Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Cari Perkara


__ADS_3

Pagi datang dengan membawa kehangatan yang terpancar saat penguasa langit berwarna jingga itu mulai menampakkan diri di ujung bumi. William terbangun saat merasakan sesuatu mengenai pipinya. Awalnya pria itu berusaha mengabaikannya dan kembali melanjutkan tidur mengingat hari ini ia terbebas dari rutinitas kantornya, tapi kemudian sentuhan demi sentuhan di pipinya membuatnya terpaksa membuka mata.


"Astaga! sayang." Alangkah terkejutnya pria itu saat menyadari jika putra pertamanya yang menjadi tersangka. Jayden memukuli pipi ayahnya karena William tak kunjung bangun.


"Ya Tuhan Nak, kamu mengangetkan Ayah saja." William menengkurapkan tubuhnya menyamai posisi bayi mungil yang mulai belajar merambat itu.


"Kamu sudah bangun, di mana bundamu?" William terus mengoceh seolah Jayden bisa menyahutinya.


Pintu pun terbuka lebar, Cinta muncul dengan secangkir kopi di tangannya. "Eh, si ganteng udah bangun? Ayah juga? tadinya baru mau bangunkan kamu Mas."


"Iya, dia mukul wajahku terus-terusan, gimana aku nggak kebangun."


Cinta terkekeh, dia pun ikut bergabung bersama suami dan anaknya dalam posisi yang sama.


"Lain kali jangan tinggalkan Jayden tanpa pengawasan Yang, kamu kan bisa bangunin aku buat jagain dia. Masalahnya dia itu udah mulai merambat kan? aku takut dia jatuh," kata William.


"Iya maaf ... tadi pas aku tinggal dia itu masih tidur makanya aku berani tinggalin dia Mas. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi."


"Nggak apa-apa. Jagoan Ayah tadi gemas kayaknya, sampai muka Ayah dipukul-pukul terus karena nggak bangun-bangun."


Keluarga kecil itu tertawa. Jayden yang melihat tawa ayahnya menjadi ikut-ikutan tertawa. Bocah mungil itu memang sangat akrab dengan William.


"Nanti ke rumah sakitnya agak siangan aja ya, aku ingin kita bertiga jalan-jalan ke taman," cetus William.


"Iya Mas, diminum dulu kopimu."


"Oke, habis itu aku mandi terus gantian kamu." William beringsut dari ranjangnya, meraih cangkir kopi yang Cinta letakkan di meja kecil dan menyesapnya pelan. Lalu setelahnya ia buru-buru masuk ke kamar mandi.


Selang satu jam, William tampil sempurna dengan celana pendek denim dan kaos oblong berwarna putih. Topi yang senada dengan warna celananya, juga sepatu yang membungkus telapak kakinya benar-benar menyempurnakan ketampanannya. Sementara Cinta juga memakai baju senada dengan suaminya.


"Kenapa kamu bawa gendongan Mas?" tanya Cinta yang baru saja selesai mendandani si kecil Jayden.


"Ya mau buat gendong anakku Sayang, masa iya mau buat gendong kamu."


"Serius Mas? aku takut kamu kecapekan nanti, Jayden berat lho, sembilan kilo dia," kata Cinta.


"Ibunya aja yang empat puluh sembilan kilo masih kuat buat aku gendong, apalagi cuma anaknya yang sembilan kilo," kekeh pria itu.


"Dih, masih pagi malah udah ngelantur ngomongnya. Maksudku kenapa nggak bawa kereta bayi aja," saran Cinta.


"Nggak usah. Udah ayo kita berangkat, keburu siang nih, nanti malah udah panas."


"Iya, ayo." wanita itu memasangkan topi di kepala Jayden.


"Nggak ada yang ketinggalan?"


"Enggak, keperluan Jayden sama botol minum udah aku taruh di tas." Cinta menepuk tas selempang yang menggembung.


"Oke."


Cinta membantu suaminya menggendong Jayden, merapikan tali pengait di bagian belakang dan memastikan Jayden nyaman dengan posisinya digendong di dada William.


"Pagi cucu Nenek." Hanum yang sedang menyiapkan sarapan menyapa cucunya. "Masih jam enam udah ganteng banget, mau jalan-jalan?"


"Iya Ma," jawab Cinta.


"Jangan jauh-jauh ya, udara akhir-akhir ini sangat panas, banyak debu jadi jangan terlalu lama berada di luar," pesan wanita paruh baya itu.


"Ya Ma, siap."


"Cuma mau ke taman Ma." William ikut menimpali.


"Kalian nggak sarapan dulu?" tanya Sultan.


"Rencananya mau sarapan di taman nanti, Pa." menjawab pertanyaan papanya.


"Ya udah."


"Aku akan pulang sebelum jam sembilan kok, kita bisa sama-sama ke rumah sakit," lanjut William.


"Oke."


Sepasang suami istri itu pun pergi usai mendapatkan izin dari orang tua mereka. Sepanjang jalan William tak melepaskan pegangan tangannya pada Cinta, sementara satu tangannya lagi menahan kepala Jayden.


"Mas."


"Hm, apa?"


"Nanti sehabis tamu bulananku selesai, rencananya aku mau pasang kontrasepsi. Gimana, Mas setuju nggak?" tanya Cinta.


"Dari awal kan aku nggak pernah melarangmu ataupun membatasi ruang gerakmu Sayang. Aku kan juga udah minta kamu buat pakai kontrasepsi karena aku masih trauma kalau ingat proses persalinan kamu." William menyahut.


"Iya, makanya sekali lagi aku tanya sama kamu, kamu setuju nggak aku pakai kontrasepsi?"


"Setuju Sayang. Kalau boleh tahu, apa alasan kamu pakai pengaman? secara selama ini kan kamu ngebet banget pengen cepat punya anak lagi." pria itu menatap istrinya curiga.


"Sebenarnya Raisalah alasanku ingin kembali punya anak Mas."

__ADS_1


"Raisa?" air muka William berubah dengan cepat.


"Iya, tapi kamu jangan salah paham. Aku kasihan sama dia karena aku pikir dia nggak bisa hamil setelah rahimnya diangkat, tapi ternyata Tuhan berkata lain dengan memberikan kepercayaan padanya dan itu jujur saja membuatku sangat bahagia sekaligus terharu."


"Apa hubungannya?" tanya William masih tak paham ke mana arah pembicaraan istrinya.


"Waktu itu aku pernah nggak sengaja mendengar obrolan mereka Mas. Raisa menangis menceritakan betapa dia sangat menginginkan seorang anak, lalu Willmar berinisiatif untuk meminta bantuan kita."


"Caranya?"


"Willmar mau bilang ke kamu supaya kita bisa terus berusaha agar aku bisa hamil lagi, lalu anaknya akan mereka asuh."


"Begitu?"


"Iya. Melihat Raisa sangat sedih membuat aku juga menyetujui pemikiran Willmar untuk segera hamil lagi, lalu akan aku serahkan bayiku pada mereka. Toh mereka juga sangat menyayangi Jayden, mereka pasti juga akan menganggap anak kita sebagai anak mereka."


"Hm, aku jadi teringat sesuatu. Mungkin ini yang akan dibicarakan Willmar saat kita bulan madu di Raja Ampat. Dia pernah mengajakku mengobrol serius, tapi pada akhirnya dia urung mengatakannya," timpal William.


"Ya, mereka juga nggak tahu kalau aku mendengar pembicaraan mereka waktu itu."


"Kenapa kamu nggak cerita sama aku?"


"Ya nggak enak Mas, tadinya aku berpikir untuk memberitahumu nanti saja jika aku telah benar-benar hamil, tapi ya sudah ... Aku bersyukur semuanya sudah membaik. Adikmu dan juga Raisa pantas mendapatkan kebahagiaan itu karena mereka berdua benar-benar orang yang baik."


"Ya, aku juga sangat bersyukur dan ikut senang melihat mereka juga hidup bahagia," balas William.


Keduanya masih terus berjalan. Jayden anak yang baik, dia tipikal anak yang ceria dan jarang rewel. Jayden hanya akan rewel jika dia benar-benar sakit. Kaki Jayden terus terayun seiring gerakan lincah bocah itu. Seandainya saja Jayden sudah bisa berjalan, mungkin saja bayi itu sudah meronta dari gendongan ayahnya.


"Capek ya gendong Jayden." Cinta mengusap keringat yang mengembun di pelipis suaminya.


"Enggak seberapa, malahan aku senang bisa jalan-jalan bareng kalian."


"Gantian biar aku yang gendong dia Mas."


"Nggak usah Sayang," tolak pria itu.


"Aku juga mau gendong Jayden Mas."


"Jangan! selama ini kan kamu bisa leluasa main sama dia, sedangkan aku kerja. Saat aku libur aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya saja, jadi jangan ganggu aku."


Cinta terkekeh pelan mendapatkan ultimatum dari suaminya, akhirnya dia biarkan saja William memonopoli anak mereka, setidaknya saat pria itu libur.


"Kita duduk di sana Yang." William menunjuk satu bangku yang berada di dekat pohon agak rimbun. Cahaya matahari tak begitu menyengat karena tertutupi dahan dengan dedaunan lebat.


"Mas mau minum," tawar Cinta.


Wanita itu pun mengambil botol air dari dalam tasnya dan memberikan pada William.


"Kamu juga minum, kamu keringatan tuh." menyeka peluh di dahi Cinta dengan punggung tangannya.


"Iya."


"Jayden juga haus Bunda." William menirukan suara anak kecil.


"Iya Sayang." Cinta mengeluarkan botol asi yang dia bawa dan membiarkan William memberikannya pada Jayden.


Selama ini memang Cinta membiasakan bayinya juga minum susu dari botol, bahkan sebelum Cinta sadar dari komanya, Jayden sudah lebih dulu diberi susu formula.


.


.


Raisa membuka matanya pelan saat merasakan gejolak dalam perutnya menjalar naik. Wanita itu dengan cepat bangun hingga membuat Willmar terkejut bukan main.


"Sayang."


"Hoek ... Hoek ..." Raisa membekap mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Beruntung Willmar sigap membawa tiang penyangga infus istrinya, jika tidak, hal itu tentu akan sangat membahayakan Raisa.


Willmar membiarkan Raisa mengeluarkan seluruh isi perutnya di wastafel, yang bisa dia lakukan hanya berdiri diam agar tak semakin menambah kekacauan.


"Mas, aku mual, kamu bisa-bisanya ya diam aja," omel wanita itu setelah membersihkan wajah dan mulutnya di bawah kucuran air kran.


"Kamu salah paham Yang, aku diam karena aku nggak mau bikin suasana jadi makin kacau," sanggah Willmar.


"Udah tahu istri mual bukannya dibantuin kek."


"Ya aku nggak tahu musti ngapain Yang," jawab Willmar tanpa raut wajah berdosa.


"Kamu emang nggak peka. Nggak ngerti kamu ya soal beginian, makanya sekali-kali kamu tuh baca novel romantis biar tahu apa yang harus kamu lakukan pas lihat istri mual-mual," oceh Raisa tanpa henti.


"Ya aku kan sibuk kerja Yang, mana ada waktu buat baca novel. Baca grafik perusahaan aja udah bikin puyeng." tanpa sadar Willmar tetap pada pendiriannya kalau dirinya tidaklah salah.


"Udahlah, emang resiko punya suami pengusaha yang nggak peka ya gini, padahal di novel-novel yang pernah aku baca, tokoh utama prianya itu cinta mati sama istrinya. Tergila-gila dan rela melakukan apa saja demi istrinya, tapi kamu mah benar-benar cerminan suami dalam kehidupan pada umumnya."


Willmar mulai dibuat pusing mendengar ocehan istrinya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa dan memilih diam mendengarkan ocehan Raisa. Karena Willmar tahu akan seperti apa jadinya jika sampai dia menyahut, apalagi jika sampai salah bicara. Bisa-bisa nyawanya terancam nanti.


"Oke Sayangku. Mas mu ini minta maaf ya? nanti deh Mas belajar jadi suami yang romantis mirip di novel yang kamu baca. Nanti aku pinjam ya Yang, kan biar tahu romantisnya itu kayak apa." sama sekali tak ada tekanan dalam setiap ucapan Willmar. Kata demi mata yang lolos dari bibirnya dipenuhi kelembutan.

__ADS_1


"Ya udah gendong," rengek wanita itu seraya mencebikkan bibirnya.


"Oh, Sayang. Jangan memajukan bibir begitu, nyiksa tahu. Mana nggak boleh nyium juga kata mama semalam."


Raisa hampir saja meledakkan tawanya. Dia teringat serangkaian pidato yang Hanum bacakan di depan Willmar sesaat sebelum wanita paruh baya itu pulang. Hanum tak mempedulikan Willmar sekalipun pria itu terus jejeritan menolak keras aturan gila yang diterapkan Hanum padanya. Bagaimana bisa dia dilarang mencium istrinya sendiri? Willmar mana tahan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! aku masih marah padamu Mas," sengit wanita itu.


"Oke, baiklah istriku Sayang." membaringkan tubuh Raisa di bed. "Jadi apa yang harus aku lakukan agar permaisuriku yang cantik jelita ini tidak marah lagi? eh, tapi pertama-tama kamu harus minum dulu."


Willmar meraih gelas di nakas dan mengisinya dengan teh tawar dari termos kecil yang telah tersedia di sana.


"Kamu minum dulu ya, habis itu aku mau pesan makanan buat kita sarapan," kata Willmar.


Raisa menurut, ia menyesap isi gelasnya sedikit demi sedikit hingga perutnya terasa hangat dan jauh lebih baik.


"Mau makan apa Sayang?"


"Bubur ayam," jawab Raisa.


"Oke. Nggak pakai kacang, tambah sate telur puyuh sama cakwe kan?" Willmar mengeja bubur ayam yang menjadi selera Raisa.


"Iya, tapi aku juga mau bakwan udang, terus ubi goreng sama minumnya jus alpukat."


"Sepagi ini jus alpukat belum ada Sayang."


"Cari dulu Mas, belum apa-apa udah bilang nggak ada."


"Oke."


Willmar lupa jika dalam kondisi berbadan dua, ralat, tiga karena bayi yang Raisa kandung ada dua. Istrinya itu menjadi jauh lebih sensitif. Tingkat kemanjaannya melonjak drastis.


"Udah selesai pesan makanannya?"


"Bentar Sayang, ini masih cari jus alpukat dulu." Willmar menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada layar benda pipih di tangannya.


"Habis itu telepon Kak Cinta dan suruh bawa Jayden ke sini sekarang."


"Oke Sayang."


"Jangan kelamaan!" kata Raisa lagi.


"Iya istriku yang cantik. Sinyalnya hilang, aku keluar sebentar ya mau menyelesaikan pesanan jus alpukat nya sama telepon Kak Willi," pamit laki-laki itu.


"Jangan lama-lama!"


"Iya."


Willmar gegas keluar dari ruangan itu. Pria itu menghembuskan napas lega karena merasa terbebas dari jerat istrinya. Raisa mode manja saja terkadang membuatnya kesal, di tambah lagi dalam keadaan hamil begini yang sudah pasti makin bertambah saja tingkat manja dan sensitifnya.


Oh Tuhan, ini baru dua hari, masih ada ratusan hari lagi yang harus dia lalui selama masa kehamilan Raisa sampai wanita itu melahirkan. Setelah mengatur napas, Willmar pun mendial nomor saudara kembarnya. Dering panggilan pertama tak diangkat, pun pada panggilan kedua. Baru pada deringan ketiga panggilannya itu diangkat.


"Halo Kak."


"Ya halo, ada apa Dek? Aku pasti ke rumah sakit nanti, tapi aku mau jalan-jalan dulu sama Jayden, jadi jangan ganggu aku."


"Iya aku tahu, tapi Raisa ngomel terus, dia bilang udah nggak tahan pengen ketemu Jayden. Dia sampai nangis-nangis," adu Willmar pada kakaknya.


"Ya, kami akan ke rumah sakit nanti. Kamu bilang sama Rai, kami akan berangkat jam sepuluh nanti."


"Kelamaan kalau jam sepuluh Kak, aku udah nggak kuat dengar dia ngoceh melulu sejak bangun tadi, ada aja masalah sepele yang dia ributkan."


"Sabar."


"Apa sewaktu hamil Jayden dulu, Kak Cinta juga menyebalkan Kak?"


"Tentu saja tidak. Kakak iparmu itu sangat dewasa dalam menyikapi semua hal. Biarpun terkadang manja, tapi semuanya masih dalam batas wajar," sahut William di seberang sana.


"Sepertinya aku harus les sama kamu Kak, biar aku bisa jadi suami romantis yang serba bisa dan sabar menghadapi kemarahan dan tingkah aneh Raisa."


"Itu belum seberapa Dek, kamu masih harus menjalaninya sampai beberapa bulan ke depan," kata William.


"Iya. Mau gimana lagi, anugerah ini harus aku terima dengan senang hati," ucap Willmar, pasrah.


"Bersikap baiklah pada Raisa dan calon bayi kalian, apa saja yang Raisa inginkan maka kamu harus menurutinya, dengan begitu biasanya ikatan batin antara kamu dan Raisa, juga dengan bayi kalian akan menjadi kuat. Bayi kalian akan sangat menyayangimu begitu dia lahir nanti."


"Oke. Terima kasih atas nasehatnya. Jangan terlalu lama datang ke mari karena Raisa sungguh sangat menakutkan ketika sedang marah."


"Iya baiklah."


"Mas Willmar!"


Hampir saja Willmar menjatuhkan ponselnya saat mendengar suara merdu Raisa yang begitu melengking.


'Cari perkara kamu Will,' pria itu membatin. Buru-buru dia masuk sebelum membuat Raisa lama menunggu dan semakin marah padanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2