Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Hubungan Terlarang


__ADS_3

"Eumh ...," Mauryn tak bisa berkata-kata karena begitu mereka memasuki sebuah kamar hotel, pria itu segera membungkam mulutnya dengan lum*t*n panas nan liar


Mauryn yang memang telah begitu lama mendambakan belaian seorang pria itu pun tak segan membalas dengan ciuman yang tak kalah panas. Dia begitu terbawa suasana hingga tak sadar tangannya bergerak melucuti pakaian yang melekat di tubuh prianya.


"Apa kamu begitu tak sabar Sayang?" kata pria itu di sela-sela ciumannya.


"Hm, kau tahu betul sudah berapa lama kita tidak melakukannya. Aku sangat merindukan saat-saat ketika kamu begitu memanjakanku."


"Tentu saja." membimbing tubuh Mauryn hingga keduanya jatuh bersama di atas kasur.


Pria itu tertegun sejenak, memandangi wajah Mauryn yang sudah memerah menahan sesuatu yang bergejolak dalam diri wanita itu. Beralih menuju ke bagian bawah, tepat di mana gundukan kembar yang masih tertutup kain berenda itu terlihat makin membesar dari ukuran sebelumnya.


"Kau makin seksi Sayang, bagaimana bisa ukurannya bertambah besar seperti ini? aku makin tak tahan." dengan kasar di renggutnya kain hitam tersebut, satu-satunya penutup yang tersisa di tubuh kurus Mauryn.


"Kau menyukainya?" Mauryn tersenyum.


"Tentu saja, bagaimana dengan yang di bawah? apakah rasanya masih sama seperti dulu?" sahut si pria sambil terus meremas bukit kembar tersebut dengan tangannya sementara mulutnya masih bermain di puncak gunung satu nya.


Mauryn terus merintih, merasakan gelenyar rasa yang membuatnya serasa melayang, dia terus menggeliat ketika merasakan kenikmatan yang terus menjalar di sekujur tubuhnya.


Pria itu sungguh membuatnya kehilangan kewarasannya, permainan nya yang begitu panas dan liar terus membakar gairah Mauryn yang memang menginginkan sentuhan dari seorang pria.


"Aku sudah tidak tahan," Mauryn terus meracau.


"Baiklah, aku akan masuk sekarang." pria itu membuka kedua kaki Mauryn dan mulai bergerak memasukkan miliknya.


"Ahh ...," Mauryn terus merintih, tanpa sadar dia menjambak rambut prianya ketika dia merasakan sesuatu yang keras mulai memasuki area pribadinya.


"Sshhhh ... Sayang, kenapa rasanya nikmat sekali? bukankah kau baru beberapa bulan yang lalu melahirkan, tapi kenapa milikmu sempit sekali seolah aku sedang melakukannya dengan seorang perawan." pria itu pun terus meracau sembari terus memompa batang kejantanannya.


"Aku tidak tahu, pantas saja rasanya sedikit sakit." Mauryn meringis.


Mereka pun melanjutkan pergumulan panas di siang hari, tubuh keduanya basah bermandikan keringat tapi mereka tak mempedulikan itu semua. Keduanya terus bercinta dengan mencoba berbagai macam gaya hingga keduanya mencapai klimaks sampai beberapa kali.


Satu jam setelahnya.

__ADS_1


"Terimakasih," lirih pria itu sambil mengecup kening Mauryn.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Selama ini kau selalu ada untukku, orang pertama yang akan menanyakan kabarku, orang yang selalu memberikan perhatian padaku. Hari ini aku sangat bahagia, karena bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi."


"Seandainya saja aku tidak sibuk, setelah Papa lengser dan memberikan jabatannya padaku aku begitu sibuk. Alma saja sampai mengeluh padaku karena aku hampir tidak memberinya waktu, terlebih lagi ketika dia hamil dan melahirkan beberapa bulan sebelum hari persalinanmu."


"Dia gadis yang malang, padahal harus ku akui, dia itu sosok istri idaman. Wanita ideal yang banyak di impikan oleh kaum pria untuk dijadikan sebagai istri dan menikah denganmu mungkin akan menjadi sebuah kutukan baginya. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika dia mengetahui kelakuanmu di belakangnya."


"Sudahlah jangan bahas soal itu lagi," pria itu menaikkan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya dengan tubuh Mauryn.


"Kau pikir aku mau membicarakannya?" balas Mauryn.


"Kenapa lagi dengan Hanum? apa dia menganggumu?" tanya pria itu sambil mengelus kepala Mauryn, mengalihkan pembicaraan. Mulai mengorek sesuatu yang melatarbelakangi Mauryn meminta dirinya untuk bertemu kembali setelah sekian lama.


"Kapan dia tidak menggangguku? dia akan selalu jadi pengganggu selama dirinya masih hidup."


"Lagi pula aku heran denganmu, aku bisa memberikan kehidupan yang mewah asalkan saja kau mau hidup bersamaku. Aku pun mencoba untuk melepaskanmu dan membiarkanmu menikahi Dion karena aku berpikir dia bisa membahagiakanmu. Lihatlah kenyataannya? sekarang apa yang terjadi? hidupmu akan hancur kalau kau terus saja berambisi untuk mendapatkan Sultan. Apakah selama ini apa yang aku berikan padamu masih kurang? apa yang tidak ada dalam diriku yang bisa kau dapatkan dalam diri Sultan? katakan padaku! satu saja hal yang tidak aku miliki!"


"Dia itu cinta pertamaku, tentu saja akan sulit untuk menghapusnya dari hidupku. Tidak semudah yang kau bayangkan."


"Dan cinta pertamamu itu mencintai gadis lain, mereka bahkan telah mengikat janji suci pernikahan. Mau sampai kapan kamu akan terus mengejarnya? sifatmu yang seperti ini yang aku kurang suka, kau terlalu ambisius, menginginkan hal yang jelas-jelas bukan menjadi hakmu. Setelah rumah tangga mu hancur, apa masih kurang semua ini? aku takut obsesimu itu akan menghancurkan dirimu hingga ke dasar jurang."


"Hei, kenapa kamu mesti marah? aku hanya berbicara mengenai fakta yang ada."


"Sudahlah, aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus membantuku," kata Mauryn, suaranya sedikit menajam.


"Tentu saja, memang apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu, Sayang."


Ada luapan perasaan yang kembali membuncah dalam diri keduanya dan membuat mereka kembali terlibat dalam percintaan yang terlarang. Hubungan yang sebenarnya tidak di perbolehkan bagi orang tanpa adanya sebuah ikatan suci pernikahan. Terlebih lagi mereka yang sama-sama sudah berstatus menjadi milik orang lain.


Tak ada yang tahu sejak kapan rasa itu muncul, siapa yang lebih dulu memiliki rasa itu, yang jelas, hubungan keduanya di awali dari sebuah kecelakaan ketika si pria mengantarkan Mauryn pulang ke apartemennya. Malam itu Mauryn yang merasa depresi akibat dari ketidakpuasan dirinya dengan kehidupannya membuatnya untuk menjadikan minuman beralkohol sebagai teman setianya.


Dan malam itu, Mauryn yang mabuk terus mengigau menyebut nama Sultan, menganggap pria yang mengantarkannya pulang adalah pria yang di cintainya. Melarang pria itu pergi dan malah berusaha melumpuhkan pria itu dengan cara mengajaknya berhubungan badan.


Tak mampu menahan diri, akhirnya pria itu pun menuruti kemauan Mauryn dan terjadilah pergumulan antara seorang wanita dengan seorang pria yang sama sekali tidak memiliki ikatan hubungan apapun. Malam itu menjadi malam pertama bagi si pria untuk merasakan hal tersebut.

__ADS_1


Keesokan harinya begitu kesadaran Mauryn telah pulih sepenuhnya, dia begitu terkejut mendapati dirinya tidur satu ranjang dengan seorang pria tanpa busana. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah saat dia mengetahui kenyataan bahwa pria yang telah menidurinya itu tak lain dan tak bukan adalah orang yang selama ini dia anggap sebagai teman.


Tapi lagi-lagi isi hatinya mengalahkan apa yang ada di kepalanya yang dia anggap tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Mulut dan hatinya mengatakan hal yang saling berlawanan. Begitu merasakan kebahagiaan dan nyamannya ketika bercinta, hal yang selama ini tidak dia dapatkan dari Dion, itu membuatnya terjebak dalam dosa yang tidak bisa dia hindari. Dirinya seolah kecanduan dengan sensasi yang telah diciptakan pria itu, bagaimana pria itu dengan lembut memperlakukan dirinya, membuatnya selalu mendambakan setiap sentuhan pria itu.


"Lebih cepat Sayang!" ujar Mauryn menginstruksikan agar pria yang saat ini ada di atasnya itu mempercepat gerakannya.


"As you wish Baby." memompa miliknya di pusat inti Mauryn.


"Aaah ...," Mauryn seperti orang hilang akal, dia terus merintih manakala merasakan tubuhnya kembali mengejang. "Sebentar lagi ... akhhh ... Reno ... Sayang ...," jeritnya begitu merasakan cairan hangat menyembur dalam rahimnya.


"Panggil namaku! aku akan terus membuatmu merasakan indahnya surga dunia."


Tubuh Reno melemah seiring dengan juniornya yang sudah mengendur, dia merobohkan tubuhnya tepat di samping Mauryn kemudian memeluk erat tubuh wanita itu.


"Terimakasih banyak Reno ku Sayang." Mauryn melilitkan tangannya di leher pria itu, kembali menciumi bibir Reno begitu merasa hasratnya kembali bangkit.


"Jangan nakal Sayang, ini sudah hampir petang, jangan terus memancingku atau aku tidak akan bertanggungjawab kalau sampai aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai besok."


"Aku tidak peduli," jawab Mauryn acuh.


"Kau benar-benar merindukan diriku ya? sudah berapa kali kita melakukannya dan kau masih belum mau melepaskan aku, seolah aku belum memuaskan mu saja."


"Kau selalu membuat aku puas itu sebabnya aku selalu merindukan kehangatanmu. Kau sudah seperti candu bagiku dan aku tidak akan pernah merasa bosan melakukannya denganmu."


"Tapi apa yang kita lakukan ini salah, hubungan kita adalah hubungan terlarang. Kita sama-sama sudah memiliki pasangan masing-masing, dan diantara kita juga tidak ada hubungan apa-apa. Lalu atas dasar apa kita melakukan ini?"


"Itu berawal dari rasa penasaran, kamu yang belum pernah melakukan hubungan badan dengan seseorang, membuatmu begitu tergoda ketika malam itu secara tidak sadar aku melepas pakaianku satu per satu dan dengan suka rela aku menyerahkan diri padamu. Dan di saat yang bersamaan, aku yang memang sudah lama tidak melakukan hal itu, membuatku merasakan rasa yang berbeda ketika aku melakukannya denganmu. Ketahuilah, bercinta denganmu membuatku merasakan kebahagiaan dan rasa nyaman sekaligus. Itulah yang membuatku selalu merindukanmu, aku perlu itu dan aku tidak membutuhkan sebuah hubungan atau ikatan diantara kita. Kita bisa melakukanya kapan pun, di mana pun tanpa adanya alasan."


"Jadi?"


"Aku tidak peduli, perset*n dengan hubungan terlarang ini, yang jelas aku mau kamu selalu ada jika aku membutuhkanmu."


Tak lama setelah selesai mengatakan hal tersebut, Mauryn langsung naik ke atas tubuh Reno.


.

__ADS_1


OK fixs, di bab ini cuma menceritakan kenakalan Mauryn yes, di sini tuh bakalan ketahuan betapa bobroknya moral Mauryn. Maklum, hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua di tambah lagi dengan cara pandang hidupnya yang salah. Sebenarnya Sultan juga ikut andil dalam membentuk karakter Mauryn, salahnya doi tuh yang kelewat memanjakan gadis itu selama berteman dengannya 🙈 Mauryn yang notabene terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan mudah, membuatnya tumbuh menjadi seorang gadis yang ambisius. Terlebih ketika merasa dirinya terancam dengan kehadiran Hanum yang menurutnya akan membahayakan posisinya di samping Sultan. Dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Hanum, kalau dulu dengan cara halus dia tidak bisa membuat Hanum pergi meninggalkan Sultan, kali ini dia akan terang-terangan menyatakan perang dan menyerangnya secara frontal.


.


__ADS_2