
Cinta membanting tubuhnya di kasur. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya. Gadis itu selalu mensugesti dirinya dengan pikiran positif, berharap semua kecurigaannya tidak benar. Sekarang dia harus memikirkan cara. Ya, mencari tahu tentang perasaan William yang sebenarnya terhadapnya.
Ceklak.
Cinta bergeming, tahu siapa yang datang.
"Cinta, kalau kamu lelah istirahat saja. Jangan tidur seperti itu nanti badanmu sakit semua," ujarnya penuh kelembutan, tapi Cinta tahu, kata-kata itu tak berasal dari hati.
Tanpa menjawab, Cinta membenahi posisinya. Dia tidur tertelungkup dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
"Cinta," lirih William.
Perasaan Cinta semakin tak karuan saat lelaki itu menyentuh bahunya, mencoba membalikkan badannya yang sejak tadi terus memunggungi William. Detak jantungnya berpacu sangat cepat.
'Apakah dia akan meminta haknya malam ini?' Cinta membatin.
"Hm," hanya berdehem, Cinta tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu sakit?"
"Tidak, saya baik-baik saja," balas Cinta, gadis itu mulai gugup. Dia masih menerka-nerka ke mana arah pembicaraan suaminya.
"Sejak tadi kamu diam saja, saya pikir kamu sakit. Ya sudah, tidurlah! Sudah malam." William menarik selimutnya.
Cinta merasa bagai dihempaskan dari atas ketinggian saat mendengar William berkata demikian. Awalnya dia mengira jika pria itu akan mengajaknya menyempurnakan ikatan suci mereka, tapi ternyata dugaannya salah.
Kecewa kembali menghampiri gadis itu. Sungguh, Cinta kacau balau. Biar bagaimanapun dia gadis normal yang juga menginginkan hal itu. Mustahil dia yang memintanya terlebih dulu, bukan?
Tanpa William sadari, wanita di sebelahnya belum juga kunjung memejamkan mata usai dia berlabuh di pulau mimpi. Dalam diam, Cinta menangis. Tak ia bayangkan jika nasib pernikahannya akan menjadi seperti ini. Sungguh jauh dari apa yang ada di pikirannya selama ini. Hal itu tidak mungkin terjadi jika tidak ada sesuatu. Willmar dan Raisa bahkan telah melakukannya, dan Cinta tahu, karena rasaa cinta di antara keduanya yang membuat mereka bahagia.
Keesokan paginya.
Cinta mulai menyesuaikan diri. Ia berusaha menjadi istri yang baik dengan melayani William sebaik mungkin.
Setumpuk pakaian ganti sudah Cinta siapkan, pun dengan secangkir kopi dan sarapan yang telah tersaji rapi di atas meja makan.
"Saya nggak tahu, Mas biasa sarapan pakai apa. Saya cuma buat nasi goreng seafood, atau Mas mau saya ganti saja?" Tanya gadis itu begitu melihat kedatangan suaminya.
"Cinta, berapa kali saya bilang sama kamu. Apapun yang kamu masak, akan saya makan." Menarik sebuah kursi dan langsung mendudukinya.
Sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Cinta lontarkan pada William, tapi entah mengapa lidahnya terasa kelu. Hingga akhirnya keduanya selesai sarapan. William kembali masuk ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa.
Bukan seperti ini, bukan. Bukan seperti ini pernikahan yang Cinta harapkan, akan tetapi nasi telah menjadi bubur. Baru dua hari dia menikah dan dia tidak mungkin meminta perpisahan. Terlebih jika memikirkan perasaan ibunya, apa kata orang jika mengetahui dirinya bercerai dari suami yang belum genap sebulan menikahinya.
__ADS_1
Begitu menyelesaikan pekerjaannya, Cinta gegas mengganti baju, meraih tas selempang dan mulai mengayunkan kakinya. Meski ragu, tapi pada akhirnya Cinta memberanikan diri untuk mengetuk ruang kerja William.
"Mas."
"Ya," jawab William, singkat.
"Saya mau izin ke supermarket sebentar, mau beli bahan keperluan dapur," pamitnya.
"Ya, hati-hati!"
Deg.
Lagi, Cinta menelan kekecewaan. Ia menaruh harapan tinggi pada pria itu, sekedar mengantarnya, tapi apa yang terjadi justru semakin membuatnya sakit hati.
.
.
Seminggu berlalu dengan cepat. Pagi itu Cinta dan suaminya telah siap berangkat ke kantor sampai tiba-tiba sebuah mobil terparkir manis di pelataran rumahnya. William yang tahu siapa orang yang datang pun terlihat bahagia.
"Kakak!" Teriak gadis bercat rambut kecokelatan itu. Tanpa rasa canggung, Raisa langsung mendekap tubuh William begitu turun dari mobil.
Cinta membuang muka, tak tahan melihat drama di depan matanya. Meskipun William mengatakan tidak ada hubungan apa-apa di antara keduanya, tidak serta merta Cinta mempercayainya. Raisa juga, sebagai seorang wanita harusnya dia bisa lebih menghargai perasaan Cinta.
Cinta melirik William, membuat pria itu salah tingkah. "Kami hanya belum menemukan waktu yang tepat Rai, lain waktu kami pasti bulan madu, kok. Ya kan Mas?"
"Iya," William menyahut, kaku.
"Buruan deh Kak pergi bulan madu, ternyata sangat menyenangkan. Aku sama Rai aja betah sampai-sampai nggak mau pulang, tapi apa daya ... Kantor akan terbengkalai," Willmar menimpali.
"Ya sudah, sebaiknya kalian segera istirahat. Kalian pasti lelah kan," kata si sulung.
"Ya. Hm, oh ya Kak. Nanti malam, aku dan Willmar boleh kan makan malam di rumahmu? Belum ada pembantu, aku nggak bisa masak," cicit Raisa dengan manjanya.
'Memang dia pikir aku pembantu apa,' batin Cinta.
"Tentu saja boleh. Kamu boleh ke mari kapan saja kamu mau, aku yakin Cinta akan senang karena ada teman ngobrol."
"Nggak enak, takut ganggu pengantin baru. Kakak tenang saja, hanya malam ini kok aku numpang makan malam di rumahmu."
"Sering-sering juga nggak masalah."
"Udahlah Rai, jangan godain Kak Willi mulu, dia mau ngantor," Willmar menyela.
__ADS_1
"Oh, ya. Hampir lupa. Ya sudah, kalian berangkatlah!" Raisa menepak dahinya.
"Kita berangkat dulu ya," pamit William.
Cinta memberengut masam melihat bagaimana Raisa dengan centilnya melambaikan tangan pada suaminya.
'Aku harus memikirkan cara untuk membuat jarak di antara mereka. Suamiku hanya akan menjadi milikku. Akan aku buat dia tergila-gila padaku dan melupakanmu.' Cinta mengepalkan tangannya.
Sepanjang hari Cinta terus mengunci rapat mulutnya. Ia hanya mengatakan apa yang perlu dia katakan saja, termasuk pada suaminya.
"Cinta."
"Ya Mas. Eh, Pak, maksud saya."
"Nggak apa-apa. Kamu bebas panggil saya dengan sebutan apa saja, saya kan juga suami kamu," kata William.
'Ya, suami yang tidak pernah menganggapku sebagai istri.'
"Kok malah bengong? Kamu dengar nggak saya ngomong?"
"Apa Pak?" Cinta tergeragap.
"Memang apa sih yang sedang kamu pikirkan? Saya perhatikan kamu menjadi lebih pendiam akhir-akhir ini."
Bukan saat yang tepat untuk membahas persoalan rumah tangga karena untuk itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
"Tidak ada," ucap gadis itu, berdusta. "Memang apa yang mau Bapak bicarakan?" Mode formal on.
"Soal nanti malam. Kamu kan capek, Bik Nur yang kita pekerjakan kan juga hanya datang pagi dan pulang sore. Untuk makan malam kamu pesan saja dari restoran ya," ujar William.
"Baik. Bapak mau dari restoran mana? Menunya apa saja?"
"Terserah kamu, pesan yang paling enak. Harga tidak jadi masalah."
Lelaki itu merogoh saku celananya. Membuka dompet kulit berwarna cokelat dan mengambil satu kartu dari sana. Bersamaan dengan itu, tak sengaja selembar kertas yang terselip di sana jatuh.
"Saya belum sempat kasih ini, banyak pikiran membuat saya jadi pelupa."
William berniat memungut kertas itu tapi kalah cepat. Cinta sudah lebih dulu mendapatkannya. Cinta segera membalik kertas itu, matanya membulat seiring dengan nyeri yang dia rasakan di dadanya.
"Cinta, itu hanya ..."
Bersambung ....
__ADS_1