
"Sayang, Jayden gimana? udah nggak demam kan?" William meletakkan jas serta jasnya di sofa kamar mereka.
"Udah nggak demam Mas, cuma ya itu masih agak rewel." wanita itu menyodorkan secangkir kopi untuk suaminya.
"Nyenyak banget tidurnya."
"Tadi sempat nangis, mungkin nyariin keberadaan mamanya soalnya dari pagi dia sama sekali belum ketemu Raisa."
Setelah mengecup dan mengusap wajah anaknya, William pun duduk di sofa menikmati kopinya.
"Gimana keadaan Raisa Mas? dia nggak apa-apa kan?"
William mengabari istrinya dan mengatakan dia akan ke rumah sakit sepulang dari kantor untuk menjenguk Raisa.
"Dia baik-baik aja, hanya perlu dirawat intensif sampai dokter menyatakan dia telah pulih dan diperbolehkan pulang," terang William.
"Lho katanya nggak apa-apa, kok malah dirawat?"
"Sini." menepuk pahanya dan meminta Cinta untuk duduk di pangkuannya.
"Aku berat lho," kata Cinta, tapi tetap menuruti suaminya.
"Selalu itu yang kamu katakan. Hanya empat puluh sembilan kilo."
Cinta terkekeh, William sampai tahu berat badannya.
"Jadi, ternyata Raisa itu pendarahan bukan karena penyakit, tapi karena dia sedang hamil." William memulai ceritanya.
"Ya Tuhan, bagaimana mungkin itu terjadi? bukankah rahimnya ..." Cinta tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Iya, semua orang juga berpikir begitu tapi kenyataannya memang dia sedang hamil Sayang. Aku ikut masuk buat lihat pemeriksaannya lho."
"Tapi bagaimana bisa?"
"Karena keajaiban Tuhan mungkin, karena kenyataannya rahimnya masih utuh Sayang, ternyata suster salah memberikan data pasien jadilah semua kesalahpahaman ini terjadi."
"Syukurlah Mas, aku ikut bahagia mendengarnya." mata Cinta berkaca-kaca.
"Ya, aku juga begitu. Sudah cukup penderitaan yang mereka alami selama ini." William menimpali.
"Jadi bagaimana keadaan janin Raisa? aku rasa dia pendarahan karena kecapekan sehabis bulan madu langsung mengurusi Jayden," ucap Cinta penuh sesal.
"Bukan Sayang, dua hal yang kamu sebutkan tadi itu hanya faktor pendukung saja karena penyebab utama Raisa mengalami pendarahan karena Willmar terus menerkamnya sepanjang malam." William terkikik sendiri mendengar ucapannya.
"Ya Tuhan. Rai memang hot, nggak heran kalau kembaranmu itu suka nggak tahan." Cinta ikut terkekeh.
"Kasihan dia Yang," kata William.
"Kenapa emangnya?"
"Disuruh puasa juga sama Rania sampai tiga bulan."
Sepasang suami istri itu tertawa bersamaan, sepertinya yang terjadi pada Willmar adalah balasan karena pria itu seringkali menggoda kakaknya. William mencium bibir Cinta karena tak tahan saat melihat bibir wanita itu sedikit terbuka saat tertawa, terlihat sangat menggoda di matanya.
"Mas," cegah Cinta saat merasakan ciuman pria itu makin liar dan menuntut.
William tergelak. "Sorry, suka kelepasan."
"Masalahnya Jayden pasti bangun sebentar lagi," sergah Cinta. "Lagian kamu juga belum makan."
"Oke, aku mandi dulu habis itu temani aku makan ya? kamu udah makan belum?"
"Udah, lapar banget habis perah asi tadi. Nanti aku temani kamu aja."
"Iya, tapi jangan lupa nanti malam ya!"
"Apa?"
__ADS_1
"Jatahku. Kita harus melanjutkan acara yang tadi." William menaikturunkan alisnya sambil menatap bibir ranum Cinta.
"Hm. Soal yang satu itu nggak mungkin kamu bisa melewatkannya Mas," sindir wanita itu.
"Itu tahu."
Cinta turun dari pangkuan suaminya, membiarkan pria itu masuk kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya.
.
.
Sultan duduk dengan membiarkan bahunya menjadi sandaran Hanum melepas penat.
"Berhenti nangis Ma, kamu terlampau emosional sejak mengetahui kehamilan Rai."
"Aku sangat bahagia Mas. Akhirnya anak-anak kita hidup dengan bahagia."
Hanum memang akan memanggil suaminya dengan sebutan 'mas' jika hanya ada mereka berdua saja. Sultan tahu selama ini meski Hanum bersikap biasa-biasa saja dan terkesan ceria, tapi dalam hati istrinya itu menyimpan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan Hanum akan rasa iri yang timbul di hati Willmar dan Raisa atas keberhasilan kakaknya mendapatkan Jayden, Hanum takut hal itu akan menjadi awal petaka masalah baru yang bisa saja muncul di satu hari nanti. Hampir tiap malam sebelum tidur, wanita itu selalu merenungi hal itu, tapi sejak hari ini dia tak perlu mencemaskannya lagi. Dia akan tidur dengan nyenyak nanti.
"Kamu bisa tidur dengan nyenyak nanti, semua yang mengganjal di hati dan pikiranmu sudah lenyap. Hiduplah dengan baik Sayang, selama ini kamu sudah sangat menderita," ucap Sultan.
"Sama sekali tidak Mas, semua yang telah terjadi, aku nggak akan pernah menyesalinya."
Sultan membawa kepala Hanum menuju dadanya, memeluk erat belahan jiwa yang menemaninya selama puluhan tahun. Ia bersyukur karena di masa tuanya mereka bisa menjalani hidup dengan tenang. Cinta di antara keduanya juga senantiasa mekar meski usia mereka tak lagi muda.
Sementara itu di dalam bangsal rawat. Raisa yang memang pada dasarnya manja, makin menjadi-jadi saja manjanya saat tahu dirinya hamil. Ia terus menahan suaminya untuk selalu berada di dekatnya, hanya untuk buang air pun tak boleh lebih dari lima menit.
"Terima kasih Sayang. Aku nggak tahu musti ngomong apa lagi sama kamu." sedari tadi kening Raisa tak luput dari bibir Willmar.
"Mas bahagia?"
"Tentu. Dalam keadaan apapun, asal bersamamu maka aku akan selalu bahagia."
"Jadi dengan ngomong begitu kamu mencoba bilang kalau Mas nggak suka aku hamil?"
"Tadi kan Mas bilang sendiri katanya kamu selalu bahagia kalau sama aku dalam keadaan apapun. Itu artinya Mas nggak suka aku hamil," oceh Raisa.
"Astaga Sayang, bukan begitu. Maksudku aku memang selalu bahagia saat bersamamu, dan mendengar ada benihku tumbuh di rahimmu, tentu saja aku luar biasa bahagia."
Sedikit banyaknya Willmar mulai paham dengan perubahan sikap istrinya. Ternyata faktor hormon kehamilan yang membuat tingkat manja dan sensitivitas wanita itu menanjak drastis. Sudah seperti roller coaster yang tiba-tiba naik lalu dengan cepat menukik turun, dan ini baru permulaan.
"Sungguh?" Raisa menatap suaminya penuh selidik.
"Iya, dan kamulah alasan kebahagiaanku." Willmar merengkuh tubuh Raisa. Cara yang dia pikir paling ampuh untuk menghentikan kemarahan wanita itu.
"Mas," panggil Raisa lirih.
'Hm, semoga saja bukan sesuatu yang buruk.'
mengingat sejak tadi pagi Raisa terus memanggilnya dan setelah itu bisa ditebak apa yang akan terjadi. Keributan karena tutup pasta gigi yang tidak terpasang saja sudah seperti kesalahan besar yang Willmar lakukan. Pria itu mengelus dada berharap kali ini bukan keburukan yang akan menimpanya.
"Apa Sayang?" suaranya dibuat selembut dan sepelan mungkin.
"Lapar," rengek Raisa.
"Oh iya Sayang, kamu kan hanya makan sedikit pas makan siang tadi. Saking bahagianya aku sampai lupa nggak nawarin kamu makan. Kasihan sekali istriku ini." Willmar mencubit pipi Raisa gemas. "Mau makan apa?"
"Pecel ayam boleh?"
"Harus itu?" tanya Willmar.
"Iya, aku inginnya itu."
"Sebentar aku tanya sama mama dulu ya, kamu dibolehin makan makanan itu nggak sama mama."
"Iya, jangan kelamaan?"
__ADS_1
"Cuma mau tanya sama mama doang di luar, aku nggak akan pergi ke mana-mana," balas Willmar.
"Iya, nanti pesan pecel ayamnya di aplikasi aja."
"Iya Sayang."
Willmar bangkit dari bed dan membuka pintu kamar itu, mencari keberadaan ibunya. Matanya terbelalak saat melihat orang tuanya tengah duduk saling berpelukan di kursi tunggu.
"Ish ... ish ... ish. Mama sama papa kalau mau mesra-mesraan jangan di sini, udah sana pulang aja nggak apa-apa."
"Bicaramu ngawur." Hanum melepaskan diri dari pelukan suaminya, sementara Sultan hanya tersenyum tipis.
"Aku nggak mau ya mama sama papa sampai bikin adik lagi buat aku sama Kak Willi, kalian udah mau punya tiga cucu, ingat!"
"Makin ngelantur kamu ya, mau Mama pukul pakai tas Mama lagi? mau kamu!" seru Hanum, geram.
"Duh, galak banget. Mama udah kelamaan nggak diajak papa naik kapal ya?" Willmar terkekeh.
"Kapal apa lagi?" masih antara ibu dan anak itu yang mendominasi percakapan.
"Kapal pesiar, mendayung pulau kenikmatan," kata Willmar.
Plak!
"Auw! Mama ih, sakit tahu." Willmar meringis saat bahunya kembali menjadi sasaran tas mahal ibunya.
"Apa Mama perlu pukul mulutmu juga biar kamu nggak sembarangan kalau ngomong?"
"Iya, iya ... ampun Ma."
"Mas Willmar!" teriakan Raisa terdengar.
"Iya Sayang, bentar." Willmar pun menyahut setengah berteriak.
"Ada apa Dek?" Sultan bertanya.
"Hm, itu Pa, Ma. Rai katanya lapar mau makan pecel ayam. Boleh nggak Ma, kira-kira?"
"Ya boleh lah Sayang. Orang cuma pecel ayam doang kok," jawab Hanum.
"Masalahnya kan dia habis pendarahan, ya aku pikir musti dijaga banget pola makannya."
"Nggak masalah. Biarin dia makan apa yang mau dia makan, toh Rania juga nggak menyebutkan kalau Raisa ada pantangan makanan."
"Ya udah deh, terima kasih Mama. Aku mau pesan dulu." Willmar merogoh saku celananya.
"Pesankan buat mama sama papa sekalian ya," timpal Sultan.
"Buat apa? pesan dua aja buat aku dan Raisa." Willmar menjawab, tangannya sibuk menggulir layar ponselnya.
"Emang kamu pikir papa sama Mama nggak lapar apa?" Hanum mendelik.
"Mama sama papa bisa pulang sekarang dan mampir untuk makan malam. Bukankah Mama sama papa mau melanjutkan yang tadi?" Willmar tersenyum penuh arti.
"Yang tadi apa?" tanya Hanum, bingung.
"Mau bikin adik buat aku dan Kak Willi," cetus Willmar.
"Anak kurang ajar!" Hanum bersiap melayangkan kembali tasnya, tapi belum sempat tas itu mendarat di bahu Willmar, Willmar sudah lebih dulu kabur.
"Aku sama Rai nggak apa-apa Ma ditinggal, kalian bisa mendayungi pulau kenikmatan tanpa ada yang mengganggu."
"Willmar!" teriak Hanum. Wanita itu geram bukan main.
Sultan terbahak, membiarkan istri dan anaknya itu menyelesaikan pertarungan yang pada akhirnya harus dimenangkan oleh putra mereka.
Bersambung ....
__ADS_1