Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bukan dia


__ADS_3

Di sinilah sekarang Sultan berada, di balkon lantai atas kafe milik Adam. Setelah kepergian pak Dadang beserta petugas kepolisian dari rumahnya. Adam memutuskan untuk mengajak serta Sultan dan Raka untuk bermalam di kafe. Ada dua buah kamar khusus yang memang sengaja dia persiapan jika sewaktu-waktu membutuhkannya.


Angin yang berhembus semilir terasa dingin membelai kulit ketiga pria yang saat itu masih terjaga. Jarum jam dinding telah berada tepat di angka tiga namun tak ada tanda-tanda kantuk yang menyerang mereka. Ketiganya masih terus berbincang untuk mencoba membantu memecahkan masalah yang menimpa Sultan.


"Apa kalian sudah menelpon istri kalian dan memberitahukan keadaan kalian pada mereka?" lirih Sultan. "Mereka pasti mencemaskan kalian, hari sudah hampir pagi dan kalian belum juga pulang."


"Kau tidak perlu mencemaskan soal itu, kami sudah mengurusnya dengan baik. Sekarang fokus saja pada misi pencarian Hanum, kita tidak bisa hanya mengandalkan polisi saja," Adam menyahut.


"Ya, dan kita harus bergerak cepat!" Raka menimpali.


Sultan menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


"Tidak sia-sia kita kalap makan sampai menghabiskan seluruh isi piring yang di sajikan oleh pelayan Adam. Tahu begitu seharusnya kita makan lebih banyak lagi tadi Ka," Sultan melirik ke arah Raka kemudian tersenyum masam. "Aku bahkan sudah tidak memiliki tenaga lagi sekarang." pria itu memijit pelipisnya, kepalanya hampir pecah karena terus menerus memikirkan bagaimana keadaan istrinya saat ini.


"Bisa-bisanya kau bergurau di saat genting seperti ini." Raka mendengus kesal.


"Memang apa lagi yang bisa aku lakukan saat ini? aku akan menemui Dion di rumah nya dan kalian terus melarangku."


"Setidaknya tunggulah tiga jam lagi, tidak baik bertamu pagi buta ke rumah orang," ucap Adam.


"Kau selalu saja berkata seperti itu sejak tadi, mengingatkan aku untuk selalu menjunjung tinggi sopan santunku tanpa pernah memikirkan perasaanku. Bagaimana dengan dia yang selama ini selalu bersikap kurang ajar padaku? hah ... bisa gila aku!" Sultan menarik kasar rambutnya.


"Tidak perlu kesal begitu! kau yang akan rugi sendiri jika sampai marah padaku." Adam mencebik.


Sepi.


Ketiganya kembali terdiam, memegang cangkir masing-masing dengan pikiran yang mengembara entah kemana.


"Apa kau yakin kalau Dion yang menjadi dalang di balik semua kejadian ini?" tanya Adam hati-hati, takut pertanyaannya kembali menyulut emosi Sultan.


"Bukankah tadi polisi sudah menunjukkan hasil rekaman CCTV yang aku pasang secara tersembunyi di setiap sudut ruangan?" Sultan balik bertanya.


"Dan dari semua rekaman yang berhasil di kumpulkan, tidak ada satu pun yang benar-benar membuktikan kalau Dion pelakunya," ucap adam.


"Tadinya aku berpikir kalau ada dua orang yang bisa kita curigai dalam hal ini, salah satu dari dua lalat pengganggu itu."


"Lalat pengganggu?" ucap Adam dan Raka bersamaan.

__ADS_1


"Hanya ada dua tersangka yang bisa aku curigai, Mauryn dan Dion. Melihat latar belakang mereka, rasanya tidak ada tersangka lain. Dan alasan kenapa mereka menculik Hanum sudah jelas, jika lalat pengganggu betina yang melakukannya itu jelas karena dia merasa terganggu dengan kehadiran Hanum. Dan jika yang melakukannya lalat pengganggu pejantannya, sudah pasti karena pria kurang ajar itu memang menginginkan Hanum untuk menjadi miliknya. Setelah melihat salah satu cuplikan rekaman CCTV yang aku pasang di balkon lantai atas menunjukkan kalau beberapa hari yang lalu, mobil Dion tertangkap kamera sedang terparkir di seberang jalan, dan itu berlangsung cukup lama, dia memarkirkan mobilnya selama lebih dari tiga jam di sana. Aku rasa itu cukup menjadi bukti kalau dia lah dalang di balik semua kejadian ini," terang Sultan panjang lebar.


"Sudah ku bilang untuk jangan mudah mengambil keputusan sebelum kau yakin dan mengumpulkan bukti sebanyak mungkin," sergah Adam.


"Memang kau pikir apa yang dia lakukan di tengah malam begitu kalau bukan untuk mengetahui seluk beluk rumahku dan merencanakan siasat jahatnya? kau pikir dia kurang kerjaan apa malam-malam sengaja datang dan memantau keadaan rumahku kalau memang tidak untuk merencanakan sesuatu?" suara Sultan kembali terdengar meninggi.


"Atau bisa saja dia bersekongkol dengan Mauryn untuk menculik Hanum. Siapa yang tahu?" Raka mengangkat kedua pundaknya


"Aku rasa itu tidak mungkin!" seru Sultan, "Mereka berdua itu selalu berbeda pendapat, keduanya juga sering berlawanan jadi aku rasa mustahil jika mereka bekerja sama untuk menculik istriku."


Adam menghela nafas berat, tidak hanya Sultan yang kepalanya hampir pecah karena terus memikirkan tentang kejadian ini. Dirinya pun sempat menelan pil pahit untuk menghilangkan rasa sakit yang terasa begitu menyiksa di kepalanya.


.


Pukul enam lebih sepuluh menit, mobil yang di kendarai oleh Adam telah sampai di sebuah rumah yang sudah dapat di pastikan rumah siapa itu.


Ketiga pria itu bergegas masuk ke dalam rumah Dion, melihat Dion yang sedang santai menikmati sarapannya membuat Sultan terbakar emosi.


"Dasar pria kurang ajar, katakan di mana kau menyembunyikan Hanum? katakan!" Sultan mencengkeram kerah kemeja Dion dengan erat. "Kau pria tidak tahu diri, bisa-bisanya kau membawa lari istri orang dan menyembunyikannya!"


"Sebenarnya apa yang kau bicarakan? aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu," kata Dion, dia begitu terkejut melihat kedatangan pria itu yang mendadak dan menyerang dirinya secara brutal.


"Aku tidak tahu! aku sama sekali tidak tahu apa maksudmu!" Dion berteriak.


Bug


Pukulan pertama yang di layangkan Sultan mendarat dengan cantiknya di wajah Dion, meninggalkan luka lebam di sana.


"Ada apa ini sebenarnya Tuan? tolong jangan main kekerasan! kalau ada masalah sebaiknya di bicarakan baik-baik." pembantu Dion memekik ketakutan hendak menghalangi Sultan yang sudah bersiap untuk memberikan pukulan keduanya pada Dion.


"Sebaiknya Bibi masuk ke dalam saja, biarkan mereka menyelesaikan masalah ini dengan cara mereka sendiri. Mereka sudah sama-sama dewasa, bibi tidak perlu menghawatirkan mereka." Raka mendekati perempuan tua yang mulai menangis ketakutan. "Pergilah Bi, masuklah ke dalam kamarmu." Raka mengulang kembali ucapannya begitu melihat wanita itu ragu-ragu untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Kau selalu saja mengujiku dan aku sudah kehilangan kesabaranku saat ini. Sikapmu sudah tidak bisa di tolerir lagi!" sekali lagi Sultan menghadiahi Dion dengan pukulan yang lebih keras dari yang pertama dia berikan.


Darah segar mengucur dari lubang hidung Dion, membuat Adam menggeram kesal. Berulang kali dia menggelengkan kepalanya, dia tahu betul kalau saat ini Sultan sudah benar-benar dikuasai oleh emosi yang menyebabkan pria itu melakukan tindakan kekerasan.


"Cukup!" Adam menepis tangan Sultan yang masih terus menggenggam kemeja Dion, sudah saatnya dia bertindak atau Sultan bisa berbuat lebih menakutkan lagi jika pria itu tetap di biarkan. "Biar aku saja!" ucap Adam, dia menyingkirkan tubuh temannya dan mengambil alih posisinya.

__ADS_1


"Biarkan aku memberi pelajaran pada laki-laki pengecut ini Dam!" pekik Sultan yang masih di liputi emosi.


"Jangan menghabiskan tenagamu untuk mengurus pria tidak tahu malu ini, biar aku saja yang akan mengurusnya!" kata Adam, dia melirik Raka, mengkode pria itu untuk menjauhkan Sultan dari Dion.


"Biarkan aku menghajarnya! aku sendiri yang akan membunuhnya kalau sampai terbukti dia yang menculik Hanum." Sultan berteriak sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari jeratan Raka.


"Pukul aku! bunuh aku sekalian jika itu bisa membuatmu merasa puas, tapi aku tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan." kali ini Dion menyahut, mengelap darah yang masih menetes dari hidungnya dengan lengan kemejanya.


"Bohong!" Sultan balas meneriaki Dion.


Adam termangu melihat kedua pria yang saling berteriak di hadapannya sementara Raka masih terus memegangi kedua tangan Sultan, mencegah pria itu kembali menghajar Dion.


Tubuh Dion melemah, dia mendaratkan bokongnya di bangku yang tadi sempat di duduki olehnya.


"Aku mungkin lelaki pengecut, kurang ajar dan tidak malu tapi aku masih punya harga diri. Aku memang jatuh cinta pada istrimu tapi aku tidak akan melakukan cara kotor untuk mendapatkan Hanum," ucap Dion.


"Dasar pembohong besar! lalu apa yang kau lakukan di apartemenku dulu? masuk mengendap-endap dan berusaha melecehkan Hanum, apa kau pikir caramu waktu itu tidak kotor dan itu sebabnya kau mau mencobanya lagi kali ini?" Sultan yang sedikit lebih tenang masih berusaha menyerang Dion meski pun dia tidak bisa menyerangnya secara fisik.


"Itu terjadi karena dulu aku di butakan oleh rasa dendam yang ada dalam diriku. Aku berpikir kau lah yang menyebabkan Mauryn meninggalkan aku. Dan aku telah menyadarinya sekarang kalau kesalahannya bukan ada dalam dirimu melainkan pada diri Mauryn. Seiring berjalannya waktu, aku yang diam-diam mengamati istrimu mulai jatuh cinta padanya, dia mulai membuka mata hatiku, menghilangkan semua kebencian dan setiap duka mendalam yang selama ini aku pendam." Dion beralih menatap Sultan. "Aku mungkin bukan pria yang baik tapi aku masih punya hati. Aku tidak mungkin tega memisahkan seorang istri dari suaminya terlebih dalam keadaan berbadan dua seperti itu. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu, terserah kau mau mempercayai aku atau tidak."


"Apa aku bisa memegang kata-katamu?" suara Sultan terdengar melunak begitu mendengarkan penjelasan Dion.


"Aku berani bersumpah demi apapun, aku benar-benar tulus mencintai Hanum jadi bagaimana mungkin aku tega menyakitinya. Aku dan Mauryn memang telah hidup bersama selama bertahun-tahun, tapi kami berdua jelas berbeda. Aku bukan tipikal orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Jadi jika kamu bukan kamu pelakunya, hanya tersisa satu orang yang bisa kita mintai keterangan." Adam melirik Sultan.


Ketiga pria itu bergegas angkat kaki dari rumah Dion.


"Tunggu!"


Mendengar perkataan Dion membuat Adam, Sultan dan Raka menghentikan langkahnya secara bersamaan. Ketiganya kompak menoleh ke belakang.


"Izinkan aku ikut bersama kalian. Setidaknya aku bisa melakukan hal kecil untuk membantu menemukan keberadaan Hanum." Dion berjalan mendekati ketiga pria yang sudah sampai di depan pintu.


.


Bantu Like dan vote dong Sayang 🤭🥰🥰 jangan lupa tinggalkan komen juga, kan biar aku makin semangat up bab selanjutnya 😊

__ADS_1


Terimakasih aku ucapkan buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan recehku ini 🙏🙏 Saranghaeyo 😘😘😘


__ADS_2