
"Memang kita mau kemana Mas?" Hanum masih penasaran dengan arah tujuan mereka saat ini.
Begitu gadis itu selesai bersiap-siap hingga kini mereka telah berada dalam mobil yang membelah jalanan Ibukota yang jauh dari kata sepi, suaminya masih saja belum mengatakan padanya kemana tujuan mereka kali ini.
"Nanti juga kau akan tahu," Sultan menyahut tanpa mengalihkan pandangannya karena dia sedang fokus menyetir.
Entahlah, Hanum merasa sangat kesal karena untuk kesekian kalinya Sultan kembali menggunakan kata yang sama untuk menjawab pertanyaannya.
Sebenarnya Hanum sangat penasaran tapi tidak memungkinkan rasanya dia memaksa suaminya untuk menjawab pertanyaannya, terlebih lagi saat ini ada Indah, asisten rumah tangganya yang sedang duduk di jok belakang sambil memangku Alea.
"Jangan cemberut begitu, sebentar lagi kita sampai," ucap Sultan.
Hanum memilih untuk tidak menjawab dan malah menoleh ke jendela kaca mobil. Lebih baik melihat pemandangan yang terlihat di sepanjang jalan daripada meladeni perkataan suaminya yang tidak penting.
Mobil yang ditumpangi oleh Sultan terus melaju hingga kini mereka telah memasuki sebuah kompleks perumahan elit.
Kembali, Hanum dibuat menebak-nebak akan kerumah siapa sebenarnya mereka, mengingat Hanum belum pernah kemari sebelumnya.
Seperti biasa, Sultan akan membantu istrinya melepas sabuk pengamannya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Hanum. Dia terlihat begitu serius mengamati wajah suaminya.
"Sudah, bukankah kau sangat penasaran jadi sebaiknya kita cepat turun."
Keduanya pun mulai memasuki rumah tersebut sementara Indah mengekor dibelakang sambil membopong Alea yang tertidur pulas.
"Silahkan duduk dulu Tuan, Nyonya. Biar saya panggilkan Nyonya muda dulu di atas."
Hanum tersenyum pada pembantu yang menyambut kedatangannya di sana, dia segera mendaratkan bokongnya begitu sampai di ruang tamu.
Hanum mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, setiap dinding tak luput dari perhatiannya.
Dilihat dari lukisan dan segala macam perabot yang ada disana Hanum mengambil kesimpulan kalau rumah yang dia kunjungi saat ini pastilah milik orang kaya.
"Rumah Alma," bisik Sultan.
"Ooh, pantas saja. Rumahnya mewah begini, belum lagi ukurannya yang melebihi ukuran lapangan sepak bola. Tapi omong-omong, kamu belum pernah cerita sebelumnya, memang apa pekerjaan Alma?"
"Dia itu seorang arsitek."
"Wow, wanita berpendidikan dan juga mandiri," puji Hanum. "Pantas saja sikapnya berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya. Caranya menghadapi masalah seperti yang aku lihat kemarin, terlihat sekali kalau dia itu wanita yang tangguh."
"Kau jauh lebih tangguh jika dibandingkan dengan dia," tukas Sultan. "Tidak akan ada wanita yang kuat menghadapiku di dunia ini selain dirimu." Sultan mengacak rambut wanitanya.
"Ish, kau ini!" Hanum menangkis tangan suaminya yang masih berada diatas kepalanya. "Malu sama Mbak Indah, ih."
Seketika Sultan menurunkan tangannya dari atas kepala Hanum, dia lupa kalau ada orang lain yang berada di sana selain mereka berdua.
Sementara Indah yang sejak tadi sempat menangkap kejadian romantis yang tergelar di depan matanya pun tak bisa menyembunyikan binar kebahagiaannya. Meskipun gadis itu telah berusaha membuang muka ke sembarang arah, nyatanya pasangan suami istri itu mengetahui kalau Indah sempat menikmati momen romantis tersebut.
"Maafkan aku telah membuat kalian menunggu lama."
Kompak mereka mengalihkan pandangannya, melihat seorang wanita cantik yang mengenakan kaos berwarna kuning cerah dan celana pendek warna hitam datang mendekat.
"Dia pasti membuat kalian berdua kerepotan," lanjut Alma sambil membelai putrinya yang masih terlelap.
"Kau ini bicara apa, kehadiran Alea justru menghangatkan suasana rumah kami. Kakek bahkan melarang kami untuk mengantarnya kemari, tadi" cetus Sultan.
"Jadi kakekmu masih berada di rumahmu?" Alma mengambil posisi duduk di samping Indah. Baginya itulah posisi ternyaman karena dia bisa memandangi wajah anaknya sepuas hati.
"Ya, beliau mengatakan ingin menikmati sisa waktunya dengan berada disini, bersama kami," Sultan menyahut.
"Baguslah, keluarga kalian akan lebih bahagia lagi setelah kelahiran bayi kalian nantinya."
"Pasti." Sultan mengangguk.
Suasana hening kembali tercipta, Sultan bingung hendak berkata apa, pun sama halnya dengan Alma. Sultan takut salah bicara, dia yakin suasana hati Alma masih memburuk akibat kejadian kemarin.
"Tidak ada lagi yang bisa aku katakan selain ucapan terimakasih yang begitu mendalam dari lubuk hatiku." bibir Alma bergetar ketika ia mulai memecahkan kebisuan yang sempat terjadi beberapa saat lamanya. "Aku tidak tahu harus membayar dengan apa, aku banyak berhutang budi pada kalian. Aku juga tidak menyangka kalau teman-teman dari mendiang suamiku masih menyimpan empati yang begitu besar meskipun suamiku sudah mengkhianati kalian." ucapan Alma terdengar berat.
"Lupakan soal itu, kau selalu saja membahasnya. Sudah ku bilang untuk jangan sungkan pada kami," timpal Sultan.
"Mau bagaimana lagi, sebenarnya aku merasa sangat malu pada kalian."
"Sudah, kenapa malah membahas soal itu lagi!" seru Sultan, ia terlihat tak suka jika Alma terus membahas soal Reno karena hal tersebut kembali mengingatkannya pada kesedihan yang sedang berusaha ia lupakan.
"Oh ya, apa di rumah sebesar ini kalian hanya tinggal berdua saja?"
Hanum merutuki kebodohannya, pertanyaan macam apa itu. Jelas-jelas dia sendiri tahu kalau sebenarnya ada beberapa orang lagi yang tinggal di rumah itu jadi dia tidak sungguh-sungguh menanyakan hal tersebut, hanya saja dia bingung mau bertanya apa. Itu salah satu cara yang bisa dia gunakan untuk mengalihkan pembicaraan antara suaminya dan juga Alma yang sudah mulai terdengar berat.
"Aku, tentu saja aku tidak hanya tinggal berdua dengan Alea saja." Alma tersenyum, senyum yang dipaksakan. Hanum bisa melihat itu dengan jelas. "Ada tiga orang pembantu rumah tangga dan seorang perawat yang aku tugaskan untuk mengurus Alea disini," sambung Alma.
"Apa kau tidak keberatan jika lain waktu aku mengajak Alea untuk menginap di rumah kami lagi?" Hanum kesusahan mengucapkan kalimat tersebut, dia sudah berpikir keras namun hanya itu yang terlintas di kepalanya saat ini.
"Tentu saja tidak," sanggah Alma. "Bawalah dia menginap dirumahmu kapanpun kamu mau."
"Ah, ya ... terimakasih." Hanum tersenyum kikuk.
.
"Kenapa kau diam saja, memang apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sultan pada sang istri.
"Apa aku terlihat bodoh tadi?" tanya Hanum seraya menatap lekat wajah suaminya.
Sultan terkekeh. "Jadi kau masih memikirkan soal tadi?" telisik Sultan.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk mengalihkan pembicaraan kalian. Tadi itu pasti Alma terus mentertawakan aku dan menganggapku konyol." Hanum merengut masam.
"Jangan berpikiran sampai jauh kesitu, Alma itu pribadi yang cerdas dan mandiri, mana ada waktu buat dia memikirkan hal yang tidak penting mengenai kejadian tadi."
"Tetap saja," gerutu Hanum.
__ADS_1
Saat ini keduanya sedang menempuh perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan. Mbok Darmi berpesan kepada mereka sebelum pergi tadi agar mereka mampir untuk membeli kebutuhan bulanan yang telah menipis.
Merasa tidak ingin mendapat adanya gangguan dari orang ketiga yang bisa menganggu kebersamaan mereka, Sultan sempat menelepon Pak Dadang untuk menjemput Indah di rumah Alma tadi. Hingga kini tersisa mereka berdua dalam mobil yang terus dilajukan dengan kecepatan sedang oleh Sultan.
Ketika melintasi sebuah jalanan yang terdapat beberapa gerobak pedagang kaki lima di bagian kiri kanan jalan membuat Hanum meminta suaminya untuk menghentikan laju mobilnya sejenak.
"Ada apa?"
"Lihat itu, ada tukang rujak bangkok. Apa Mas bisa memarkirkan mobilnya sebentar, aku ingin membelinya."
"Sesuai dengan perintah yang mulia ratu," kelakar Sultan.
Pria itu pun menuruti keinginan istrinya.
"Tunggu sebentar!" cegah Sultan begitu Hanum hendak turun dari mobil. "Apa itu terjamin kebersihannya? Lihat itu!" Sultan menunjuk gerobak pedagang yang penuh dengan antrean cukup panjang.
Letaknya yang tepat di pinggir jalan membuat debu yang beterbangan bisa saja menempel pada makanan yang akan dibeli istrinya dan itu membuat Sultan merasa cemas.
"Apa tidak ada orang yang berjualan rujak bangkok di mall atau di restoran begitu?"
"Mana ada restoran yang menjual rujak bangkok? Ada-ada saja kamu Mas." Hanum tertawa menanggapi ucapan suaminya.
"Barangkali saja ada tapi kita tidak mengetahuinya," kilah Sultan. "Tunggu dulu!"
Hanum menoleh, lagi-lagi suaminya mencegahnya untuk turun dari sana.
"Apa lagi?" rengek Hanum.
"Aku takut kau akan sakit nanti, bagaimana kalau nanti kau sakit perut dan terkena diare?"
"Tidak akan, percayalah. Sebaiknya kita segera turun atau kita tidak akan kebagian nanti."
"Apa tidak bisa kita cari di tempat yang lebih bersih lagi?" bujuk Sultan.
"Astaga, lihat itu!" Hanum menunjuk tempat dimana pedagang rujak bangkok masih sibuk melayani pembelinya. "Tempatnya memang di pinggir jalan begitu tapi kan tempat pembuatannya juga agak tertutup. Mas tidak lihat bisa lihat itu?" Hanum merasa geram.
"Ya sudah kalau begitu."
Kali ini Hanum sudah membuka pintu mobil saat suaminya kembali mencekal tangannya.
"Apa lagi ya ampun!" pekik Hanum. Emosinya sudah mulai naik ke ubun-ubun.
"Biar aku saja yang membelikannya untukmu. Kau duduk diam saja disini!" titah Sultan.
Hanum mengelus dadanya, dia pikir yang tadi itu Sultan hendak mencegahnya lagi untuk jangan membeli rujak bangkok di sana tapi ternyata dugaannya salah.
Senyuman yang terus terkembang di bibir Hanum itu terlihat semakin indah membingkai wajah ayunya. Ternyata suaminya bisa bersikap manis juga, Sultan rela berpanas-panasan hanya demi mengantre sebungkus rujak bangkok dan itu dia lakukan demi cintanya pada wanita yang tengah mengandung buah hatinya. Padahal cuaca siang itu cukup terik karena matahari sedang berada di puncak singgasananya, belum lagi antrean yang masih mengular panjang. Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh suaminya demi memenuhi keinginannya.
Untuk mengusir kebosanannya, Hanum memutuskan untuk berselancar di dunia maya. Diraihnya ponsel yang sejak tadi tersimpan rapi dalam tasnya kemudian jarinya mulai lincah menggulir layar ponselnya.
Entah berapa lama Hanum bermain dengan ponselnya, sepertinya sudah cukup lama hingga akhirnya dia merasa bosan. Kembali dia menaruh benda pipih nan canggih itu ke dalam tasnya, berniat untuk menyusul suaminya.
Hanum kembali menutup pintu mobilnya begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Tadinya mau menyusulmu, habisnya lama." Hanum mendengus.
"Masih untung aku kebagian, di belakangku tadi masih banyak yang mengantre tapi kata penjualnya tinggal sisa tiga porsi lagi." Sultan menyerahkan bungkusan berisi rujak tersebut pada istrinya. "Makanlah, mau aku tunggu kau sampai menghabiskannya disini atau mau sambil jalan?"
Kedua alis Sultan yang sangat hitam dan lebat pun saling bertautan begitu dia melihat Hanum menyodorkan sebotol air minum padanya.
"Minumlah, kau menghabiskan waktu yang lama dengan berpanas-panasan diluar, kau pasti haus."
Sultan meraihnya, membuka penutup botol itu dan mulai mereguk hingga air dalam botol tersebut tersisa separuhnya. Dia merasa begitu tersanjung karena ketika dirinya sedang minum tadi, Hanum dengan cekatan menyeka keringat yang merembes di keningnya menggunakan tangan.
Sultan merasa seakan melambung ke awan, darahnya berdesir dengan perasaan yang berbunga-bunga. Seperti inikah rasanya dicintainya? dia sudah sering mendapatkan perlakuan istimewa dari istrinya tapi entah kenapa kali ini rasanya sungguh berbeda. Perhatian kecil yang dilakukan Hanum tadi memberikan gelenyar rasa yang begitu menggelora. Rasa cinta dalam dirinya untuk Hanum semakin bertambah saja seiring berjalannya waktu.
Rasa lelah yang sempat menderanya tadi akibat mengantre di bawah panasnya sinar matahari,menguap seketika, berganti dengan kebahagiaan yang membuncah.
Perlahan Sultan menggapai jemari istrinya kemudian mengecupnya cukup lama.
"Ada apa?" tanya Hanum yang keheranan melihat tingkah suaminya.
"Tidak," Sultan menjawab sambil menggeleng pelan.
"Kenapa wajahmu merona begitu? Apa yang membuatmu sampai tersipu malu macam ABG kasmaran saja," goda Hanum.
Melihat wajah suaminya memerah karena malu, merupakan pemandangan langka bagi Hanum dan bisa melihat hal tersebut sekarang, sangat disyukuri oleh gadis itu.
"Siapa? Aku?" Sultan menunjuk dirinya sendiri. "Tidak." sangkalnya sembari menoleh ke arah jendela kaca.
Tak rela rasanya membiarkan Hanum menjadikan wajahnya sebagai tontonan.
"Ah, itu lihatlah wajahmu! Terlihat jelas sekali ada rona merah yang muncul di pipimu." Hanum makin gencar menggoda suaminya.
"Siapa bilang, wajahku memerah karena kepanasan tadi," kilah Sultan.
"Baiklah jika kau masih saja terus menyangkalnya, lihat ini! Bercerminlah maka kau akan bisa melihat wajahmu yang sudah semerah tomat."
Sultan memekik seraya membuang muka ketika tangan Hanum menangkup pipinya hendak memperlihatkan pantulan dirinya di depan kaca spion. Tindakannya kali ini benar-benar mengundang tawa istrinya, Hanum sampai tertawa terbahak-bahak.
.
"Apa semua daftar barang belanjaan kita sudah kau masukkan ke dalam keranjang?" tanya Sultan, memastikan jika tidak ada satu pun daftar barang yang dicatat oleh Mbok Darmi, tertinggal.
"Sudah," jawab Hanum singkat.
Sudah satu jam mereka berada di pusat perbelanjaan dan kini saatnya membayar barang belanjaan yang begitu menggunung.
"Apa kau tidak kerepotan membawa semuanya menuju mobil, Mas?"
"Kan kita bisa menyewa jasa mereka." Sultan menunjuk pria berseragam yang berdiri di belakang kasir, dengan dagunya.
__ADS_1
Hanum mengangguk.
"Apa kau mau sekalian makan siang disini?" ajak Sultan. "Sebenarnya tidak bisa dibilang makan siang juga sih, sudah sore begini." menunjukkan jam tangannya.
"Tentu saja, aku sudah sangat lapar," rajuk Hanum.
"Memang kemana perginya rujak bangkok tadi? Porsinya cukup besar jadi aku pikir kau tidak akan kelaparan. Itu sebabnya aku mengajakmu untuk membeli keperluan rumah tangga terlebih dulu, tahu begitu kita seharusnya makan siang dulu begitu sampai di sini," sesal Sultan.
"Hm, rujak bangkoknya tentu saja sudah selesai dicerna, kemudian berubah menjadi tenaga dan sekarang tenagaku habis karena satu jam lebih kita terus berputar-putar di dalam tadi. Dan apa kamu lupa, bayi-bayi kamu ini kan juga membutuhkan nutrisi lebih, rujak bangkok segitu mana cukup untuk kami bertiga, coba?"
Sultan manggut-manggut mendengar penuturan istrinya, wajar jika sekarang Hanum jadi mudah lapar mengingat dia mengandung bayi kembar, terlebih dia sudah tidak merasakan morning sickness lagi, jadilah nafsu makannya meningkat.
"Ya sudah ayo, mau makan apa?"
"Bagaimana dengan Laksa?"
"Tidak masalah. Ayo!"
Keduanya melangkah menuju restoran yang menyajikan Laksa paling enak dalam gedung tersebut. Sultan terus mengapit lengan istrinya.
Mereka pun segera menikmati makan siang yang terlambat itu begitu pelayan selesai menyajikan pesanan mereka di meja. Tak mau membiarkan cacing dalam perutnya terus meronta meminta jatah.
Sultan tertawa begitu melihat isi mangkuk istrinya yang kini telah bersih tak tersisa. Dua mangkuk mie berbumbu rempah yang begitu kuat, kini telah berhasil masuk ke dalam perut Hanum.
"Kenapa kamu terus tersenyum? Mau mengejekku ya karena porsi makanku berubah jadi banyak, sekarang?" sentak Hanum.
"Tidak, mana berani aku mengejekmu. Masa istri sendiri diejek," kilah Sultan.
"Bagaimana jika aku gendut? Bagaimana jika nanti setelah melahirkan badanku jadi melar dan tidak bisa kembali ke bentuk semula? Apa kamu masih tetap mencintaiku?" oceh Hanum panjang lebar.
"Kamu pikir aku sepicik itu? Memang kamu pikir aku mencintaimu karena bentuk fisikmu apa?" sanggah Sultan.
"Kamu kan kaya, hartamu banyak. Kamu bisa memilih wanita sesuai dengan tipemu, dan pastinya akan ada banyak wanita yang dengan sukarela menawarkan diri untuk kamu nikahi."
"Dan sebanyak apapun wanita yang datang dalam kehidupanku tetap tidak akan menggantikan posisimu dalam hatiku. Jadi berhentilah bicara ngawur!"
"Apa kamu tidak sedang membohongiku?" telisik Hanum.
"Aku rela mat ...,"
"Cukup! Jangan pernah kata-kata seperti itu keluar dari mulutmu lagi!" potong Hanum.
"Ya, maaf," cicit Sultan. "Ya sudah sebaiknya kita segera pulang sebelum yang mulia Bapak suri murka."
"Apa? Mas bilang apa tadi?" tanya Hanum.
"Bapak suri," ulang Sultan.
"Kenapa kamu memanggil kakek dengan sebutan seperti itu?"
"Nenek kan biasa disebut Ibu suri, jadi kita bisa memanggil kakek dengan sebutan Bapak suri. Bukankah tingkahnya sudah seperti raja yang turun tahta? Apa salahnya jika kita memanggilnya demikian?"
Hanum tak tahu harus berkata apa untuk menjawab ocehan suaminya yang dirasa makin ngawur.
"Hah, ada-ada saja." Hanum terus menggelengkan kepalanya.
Keduanya pun keluar dari restoran tersebut, tapi begitu mereka hendak sampai di pintu keluar, Sultan menyuruh istrinya untuk menunggunya di sana sementara dia ingin pergi ke toilet sebentar.
Hanum pun terpaksa berdiri di sana, menunggu suaminya selesai buang air kecil. Ketika dia sedang disibukkan dengan ponselnya, tiba-tiba seorang pria yang melintas di depannya berhenti sejenak.
"Maaf, dompetmu terjatuh Nona," ucap pria itu sambil menunjuk ke lantai.
Reflek Hanum mengalihkan pandangannya pada titik yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya dan benar saja, dompet berwarna cokelat miliknya teronggok di sana.
"Ooh ..., terimakasih Tuan," ujar Hanum.
Gadis itu langsung mengubah posisinya yang tengah bersandar pada dinding kemudian membungkuk untuk mengambil dompetnya.
Seolah mengerti dengan kondisi Hanum yang tidak memungkinkan untuk membungkuk, pria itu membantu mengambilkan dompet Hanum. Tangan keduanya tak sengaja bertemu dan seketika mereka saling beradu pandang.
"Biar ku bantu," kata pria itu sambil menyerahkan dompet milik Hanum.
"Terimakasih," ucap Hanum sambil membungkuk sopan.
"Tidak baik seorang wanita hamil seperti Anda bepergian sendirian," imbuhnya.
"Itu tidak benar, saya datang kesini bersama ...,"
"Sejak tadi saya perhatikan Anda hanya sendiri disini," potong pria itu lagi. Dia terus mengedarkan pandangannya namun tak ditemui sosok pendamping Hanum.
"Itu karena dia sedang berada di ...,"
Lagi-lagi ucapan Hanum terpotong karena pria di depannya kembali membuka mulutnya.
"Aih, kenapa Anda memakai sepatu bertali seperti ini?"
Hanum tertegun. "Tidak! tolong jangan lakukan itu Tuan."
Hanum menolak secara halus ketika pria tersebut hendak mengikatkan tali sepatunya yang terlepas. Dia memundurkan kakinya tapi pria itu bersikeras untuk tetap melakukannya.
Sungguh, Hanum merasa begitu sungkan, di saat seperti ini dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolak bantuan dari pria yang mendadak datang di hadapannya. Dia terus meremaas bagian bawah gaunnya, kenapa membutuhkan waktu selama itu untuk suaminya pergi ke toilet?
"Terimakasih atas bantuannya, Tuan."
Hanum mengerjapkan matanya, lamunannya buyar manakala melihat kedatangan suaminya.
Lelaki yang menolong Hanum pun menoleh kemudian bangkit dan menatap Sultan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rahang Sultan mengeras, dia tak suka ditatap sedemikian rupa oleh orang asing termasuk oleh orang yang telah menolong istrinya sekalipun.
.
__ADS_1