Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Siapa orang itu


__ADS_3

" Sayang ... bangun." Sultan mengusap pipi istrinya, berusaha membangunkan gadis itu.


Perlahan Hanum membuka matanya, dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena terus menguap. Matanya masih terasa berat karena menahan kantuk, baru juga dia tidur satu jam.


" Ada apa Mas?" suaranya terdengar serak.


" Duduk dulu. Minumlah." Sultan menyodorkan segelas minuman hangat untuk istrinya.


Hanum menerimanya tanpa penolakan meskipun ada banyak pertanyaan di benaknya. Apakah mungkin pria itu membangunkan dirinya hanya untuk sekedar meminum minuman itu?


" Tapi aku kan sudah meminum susu ibu hamil sebelum aku tidur, Mas." memperhatikan isi gelas nya.


Bukan jawaban yang Hanum dapatkan, yang ada malah timbul berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Terlihat Sultan bergerak cepat mengemas pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.


Gerakan pria itu terlihat sangat gesit, melihatnya saja Hanum sudah tahu kalau suaminya sedang terburu-buru.


Sultan menyambar sweater rajut berwarna pink dari dalam lemari pakaian dan menghampiri Hanum. Dia merebut gelas dalam genggaman istrinya dan meletakkan di atas nakas, padahal belum sempat Hanum meneguk isi gelas itu barang sedikit pun.


" Pakai ini, kita akan pulang." ucap Sultan tergesa sambil memakaikan sweater di tubuh istrinya.


" Malam-malam begini, Mas?"


" Ya." masih cekatan merapikan sweater yang kini sudah menutupi tubuh bagian atas Hanum.


" Bukankah kita sudah membuat kesepakatan tadi? kita akan pulang besok sore." cegah Hanum.


" Tapi kita harus pulang malam ini juga, sayang."


Sultan meraih koper yang teronggok di atas kasur, kemudian menyodorkan tangan kepada istrinya. Mengajak Hanum bergegas pergi dari sana.


" Ada apa Mas? apa ada masalah?" Hanum mencekal tangan suaminya.


Melihat gelagat Sultan yang mencurigakan membuat Hanum bertanya demikian. Suaminya tidak akan mengambil keputusan mendadak tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. Dan lagi, mereka juga sudah membicarakan soal kepulangan mereka ke Ibukota, sore tadi. Keduanya telah sepakat untuk pulang besok sore, Sultan tidak akan secepat itu berubah pikiran.


" Mas, apa ada masalah? kelihatannya kamu terburu-buru, apa sesuatu yang buruk telah terjadi?" Hanum kembali melontarkan pertanyaan, melihat suaminya yang mematung dengan tatapan kosong.


" Aku ceritakan nanti di pesawat ya, sekarang sebaiknya kita segera pergi dari sini. Waktu kita tidak banyak." Sultan mengaitkan tangannya dengan tangan istrinya, setengah menyeret langkahnya memaksa Hanum untuk mengikutinya.


" Tunggu!" suara Arya terdengar menggelegar, ayah mertua Hanum sudah berdiri di depan pintu.


Ayah Sultan berada di tengah, di apit ibu dan juga kakeknya, sedetik kemudian mereka sudah memasuki kamar Sultan.


" Ini sudah malam, udara juga sangat dingin. Apa kamu benar-benar tidak bisa menunda kepulangan kalian? setidaknya sampai besok pagi, kasihan istrimu." cegah Arya, pria itu berusaha membujuk putranya untuk mengurungkan niat pulang ke Jakarta malam ini juga.


Ketiga orang itu sudah mengetahui perihal permasalahan yang sedang menimpa Sultan karena begitu mendapatkan telepon dari Raka, Sultan segera menceritakannya kepada mereka yang beberapa saat lalu masih bercengkerama di ruang tengah.


" Yang di katakan Papimu ada benarnya." Ratih mendekati menantunya dan menyuruhnya duduk di bibir ranjang, " Kasihan Hanum, nak."


" Tapi Sultan juga harus pulang Mi, Raka bilang ada masalah yang har ..."


" Hei! berandal kecil, kalau mau pulang, pulanglah sendiri." Burhan menyambar perkataan cucunya.


" Bagaimana dengan Hanum?" tanya Sultan, bingung.


Sementara Hanum yang masih belum mengetahui kejadian apa yang telah terjadi, hanya diam membisu.


" Kau bicara seolah kau hendak meninggalkan istrimu kepada orang asing." seru Burhan, " Dia ini tinggal di rumah orang tuanya, ada kami yang akan menjaganya. Apa pentingnya kau bersikap seperti itu?"


" Kamu tenang saja, Nak." kali ini Arya angkat bicara, dia mendekati anaknya, menepuk pelan bahu Sultan.

__ADS_1


" Istrimu akan aman berada di sini?"


"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Mas?" melihat situasi yang mulai memanas, Hanum pun memberanikan diri untuk bertanya di saat para orang tua itu sedang berunding.


" Nanti biar Mami saja yang ceritakan sama kamu." Ratih mengusap rambut Hanum, kemudian beralih menatap putra kesayangannya, " Sebaiknya kamu berangkat sekarang, takut ketinggalan pesawat nanti.


" Tapi Mi ..." ucap Sultan, ragu.


" Hanum aman di sini, besok sore mami antar dia pulang ke Jakarta, ya." Ratih terus berusaha membujuk Sultan agar membiarkan istrinya tinggal lebih lama lagi di sana.


" Sudah, jangan terlalu banyak berpikir." Arya menyela, " Besok istrimu akan kami antarkan pulang ke rumahmu. Lagi pula, kami kan belum sempat berkunjung semenjak kalian pindah. Ya kan Yah?" menatap Burhan, mencoba mencari bantuan dari ayahnya untuk membantu membujuk Sultan.


" Tentu saja, kau siapkan saja semuanya." Burhan menjawab, " Makanan dan pelayanan di rumahmu, jangan sampai ada yang kurang karena kami akan tinggal lama di sana."


" Baiklah." Sultan mengalah, meskipun berat rasanya dia meninggalkan istrinya, tapi tidak ada jalan lain lagi selain meninggalkan wanita yang sangat dicintainya itu tetap tinggal di sini.


Lagi pula rumah orang tuanya adalah tempat teraman untuk Hanum saat ini, setidaknya Sultan akan tenang meninggalkan Hanum untuk fokus menyelesaikan beberapa masalah yang sedang menantinya di Ibukota.


Melangkah ragu, Sultan mendekati istrinya, di tatapnya wajah cantik yang penuh diliputi kecemasan.


" Aku pergi dulu." lirihnya, " Jaga dirimu dan calon anak kita baik-baik. Jangan memikirkan hal yang tidak penting, semuanya akan baik-baik saja." nasehatnya pada sang istri, sementara Hanum hanya mengangguk.


Dengan mata berkaca-kaca Sultan merengkuh tubuh istrinya, rasanya sungguh berat. Ini kali pertama dirinya meninggalkan Hanum semenjak keduanya menikah, rasanya dia tidak rela untuk berpisah sementara waktu.


Sultan berulang kali memberikan kecupan mesra di kening istrinya, kemudian entah mendapatkan kekuatan dari mana tiba-tiba dia tergerak untuk mengecup bibir Hanum di hadapan para orang tua.


Membuat tiga pasang mata yang sempat kedapatan melihat permulaan dari adegan romantis itu segera membuang muka.


Butuh waktu sekitar satu menit hingga akhirnya sang kakek mengeluarkan suara, jengah melihat kelakuan cucu kesayangannya.


" Apa kalian akan terus berciuman?" gemas, Burhan memukul cucunya dengan tongkat panjang miliknya, " Kalau kamu tidak jadi pulang, katakan saja terus terang, agar kami bisa menyingkir dari sini secepatnya dan kalian bisa menuntaskan cinta di antara kalian." dengusnya kesal, pria sepuh itu berjalan meninggalkan kamar tersebut, " Mataku yang sudah lama aku sucikan kembali ternoda setelah melihat tingkah lakumu." ucapnya dengan terus menggerutu.


Sedangkan kedua pasangan suami istri yang baru saja menghentikan ciumannya itu terlihat begitu canggung. Sultan menggosok tengkuknya, dia pun tidak menyadari kalau dirinya akan senekat itu melakukannya di hadapan para orang tua.


" Sudah cukup acara pamitannya?" sindir Arya.


Sultan mengangguk, masih ada sisa raut wajah malu di sana. Dia mengecup kening istrinya sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.


Beralih menatap ibunya., " Titip Hanum ya Mi, minta tolong jagain. Jaga Hanum untuk Sultan, Mi." pintanya.


" Iya, tidak perlu bicara begitu, mami sama semua orang yang ada di sini akan menjaga Hanum. Mami janji."


Sultan mencium punggung tangan ibunya, berganti dengan Hanum yang melakukan hal sama padanya.


.


Sultan telah sampai di bandara Soekarno Hatta sejak sepuluh menit yang lalu, saat ini dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di sebuah kafe. Udara pada dini hari begini terasa begitu dingin menusuk tulang, Sultan menggosokkan tangannya pada cangkir yang dipegangnya. Tubuhnya dirasa sedikit hangat saat mendapatkan energi panas yang tersalur melalui cangkir berisi kopi panas miliknya.


" Sorry, sudah lama?" ucap Raka begitu mendekati meja Sultan.


" Baru beberapa menit." Sultan kembali mereguk kopinya.


" Jadi, mau langsung aku antar pulang kerumahmu? atau ..."


" Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Sultan, tak sabar.


" Apa kau merasa tidak perlu untuk istirahat sebentar?"


" Jangan basa-basi."

__ADS_1


" Kau siap mendengarkan apa yang ingin aku katakan?"


" Cepat bicaralah!"


" Kita sedang dalam masalah besar?"


" Soal?" tanya Sultan dengan tatapan penuh selidik.


" Pak Mario, tiba-tiba saja orang itu membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita."


" Pak Mario yang dari perusahaan Hasta pusaka sentosa?" tanya Sultan, dibalas dengan anggukan kepala Raka, " Bukankah proyeknya akan segera dimulai lusa? bagaimana bisa dia berubah pikiran di saat-saat terakhir seperti ini?"


" Ada seseorang yang sedang berusaha menjatuhkanmu."


" Maksudnya?"


" Ada orang yang telah membujuknya secara halus dan melakukan cara licik agar dia membatalkan perjanjian kerjasama yang telah di sepakati dengan perusahaan kita beberapa bulan lalu."


" Lalu?"


" Kamu tahu, aku sudah berusaha mati-matian untuk menemui orang itu dan membahas ulang masalah ini. Tapi ..."


" Tapi apa?"


" Orang itu sepertinya menghindariku, aku sudah mendatangi kantornya sampai lebih dari tiga kali dan sekretarisnya selalu mengatakan dia sedang tidak ada di tempat. Dan ... aku dengar dia akan pergi untuk melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong besok pagi."


" Jadi?"


" Aku tahu mungkin aku sudah membuatmu kecewa, tapi aku juga tahu. Seberapa hebatnya dirimu jika sedang bernegosiasi dengan klien."


" Kau mau aku menemuinya?"


" Ya."


" Lalu, apa alasannya memutuskan kesepakatan yang sudah kita tanda tangani ini, secara sepihak dengan tiba-tiba?"


" Mereka bilang sudah menemukan perusahaan konstruksi yang lebih baik dari perusahaanmu."


" Siapa orang itu?"


" Aku juga tidak tahu, aku belum pernah melihat orang itu secara langsung. Aku rasa dia itu usahawan muda yang baru menggeluti bisnisnya."


" Apa?" Sultan terkejut.


Mengetahui fakta kalau rekan bisnisnya yang tidak akan sembarangan melakukan kerjasama dengan perusahaan baru yang belum kompeten di bidang konstruksi. Ada yang janggal.


" Mario, aku sudah dua kali bekerjasama dengannya, dia tidak akan dengan mudah melepaskan proyek senilai triliun rupiah kepada orang yang tidak dia kenal. Terlebih kamu bilang kalau orang yang saat ini menjalin kerjasama dengannya adalah orang baru."


" Karena dia mendapat dukungan penuh dari ayahnya."


" Ayah?"


" Pimpinan perusahaan apa dia?"


" Aditya Cipta Karya."


Sultan memutar otak, berpikir keras untuk mengingat sosok dengan nama yang pernah di dengarnya.


" Aditya ..." lirih Sultan, " Ada seorang bernama Aditya, dan jika dugaanku benar. Maka orang itu adalah ..."

__ADS_1


.


__ADS_2