
"Argh! Mas!" Cinta mencengkeram bahu Suaminya.
"Kenapa nggak bisa masuk Cinta!" Omel William. Lagi, dia mencoba memasukkan miliknya.
"Argh! Mas Willi, sakit ..." Cinta merengek.
"Ini bahkan belum masuk Cinta!" Jerit William, frustasi.
Air mata terus berjatuhan membasahi wajah Cinta. William terus berusaha memasukinya, tapi selalu berakhir gagal dengan jerit kesakitan Cinta yang tertahan. Tak peduli seberapa kuat William mencoba mendorong miliknya, nyatanya pertahanan Cinta jauh lebih sulit untuk dijebol. Tak seperti dugaannya.
William melemah, tak tega melihat tangis gadis itu hingga dia pun menurunkan tubuhnya. Meraih selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang telah sama-sama polos, lalu membaringkan tubuhnya di dekat Cinta. Sebuah kecupan dia hadiahkan di kening gadis itu.
"Tidurlah! Maafkan saya yang hampir saja memaksamu untuk melakukan itu," cicit William.
"Saya yang seharusnya minta maaf Mas, maaf sudah membuat Mas kecewa," lirih Cinta masih terisak.
"Siapa bilang? Sudah jangan menangis!" William membawa kepala Cinta ke dadanya. "Masih ada banyak kesempatan. Ini pengalaman pertama kita dan dari yang kudengar memang akan terasa menyakitkan bagimu, itu sebabnya saya menundanya, saya tahu kamu sangat kesakitan dan saya nggak mau lihat kamu nangis. Lain waktu kita dapat mencobanya lagi," imbuhnya.
Cinta tak percaya dirinya bisa dalam pelukan William dalam keadaan seperti ini. Rasanya antara malu dan kesal yang bercampur menjadi satu.
"Berhentilah menangis! Kau membuatku takut," bujuk William seraya terus mengusap punggung telanjaang istrinya.
Malam ini, keduanya tidur karena kelelahan. Cinta sendiri tak membayangkan jika rasanya akan sesakit ini saat dipertamai William. Seharusnya mereka masih mendayungi pulau kenikmatan seandainya saja dia dapat menahan rasa sakitnya, tapi ya sudahlah. Masih ada banyak kesempatan.
Ada setitik haru yang menyeruak dalam dadanya saat mendapatkan perlakuan lembut dari William. Entah Cinta harus merasa beruntung atau apa, karena William telah begitu pengertian. Mangsa yang besar sudah masuk perangkap, tapi nyatanya malah di sendiri yang membuat mangsanya lepas. Mengingat betapa besarnya senjata William, kembali membuat Cinta bergidik ngeri.
'Pantas saja rasanya sangat menyakitkan, miliknya saja sebesar itu,' gerutu Cinta dalam hati.
Lama Cinta merenung dengan pikiran yang terus mengembara. Biar bagaimanapun, dia harus berhasil membuat William masuk ke dalam jeratnya. Perlahan, akan dia rayu agar lelaki itu tergila-gila padanya.
.
.
Hari yang dijanjikan William pun tiba. Minggu pagi, Cinta dan suaminya tengah bersiap untuk menuju rumah Sultan.
Tok ... Tok ... Tok.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini ya Bik?" Cinta yang sedang membantu Nur membereskan meja makan pun bertanya.
"Tidak tahu Bu, biar saya bukakan pintu dulu."
Cinta menatap kepergian wanita paruh baya itu, lalu tak lama setelahnya terdengar suara berisik yang sangat dikenalnya.
'Astaga, aku sampai lupa kalau aku bertetangga dengan ipar yang menempati salah satu ruang khusus di hati suamiku.' Cinta menggelengkan kepalanya.
"Hai Kak, selamat pagi." Sedikit tertatih, Raisa mendekati kakak iparnya yang masih terpekur di dapur.
__ADS_1
"Oh, hai. Pagi juga. Kakimu sudah sembuh total?" Seperti biasa, dua wanita itu bercipika cipiki.
"Masih sedikit sakit katanya, tapi dia ngeyel minta ikut ke rumah Mama. Mama bilang mau buat piknik kecil-kecilan di taman belakang," Willmar menyahut. "Kakak di mana?"
"Ada di atas, sedang ambil kunci mobil," jawab Cinta.
Mengenakan kaos polo warna maroon yang dipadukan dengan celana pendek warna mocca, William tampak gagah saat menuruni anak tangga.
"Ayo Cin!" William membeku saat menyadari kehadiran gadis yang menjadi pujaannya sejak kecil. "Kalian rapi sekali, mau ke mana? Aku dan Cinta akan pergi ke rumah Mama, kalian bisa di sini jika kalian mau," ujar William.
"Itu dia masalahnya Kak, Rai merengek minta ikut ke rumah Mama," Willmar angkat bicara.
"Memang kakimu sudah sembuh? Untuk saat ini kau tidak boleh banyak bergerak Rai," kata William.
"Tapi aku mau ikut Kak, bosan di rumah terus. Lagi pula kakiku sudah membaik kok, jadi kalian nggak usah terlalu khawatir."
William berpikir sejenak, sampai akhirnya dia mengiyakan keinginan Raisa. "Ya sudah, asal kau nurut dan Willmar selalu menjagamu, tidak masalah."
"Yeay! Asyik ... Aku ikut piknik!" Seru Raisa kegirangan.
Cinta terus menatap pemandangan di luar jendela. Mobil yang dikendarai suaminya sudah melaju sejak lima belas menit yang lalu. Sejak itu pula suasana di dalamnya menjadi sangat heboh. Raisa yang duduk manja dipangkuan Willmar di jok belakang, tak henti-hentinya mengoceh. Gadis itu memang sangat cerewet, cocok disandingkan dengan Willmar yang juga berisik. Sangat berbeda jauh dengan William yang kalem dan tak suka banyak bicara.
Mobil pun terparkir manis di garasi rumah megah Sultan. Keluarga besar yang sudah menantikan si kembar beserta para istrinya itu menyambut kedatangan mereka. Saling peluk dan berbasa-basi, lalu Arya menggiring anak cucunya menuju taman belakang.
"Cinta, kamu duduk saja di sini, jangan sampai kelelahan. Minta pada pelayan jika kau membutuhkan sesuatu," ujar William.
Lalu detik berikutnya Cinta merasakan hatinya berdenyut nyeri. Bagaimana dengan jelas dia mendengar William juga mengatakan hal yang sama pada Raisa. Sekali lagi, Cinta telah salah. Seharusnya dia tahu kalau William tidak akan dengan mudah melupakan Raisa, gadis yang telah lama menghuni singgasana hatinya.
Semua orang nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Para lelaki berbincang di kursi malas yang tersedia tak jauh dari tempat para wanita yang sibuk membakar daging di dekat gazebo.
Cinta berdiri di dekat alat pemanggang. Tangannya sibuk membolak-balikkan daging tipis yang sudah dimarinasi itu di atas rak panggangan.
"Ma, apa sudah benar tingkat kematangan dagingnya?" Cinta memperlihatkan selembar daging yang telah berubah warna itu pada ibu mertuanya.
"Coba Mama lihat." Hanum memperhatikan dengan seksama. "Iya, benar Sayang, kau pandai sekali. Daging dengan tingkat kematangan seperti ini yang sangat disukai para lelaki terutama suamimu," puji Hanum.
"Syukurlah kalau begitu." Cinta mulai memindahkan satu per satu potongan daging itu di piring.
"Kak, aku mau coba juga dong daging yang kau panggang," pinta Raisa.
"Baiklah. Ini masih panas, sebentar aku tiup dulu." Setelah menggunting lembaran daging itu menjadi potongan kecil, Cinta pun meniupnya sebelum menyuapkan ke dalam mulut Raisa. "Bagaimana?"
"Sumpah Kak, ini enak banget," Raisa menyahut dengan mulut penuh.
"Pelan-pelan saja makannya. Kau duduk di sana ya, biar aku siapkan untukmu," ujar Cinta.
"Ya Kak, terima kasih." Raisa memutar tubuhnya hendak menuju kursi di dekat alat pemanggang, tapi naas, kakinya sedikit nyeri hingga tubuhnya limbung ke belakang.
__ADS_1
"Argh!" Gadis berambut cokelat itu menjerit saat tangannya tak sengaja menyentuh alat pemanggang yang panas.
"Astaga! Rai!"
Semua orang mendadak panik, tapi yang lebih menonjol tentu saja si kembar. Dua pria itu gegas berlari menghampiri Raisa yang mulai menangis tersedu.
"Sudah kukatakan untuk berhati-hati, Sayang," omel Willmar pada istrinya.
"Berikan pertolongan terlebih dulu pada istrimu, dan bukannya mengomel." Tanpa aba-aba, William segera membopong tubuh Raisa dan membaringkannya di gazebo.
Semua orang mengerubungi gadis itu. Masih berdiri mematung, Cinta sangat syok melihat kejadian yang baru saja dilihatnya. Di tempatnya berdiri dapat dia lihat betapa lembut William memperlakukan Raisa. Menaruh kepala gadis itu dalam pangkuannya, tak lupa juga tangannya yang terus bergerak mengusap punggung Raisa, berusaha menenangkan tangis gadis itu.
Willmar yang sedang mengoles salep obat bakar terus menceramahi istrinya, sementara William menengahi dengan menghibur Raisa.
"Sebentar lagi akan sembuh, lukanya juga tidak terlalu parah, berhentilah menangis," bujuk William.
"Kau selalu saja ceroboh, sudah tahu kaki masih terluka, tapi masih saja bergerak ke sana ke mari, kecentilan," omel Willmar.
"Kak Willi, lihatlah! Suamiku malah terus memarahiku Kak," adu Raisa dengan gayanya yang khas. Manja.
"Jangan terus membela istriku! Dia bisa besar kepala Kak," sembur Willmar sebelum saudara kembarnya buka mulut.
"Sudah, sudah ... Kalian selalu saja seperti anak kecil. Kau tidak apa-apa kan Rai?" Ratih menanyai cucu menantunya.
"Tidak Oma, hanya sedikit perih dan panas."
"Itu karena ..."
"Cukup Willmar! Sebaiknya kita kembali ke meja makan," lerai Sultan.
Masing-masing dari mereka membubarkan diri. William membeku saat tak sengaja matanya saling bertubrukan dengan Cinta. Ia baru sadar jika sejak tadi Cinta terus memperhatikan gerak geriknya. Saat itulah dia berusaha menaikkan kepala Raisa dari pangkuannya dan menyuruh Willmar membawa gadis itu duduk di meja makan.
Gegas, William menyusul Cinta, tapi gadis itu membuang muka dan dengan cepat mengambil posisi duduk di dekat Hanum.
"Cinta, Sayang. Coba cicipi saus ini, sudah pas belum rasanya?" Hanum menyodorkan sendok berisi saus berwarna hitam.
Cinta mencecapnya, mencoba merasai komposisi saus tersebut. "Enak Ma, rasanya sudah pas. Perpaduan antara manis gurih dan pedasnya sangat menyatu."
"Kau pasti pandai memasak," puji Hanum.
"Tidak juga Ma, masih dalam tahap belajar," sanggah Cinta.
"Kita bisa mengobrol lagi nanti, aku sudah sangat lapar," celetuk Arya menyodorkan piringnya.
Cinta menaruh potongan daging ke dalam piring suaminya, memberinya sedikit saus lalu potongan sayuran segar. Kejadian tadi membuatnya kesal dan itu menjadi alasan keterdiamannya.
Bersambung ....
__ADS_1