Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Olah Raga Jantung


__ADS_3

"Kakek." panggil Hanum, matanya di penuhi binar kebahagiaan ketika melihat lelaki tua yang saat ini memasuki ruang rawat inapnya itu terlihat sehat.


Burhan menyuruh Sultan untuk lebih cepat mendorong kursi rodanya menuju bed di mana Hanum sedang berbaring.


"Kau baik-baik saja kan Sayang?" tanyanya sambil mengelus puncak kepala Hanum. "Berandal kecil ini harus bertanggung jawab karena telah terlambat datang untuk menyelamatkanmu, lihat bibirmu yang pecah ini, akan aku hajar dia nanti begitu sampai di rumah. Menjaga istri sebaik dirimu saja dia tidak becus." melirik sengit pada Sultan.


"Ya ampun Kakek, kenapa kejam sekali padaku? siapa cucu Kakek yang sebenarnya?" cebik Sultan.


"Kalian berdua memang sama-sama cucuku, tapi aku lebih menyayangi cucu perempuanku. Aku tidak butuh cucu laki-laki sepertimu, merepotkan saja."


"Astaga!" Sultan mendengus kesal.


"Menyingkir dari sini, kau menganggu seorang Kakek yang akan berbincang dengan cucu kesayangannya."


"Tidak mau! enak saja, cucu kesayanganmu itu kan juga istriku, aku tidak akan kemana-mana. Bicaralah sepuas hati Kakek karena aku akan duduk diam di sini." Sultan mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa di sudut ruangan tersebut.


"Kau akan menggangguku nanti." Burhan mendelik.


"Memang apa yang akan kalian bicarakan? rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku sehingga aku tidak boleh sampai mendengarnya."


"Tentu saja ada, ya kan Nak?" menoleh pada Hanum.


"Sip Kek." Hanum mengangkat tangannya untuk beradu tos dengan sang kakek.


"Awas jika kalian sekongkol di belakangku untuk melakukan tindak kejahatan," ucap Sultan, dia membaringkan tubuhnya yang masih terasa penat karena dia hanya tidur satu jam semalam.


"Sepertinya kau kebanyakan baca koran yang isinya berita kriminal."


Burhan menoleh tatkala suara cucunya tak terdengar lagi, di lihatnya Sultan sudah terpejam, entah pria itu pura-pura tertidur atau tidur sungguhan.


Dua jam kemudian.


Sultan menggeliatkan tubuhnya, ternyata dia benar-benar tidur, badannya masih saja terasa pegal meskipun dia sudah berusaha mencuri-curi waktu untuk tidur walau hanya sebentar.


"Kalian masih belum selesai?" tanyanya serak, melihat kakek dan istrinya masih terus bercengkerama.


"Sudah sejak tadi," Burhan menyahut.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" Sultan mendekati dua orang itu.


"Aku tidak tega menganggu tidurmu, kau pasti sangat lelah menghadapi kejadian kemarin," ujar Burhan.


"Tapi kan sudah waktunya Kakek pulang untuk minum obat lalu istirahat. Biar Sultan antar Kakek pulang sekarang ya?" tangan Sultan sudah berada di atas dorongan kursi roda.


"Tidak usah, Kakek sudah menelepon Parmin dan istrinya untuk datang menjemput, sebentar lagi mereka datang. Kau tetaplah di sini menjaga istrimu, awas! kali ini jangan sampai lengah!" kata Burhan memberi peringatan keras pada cucunya.


"Kakek tidak usah cemas, pelaku kejahatannya juga sudah mendekam di penjara jadi tidak ada lagi yang akan berbuat jahat pada Hanum."


"Sikapmu yang seperti itu yang bisa membahayakan dirimu dan juga istrimu." Burhan menunjuk cucunya. "Waspada itu perlu dilakukan di segala situasi, satu hal yang harus kau ingat, musuh itu akan lebih mudah menyerang jika melihat ada kesempatan begitu lawannya lengah. Mungkin memang benar pelakunya sudah berada dalam sel tahanan, tapi siapa yang tahu barangkali saja dia masih bisa menghubungi seseorang di luar sana yang bisa dia suruh untuk balas dendam dan kembali menyerangmu."


Sultan mendengarkan nasehat kakeknya dengan seksama, semua ucapan pria tua itu memang ada benarnya. Sebagai pelajaran seperti yang sudah-sudah, sekuat apapun dia berusaha untuk melindungi istrinya, nyatanya kejadian buruk seperti kemarin masih saja menimpa istrinya.


"Apa dulu Kakek juga mendapatkan pelatihan strategi perang sewaktu menjalani pendidikan militer?" tanya Sultan dengan kening berkerut. "Kakek terlihat seperti seorang Jenderal yang sedang mengatur siasat perang, dan ini terlihat sangat keren." Sultan terus memuji kakeknya.


"Kenyataannya memang aku ini seorang Jenderal," ucap Burhan sambil membusungkan dadanya.


Ketiganya tertawa, akhirnya masa-masa indah kebahagiaan itu kembali menyelimuti kehidupan mereka. Sultan bergantian menatap Hanum dan juga kakeknya yang masih terbahak. Semoga saja jalan kehidupan mereka tidak akan seterjal dulu, semoga saja setelah kejadian buruk yang menimpa mereka selama ini sudah cukup dan berakhir sampai di sini saja. Sudah saatnya mereka bahagia dan hidup bersama saling mengasihi selamanya.


.

__ADS_1


"Hanum ...,"


Hanum yang saat itu sedang menikmati makan siangnya hampir saja tersedak begitu mendengar teriakan teman-temannya yang mengunjunginya di rumah sakit.


Sudah dua hari ini dia di rawat di rumah sakit, sebenarnya kondisinya sudah membaik dan dokter juga sudah mengizinkannya untuk pulang, jangan tanya lagi apa yang telah Sultan lakukan untuk membuat Hanum sampai saat ini masih berada di sana.


"Kau sudah sehat?" tanya Disha dengan mata berkaca-kaca, memeluk Hanum.


"Seperti yang kau lihat, aku sebenarnya sudah sehat tapi mas Sultan bilang ngotot menyuruhku tetap di sini sampai dia merasa yakin kalau aku benar-benar pulih sepenuhnya," Hanum menyahut.


"Seandainya saja kita tidak ke salon waktu itu," ucap Ajeng, gadis itu terlihat sedikit menyesali tindakannya mengajak Hanum kala itu.


"Kau ini bicara apa, tidak ada yang perlu di sesali. Hal buruk itu akan tetap terjadi sekali pun aku tidak ikut bersama kalian karena semuanya memang sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan yang memang harus aku jalani."


"Untunglah kau baik-baik saja, sepanjang Mas Adam pergi dengan suamimu, aku lun tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus menerus memikirkan keadaanmu."


"Sudahlah, lupakan saja! anggap saja ini sebagai bagian dari masa lalu yang bisa kita ambil hikmahnya." Hanum mempersilahkan teman-temannya untuk duduk.


Sementara para wanita itu tengah asyik berbincang, Sultan mengajak Adam juga Raka untuk mengobrol di luar.


"Pulang dari sini tempo hari, aku terus bolak balik ke belakang karena perutku sakit, Sampai hari aku masih minum obat diare." Raka membuka suara.


"Itu hukuman karena kau terlalu rakus, melihat caramu makan saja aku sampai merasa kenyang sendiri," Adam menyahut.


"Jangan salahkan aku, salahkan tuh!" Raka menunjuk Sultan. "Orang itu yang membuat kita sampai kelaparan dua hari dua malam dan memaksa kita kerja rodi, macam zaman penjajahan saja."


"Sudah-sudah, jangan berkelahi lagi seperti anak kecil," Adam merasa harus menghentikan Raka atau dia akan melihat pertarungan sengit dua pria di depannya jika tidak segera dilerai.


Sultan tersenyum menang, dia terus memainkan matanya seolah meledek Raka, beranggapan kalau Adam telah membelanya.


"Sudah hentikan!" seru Adam yang melihat gelagat Sultan.


Merasa sangat geram, Adam lantas menangkup kedua kepala temannya dengan telapak tangannya masing-masing lalu menariknya hingga kepala Sultan dan Raka terantuk saling berbenturan.


"Dam!" teriak kedua orang itu bersamaan.


"Siapa suruh berisik! aku benar-benar heran menghadapi kalian, jika di kantor atau menyangkut masalah pekerjaan, kalian bisa sangat kompak, tapi di luar itu kalian sudah seperti Tom Jerry saja yang selalu meributkan hal-hal kecil."


"Jangan gampang emosi Pak, istrimu masih muda dan sangat cantik. Kau tidak mau kan kalau dia menjadi janda karena kamu mati terkena stroke akibat terlalu sering marah-marah." Raka berkelakar.


"Jangan sembarangan bicara kamu!" Adam memukul kepala Raka.


Di sambut gelak tawa Sultan.


"Kamu juga! jangan tertawa!" kepala Sultan pun tak luput dari serangan Adam.


"Ssstt ... jangan berisik!" Ajeng melongokkan kepalanya dari balik pintu.


"Di sini siapa sebenarnya yang berisik," gumam Adam.


Mereka sama-sama tahu kalau entah di dalam maupun di luar ruangan tersebut memang sama berisiknya.


"Mas bilang apa tadi!" teriak Ajeng saat mendengar suaminya bergumam padanya.


"Ah, tidak ... tidak ... tanya saja pada mereka." menunjuk Sultan dan Raka. "Apa kalian mendengar aku mengatakan sesuatu? tidak kan?" tanyanya sambil menatap Sultan dan Raka bergantian.


"Tidak."


"Iya."

__ADS_1


Sultan dan Raka saling beradu pandang ketika menyadari jawaban yang keluar dari mulut mereka saling bertentangan.


Adam menaruh tangannya dan memperagakan gerakan menyayat leher pada Raka yang ketahuan menjawab 'iya'.


"Awas! jangan berisik atau aku akan menyumpal mulut kalian satu satu, biar kalian merasakan bagaimana rasanya di perlakukan seperti itu, sama seperti Hanum waktu kemarin dia di culik."


Ketiga pria itu menghela nafas lega begitu melihat Ajeng kembali masuk ke dalam.


"Ajeng dan kau sama galaknya Dam." Raka menepuk pundak Adam, dirinya kembali teringat kejadian sewaktu Adam memaki-maki polisi tempo hari.


"Suami takut istri," bisik Sultan menggoda temannya.


"Sembarangan kalian berdua! aku bukannya takut tapi karena aku tak mau berdebat dengannya jadi lebih baik aku mengalah," Adam menjawab.


"Sama saja."


Sultan dan Raka kompak mengatakannya.


Drrtt ... drrtt ... drrtt ...


Aksi saling meledek itu harus segera diakhiri, Sultan merogoh sakunya, melihat siapa orang yang menghubunginya kali ini.


"Dari perawat ruang ICU yang aku minta khusus untuk merawat Dion." Sultan memperlihatkan sebuah nama yang tertera di layar ponselnya kepada dua temannya.


"Cepat angkat!" perintah Adam.


Tak mau berlama-lama Sultan pun segera menggeser icon hijau pada layar gawainya.


Dengan jantung berdebar, Adam dan Raka menunggu sampai Sultan selesai berbicara.


"Apa yang perawat itu katakan?" tanya Adam yang begitu penasaran.


"Kita harus segera ke sana." Sultan bangkit dari duduknya dan segera berlari menuju ruangan di mana Dion di rawat.


Dua temannya pun berlari untuk mengikuti Sultan.


"Setelah aku pikir semuanya telah membaik, kita masih juga harus olah raga jantung," keluh Adam pada Raka dengan nafas tersengal.


"Berdoa saja, semoga tidak ada apa-apa."


"Apa Tuhan masih mau mendengarkan doa kita sementara kita terus mengangguNya dengan doa-doa panjang kaki lebar yang kita panjatkan kemarin?"


"Apa karena terlalu mengalami banyak tekanan menyebabkan otakmu menjadi gesrek?" tanya Raka.


"Apa?"


"Ucapanmu tadi itu seperti orang yang sedang melantur," terang Raka.


"Shit! kemana larinya Sultan?" seru Adam.


Menyadari mereka telah tertinggal jauh karena keduanya terlibat obrolan tadi.


"Kanan? atau kiri?" Raka menunjuk dua buah lorong di depannya.


"Bodoh!" Raka merasakan kepalanya kembali menjadi sasaran empuk Adam. "Kita kan bisa meneleponnya."


.


Hayoo, kira-kira apa yang akan terjadi dengan Dion? 🤔😊

__ADS_1


__ADS_2