Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Aku Kamu


__ADS_3

"Kakak ipar, maafkan Raisa ya. Sejak kecil istriku memang manja dan terbiasa bergantung dengan Kak Willi," celetuk Willmar.


Deg.


Darah Cinta berdesir saat mendengar nama itu disebut. Nama yang bahkan diingat oleh suaminya hingga alam bawah sadarnya. Dua kali. Dua kali Cinta mendengar William menyebut nama itu. Dirinya berusaha keras menyangkal pikiran- pikiran negatif, tapi berbeda dengan hatinya. Hatinya berkata seperti ada rahasia besar yang William sembunyikan darinya.


'Jadi dia yang namanya Raisa,' batin Cinta.


"Nak, Sayang." Hanum mengusap lembut bahu menantunya.


Cinta terkesiap. "Ah, iya Mah. Ada apa?"


"Willmar sedang bicara padamu," ujar Hanum.


"Oh. Ya, nggak apa-apa Mas," jawabnya, bingung.


"Kamu nggak perlu panggil dia dengan sebutan itu, biarpun dia lebih tua darimu, tapi statusmu tetap sebagai kakaknya, tidak perlu sungkan memanggil namanya saja," beber Arya.


Cinta menganggukkan kepalanya, paham. Dia lupa kalau dirinya menikah dengan keluarga veteran tentara yang sudah jelas mengedepankan tata krama dan sopan santun. Terlebih saat dia tahu kalau William, suaminya, merupakan keturunan darah biru di kota asalnya. 


"Si kembar dan Raisa itu sangat dekat sejak kecil, jadi harap maklum kalau Raisa itu terkadang bersikap manja pada William, ya," Hanum menimpali.


"Iya Ma, Cinta ngerti."


"Ya sudah habiskan sarapannya."


"Setelah ini kami akan langsung pulang ke rumah, terserah kalian mau pulang kapan, atau mau sekalian bulan madu," tawar Sultan.


"Aku sih pulang Pa," cetus William.


"Kalau aku sama Rai mau langsung terbang ke Bali Pa, besok pagi. Kami masih mau menginap satu malam lagi di sini," si bungsu menimpali.


"Baguslah kalau begitu. Biar nanti Mama suruh orang untuk mengantar kopor kalian. Kamu nggak sekalian bulan madu Kak?"


William menggeleng. " Banyak kerjaan," jawabnya pendek. 


Perasaan Cinta semakin tak karuan. Beberapa kali ia melihat suaminya kedapatan tengah mencuri pandang pada Raisa. Mendadak William kehilangan nafsu makannya, terlebih saat melihat jejak-jejak percintaan yang adik kembarnya torehkan di leher gadis itu.


Roti gandum lapis daging yang baru digigitnya, Cinta biarkan begitu saja. Ada banyak makanan mewah nan lezat yang disajikan memenuhi meja, tapi tak ada satupun yang terasa enak, mungkin efek suasana hatinya yang memburuk menjadikannya juga tak berselera. Entahlah, rasanya, Cinta ingin secepatnya mengakhiri sarapan paginya.


Pukul sepuluh siang. 


Cinta benar-benar tak tahan jika harus berdiam diri lebih lama lagi di dalam kamar hotel tanpa melakukan apapun. Sejak masuk kamar tadi, William terus berkutat dengan komputer lipatnya.


"Mas, maaf ..."


"Ya, ada apa?" Tanya William tanpa mengalihkan pandangannya.


"Saya boleh minta izin pulang?"


Sontak pria itu mendongak, melepas kacamatanya. "Kamu nggak betah di sini?"

__ADS_1


"Bukan begitu, Mas. Saya cuma ..." Cinta kebingungan memilih kalimat yang tepat untuk mengutarakan maksudnya.


"Ya sudah. Kemasi barangmu, kita akan pulang ke rumah."


Tanpa menjawab, Cinta bergegas menuruti perintah suaminya. Dua kopor besar yang menampung semua keperluannya sudah dia letakkan di daun pintu. Tak menunggu lama, keduanya pun telah dalam perjalanan pulang.


"Lho, nggak salah kalian pulang secepat ini? Adikmu saja masih betah di hotel," celetuk Sultan saat melihat anak serta menantunya kembali.


"Iya Pa. Kami memutuskan untuk pulang saja karena harus berkemas."


"Ya sudah, kalian istirahat saja dulu di kamar. Barang-barang kalian sudah disiapkan sama Mbok Darmi jadi kalian tidak perlu repot-repot menyiapkannya," Hanum menyela.


"Baik Ma. Terima kasih sudah memberikan rumah itu sebagai hadiah pernikahan kami, padahal harusnya Mama nggak usah repot-repot. Aku bisa beli sendiri kok," oceh William.


"Ya Mama percaya, tapi kan Mama memang sudah ada rencana untuk membelikan kalian rumah. Rumahmu dan dan rumah Willmar bersebelahan, biar adil," jelas wanita itu.


Hanum dan Sultan memang memberikan satu unit rumah mewah di perumahan elit, masing-masing untuk si kembar dan bersebalahan. Hanum paham bagaimana rasanya menyesuaikan diri pasca menikah, akan ada banyak hal baru terjadi. 


Menjelang pukul empat sore, William mengajak istrinya berpamitan pada keluarga besarnya dan membawanya pulang menuju rumah baru yang akan mereka tempati. Hening terasa mencekam di dalam mobil itu, tak ada yang buka suara baik Cinta ataupun William. Hingga keduanya sampai di sebuah rumah megah berlantai dua.


Cinta bersyukur rumah itu siap huni, ia harus berterima kasih pada ibu mertuanya yang telah mempersiapkan semuanya. Sementara Cinta sibuk membereskan pakaian ke dalam almari, William membantunya.


"Mas istirahat saja, biar saya saja yang selesaikan."


"Saya nggak capek, Kok."


Kembali sunyi, sampai mendadak Cinta teringat sesuatu. 


"Hm."


"Boleh saya bertanya sesuatu?"


"Soal apa?" William masih sibuk menata gulungan dasi di laci.


"Raisa."


Gerakan tangan pria itu terhenti, ditatapnya sekilas wajah sekretaris yang saat ini telah resmi menjadi istrinya. "Dia anaknya Oom Adam, teman Papa. Kami tumbuh bersama sejak kecil, tolong jangan diambil hati sikapnya yang manja padaku, ya. Aku hanya menganggapnya adik, jadi jangan berpikiran macam-macam," jelasnya.


Mendengar penuturan suaminya bukan malah membuat Cinta tenang, tapi justru sebaliknya. Dia tidak mengatakan apa-apa tadi, sementara William langsung mengatakan hal itu yang malah semakin menimbulkan kecurigaan. Faktanya, tidak mungkin tidak terjadi sesuatu sementara William sepertinya begitu mengingat Raisa, bahkan di alam bawah sadarnya sekalipun.


Mengalah, bukan saat yang tepat untuk kembali bertanya jika William sendiri sudah memungkas sesi tanya jawab.


"Mas Willi mau makan malam apa, biar saya membuatnya."


"Terserah kamu saja, saya pasti makan masakanmu kok. Saya mandi dulu ya," pamitnya dengan sehelai handuk terlampir di bahunya.


Cinta turun ke dapur. Membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan mentah yang bisa dia masak untuk makan malam. Tangannya lincah meracik bumbu sambil sesekali mengaduk masakan di wajan.


"Kau bisa masak?"


Cinta berjengit kaget saat tiba-tiba saja William sudah ada di dekatnya. Kaos oblong polos warna putih dan celana pendek berwarna hitam yang kini membalut tubuh kekarnya, membuat kesan berbeda. Cinta terbiasa melihat penampilan formal suaminya. Cinta mengutuk dirinya saat dalam hati dia terus memuji pria itu.

__ADS_1


"Awas gosong!" Seru William.


"Ah, tidak. Saya pakai api kecil," sahut Cinta begitu tersadar dari lamunannya.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak usah, ini hampir selesai. Sebaiknya Mas duduk saja."


William menurut. Duduk di kursi sambil menyaksikan istrinya memasak. Kecantikan gadis itu tak bisa dibandingkan dengan Raisa, meskipun dari keluarga sederhana, Cinta terlihat cantik dan menawan meski tanpa polesan make up. Berbeda dengan Raisa yang memiliki koleksi skincare mahal dan juga dokter khusus kecantikan. Cinta mandiri dan bisa melakukan semua hal, termasuk memasak, bak langit dan bumi dengan Raisa yang manja dan terbiasa hidup mewah dikelilingi para pelayannya. Namun, satu hal. Ini soal hati. Masih nama itu yang terpatri dalam hati William dan hal itu membuatnya dilema. Dia tidak bermaksud menyakiti Cinta, itu sebabnya dia bertekad untuk mencintai Cinta. Tak adil rasanya menjadikan gadis sebaik Cinta sebagai pelariannya saja. Demi agar bisa melihat Willmar dan Raisa segera menikah.


"Bagaimana rasanya? Saya harap Mas suka? Kalau nggak juga nggak apa-apa, nanti saya bisa ganti atau nggak, beli juga nggak apa-apa," ujar Cinta yang melihat suaminya terus mengaduk-aduk isi piringnya.


"Siapa bilang, ini enak kok."


"Beneran?" Tanya Cinta, tak yakin.


"Seriusan."


Kedua sudut bibir Cinta tertarik ke atas saat melihat bagaimana William melahap makanannya. Mereka kemudian makan dalam diam. William membantu Cinta membereskan peralatan makan kotor dan mencucinya. Lalu setelahnya dua orang itu duduk di ruang tengah.


"Mas mau saya ambilkan teh atau ..."


"Air putih dingin saja Cinta."


"Camilannya mau juga?"


"Masih kenyang," ujar William sambil mengelus perutnya.


"Baiklah." Cinta beranjak dari duduknya dan mengambil pesanan suaminya. 


William meraih ponselnya saat mendengar dering panggilan masuk. Mata lelaki itu berbinar saat melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu. Dengan cepat digesernya icon hijau. 


"Hai Kak," teriak Raisa dengan lantangnya.


"Hai," William menyahut, pria itu memaksakan senyumnya saat melihat gadis berpakaian seksi itu tengah dalam dekapan pria yang tak lain adalah saudara kembarnya sendiri. Wajar sepasang pengantin baru itu melakukan sesuatu yang lebih, tapi tetap saja William merasakan nyeri di hatinya.


"Kakak seriusan nggak mau bulan madu? Menikah itu enak lho Kak, nggak sayang tuh Cinta dianggurkan," ledek Raisa.


William tersenyum kecut. Bagaimana bulan madunya akan indah jika dia bersama wanita yang sama sekali tak ada di dalam hatinya.


"Kamu lagi ngapain? Kenapa malah video call aku?"


"Kangen tahu, Kak. Aturan Kakak ikutan bulan madu juga biar ramai, kan seru. Ya kan Sayang?" 


William memanas saat melihat Raisa bergelayut manja pada suaminya,tak hanya itu, dia bahkan tak segan mencium Willmar di depannya sekalipun hanya ciuman di pipi, dalam panggilan video.


Di sisi lain. Cinta berdiri mematung. Gadis itu urg melanjutkan langkahnya saat samar-samar mendengar suaminya sedang berbincang dengan seseorang. Saat didekati, baru Cinta tahu siapa yang sudah menghubungi suaminya hingga wajah lelaki itu terlihat bahagia sekaligus sedih di waktu yang bersamaan.


'Mas William akrab sekali dengannya. Dia bahkan menggunakan 'aku kamu' tidak seperti saat denganku yang selalu terkesan formal.' 


Cinta memutar tubuhnya untuk kembali ke dapur. Dia tahu saat ini pasti William tak ingin diganggu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2