Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Siksaan Bagi William


__ADS_3

Gedoran di pintu depan membuat Cinta yang saat itu baru akan memejamkan mata pun berjengit kaget. Sambil terus menggerutu ia pun terpaksa bangkit dan kasurnya dan bergegas membuka pintu.


"Siapa sih yang bertamu, nggak sopan ba ..." Ucapan Cinta terhenti saat melihat sosok yang datang.


Lagi-lagi Cinta terlambat karena sebelum dia sempat menutup pintu, William sudah lebih dulu masuk.


"Kita perlu bicara, aku mohon," ucap William memelas.


Lima menit kemudian.


Secangkir kopi telah tersedia di meja. William tak lepas memandangi wajah Cinta yang menurutnya agak pucat. Kantong mata dan lingkar hitam di kelopak mata Cinta menjadi bukti bahwa selama ini gadis itu tak bisa tidur dengan baik.


"Tidak bisakah kau membatalkannya? Kenapa harus mengundurkan diri dari perusahaan? Kenapa harus melayangkan gugatan perceraian?"


Cinta memilin jari jemarinya. Bodohnya dia yang tak mengantisipasi hal ini sebelumnya. Seharusnya Cinta menyiapkan jawaban sebelum lelaki itu datang menemuinya.


"Jawab aku Cinta!"


'Oh, sejak kapan dia menggunakan kata 'aku' ketika berbicara denganku?'


Cinta terus menghindari bertemu tatap dengan netra lelaki itu. Cinta memilih menatap ke sembarang arah.


"Maaf."


Akhirnya hanya kata itu saja yang Cinta pilih. Meskipun ada banyak hal yang ingin dia ungkapkan, tapi tidak ... Cinta tak akan mengatakannya karena rasanya semuanya akan menjadi percuma.


"Kembalilah, pulanglah ke rumah," bujuk William.


Cinta masih membisu. Bibirnya ia kunci rapat.


"Tidak adakah kesempatan untukku? Satu kali saja?"


Oh, tidak. Setelah sekian lama mengabdikan diri, berusaha menjadi istri yang baik dengan memenuhi segala kebutuhan suaminya, tiba-tiba saja dengan mudahnya William berkata begitu?


Tak semudah itu bambang!


"Sudah banyak kesempatan yang saya berikan untuk Anda selama ini dan Anda hempas begitu saja, seolah saya tak berarti. Lalu kesempatan apa lagi yang Anda maksud?" Bibir Cinta rasanya gatal jika tidak menjawab ucapan William.


"Aku akan berusaha memperbaiki diri Cinta, tolong ... Satu kali kesempatan saja."


"Untuk apa? Bukankah seharusnya Anda senang karena dengan perpisahan ini Anda bisa bebas mengejar Raisa. Anda sangat mencintainya bukan? Anda tidak bisa berjauhan dengannya, Anda tidak bisa berhenti memikirkannya? Saya nggak mau jadi penghalang di antara hubungan kalian, dan saya tekankan sekali lagi, saya tidak suka menjadi pemeran figuran," sindir Cinta.


Bak ditusuk dengan puluhan anak panah, William sendiri tak tahu kenapa dia merasakan kesakitan yang luar biasa ketika Cinta mengatakan itu padanya.

__ADS_1


Tak ada yang salah dengan ucapan Cinta, lantas kenapa dia mesti sedih? Seakan hatinya terkoyak.


"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan, sebaiknya Anda segera angkat kaki dari sini. Silakan, Anda tahu di mana letak pintu keluarnya kan?"


Cinta berdiri, tangannya bergerak mempersilakan lelaki itu untuk pergi dari sana. Sudah cukup. Cinta tak mau berhubungan lagi dengan pria itu.


"Aku akan tetap datang sampai maaf itu keluar dari bibirmu untukku. Aku tahu aku sangat berdosa padamu."


"Sepertinya Anda tidak perlu repot-repot datang ke mari lagi, saya sudah memaafkan Anda, jadi berhentilah menginjakkan kaki di rumah ini."


Tanpa menatap William sedikitpun, Cinta langsung mengunci pintu.


'Aku sudah berusaha untuk menghindar, tapi kenapa dia malah selalu datang.'


.


.


Menikmati siraman cahaya perak yang berpadu dengan desau angin, menambah semarak suasana malam ini.


Raisa duduk terpekur di balkon kamarnya. Sepiring buah potong segar telah berhasil masuk ke dalam perutnya. Seraya mengelus bagian yang sudah membuncit itu, Raisa terus mengulum senyum.


"Ini kuenya. Kau mau aku ambilkan apa lagi?" Willmar datang dengan beberapa potong red velvet dalam piring datar.


"Sudah cukup."


"Aku perhatikan kau menjadi pendiam akhir-akhir ini Will?"


"Biasa saja," jawab Willmar acuh.


"Will, aku nggak mau hubungan kita menjadi tegang seperti ini. Berapa kali kukatakan, aku hanya mencintaimu," lanjut Raisa.


"Aku percaya."


"Lalu kenapa kamu berubah menjadi pendiam seperti ini?"


"Aku hanya masih belum bisa menerima kenyataan kalau saudara kembarku juga mencintai istriku. Dia menginginkan wanita yang paling aku cintai di dunia setelah Mama. Bagaimana bisa aku menerimanya?"


"Awalnya juga aku nggak tahu Will. Malam itu, saat kau pulang dari Singapura. Cinta datang ke rumah, dan dia mengatakan soal itu."


"Aku nggak nyangka, ternyata itu alasan Kak Willi, padahal selama ini aku pikir sikapnya ke kamu karena murni dia anggap kamu adik, tapi ternyata ..." Willmar tersenyum satir.


"Dalam hal ini Cinta lah yang paling menderita Will. Aku nggak nyangka kalau sikapku yang biasa aja ternyata bisa nyakitin dia," sesal Raisa.

__ADS_1


"Kau sungguh tidak memiliki perasaan apapun terhadap kakakku?"


"Ya Tuhan, bagaimana bisa kamu sampai punya pikiran kayak gitu Will," tampik gadis itu.


"Entahlah. Kenyataan ini benar-benar membuatku syok, apa lagi kalau ingat betapa manjanya kamu sama Kak Willi."


"Demi Tuhan Will, aku sama sekali nggak ada rasa apa-apa sama Kak Willi. Aku cuma anggap dia kakak, nggak lebih. Lagi pula kalau aku emang suka sama dia, kenapa kemarin aku nyuruh dia buat berhenti temuin aku? Kamu mikirin perasaan aku nggak sih, Will?"


Raisa yang kesal pun memutuskan meninggalkan suaminya. Genangan yang coba dia tahan sejak tadi akhirnya runtuh juga. Ia tak menyangka suaminya akan menuduhnya sekeji itu, padahal sikapnya terhadap William selama ini adalah murni karena dia menganggap lelaki itu sebagian kakaknya.


.


.


William memasuki rumahnya. Saat menginjakkan kakinya di rumah itu, rumah dalam keadaan gelap gulita. Setelah menyalakan lampu, William menyeret kakinya menuju dapur. Membuang tas dan jasnya asal.


Tak ada makanan, tak ada secangkir kopi yang senantiasa Cinta sajikan untuknya seperti sebelumnya.


Duduk di pantry, bayangan Cinta yang sedang memasak dengan senyum cerianya berkelebatan. Rumah ini begitu sepi. Hening.


William kesepian.


Usai mandi, lelaki itu pun membuka kulkas, berniat membuat makan malamnya sendiri. Menghela napas panjang, isi di dalamnya telah kosong, hanya ada beberapa butir telur, sosis dan juga bakso. Hampir tak ada apa-apa lagi selain itu.


Lagi, William teringat sosok itu. Sosok yang selalu memberikan senyum dalam keadaan apapun, sosok penuh ketulusan dan lemah lembut. Selama menjadi suami istri, belum pernah sekalipun Cinta meninggikan suara saat berbicara dengannya.


Cinta selalu memperlakukan William tak ubahnya raja. Memenuhi semua kebutuhan lelaki itu, selalu mendahulukan kepentingannya dibandingkan urusan pribadi Cinta.


Nasi dengan sebuah omelet ala kadarnya, terasa seperti batu. William tak sanggup menelannya.


Kembali ke kamarnya. William menelusuri setiap sudut ruangan itu. Sama sekali tak ada yang berubah. Terakhir kali Cinta yang menata kamarnya.


William merebahkan tubuhnya yang begitu letih di atas pembaringannya. Tak ada lagi sosok yang menempati rang di sebelahnya.


Kosong.


Hampa.


William benar-benar tersiksa. Tak peduli seberapa keras dia berusaha menutup mata, bayangan Cinta selalu datang menggodanya.


Butir bening berjatuhan tanpa dapat William kendalikan. Batinnya menjerit. Apakah dia sedang disiksa? Mengapa dia merasa sangat menderita dengan semua ini, bukankah dia tidak mencintai Cinta.


William tersiksa memikirkan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya. Dadanya bergemuruh.

__ADS_1


Wanita yang selama ini sepenuh hati mengabdikan diri padanya, menjadikannya pria paling beruntung di dunia ini, telah dia sia-siakan. Pantaskah jika dia meminta kesempatan pada Cinta? Sementara hatinya masih sibuk berkelana. Dia sendiri tak tahu apa yang dirinya inginkan.


Bersambung ....


__ADS_2