Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kenangan Baru


__ADS_3

"Sayang, kamu belum meminum susumu, jangan dulu tidur."


Suara William membuat Cinta yang baru saja dilanda kantuk menjadi segar kembali. Pria itu lantas menghempaskan bobotnya di tepi ranjang, menempelkan gelas yang dibawanya di bibir istrinya.


William benar-benar memenuhi janjinya, dia mengajak Cinta menginap di salah satu hotel bintang lima yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. William juga telah mengabari Hanum untuk meminta izin sekaligus minta dikirim beberapa pakaian juga kebutuhan lain selama mereka menginap di sana.


"Sudah, kamu boleh tidur sekarang," bisik William seraya mengusap surai panjang Cinta.


"Mas."


"Ya?" pria yang baru saja meletakkan gelas kosong di nakas itu menoleh.


"Lapar," rengek Cinta.


William terkekeh melihat ekspresi wajah Cinta. Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh, mereka juga telah menghabiskan makan malam bersama di restoran yang berada satu gedung dengan hotel yang mereka tempati saat ini.


"Jadi kesayanganku ini mau makan apa?" mencubit pucuk hidung Cinta, dengan gemas.


"Hm, jagung rebus?"


"Kalau misalnya nggak ada di aplikasi, aku bisa cari keluar, tapi masalahnya aku nggak mungkin ninggalin kamu di sini sendirian."


"Coba dulu."


"Oke. Kalau nggak ada gimana? Mau ganti yang lain?"


"Kira-kira yang enak apa?"


"Puding cokelat, cheesecake, red velvet, salad buah," eja William. Alih-alih membelikan makanan cepat saji, dia lebih memilih makanan sehat kaya nutrisi untuk wanita hamil itu.


"Kalau yang gurih asin?"


"Hm, apa ya?" William berpikir sejenak. "Sebentar aku carikan." menggulir layar ponsel pintarnya. "Dimsum, lumpia pedas, hm ... sebentar. Apa lagi ya?" terus menscroll layarnya.


"Dimsum aja lah, asal jangan lama."


"Oke." William tersenyum penuh arti. Tak hanya memesan dimsum, ia juga memesan makanan berat. Dua bowl nasi sapi lada hitam, sekotak cheesecake, dua cup yogurt rasa stroberi, dua minuman segar, puding, salad buah dan tahu bakso.


Jangan tanya mau buat apa dia memesan makanan sebanyak itu pada malam-malam begini. Selain mengantisipasi istrinya yang mudah lapar, juga untuk stok tenaga jika malam ini dia harus lembur hingga pagi. William ingin sekali tertawa tapi rasanya tak mau jika tawanya sampai menimbulkan kecurigaan di hati sang istri.


Lima belas menit kemudian.


Cinta takjub melihat meja di depannya dipenuhi dengan kantong berisi makanan. "Sebanyak ini Mas?"


"Tidak masalah. Aku akan membantumu untuk menghabiskannya."


Mendengar ucapan suaminya membuat Cinta menatap William penuh selidik, tapi sebelum William terkena masalah, pria itu sudah lebih dulu membimbing Cinta untuk duduk dan mulai menyuapinya.

__ADS_1


"Sayang, pelan-pelan makannya, kamu bisa tersedak nanti."


"Lapar banget," jawab Cinta dengan mulut penuh.


Seharusnya William mulai terbiasa melihat cara istrinya makan, karena sejak tak lagi mengalami morning sickness, Cinta bisa melahap makanan apapun dengan porsi besar dalam waktu singkat.


Cinta mengusap perutnya yang terasa lega usai menyantap satu porsi dimsum, sepotong kecil cheesecake dan satu cup jus jeruk. Setelah memastikan makanan yang ia santap telah turun dengan sempurna, Cinta pun masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ia hendak mengganti bajunya dengan pakaian malam, bersamaan dengan itu matanya membola saat melihat isi dari kopor kecil yang dikirimkan ibu mertuanya.


Berkali-kali Cinta membuang napas panjang. Dari sekian banyaknya pakaian, hanya ada dua setel gaun, sisanya adalah kain sialan yang kekurangan bahan dan jahitan. Cinta bergidik ngeri, bisa-bisanya ibu mertuanya mengisi kopornya dengan baju tidur minim bahan. Dengan perutnya yang buncit, Cinta sama sekali tak percaya diri untuk memakainya.


"Cinta."


Panggilan William membuat lamunan gadis itu buyar.


"Iya Mas?"


"Kamu baik-baik aja kan? hampir setengah jam kamu belum juga keluar."


"Iya. Sebentar lagi aku keluar."


Cinta memejamkan mata sambil menggelengkan kepalanya. Tidak ada pilihan lain selain memakai kain kurang bahan itu, Cinta pikir dua gaun itu akan dia pakai saat siang. Hanum benar-benar membuat Cinta tak berkutik.


Pintu terbuka. William membantu Cinta keluar dari sana. "Gantian Sayang, aku juga perlu bersiap-siap." buru-buru William mengunci pintu.


Cinta terkesiap, ucapan suaminya sudah seperti surat peringatan pertama untuknya, dan tentu Cinta tahu maksud William.


Cinta memejamkan mata saat bibir William mulai menapakkan jejaknya di kulit leher dan tengkuknya. Gerakannya amat pelan dan penuh kehati-hatian, pun ketika William menggigit kecil, meninggalkan jejak cinta di sana.


William membalik tubuh Cinta, menyambar bibir istrinya begitu keduanya saling berhadapan. Tangan William bergerak menarik tali kimono satin warna navy yang membalut tubuh istrinya. Sekali sentak, kain itu merosot ke lantai.


Mata William membesar saat melihat kain transparan berwarna hitam membalut kulit Cinta. Ia terus memindai penampilan istrinya. Tak ada satu bagian pun yang terlewat dari tatapan mendamba William. Setiap lekukan tubuh Cinta begitu menakjubkan di mata William.


Kain hitam itu tak sanggup menutupi tubuh Cinta. Bagian atasnya bahkan terlihat tak nyaman untuk dilihat. Cinta terus merutuki dirinya yang tak bisa berkutik. Semakin William menurunkan pandangannya, maka William akan semakin dibuat gila.


"Kamu sangat cantik," bisik William, menahan sesuatu yang telah meronta sedari dia keluar dari kamar mandi.


"Jangan menyindirku, aku tahu dan cukup sadar diri dengan bentuk tubuhku yang sekarang," tukas Cinta.


"Memangnya kenapa dengan bentuk tubuhmu yang sekarang? kamu bahkan terlihat jauh lebih berisi dan segar, kau tahu?." meniup cuping telinga Cinta dengan sensual.


"Mana ada orang hamil yang berubah menjadi lebih segar? yang ada geli."


"Kamu yakin."


William mengunci pergerakan Cinta. Tangannya terulur dan mendarat di bahu Cinta, menurunkan tali spaghetti yang menyangga. Kain itu pun berhasil lolos dari tubuh Cinta. William membimbing Cinta untuk berbaring.


"Aku sangat menyukainya," bisik William lagi. Tangannya mendarat sempurna di sisi kanan dada Cinta.

__ADS_1


"Eumh ..."


Desahan pertama lolos saat William mulai merayap di tubuh bagian atas Cinta. William dibuat gemas dengan ukurannya yang menjadi lebih besar. Tangan pria itu mulai tak bisa dia kendalikan lagi, terus bergerak mencari sesuatu yang bisa menyenangkannya.


Cinta pasrah saat William terus menyentuh setiap bagian tubuhnya. Wanita itu memejamkan mata, sementara William terus terus bergerak, membawanya mengarungi samudera cinta penuh kasih.


Memalukan.


Akan tetapi Cinta sangat menyukainya. Entah, tapi semenjak hubungannya dengan William membaik, dia merasa sangat sensitif dengan sentuhan pria itu. William begitu pandai membuat Cinta terbuai dan mengambil alih kendali atas tubuhnya.


"Mas," panggil Cinta, sengau.


"Apa? Seperti biasa, aku akan tetap berhati-hati jadi kamu tenang saja. Sebelum melakukan ini, aku sudah lebih dulu searching di internet agar kita berdua bisa leluasa melakukannya tanpa menyakiti buah hati kita," ucap William, menghentikan sejenak aktivitas bibirnya, lalu kembali bermain di atas Cinta.


Cinta menjambak rambut suaminya. Satu lagi impiannya untuk melewati malam indah bersama William di hotel, telah terlaksana. William pandai merayu, setiap sentuhannya membuat Cinta terbuai hingga ia hanya merasakan kedamaian yang luar biasa menenangkan tanpa rasa was-was. William tetap memperlakukan Cinta dengan lembut, selalu memuji Cinta dengan segala apa yang ada dalam diri perempuan itu sehingga tak ada kata minder saat Cinta melakukannya.


"Cinta ... argh ...."


William mendesah panjang saat gelombang kenikmatan berhasil menggulungnya, membuat dia merasa lega sekaligus bahagia.


"Kau masihlah sama seperti dulu, membuatku selalu tertarik padamu dan tak pernah membuatku bosan. Terima kasih Sayang," bisik William, disusul dengan ciuman di kening dan bibir Cinta.


Pria itu menarik selimut, menutupi tubuh polos keduanya. Memeluk Cinta dari belakang, membiarkan dada lembabnya bertemu dengan punggung polos Cinta adalah kegiatan yang rutin William lakukan ketika keduanya selesai melewati penyatuan yang indah.


"Sekarang istirahatlah, karena aku masih ingin melakukannya lagi."


"Sekali saja," kata Cinta.


"Mana pernah cukup aku melakukannya hanya sekali jika kamu saja selalu memancingku untuk melakukannya berkali-kali."


"Aku tidak melakukan apa-apa," sangkal Cinta.


"Memang," jawab William, asal.


"Terus kenapa nyalahin aku?"


"Ya karena kamu selalu bikin aku kangen sa kamu."


"Gombal." Cinta memukul pelan tangan suaminya yang kini membelit perutnya.


"Aku berani bersumpah. Aku selalu merindukanmu bahkan saat di kantor setelah paginya kita sarapan bersama."


"Ya, terserah Mas, aja."


Cinta memejamkan mata, tak mempedulikan suaminya yang masih berpidato padanya mengenai banyak hal. Ada begitu banyak kegiatan yang ingin William lakukan berdua dengan istrinya, salah satunya menonton di bioskop, jalan-jalan dan berenang bersama. William akan membuat kenangan baru yang indah agar bisa Cinta ingat sepanjang hidupnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2