
"Kemana kamu akan membawaku pergi?"
Untuk kesekian kalinya Wina menanyakan hal yang sama.
"Mencari orang yang bisa menikahkan kita," balas Dion sekenanya.
"Apa kamu gila? Berapa kali sudah aku katakan padamu, menikah itu tidak semudah yang kau bayangkan!" sentak Wina.
"Ya, aku memang sudah gila! Aku menjadi gila karenamu dan aku tidak peduli!"
Wina menghempaskan tubuhnya di sandaran jok mobilnya.
Dion benar-benar tidak berubah, pria itu masih keras kepala seperti dulu. Daripada membuang tenaga yang bisa menguras kembali emosinya, Wina lebih memilih diam. Memberikan waktu setidaknya untuk Dion bisa berpikir dengan jernih.
.
"Mas, bagaimana tadi? Apa Dion berhasil menggagalkan kepergian Wina?" cecar Hanum begitu melihat kedatangan suaminya.
"Kelihatannya kau begitu penasaran," Sultan mencebik.
"Tentu saja aku penasaran, jadi bagaimana hasilnya Mas?" Hanum terlihat begitu tak sabar.
"Setidaknya biarkan aku duduk dulu, ambilkan aku minum," rengek Sultan bak anak kecil.
"Maafkan aku, aku sampai lupa tidak menyambutmu terlebih dulu. Bukannya memberimu minum malah langsung menyerangmu dengan segala macam pertanyaan," sesal Hanum.
Dia pun bergegas masuk ke dapur, mengambil sebotol air dingin dalam kulkas kemudian meraih gelas dan membawanya ke ruang tengah.
"Nah, minumlah!" Hanum menyodorkan air dingin yang berhasil ia tuang ke dalam gelas.
Sultan menerimanya dan tak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan cairan bening dalam gelas kaca tersebut.
"Dimana kakek?"
"Sedang istirahat di kamarnya. Cepat jawab dulu pertanyaanku," cecar Hanum.
"Pertanyaan yang mana?"
Seperti Sultan sedang ingin menguji kesabaran istrinya.
"Yang tadi itu, soal Dion." gemas, Hanum mengguncang lengan suaminya beberapa kali.
"Soal itu, sayangnya aku tidak tahu," sahut Sultan sambil meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
"Jangan bercanda, ayo cepat beritahu aku, Mas."
"Sungguh, aku sudah mengatakan semuanya pada Dion sesuai perintahmu tapi aku masih belum mengetahui hasil akhirnya. Ponselnya mati," jelasnya pada Hanum.
"Kenapa pakai acara kehabisan baterai segala sih, ibarat kata seperti aku lagi seru-serunya nonton drama Korea tapi tiba-tiba bersambung."
Sultan tertawa kecil mendengar penuturan istrinya.
"Barangkali saja ponselnya masih terisi penuh dengan baterai?" cetus Sultan.
"Ish, bagaimana sih. Tadi Mas bilang katanya ponsel Dion mati kan?"
"Bukan mati karena kehabisan baterai, bisa saja saat ini Dion marah karena terlambat sampai di bandara lalu membanting ponselnya," papar Sultan.
"Ah, bukannya berpikir yang baik-baik," ketus Hanum.
"Berpikir yang baik-baik memang wajib hukumnya, tapi memikirkan kemungkinan terburuk juga perlu."
"Ya sudah cepatlah mandi!" perintah Hanum pada suaminya.
"Memang kenapa kau menyuruhku untuk cepat-cepat mandi?" tanya Sultan diselipi tatapan jahil.
"Tentu saja karena badanmu pasti terasa lengket setelah bekerja seharian kan, Memangnya apa yang kamu pikirkan?" Hanum mencebik.
"Aku pikir karena kamu sudah tidak tahan untuk ...,"
Plak!
Tubuh Sultan terlonjak kaget dan seketika sensasi panas menjalar ke sekujur tubuhnya. Rasanya lengannya kebas begitu mendapatkan pukulan maut dari Hanum.
"Bersihkan kepalamu dari pikiran kotor!" seru Hanum.
"Memang ada yang salah jika aku berpikiran seperti itu pada istriku sendiri?"
"Cepat pergi mandi atau aku akan ...," Hanum mengangkat tangannya ke udara.
"Ya, baiklah."
Sultan berlari menaiki anak tangga.
Semenjak hamil, istrinya itu mendadak berubah menjadi galak.
Hanum membawakan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya, dilihatnya Sultan masih sibuk bergelut dengan komputer lipatnya.
"Kopimu Mas."
"Terimakasih kesayanganku." Sultan mencubit kecil hidung istrinya.
"Apa pekerjaanmu masih banyak?"
Hanum bertanya demikian mengingat suaminya sudah cukup lama berada dalam ruang kerjanya tapi muncul tanda-tanda jika pria itu akan kuat dari sana dalam waktu dekat.
"Sepuluh menit lagi, kurang lebih. Kenapa?" tanya Sultan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Tidak ada." Hanum menggeleng.
"Hm, aku ada berita bahagia untukmu." Sultan melepaskan kacamatanya.
"Apa?"
"Tadi Dion sudah menghubungiku dia bilang ...,"
"Apa katanya?" sambar Hanum tak sabar.
"Dia mengatakan jika saat ini dia sedang bersama Wina," ungkap Sultan.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan mereka?" kulik Hanum.
"Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, mereka akan tetap menikah empat bulan lagi."
"Yaah, padahal aku pikir setelah kejadian ini mereka akan mempercepat pernikahan mereka." Hanum terlihat sedikit kecewa.
"Bukankah sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik?" tanya Sultan.
"Ya juga sih, tapi tetap saja aku merasa kecewa. Takut juga nanti kalau mereka berdua sampai berpisah lagi."
"Kau ini sangat lucu!"
Sultan bangkit dari kursinya kemudian mendekati Hanum yang saat itu sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.
"Apanya yang lucu?" kening Hanum berkerut.
"Sekuat apapun kamu berusaha menyatukan mereka jika memang mereka tidak berjodoh, kamu bisa apa? Begitupun sebaliknya, akan seberat apapun cobaan dan godaan yang datang menghampiri tapi jika mereka ditakdirkan bersatu, mereka pasti akan tetap bersama. Tidak ada yang bisa melawan ketentuan Tuhan, jika Dia sudah menggariskan sesuatu untuk terjadi, maka atas KuasaNya, terjadilah."
"Kau terdengar seperti guru agama yang sedang memberikan pelajaran pada muridnya."
Hanum tertawa karena merasa tingkah Sultan sama persis dengan guru agama yang mengajar sewaktu dia SMA dulu.
Sultan terus menatap wajah istrinya, padahal dia merasa tidak ada yang lucu tapi kenapa istrinya tertawa sampai sebegitunya.
Entah untuk yang keberapa kalinya dia terpukau melihat pesona Hanum, yang jelas itu sudah sering terjadi dan dadanya selalu bergemuruh jika berada dalam jarak sedekat ini dengannya. Segala sesuatu yang melekat dalam diri istrinya terasa begitu indah dimatanya. Bola mata yang indah bak kacang almond, alis yang hitam dan tebal layaknya semut yang sedang beriringan, hidung yang mancung dan dagu yang lancip mirip lebah bergantung, belum lagi bibir mungil seranum buah cheri matang. Sungguh pahatan luar biasa, Maha karya Sang Pencipta. Semua yang ada dalam diri istrinya benar-benar menjadi candu baginya.
Cup.
__ADS_1
Masih sambil berdiri dengan sedikit membungkuk Sultan mendaratkan ciuman di bibir tipis yang sudah dia rindukan sejak sore tadi.
Sementara Hanum yang kaget tetap membiarkan suaminya melakukan apa yang sedang diinginkan oleh pria itu, padanya. Ciuman yang disematkan oleh Sultan pada bibirnya terasa begitu lembut, makin lama kian dalam hingga membuat Hanum terhanyut.
"Pindah yuk, kurang seru jika kita melakukannya disini," bisik Sultan di telinga istrinya.
Hanum mengangguk tersipu malu. Rona merah yang timbul di wajahnya membuat Sultan makin gemas.
Pria itu pun menggotong tubuh Hanum, membawanya ke kamar tidur dan segera merebahkannya begitu mereka telah sampai di tempat tidur.
"Wanita suka begitu, malu-malu tapi mau. Awalnya dia menolak tapi jika sudah merasakannya dia akan memintanya lagi," kembali Sultan berbisik sambil melucuti pakaian yang menempel di tubuh Hanum.
Hanum meraih bantal untuk menutupi wajahnya, dia tidak bisa membayangkan akan semerah apa wajahnya. Malu mendengar penuturan suaminya tadi.
.
Keesokan paginya.
Hanum menggeliatkan tubuhnya sesaat sebelum memutuskan untuk turun dari peraduannya. Dia tersenyum begitu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, teringat akan penyatuan kembali yang dilakukan bersama Sultan semalam.
Perlahan dia turun dari kasurnya, mengutip satu per satu pakaian yang tercecer di atas lantai kemudian memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Bunyi kucuran air yang mengalir membuat Sultan pun terjaga. Dia mengerjapkan matanya, merasa silau dengan cahaya matahari yang menyusup dan menerpa wajahnya.
Sama seperti ketika pertama kali Hanum bangun tadi, Sultan pun tersenyum malu ketika melihat tubuh polosnya yang hanya terbalut selimut.
Sudah tak terhitung berapa jumlahnya mereka melakukan penyatuan tapi rasanya Sultan masih saja bertingkah layaknya pasangan pengantin baru.
Dua puluh menit kemudian.
"Hari ini kamu pulang cepat atau ada lembur?"
Hanum sedang mengikat dasi di leher suaminya ketika dia bertanya.
"Hm, seharusnya sih aku bisa pulang lebih awal tapi belum tahu juga nanti, takutnya ada rapat mendadak atau pekerjaan tak terduga lainnya."
Sultan melingkarkan tangannya pada pinggang Hanum. Dia perlu sedikit membungkuk setiap kali Hanum memasangkan dasi untuknya. Hal itu dia lakukan karena tak ingin melihat Hanum kesusahan mengingat tinggi gadis itu yang hanya sebatas dada Sultan.
"Ponselmu bunyi," ucap Hanum pada suaminya begitu dia mendengar getaran ponsel Sultan di atas meja riasnya.
Sultan pun segera mengangkat teleponnya.
Hanum duduk di bibir ranjang sementara pandangannya tak lepas dari suaminya. Pria itu memasukkan tangan kirinya pada saku celananya, ciri khas Sultan ketika sedang terlibat obrolan serius di telepon.
Tak lama kemudian Sultan mendaratkan bokongnya tepat di samping istrinya begitu selesai mengakhiri panggilan masuk itu.
"Sayang," panggilnya lembut pada Hanum.
"Ada apa?" Hanum menggeser sedikit tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.
"Kamu percaya padaku kan?" Sultan terlihat begitu serius.
"Tentu saja aku mempercayaimu kamu kan suamiku. Tunggu! Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu Mas?" desak Hanum.
"Aku berani bersumpah demi apapun juga, aku hanya mencintaimu. Hanya kamu satu-satunya pemilik hatiku, aku sedih karena kau tahu sendiri jika selama ini kami berteman dalam waktu yang cukup lama," oceh Sultan sambil memegangi tangan istrinya.
"Bicara apa kamu Mas, aku masih belum mengerti."
"Jangan marah, ku mohon!" pinta Sultan memelas.
"Aku tidak akan marah, untuk apa aku marah padamu."
Hanum kaget ketika Sultan tiba-tiba memeluknya.
"Perasaanku hancur, hatiku sakit. Dia memang jahat tapi biar bagaimanapun dia pernah menjadi teman dalam suka dukaku."
Hanum membelai punggung suaminya, dia hanya perlu menjadi pendengar yang baik saat ini.
"Kejadian kemarin itu mungkin masih bisa aku terima tapi kali ini ... tidak, aku tidak bisa menerimanya."
"Sumpah demi Tuhan, aku menangis bukan karena memiliki perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menyayanginya sebatas teman, dan aku kasihan padanya, itu saja," imbuh Sultan.
Hanum masih mengusap punggung suaminya, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini sekalipun hanya sekedar memberikan ucapan yang bisa menghibur suaminya. Bagaimana bisa dia melakukan itu sementara dia sendiri masih belum tahu dengan apa yang membuat suaminya menjadi sedih.
"Mauryn, polisi terpaksa memindahkan dia ke rumah sakit jiwa. Dokter bilang mentalnya terganggu," jelasnya.
Hanum tertegun, dia hampir menangis ketika mendengar penjelasan suaminya. Dia juga manusia biasa, wanita yang memiliki perasaan yang sangat halus, hal seperti itu tentu saja membuatnya sedih terlepas dari segala perbuatan jahat yang dilakukan oleh Mauryn padanya.
"Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi padanya," cicit Hanum.
"Dokter yang menanganinya mengatakan kalau dia mengalami syok berat karena mendengar kematian Reno yang mendadak. Dia menyalahkan dirinya atas kematian Reno, dia begitu terpukul itu sebabnya dia melakukan percobaan bunuh diri. Dan begitu bangun setelah melewati masa kritisnya, dia begitu putus asa menyadari usahanya untuk mengakhiri hidupnya menjadi sia-sia. Begitu sadar Mauryn menunjukkan tanda-tanda aneh, sikapnya berubah menjadi seperti orang yang tidak waras. Selama tiga hari ini dokter sudah mencoba mengobservasi kondisi mentalnya dan dengan berat hati dia harus segera dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan yang tepat."
Bulir bening kembali melesat di pipi Sultan.
"Dia gila, temanku gila." tangis pria itu makin tak tertahankan.
.
Empat bulan kemudian.
"Sayang," panggil Sultan.
"Sebentar lagi," Hanum menyahut dari dalam ruang ganti.
"Apa yang membuatmu begitu lama di dalam sana?"
"Ini semua gara-gara kamu Mas!" seru Hanum.
"Lho, kenapa jadi aku yang salah?" sahut Sultan sambil berdiri di samping pintu.
"Itu karena kau sejak tadi melarangku untuk memakai gaun yang aku pilih. Terlalu terbuka lah, potongannya terlalu pendek lah, tidak ingin nantinya aku jadi sorotan mata para lelaki tamu undangan lah," oceh Hanum menirukan suaminya.
"Kan sudah aku ganti dengan gaun yang sesuai dengan seleraku. Tidak begitu terbuka di bagian atas, dan tidak terlalu pendek dibagian bawahnya."
"Tapi ini kekecilan! Sudah tidak muat sementara aku kan sedang berbadan tiga!"
Untuk kesekian kalinya Sultan terbahak. Drama gaun yang hendak dipakai oleh Hanum untuk ke pesta terus berkelanjutan meskipun hari sudah malam. Hampir dua jam sepasang suami istri itu bersitegang hanya gara-gara gaun.
Ceklak.
Pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Hanum.
"Begitu lebih cantik," puji Sultan.
"Apanya yang cantik, jelek begini!" Hanum masih mendumel.
"Kan sudah menjadi peraturan yang wajib untuk di taati, jangan sampai tamu undangan lebih cantik mengalahkan mempelai wanitanya, ya kan? Untuk kali ini saja, biarkan Wina tetap menjadi yang tercantik di hari bahagianya. Dia akan sedih jika ada yang mengalahkan kecantikannya," celoteh Sultan panjang lebar.
Ya, malam ini memang Sultan dan istrinya akan menghadiri resepsi pernikahan Dion dan juga Wina yang diselenggarakan di salah satu ballroom hotel ternama di Jakarta.
"Sudah jangan cemberut begitu, kau malah membuatku semakin gemas!"
"Jangan macam-macam, apa yang tadi sore itu masih kurang?" hardik Hanum.
Rasanya dongkol jika gadis itu kembali mengingat suaminya yang mendadak mengajaknya bercinta pada sore hari dan itu dilakukannya lebih dari sekali.
Sultan beralasan jika dia sedang ingin melakukannya, terlebih hujan yang terus mengguyur sejak siang yang tak kunjung reda, semakin menambah rasa malas ketika pria itu ingin turun dari ranjangnya.
Dengan kecepatan sedang Sultan terus memacu kendaraannya. Sisa-sisa air yang menggenang di jalanan membuatnya lebih hati-hati lagi mengingat jalanan memang licin.
Seperti biasa, Sultan akan membantu melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuh istrinya kemudian membukakan pintu untuknya.
Suasana gedung tersebut begitu ramai, banyak sekali tamu yang datang untuk memberikan doa restu sekaligus menjadi saksi hidup pada hari bersejarah Dion dan Wina.
Hanum tersenyum begitu dia melihat kedua temannya telah datang lebih awal bersama pasangannya masing-masing.
Disha yang memang baru saja seminggu yang lalu melahirkan bayi perempuan, tak bisa membawanya mengingat kondisinya yang masih sangat kecil. Sementara Ajeng pun tak mengajak Bening ikut serta, malaikat kecil buah cintanya dengan Adam telah terbuai di alam mimpi ketika mereka berangkat tadi.
__ADS_1
Suasana meriah memenuhi setiap sudut ruangan luas yang dipenuhi dengan dekorasi elegan tersebut.
Hanum tengah asyik mengobrol dengan para teman-temannya, sementara para kaum suami sedang gencar menggoda Dion yang masih duduk di pelaminan.
Ketika sedang menikmati satu cup es krim coklat yang sempat diambil oleh Hanum tadi, mendadak gadis itu merasakan nyeri di bagian perutnya.
"Ssshh ...," Hanum mendesis, hampir saja cup di tangannya jatuh.
"Kenapa Num?" tanya Ajeng panik.
"Perutnya sakit Jeng."
Tubuh Hanum merosot, untung dengan sigap Disha mengulurkan bangku agar Hanum bisa duduk diatasnya.
Ajeng membantu mengelap keringat dingin yang merembes di kening temannya.
Hanum terus meringis kesakitan. Rasa sakit di perutnya semakin sering terasa, dan saat itu juga, keluar cairan dari sela-sela kakinya.
"Ya Tuhan, kamu mau melahirkan Num," pekik Ajeng yang melihat cairan merembes pada gaun yang dikenakan temannya. "Cepat panggilkan suaminya!" perintahnya pada Disha.
Disha berlari menuju pelaminan, dia sampai menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya.
"Sultan ... Sultan!" panggil gadis itu begitu sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka.
"Ada apa?"
Sultan panik begitu mendengar Disha berteriak memanggil namanya.
Seperti gadis itu sangat panik hingga membuatnya lupa menyematkan kata 'Tuan' atau 'Mas' seperti biasanya.
"Hanum ...,"
"Iya, ada apa dengan istriku?"
"Hanum ... dia ...,"
"Dia kenapa sayang?" tanya Raka.
"Hanum akan segera melahirkan," ucap Disha lantang.
"Apa?"
Barisan orang yang terkumpul di sana kompak berteriak.
Sultan segera berlari menuju tempat dimana dia meninggalkan istrinya bersama dengan teman-temannya tadi.
Sementara Adam dan Raka saling pandang.
"Inilah lika liku kehidupan, satu sisi ada pasangan yang hendak melakukan pertandingan sepak bola,di sisi lain ada yang mau melahirkan," cetus Adam.
Gelegak tawa pun terdengar membahana, Wina sampai menitikkan air mata karena begitu larut dalam tawanya.
"Tinggal kita tunggu saja kabar selanjutnya, siapa yang akan menjadi pemenangnya. Apakah Dion dan Wina yang lebih dulu gol, atau anak Big boss kita yang akan terlebih dulu lahir," seloroh Raka.
.
Sultan terus berlari mendorong bed yang membawa tubuh Hanum masuk ke dalam rumah sakit.
Untuk pertama kalinya dia merasakan panik yang luar biasa, dia sampai mengoceh tak karuan tadi.
Adam dan Raka beserta pasangan masing-masing pun memutuskan untuk meninggalkan pesta resepsi pernikahan Dion demi menyusulnya ke rumah sakit.
Ajeng berinisiatif untuk mengabari keluarga Sultan. Kebetulan kedua orang tua Sultan sudah tinggal lama dan menetap bersamanya.
Sultan makin gusar tatkala istrinya telah memasuki ruang bersalin. Dia hendak menangis, sepanjang perjalanan tadi saja dia berusaha untuk mengindari bertatapan dengan Hanum. Tak tega rasanya melihat istrinya terus merintih kesakitan.
"Dimana istrimu?" tanya Ratih begitu wanita paruh baya itu tiba di rumah sakit.
"Dia sudah dibawa masuk ke ruang bersalin Mi," adu Sultan.
"Astaga, kenapa kau tidak ikut masuk ke dalam!" omel Ratih.
"Aku takut Mi, aku tidak tega melihat dia kesakitan." dengan tubuh bergetar hebat Sultan menyahut.
"Ah, anak ini! Kau kan suaminya jadi kau harus menemaninya. Dia itu akan berjuang, bertaruh nyawa untuk melahirkan putramu!" kata Ratih masih dengan nada tinggi.
"Bagaimana, apa Mami membawa mantel?" tanya Sultan.
"Mantel?" Untuk apa Mami bawa mantel kemari? Diluar juga tidak hujan."
"Hanum membutuhkannya, Mi. Lalu, apa Mami juga sudah mengangkat kue brownies yang tadi sempat di panggang Hanum dalam oven sebelum kami pergi," racau Sultan.
"Bicara apa anak ini?" gumam Ratih.
"Mohon maaf Tante, sepertinya Sultan mengalami kebingungan," sela Adam. "Dia merasa terkejut dengan kejadian yang baru saja dia alami. Dia begitu excited karena ini pengalaman pertama dalam sepanjang hidupnya. Itulah yang membuatnya terus mengoceh tidak jelas."
"Apa dia juga seperti ini sejak tadi?" tanya Ratih.
"Ya, Tante. Malah lebih parah lagi Dia sampai meninju Raka dan menuduhnya telah menyakiti istrinya," imbuh Adam.
Ratih tak bisa menahan tawanya, bahunya sampai berguncang melihat tingkah konyol putra kesayangannya.
"Astaga, seperti anak ini harus segera disadarkan," gumam Ratih.
Perempuan itu mendekati putranya, duduk berjongkok kemudian menangkup kedua pipi Sultan.
"Nak,"
"Mi, kenapa Papi dan Kakek tidak datang?" sembur Sultan.
"Tidak datang gundulmu, memang kau pikir aku ini hantu apa?" maki Burhan yang tak tahan dengan kelakuan cucunya.
"Anggap saja dia tidak melihat kehadiran kita, Yah," cetus Arya sambil terkekeh.
"Nak, sekarang dengarkan Mami dulu! Mami mau bicara," ucap Ratih dipenuhi kelembutan.
"Ada apa?" Sultan membalas tatapan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Sayang, Nak. Dengarkan Mami, istrimu itu mau melahirkan. Masuklah! Temani dia, kasihan jika dia berjuang sendirian. Setidaknya kau akan lebih mencintai dan menghormati istrimu jika kamu melihat perjuangannya melahirkan anak-anakmu ke dunia."
"Sultan takut Mi," cicit Sultan.
Orang-orang yang ada di sana berkumpul menjadi satu, mengelilingi Sultan dan Ibunya demi bisa melihat tingkah absurd Sultan.
"Memang apa yang membuatmu takut?" Ratih menatap lekat manik mata anaknya.
"Sultan tidak kuat jika melihat Hanum kesakitan seperti itu," kilah Sultan.
"Jadi?"
"Mami saja yang masuk!"
"Apa? Astaga anak ini kenapa berubah menjadi sangat menjengkelkan di saat genting seperti ini," keluh Ratih. "Jadi kamu tidak mau masuk!"
Sultan menggeleng pelan.
"Masuk!" titah Ratih pada Sultan.
"Tidak!"
"Mami bilang masuk Sultan!"
"Tidak mau!" Sultan masih bersikeras pada pendiriannya.
.
Hallo readers tercintaku yang budiman, semoga masih betah mengikuti kelanjutan kisah HanSul ya. Saya selaku author mohon maaf masih belum bisa menyajikan tulisan yang berbobot untuk kalian, maafkan juga jika masih banyak terdapat kesalahan dalam tulisanku, maklum, masih tahap belajar 🤭 tapi sejauh ini saya sangat terharu dengan kalian yang selalu memberikan dukungan berupa like, komentar positif, dan juga vote. Karyaku masih jauh dari kata sempurna, tapi berkat kalian, saya terus berjuang hingga sekarang dan saya akan terus berusaha,belajar untuk menyajikan tulisan yang lebih baik lagi. Terimakasih 🙏🙏🙏🥰😘😘
__ADS_1