Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Treatment Khusus


__ADS_3

Cinta terus memperhatikan gerak gerik suaminya ketika sedang berbicara dengan Raisa. William memang sengaja menerima panggilan itu di depan Cinta agar tak menimbulkan kesalahpahaman.


"Ada apa Mas?" Tanyanya begitu melihat suaminya kembali mengantongi benda pipih itu.


"Raisa bilang ..."


"Dia bilang apa Mas," sambar Cinta.


"Dia bilang Willmar sakit."


Cinta terdiam sesaat, ia berusaha menyelami kebenaran pada manik mata sehitam tinta milik pria yang dicintainya itu. Percikan emosi yang baru saja menghinggapinya, perlahan padam seiring dengan tatapan William yang mulai melembut.


"Saya pikir Mas akan membatalkan rencana kita," lirih Cinta.


"Kenapa kau berpikiran begitu? Tentu saja tidak. Ayo! Kita bisa terlambat nanti." William menggenggam tangan istrinya dan kembali melanjutkan perjalanan.


Beruntung William sengaja mengambil penerbangan first class, dia ingin Cinta merasa nyaman dalam perjalanan menuju pulau Dewata yang hampir memakan waktu lima jam itu.


"Kalau kamu masih capek, istirahat aja dulu ya, lagian perjalanan juga agak lama," kata William.


"Ya Mas. Saya masih ngantuk."


"Ya udah."


Cinta yang memilih duduk di dekat jendela hanya sempat menikmati pemandangan indah itu sesaat sebelum akhirnya ia kembali terlelap. Semalaman, hampir semalaman William tak membiarkan dia tidur. Lelaki itu hanya menjeda setidaknya setengah hingga satu jam sebelum kembali melanjutkan atraksinya.


Empat jam empat puluh lima menit setelahnya.


William sibuk menolong istrinya yang mengalami jetlag. Cinta terlihat lemah, wajahnya sangat pucat dengan keringat dingin yang merembes di pelipisnya.


"Maafkan saya ya Mas, saya malah bikin repot."


"Kok ngomong gitu. Udah duduk diam aja, sebentar lagi kita sampai di penginapan." Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju penginapan.


"Saya malah nyusahin Mas Willi," cicit Cinta lagi.


"Udah nggak usah dipikirin, kamu sama sekali nggak bikin saya repot kok. Kamu kan istri saya." William sengaja menekankan kata 'istri' agar Cinta tak lagi merasa segan padanya.


"Sini." William meraih kepala Cinta dan menyandarkan di bahunya.


Entah berapa lama Cinta tertidur, yang jelas saat dia bangun, dilihatnya hari sudah sore. Gadis itu terperanjat. Itu berarti William yang sudah menggendongnya ke kamar tadi?


Cinta mengedarkan pandangannya saat merasa ruang di sisinya kosong. Sepersekian detik, gadis itu menajamkan pendengarannya. Tidak salah lagi, William sedang berbicara dengan Raisa di telepon.


'Gadis itu, percuma aku selalu berusaha menjauhkan dia dengan Mas Willi jika nyatanya dia tetap menghubungi suamiku. Aku harus memikirkan cara untuk menghentikan kelakuannya. Dia harus segera disadarkan sebelum dia bertindak semakin jauh dan malah akan membahayakan rumah tanggaku.'


Usai meneguk setengah gelas air. Cinta pun mulai beraksi.


"Argh!" Jeritnya.


"Astaga! Bagaimana kau bisa jatuh Cinta!" Pekik William seraya melempar asal ponselnya di atas kasur. Lelaki itu panik bukan main saat dilihatnya Cinta tertelungkup di lantai


"Sakit Mas," rengek Cinta, wajahnya memerah menahan tangis.


"Kenapa kau tidak memangillku saja? Lain kali hati-hati." William mengangkat tubuh ramping itu dan merebahkannya di atas kasur.


"Bagian mana yang sakit? Biar saya periksa," imbuh William.


Melihat Cinta terdiam dan menatapnya sedemikian rupa membuat William gemas. Tawanya seketika meledak.


"Mas seneng ya saya jatuh!" Tuding Cinta.

__ADS_1


"Kau salah paham!"


"Terus, kenapa ketawa?"


"Habis kamu lucu, menggemaskan!" Cinta tercenung saat William menangkup wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.


Namun, tak lama karena William gegas melepaskan paguutannya.


"Saya keluar dulu ya beli salep buat kamu, kalau kamu lapar, makanannya sudah tersedia di sana." William menunjuk meja yang berada di balkon kamar itu. "Tunggu saya pulang ya," mengecup kening Cinta, lalu meraih dompet di atas nakas.


"Mas."


"Apa? Mau sekalian dibelikan sesuatu?"


Cinta mengangguk. "Mau es kuwut sama rujak mangga kalau ada," pesan gadis berparas ayu itu.


"Baik. Nanti Mas cariin ya."


"Makasih Mas."


"Iya, selama Mas pergi, kamu harus hati-hati! Jangan sampai jatuh lagi!"


"Ya pergilah!"


William menutup pintu. Cinta gegas menyambar ponsel sang suami yang ternyata luput dari perhatian William.


"Maaf Mas, bukannya lancang, tapi aku mau kita benar-benar menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu," monolog Cinta sesaat sebelum menonaktifkan ponselnya.


Sedikit terkejut saat terdengar suara gadis itu memanggil-manggil suaminya dengan manja, itu berarti sambungan telepon mereka masih terhubung sejak tadi.


"Baguslah, semoga kau mendengar pembicaraanku dengan Mas Willi tadi," gumam Cinta lalu gegas mengamankan ponsel tersebut.


Selang tiga puluh menit kemudian.


"Mas. Dapat pesananku?"


"Dapat dong, nih!" William mengangkat dua kantong plastik kecil berisi makanan itu dan menaruhnya di meja kecil.


Cinta menjerit saat tiba-tiba William menggendongnya, membawa gadis itu duduk di balkon.


"Mas, kamu berlebihan! Saya masih bisa jalan sendiri kok!" Protes Cinta.


"Nggak apa-apa, kamu kan begitu juga gara-gara Mas. Gimana duduknya, nyaman? Atau mau Mas ambilin bantal?"


"Nggak usah, ini udah nyaman kok, sebaiknya kita makan sekarang. Saya udah lapar banget," adu Cinta.


"Tunggu sebentar ya, Mas ambil es sama rujaknya dulu." William berlari ke dalam dan kembali dengan bungkusan tadi.


"Padahal ada es kelapa, saya nggak tahu."


"Udah nggak apa-apa." William dengan telaten menuang es itu ke dalam dua buah gelas. Tak lupa rujak mangganya juga dia susun di piring lebar.


"Sekarang makan nasinya dulu ya, kita kan nggak sempat makan siang tadi. Habis itu baru makan rujaknya."


Cinta tertegun melihat cara William memperlakukannya. Menyiapkan makanan, dan semuanya. Cinta yakin, sebenarnya suaminya merupakan orang yang baik, hanya saja terkadang William cenderung plin plan. William benar-benar bisa melupakan Raisa asal gadis itu tak menghubungi suaminya terlebih dulu.


Cinta mengangguk mantap. Sepulangnya dari bulan madu, dia harus segera membicarakan masalah ini dengan Raisa. Dia yakin, sebagai sesama perempuan, Raisa pasti akan dapat mengerti.


"Kenapa mengangguk."


Ucapan William membuyarkan lamunan Cinta. Dengan cepat Cinta menggeleng. 

__ADS_1


"Makanannya enak," jawab gadis itu asal.


"Kau ini ternyata sangat lucu."


Lagi-lagi William mengatakan istrinya sangatlah lucu dan menggemaskan.


Suasana hati yang baik membuat sajian sore hari ini terasa sangat nikmat bagi Cinta. Begitupun dengan William.


"Habis ini kita ke mana Mas?"


"Kamu yakin mau pergi?" Tanya William memastikan.


Cinta mengangguk. "Kenapa memangnya?"


"Kamu masih sakit. Rencananya habis ini Mas mau ajak kamu ke tempat spa, biar kita berdua dipijat. Biar badanmu juga enakan."


"Mau Mas!" Seru Cinta, girang.


"Ya udah, habiskan dulu makanannya ya." William mengusap sudut bibir Cinta yang terkena saus, lalu menjilaatnya, membuat Cinta keheranan.


.


.


William menggandeng tangan Cinta menelusuri setiap jalanan di Ubud. Ya, keduanya kini tengah menikmati bulan madu di sana. William sempat searching mengenai tempat spa pasangan yang sering dikunjungi oleh kebanyakan pasangan suami istri yang singgah di sini.


Tibalah dua insan itu di sebuah tempat dengan pemandangan luar biasa indah. Cinta mengeja papan nama bangunan yang ada di sana. Suasana nampak asri meskipun ada banyak pengunjung yang hendak melakukan spa seperti mereka.


"Ayo kita masuk, tunggu apa lagi?" William kembali menautkan jemarinya. Membawa Cinta memasuki bangunan dengan nuansa syahdu khas dataran tinggi itu.


Sepanjang mata memandang, dapat mereka lihat arca batu yang selalu ada hampir di setiap sudut bangunan. Air mancur mini yang semakin menambah kesan alami.


Setelah mengunjungi resepsionis, pasangan suami istri itu pun di giring menuju tempat khusus. Ruangan dengan akses view menghadap keindahan alam yang membentang di bawahnya.


William mengambil satu paket spa pasangan romantis berupa pijat, lulur, mandi bunga, juga satu treatment khusus untuk Cinta atas saran resepsionis tadi. Dapat William ingat wajahnya yang memerah ketika petugas wanita itu menjelaskan secara rinci treatment khusus itu. Sementara Cinta tengah asyik melihat-lihat keadaan sekitarnya.


Memakai baju khusus, keduanya berbaring di ranjang. Menikmati semilir angin di Ubud, ditemani lilir aromaterapi, belum lagi pemandangan yang memanjakan mata. Pijatan demi pijatan terasa begitu lembut hingga saking nyamannya keduanya sempat tertidur sejenak.


Treatment terakhir sebelum mandi bunga. Cinta digiring menuju bilik khusus, sementara sang suami sudah lebih dulu masuk dalam kolam mini dengan penuh taburan bunga.


'Pantas saja Willmar betah dan nggak mau pulang. Bukan madu benar-benar membuat kita bak raja,' batin William. Bibir lelaki itu terus melengkung ke atas, terlebih saat mengingat saat ini istrinya sedang menjalani treatment khusus.


Cinta menurut saja saat salah seorang petugas menyuruhnya untuk melakukan itu dan ini. Sampai sejauh ini dia masih belum mengerti dengan ritual apa yang sedang dijalaninya, sementara William sudah diperbolehkan untuk berendam di kolam bunga.


"Maaf, kalau boleh tahu, saya sedang diapain Mbak?" Tanya Cinta. Ini memang kali pertama baginya berkunjung ke tempat spa seperti ini.


"Ooh, Nona belum tahu ya?" Si wanita itu tersipu malu.


"Maksudnya?" Cinta makin penasaran.


"Ini treatment biar suami makin lengket," cetus wanita itu.


Sontak Cinta membulatkan matanya. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan treatment seperti ini, pasalnya William bilang dia hanya mengambil satu paket spa romantis bagi pasangan, itu saja.


"Lho tapi saya merasa nggak ambil paket ini juga Mbak," ucap Cinta.


"Memang bukan Nona yang memesannya, tapi suami Nona."


"Apa!" Cinta memekik.


'Mas Willi, dia ...'

__ADS_1


Ah, Cinta rasanya sangat malu. 


Bersambung ....


__ADS_2