kedua sejoli yang tengah dilanda kasmaran itu pun saling bergandengan tangan, segera masuk ke mobil menuju tempat makan favorit mereka.

__ADS_1


"Pesanlah makanan seperti biasa, atau ada tambahan menu lain jika ada sesuatu yang sedang ingin kamu makan," ucap Dion pada wanitanya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, kini mereka telah sampai di restoran langganan mereka.


Wina yang notabene seorang dokter selalu membiasakan diri untuk gaya hidup sehat. Dia hanya akan memesan makanan yang sekiranya mengandung gizi seimbang. Kesehatan menjadi faktor utama baginya untuk selektif dalam memilih makanan.


"Ya, aku tambahkan salad sayur ke dalam menu makan siang kita kali ini, apa kau keberatan?" 


"Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku keberatan. Kau kan seorang dokter tentu kau lebih tahu asupan makanan yang baik untuk kita makan," sahut Dion.


"Baiklah kalau begitu." 


Wina pun mulai mengeja pesanannya pada pramusaji yang tengah melayaninya.


"Tunggulah sebentar, aku akan ke toilet," pamitnya pada Wina.


"Hm."


Wina terus memandangi Dion hingga tubuh pria itu tak terlihat lagi dalam jangkauan matanya.


Sembari menunggu makan siangnya datang, Wina pun merogoh tasnya, mengambil gawainya yang sejak kepergiannya tadi dia pasang mode silent. Sekedar mengecek pesan masuk barangkali saja ada pesan penting yang masuk.


Ketika sedang asyik berbalas pesan dengan rekan kerjanya sesama dokter tiba-tiba dia mendengar nada dering ponsel. Pandangannya tertuju pada benda canggih yang tergeletak di atas meja. Sepertinya Dion lupa tidak membawanya, pikir Wina.


Gadis itu risau, haruskah dia menerima panggilan tersebut, tapi takut di bilang tidak sopan sedangkan Dion sepertinya masih lama berada di kamar kecil.


Wina kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya begitu pelayan datang membawakan makanannya. Dia masih membiarkan gawai Dion yang masih terus berbunyi. 


Biar nanti dia yang menyuruh Dion untuk menelepon balik mana tahu itu telepon penting.


Sekembalinya Dion dari toilet.


"Kenapa menungguku? Kamu bisa makan terlebih dahulu jika memang sudah lapar, jadi lain kali tidak perlu menungguku. OK?" Dion membentuk bulatan kecil dengan jari telunjuk dan ibujari yang terhubung.


Pria itu langsung mengambil posisi, bersiap untuk makan. 


Baru saja hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya, ponsel Dion kembali berdering.


"Ah, aku hampir lupa tidak memberitahumu, sejak tadi ponselmu terus berdering," beritahu Wina.


"Kenapa tidak kau angkat?" Dion meraih ponselnya.


"Ya sudah aku angkat dulu ya, kau makan saja!"


Aneka sayur yang berpadu dengan saus berwarna putih kekuningan itu pun mulai masuk ke dalam mulut Wina.


Rasa segar dari saus dan juga renyahnya sayuran baradu dalam mulut, membuat Wina ketagihan untuk menghabiskan salad tersebut.


Di tengah kesibukannya menikmati santap siangnya, Wina masih tak melepaskan pandangannya dari Dion. Dia terus mengawasi pergerakan pria di depannya dan dia bisa menangkap dengan jelas perubahan mimik wajah Dion begitu selesai berbicara dengan si penelepon.


"Ada apa?" tanyanya sambil meletakkan sendoknya.


"Tidak ada apa-apa, lanjutkan saja makanmu!" balas Dion.


Wina menyadari kalau tidak sepenuhnya Dion baik-baik saja. Terbukti dengan perubahan wajahnya yang begitu kentara. Wajah yang terlihat berbinar penuh kebahagiaan seketika berganti menjadi murung. Dan yang lebih menguatkan asumsinya adalah diamnya pria itu. Wina paham betul jika Dion sudah bersikap demikian, sudah dipastikan telah terjadi sesuatu yang menganggu pikirannya.


"Apa terjadi sesuatu?" ulang Wina.


Wanita itu melihat gelagat aneh pada diri Dion, ia perhatikan Dion terlihat gusar. Isi piringnya pun sama sekali belum ada yang masuk ke dalam perutnya sedikitpun.


"Tidak ada," kilah Dion.


"Jangan membohongiku! Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya untuk tidak saling merahasiakan apapun diantara kita? Apa kau lupa?" 


"Bukan begitu," cicit Dion.


"Lantas apa?"


Dion menghembuskan nafas panjang, dia bingung hendak menjawab apa. Jika dia menceritakannya pada Wina, takut salah, tapi akan lebih salah lagi jika dirinya tetap merahasiakan hal ini dari calon istrinya itu.


Di tengah dilema yang melandanya, mendadak lamunan Dion buyar manakala dia mendengar Wina menaruh kasar sendoknya hingga menimbulkan bunyi cukup nyaring ketika beradu dengan piring kaca.


"Apa kau tidak mau menceritakannya padaku?" 


Dion makin tak tahan dengan tatapan tajam yang mengintimidasi, netra cokelat milik Wina masih saja tak mau melepaskan pandangannya sedikitpun untuk mengawasi dirinya.


"Begini ...," Dion menjeda sejenak kalimatnya. "Apa kau tidak marah jika aku mengatakan sesuatu?"


"Tentu saja tidak, selama kau jujur padaku untuk apa aku marah padamu?"

__ADS_1


"Itu, tadi itu ...,"


"Memang siapa yang tadi meneleponmu?" sambar Wina.


"Hm ... Itu, Adam. Dia yang menghubungiku."


"Memang apa yang dia katakan sampai-sampai membuatmu terlihat risau begitu?" Wina meraih gelasnya, meneguk isinya perlahan.


"Dia bilang ...," terbata, Dion ragu hendak mengatakannya pada Wina.


"Katakan saja, jangan sungkan padaku!" bujuk Wina.


"Adam bilang, Mauryn melakukan percobaan bunuh diri tadi malam."


Deg!


"Jadi itu yang membuatmu sampai  gelisah begitu?"


"Tidak juga, aku hanya ...,"


"Bagaimana kondisinya?" potong, Wina.


"Dia masih kritis," Dion menyahut.


"Di rumah sakit mana dia dirawat?" lagi, Wina bertanya.


"Di rumah sakit tempatmu bekerja."


Wina memundurkan tubuhnya, untuk beberapa saat lamanya wanita itu terdiam.


Perasaan Dion berkecamuk, memang dia mengkhawatirkan keadaan Mauryn begitu mendengar berita itu dari Adam. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya dan itu terlihat jelas di wajahnya.


"Pergilah!" kata Wina, datar.


"Apa?"


Dion terbelalak, ditatapnya lekat wajah Wina. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari mulut wanita di hadapannya.


Kenapa malah dia menyuruh Dion untuk pergi menemui Mauryn.


"Dia pasti sangat membutuhkan kehadiran seseorang untuk melewati masa kritisnya," lirih Wina.


"Tapi ...."


"Kepada siapa lagi dia akan bergantung jika bukan padamu? Apa mungkin Adam, atau Sultan yang mau kau mintai bantuan?" cecar Wina.


Dion masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Wina. Apa yang melatarbelakangi gadis itu dengan menyuruhnya pergi menemui Mauryn. Kebanyakan wanita pasti anti jika harus berhubungan dengan mantan dari pasangannya tapi ... Wina berbeda.


"Kau yakin?" tanyanya pada Wina.


"Hm." Wina mengangguk. "Sedekat apapun kalian berdua tidak akan berpengaruh apa-apa jika memang kamu telah sepenuh hati mencintaiku."


Dion seakan tertampar dengan sindiran Wina, hal itu membuatnya dihantui rasa bersalah. Kini dia mengerti dengan alasan Wina melakukan hal tersebut. 


Setiap makanan yang masuk ke dalam mulut Wina bersamaan dengan linangan air mata. Sudah sejak satu jam yang lalu Dion pergi meninggalkan dirinya sendirian di restoran tersebut. Pria itu bahkan tak menyentuh makanannya sama sekali.


*K*enapa rasanya salad ini menjadi sangat lezat, Wina membatin. 


Masih diiringi dengan isak tangisnya, dia berusaha menghabiskan makanannya meskipun sebenarnya tenggorokannya seolah tercekik. Gadis itu sampai kepayahan menelan makanannya.


Sakit yang ia rasakan ketika melihat perubahan dalam diri Dion begitu pria itu mendengar kabar percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh mantan istrinya, membuatnya dirundung nestapa. 


Itulah mengapa dia menyuruh Dion untuk segera ke rumah sakit. seolah mengerti jika fokus Dion saat ini hanya tertuju pada satu wanita. Akan sangat menyedihkan jika dia berdua bersama calon suaminya tapi hanya raganya saja yang bersamanya sementara pikiran Dion sendiri berkeliaran entah kemana.


Seakan tertimpa beban berat, dadanya terasa sesak. Sungguh, sangat menyesakkan.


Sejujurnya ada sedikit keraguan dalam hati Wina, dia ragu apakah hubungannya dengan Dion bisa berlanjut. 


Berulangkali tanpa sadar Dion melakukan kesalahan yang sama namun Wina selalu berhasil menepis keraguan itu ketika Dion berusaha meyakinkan dirinya.


Dan dengan kejadian yang baru saja terjadi, Wina semakin diliputi keraguan. Akankah dia memantapkan hatinya untuk menuju pelaminan yang rencananya akan digelar dalam waktu empat bulan yang akan datang, ataukah dia memilih untuk mundur.


 


Dua-duanya adalah pilihan yang sama-sama sulit bagi Wina. Jika memilih maju maka itu artinya dia harus siap jika setelah menikah nanti Dion masih akan memberikan perhatian pada mantan istrinya akan tetapi jika dia mundur, dia juga tidak rela jika harus kehilangan cinta pertamanya.


Ini benar-benar membuatnya dilema.


.

__ADS_1


Bantu like ya guys 🥰🥰🥰


__ADS_2