Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Berapa ukuran celanamu?


__ADS_3

"Kira-kira sedang apa mereka ya?" tanya Adam tiba-tiba.


Setelah suasana dalam mobil yang mereka tumpangi sejak tadi senyap, kalimat itulah yang pertama muncul dari bibir Adam. Selesai menghabiskan makan malamnya, mereka memutuskan untuk segera pulang karena memang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Tentulah mereka harus kembali ke kafe dulu untuk mengambil mobil lalu kemudian pulang ke rumah masing-masing.


"Kenapa kau bertanya begitu? mereka kan sudah dewasa, apa yang akan mereka lakukan, pastilah mereka bisa mempertanggungkannya," jawab Sultan.


"Apa kira-kira mereka akan melakukannya?" seloroh Raka, pria yang sejak tadi duduk diam di belakang itu pun melongokan kepalanya. Menatap ke arah Adam dan Sultan bergantian.


"Dasar pikiran kotor!" seru Adam.


"Siapa yang tahu? mereka berdua sudah sama-sama dewasa, terlebih lagi mereka hanya berdua di dalam apartemen Wina. Setan akan terus membujuk Dion, dan terjadilah malam panjang yang tak akan pernah terlupakan bagi dua insan yang telah lama berpisah." Raka mengedipkan matanya, fantasinya mulai liar mengembara.


"Tan, sepertinya temanmu itu jarang di bel*ai sama istrinya. Dia belum pernah se liar itu membayangkan sesuatu yang berbau mesum pada orang lain. Dan setelah menikah, jika mendengar ada seorang pria dan wanita tengah bersama, otaknya langsung mengarah kesitu," ucapnya pada Sultan yang duduk di sampingnya.


"Kan tadi sudah aku bilang kalau tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada dua orang lawan jenis ketika mereka hanya berdua dalam suatu tempat, katanya pihak ketiganya adalah setan. Memang kau pikir tugas setan itu apa? untuk menjerumuskan anak manusia ke dalam lubang dosa. Dulu sewaktu guru agama sedang menerangkan pelajaran sepertinya kau tertidur dalam kelas ya Dam?" Raka menyikut bahu Adam.


"Kalau itu aku sudah tahu. Tapi bisakah kau tidak berpikiran negatif pada Dion?" Adam melirik Raka sejenak, ada segurat penyesalan yang terpancar dari manik matanya.


Sebuah penyesalan karena selama ini pria itu telah salah menilai Dion.


Sejujurnya Dion bukanlah orang jahat, dia memang pernah melakukan kesalahan tapi dia terpaksa melakukannya, katakanlah dia sedang tersesat waktu itu dan semua orang telah mengetahui dengan jelas siapa orang yang menyebabkan dirinya terkontaminasi pengaruh buruk.


"Aku juga tidak sedang berpikiran buruk tentangnya, hanya sedang mengantisipasi saja siapa tahu kejadian seperti kemarin itu terjadi lagi?" ucap Raka.


Pria itu memundurkan tubuhnya dan mengambil posisi seperti sebelumnya, duduk santai di kursi belakang.


Sultan menoleh sementara Adam menatap Raka lewat kaca spion.


Mengetahui kedua temannya sedang menatapnya dengan tatapan tak mengerti membuat Raka akhirnya kembali membuka suara.


"Kejadian yang terjadi antara perempuan siluman itu dan Reno, sudah sepatutnya itu kita jadikan sebagai pelajaran. Kalian saja yang kelihatannya sudah sangat mengenalnya masih saja kecolongan, coba kalian pikir, sudah berapa lama mereka menyembunyikan kebusukannya dari kalian?" terang Raka panjang lebar.


"Sudahlah! kalau soal itu aku angkat tangan, aku sama sekali tidak minat mendengarkan cerita tentang mereka berdua." Adam menampilkan wajah masamnya.


"Apalagi aku!" seru Sultan.


Kembali hening.


.


Sultan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dia terlihat menghirup nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan sebelum dia membuka pintu kamarnya.


Ceklak.


"Baru pulang Mas?" tanya Hanum yang saat itu sedang duduk manis di atas kasur sambil membaca majalah fashion.


"Maaf, tadi keasyikan ngobrol sampai tidak ingat waktu." menaruh beberapa paper bag yang dibawanya di atas sofa kemudian mendekati istrinya. "Kamu belum tidur?"


Pria itu mengecup kening Hanum begitu jarak diantara mereka sudah tak ada lagi, mengangsurkan tubuhnya di atas kasur.


"Belum ngantuk," jawabnya singkat.


"Kan sudah malam."


Perlahan Sultan mengambil alih majalah dari tangan istrinya, meletakkannya begitu saja di atas nakas.


Hanum mencebik ketika suaminya merebut majalahnya, rasanya dia tak rela kalau suaminya menghentikan aktifitasnya kali ini.


"Jangan manyun begitu?" goda Sultan sambil mencubit pipi istrinya.


"Kenapa? jelek ya? salah sendiri, aku kan belum selesai membacanya kenapa malah direbut?"

__ADS_1


"Tidak. Kau tetaplah gadis yang paling cantik yang pernah aku lihat di dunia ini, kecantikanmu tak kenal situasi dan kondisi jadi dalam keadaan apapun kau tetap saja cantik, sewaktu bangun tidur sekalipun," ucap Sultan memuji istrinya.


"Gombal." Hanum menyibak selimut yang menutupi kakinya, hendak pergi dari sana.


"Serius!" Sultan mencekal tangan istrinya. "Mau kemana?"


"Mau turun ambil cemilan."


"Memangnya kamu belum makan malam?" tanya Sultan.


"Sudah, tapi aku sedang ingin memakan sesuatu."


Hanum menuruni ranjang, sesaat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sandal rumahannya.


Kemana sandalku? tadi kan ada di sini kenapa sekarang tidak ada?


Tak mau ambil pusing, gadis itu terus melangkahkan kakinya.


"Mau kemana?"


Hanum terkejut begitu tubuhnya melayang ke udara.


Melihat istrinya yang berjalan dengan kaki telanjang membuat Sultan merasa risih hingga membuatnya perlu melakukan hal tersebut.


"Kan tadi sudah kubilang aku mau turun ke bawah," protes Hanum saat suaminya kembali meletakkan tubuhnya di atas kasur.


"Dengan telanjang kaki begitu?" tanya Sultan, tak senang.


"Aku ingat kalau aku meletakkan sandalku di sana tadi." menunjuk ke lantai. "Kemana hilangnya ya?"


"Kau pikir sandalmu itu bisa berjalan sendiri?" gumam Sultan. "Biar aku saja yang turun."


Gadis itu mengalungkan tangannya di atas leher suaminya yang saat itu masih dalam posisi membungkuk.


"Kenapa? cukup katakan apa saja yang harus aku ambilkan untukmu."


"Mas, wangi."


Sultan terkekeh geli mendengar ucapan istrinya.


"Aku tidak berbohong, aku sendiri heran kenapa kamu masih saja wangi padahal jelas-jelas kamu belum mandi dan tentu saja sudah berkeringat karena aktifitasmu seharian ini diluar rumah," lanjut Hanum.


"Kau ini sebenarnya sedang memujiku atau bagaimana?"


"Entahlah." Hanum menggendikan bahunya.


Cup.


Sultan mengecup bibir istrinya sekilas.


"Baiklah, jadi apa yang sedang ingin kamu makan? perlu aku ambilkan apa saja?" tanya Sultan.


"Memang kenapa sepertinya kamu tidak ingin bersamaku dan malah ingin cepat-cepat turun ke bawah?" tanya Hanum.


Gadis itu menunjukkan sifat kekanak-kanakannya. Bibirnya terus mengerucut dengan jari telunjuk yang masih dia gunakan untuk menggambar motif abstrak di dada suaminya.


"Bukan begitu." mencubit hidung Hanum, gemas. "Aku takut tidak kuat. Nanti bukannya kamu yang makan, yang ada malah aku yang akan memakanmu," balas Sultan.


"Ya sudah sana!" Hanum membiarkan suaminya bangkit.


"Jadi apa yang harus aku ambil?"

__ADS_1


"Tadi di kulkas masih ada Choco truffle tolong ambilkan itu sama keripik singkong saja yang ada di toples."


"Mau aku buatkan susu ibu hamil sekalian?"


"Tidak perlu, sebelum Mas pulang tadi Mbok Darmi sudah membuatkannya untukku, bawakan itu saja sama air putih."


"Siap, istriku sayang."


.


Di apartemen Wina.


"Astaga, kau sampai basah kuyup begini?" pekik Wina kaget melihat Dion keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang setengah basah.


"Aku agak kesusahan membetulkan krannya tadi. Maklum, dunia pertukangan bukan bidangku, jadilah aku sampai basah begini." Dion tersenyum.


"Sementara keringkan dulu tubuhmu." Wina menyodorkan sehelai handuk. "Aku sudah membuatkan secangkir kopi di ruang tengah, tunggulah di sana selagi aku mencari baju ganti untukmu," perintahnya, pada Dion.


"Bagiamana aku bisa duduk kalau celanaku saja basah, aku takut akan membasahi sofamu nanti."


"Sebenarnya tidak masalah," balas Wina.


"Aku tunggu di balkon saja ya," ucapnya sambil berjalan.


"Cuaca malam ini cukup dingin, aku takut kau masuk angin nanti," cegah Wina.


"Memang kau pikir aku anak kecil apa? aku tidak akan sakit hanya karena terkena angin malam."


Dion terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan Wina.


Dasar keras kepala! kau masih saja tak pernah berubah. Tapi biar bagaimanapun, bagiku kau tetaplah Dion yang ku kenal tujuh tahun lalu. gumam Wina dalam hatinya.


Wina sudah mengecek seluruh isi lemari pakaiannya, dan hasilnya nihil. Tidak ada satu pun baju yang bisa dia berikan pada Dion.


Bodoh! jelas-jelas aku ini seorang wanita dan mana mungkin aku menyimpan pakaian pria dalam lemari pakaianku. Wina terus merutuki kebodohannya.


Di tengah kebingungan yang melanda tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia segera berjalan menuju kasurnya,meraih ponsel yang tadi dia letakkan di sana.


Tangannya mulai terampil membuka sebuah aplikasi, ya ... dia akan memesan baju online. Di zaman modern serba praktis begini banyak jasa online yang memberikan kemudahkan setiap orang membeli sesuatu tanpa perlu keluar rumah.


Dua menit berlalu, dia telah berhasil memesan satu buah kemeja yang dia rasa pas untuk Dion. Tapi tak lama setelahnya dia kembali dibuat bingung ketika hendak memesan celana untuk pria itu. Dia sama sekali tak mengetahui berapa ukuran celananya. Mungkin jika masalah kemeja yang kebesaran masih tetap bisa Dion gunakan, tapi bagaimana dengan celananya?


Daripada terus diam dan tak menemukan jalan keluarnya akhirnya Wina memutuskan untuk segera menyusul Dion di balkon.


Wina menghentikan langkahnya sejenak begitu kakinya telah sampai di ambang pintu, ada rasa ragu yang tiba-tiba menyelinap dalam hatinya. Akan seperti apa malunya nanti jika dia menanyakan tentang ukuran celana seorang pria.


Dia berpikir sejenak, rasanya terlalu kejam jika dia terus melihat pria yang saat itu sedang duduk termangu di sana menggigil kedinginan, padahal pria itulah yang telah menolongnya.


Perset*n dengan rasa malu.


Gadis itu terus melangkah maju.


"Di ...," panggilnya lirih dengan bibir bergetar.


"Ya."


"Berapa ukuran celanamu?" Wina memberanikan diri bertanya, dia terus menunduk sambil merem*s bajunya, menahan malu.


"Apa?" pekik Dion.


.

__ADS_1


__ADS_2