Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bintang hatiku


__ADS_3

Sultan yang sempat ikut terlelap, terbawa ke alam mimpi bersama istrinya, kini terbangun saat merasakan adanya panggilan alam. Perlahan dia turun dari atas kasur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menunaikan hajatnya.


Dan ketika dirinya keluar dari kamar mandi, dia terperangah begitu melihat istrinya sudah tidak ada di atas tempat tidur lagi. Dia baru saja akan melangkahkan kakinya sampai tiba-tiba handle pintu berputar, dia melihat istrinya bergerak masuk.


Melihat wajah Hanum, sungguh membuat Sultan kembali terbawa perasaan, kebahagiaan yang tengah menyelimutinya.


" Kau tidak apa-apa?"


" Ya." jawab Hanum, singkat.


" Apa ada yang sakit?" tertegun, pandangannya tak henti menyapu wajah pucat istrinya, " Bagian tubuh mana yang sakit? apa yang dirasa?"


" Hanya sedikit pusing."


Sultan berjalan kaku, mendekati istrinya yang masih berdiri di depan pintu, entah kenapa kakinya terasa begitu berat. Padahal hanya butuh beberapa langkah dari samping ranjang menuju daun pintu tapi kenapa rasanya begitu lama bagi Sultan. Kenapa dia begitu kepayahan seolah tak bertenaga sampai dia sedikit terseok, kemudian menghentikan langkahnya begitu jarak diantara keduanya sudah terkikis habis.


" Aku ... aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, betapa aku sangat bersyukur. Bagaimana Tuhan dengan caranya yang unik mempertemukan kita, bagaimana bisa ... aku bertemu dengan gadis yang luar biasa seperti dirimu. Rasanya seperti mimpi, aku berakhir dengan hidup bahagia bersamamu." Sultan sudah tidak sanggup lagi untuk membendung air matanya, di dekapnya tubuh pujaan hatinya.


Hanum yang kebingungan dengan perubahan sikap suaminya pun terpaku, tak bisa berbuat apa-apa selain menerima pelukan tersebut tanpa membalasnya.


" Ada apa denganmu Mas? kenapa kamu menangis? apa yang terjadi?" Hanum berusaha melepaskan pelukannya agar bisa menatap wajah suaminya.


" Biarkan tetap seperti ini." makin mendekap tubuh Hanum, " Sebentar saja, kumohon." pintanya, sambil menangis.


" Tapi jelaskan dulu padaku, apa yang telah terjadi? apa yang membuatmu menangis?"


" Ini adalah air mata kebahagiaan, sayang." bisiknya.


" Apa?"


" Terimakasih." lirih Sultan, " Aku sungguh-sungguh berterimakasih padamu."


" Sebenarnya apa yang terjadi Mas? kenap ..." belum sempat Hanum melanjutkan perkataannya saat mendadak Sultan melepaskan pelukannya, kemudian menangkup wajah Hanum dengan kedua tangannya.


" Terimakasih, karena dirimu, aku merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Berkat dirimu lah, aku mendapatkan kesempatan berharga untuk bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ayah. Kebahagiaan luar biasa yang tidak bisa aku ukur dengan kata-kata."


" Hah?" Hanum membiarkan Sultan menghujani kening dan juga wajahnya dengan ciuman, sementara otaknya masih bekerja keras, mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut suaminya.


" Ternyata kita sudah memiliki dia sejak lama sayang." lirihnya lagi, menyatukan keningnya dengan kening Hanum.


" Dia ... dia siapa?" tanya Hanum yang masih belum juga mengerti maksud suaminya.


Sultan tergerak untuk menyentuh perut istrinya, di belainya lembut, lalu dia mundur satu langkah untuk kemudian bersujud di depan Hanum.


" Ternyata dia sudah tumbuh disini sayang." dengan air mata yang masih berderai, diciumnya perut Hanum yang masih datar itu, " Kamu hamil." terangnya.


" Apaa ...? se ... kam ... kamu serius mas?" ucap Hanum terbata.


" Hm." Sultan mengangguk, dengan lutut yang tertekuk di lantai, dia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, mencium perut itu berulang kali.


" Tumbuhlah dengan sehat di rahim mamamu nak, jangan nakal." pesannya, seolah sang janin sudah bisa mendengar perkataannya saja.


Hanum membelai kepala suaminya, penuh kasih sayang, membiarkan pria itu larut dalam kebahagiaannya.


Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Sultan kembali berdiri, tangisnya telah mereda, berganti dengan sudut bibirnya yang terus saja melengkung ke atas.


Dia membimbing tubuh istrinya menuju kasur, membantu Hanum berbaring, dan bodohnya Hanum, dia menurut saja ketika Sultan memperlakukannya sedemikian rupa. Termasuk saat Sultan membungkus rapat sebagian tubuhnya dengan selimut tebal, yang membuatnya risih, padahal dia juga tidak mengantuk saat ini, dan dia sama sekali tidak berkeinginan untuk tidur.

__ADS_1


" Kamu darimana tadi?"


" Aku haus, jadi aku ke dapur untuk mengambil air minum."


" Kenapa tidak memanggilku? kamu kan bisa menunggu sebentar sampai aku keluar dari kamar mandi."


" Mana aku tahu kalau kamu sedang di kamar mandi." gadis itu mencebik, " Lagipula aku hanya mengambil air minum, bukannya melakukan sesuatu yang berbahaya."


" Tetap saja, mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati lagi dalam melakukan apapun. Ingatlah, saat ini ada dua nyawa yang bergantung padamu."


" Dua?" tanya Hanum, kaget.


" Ya." Sultan mengangguk, lalu memamerkan senyumnya yang menawan.


" Hah ..." Hanum melenguh panjang, " Rasanya seperti mimpi, kita sudah lama menantikan kehadirannya, dan sekarang ... Tuhan sudah membayar lunas penantian panjang kita dengan memberikan dua bayi sekaligus?" bulir bening melesat begitu saja, membasahi wajah pucat Hanum.


" Jangan menangis." Sultan mengusap air mata Hanum dengan kedua ibu jarinya, " Opa Noh, mantan dokter terkenal di Cina, teman kakek sejak mereka masih bayi, yang tadi memeriksamu karena dokter pribadi Papi sedang ada seminar di Australia. Opa bilang, denyut jantungmu lemah, jadi sebaiknya kamu harus lebih berhati-hati, jangan melakukan aktivitas fisik yang membuatmu kelelahan. Aku akan selalu ada di sampingmu, menjagamu dan juga buah cinta kita." Sultan kembali mengusap perut istrinya, untuk yang kesekian kalinya.


" Tentu saja aku akan berhati-hati, bukankah kita sudah mendambakan anak ini sejak lama."


" Besok, kita cek ke dokter ya? biar kamu di periksa secara menyeluruh, dan kita bisa mengetahui kondisi kesehatanmu dan juga anak-anakku." meraih tangan Hanum dan mengecupnya. " Aku berterimakasih padamu, sungguh."


Kemudian keduanya kembali berpelukan, saling berbagi rasa lewat hangatnya sentuhan saat tubuh mereka menyatu.


Sultan terus memainkan rambut istrinya yang terburai, menutupi wajahnya. Saat ini dia sedang memeluk tubuh Hanum dari belakang.


" Maafkan aku ya?" kalimat pertama yang berhasil lolos dari bibirnya setelah keduanya sempat membisu beberapa saat.


" Untuk apa?"


" Tidak usah."


" Kenapa?"


" Karena aku sudah tidak menginginkannya lagi." jawab Hanum dengan santainya.


" Lalu sekarang? apa ada yang ingin kamu makan?"


" Hm, setelah tahu kalau saat ini aku sedang hamil, baru kamu berbaik hati menawariku." cebiknya.


" Hust."


" Iya, setelah tahu ada anakmu di dalam perutku, kamu berubah jadi ..."


" Ssstt ... bagiku, kamu adalah yang terpenting, tidak peduli dengan ada atau tidaknya anak itu, aku akan tetap berusaha untuk menuruti setiap keinginanmu."


" Jadi kamu tidak peduli dengan anak dalam perutku?"


Ya ampun, kumat lagi sensitifnya, jadi serba salah tiap bicara dengannya. Mesti berguru pada Adam dulu ini, menimba ilmu, belajar jurus jitu untuk menghadapi wanita hamil. gumam Sultan dalam hati.


" Kamu ini bicara apa? tentu saja kalian sama pentingnya bagiku."


Hanum berjengit, hendak menghindar saat Sultan mencoba memeluknya lagi.


" Jangan marah." dia mengusap lembut punggung Hanum. " Hm, bagaimana kalau aku ceritakan sesuatu? apa kamu mau mendengarkan?" ucapnya hati-hati, berusaha mengalihkan perhatian Hanum yang saat ini masih marah padanya, " Mau aku ceritakan tentang masa laluku? atau kamu mau tahu, sejak kapan aku mulai jatuh cinta padamu?"


" Tidak perlu." sahut Hanum.

__ADS_1


" Jadi ... kamu tidak mau tahu, kapan aku mulai jatuh hati padamu?" melihat Hanum mengangguk, berhasil membuat Sultan keheranan, " Sungguh?"


" Aku sudah tahu."


" Maksudnya?"


" Aku sudah tahu kalau kamu sudah tergila-gila padaku bahkan saat aku masih duduk di bangku SMA."


" Apa? ba ... bagaimana bisa kamu mengetahui hal itu sementara aku belum pernah menceritakan padamu, sebelumnya."


" Mbok Darmi yang cerita."


" Mbok Darmi?"


" Iya ... sebenarnya tidak bisa dibilang begitu juga sih, lebih tepatnya, aku yang memintanya untuk menceritakan semua tentang masa lalumu padaku."


" Bagaimana mungkin?"


Hanum membalikkan badannya, membuat posisi dirinya kini saling berhadapan dengan suaminya. Pelan tapi pasti, Hanum melingkarkan tangannya di pinggang Sultan, kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


" Maafkan aku, aku belum sempat menceritakannya padamu."


Hening.


" Saat itu, aku hanya iseng mencari novel, siapa tahu saja kamu menyimpannya di rak buku yang ada di ruang kerjamu. Secara tak sengaja aku menemukan gelang kaki dengan hiasan bintang laut yang saat itu menjuntai dari dalam kotak musik yang ada di laci meja kerjamu." Hanum mendongak, menatap wajah suaminya.


" Jadi ... kamu, kamu sudah mengetahui yang sebenarnya?" tanya Sultan dengan tatapan mata penuh selidik.


" Ya." Hanum mengangguk.


" Kamu tahu gelang kaki itu ..."


" Tentu saja aku tahu, aku bisa mengenali barang milikku, begitu melihatnya lagi setelah aku pikir hilang sekitar enam tahun yang lalu."


" Jadi, alasanmu saat tiba-tiba berubah, menerimaku dengan segenap hatimu, memaafkan kesalahan yang telah aku lakukan?"


" Sekaligus berpura pura hamil di depan perempuan itu, semuanya aku lakukan begitu aku mengetahui isi hatimu untukku selama ini. Awalnya aku ingin menyerah, membiarkan kamu bersama perempuan itu karena aku beranggapan kalau kamu mencintainya.Mendengar cerita Mbok Darmi, membuatku membuka mata hatiku, ternyata selama ini, hidupmu sudah sangat menderita karena telah memendam cinta yang begitu besar untukku, sejak lama. Dan sejak itu, aku bertekad, aku tidak akan mundur, aku tidak akan pernah rela melepasmu untuk perempuan itu, ataupun siapapun wanita di dunia ini. Biarkan aku serakah, karena aku ingin menguasai semua yang ada dalam dirimu, seutuhnya ... sendirian, tanpa berbagi dengan siapapun itu."


Dan lagi-lagi, Sultan kembali dibuat menangis, rasanya malam ini akan dia habiskan untuk menangisi kemurahan hati Tuhan yang telah memberikan hadiah berupa kebahagiaan yang datangnya bersamaan, kepada dirinya.


Dia merasa begitu beruntung mendapatkan cinta Hanum dan memiliki gadis itu untuk menjadi pendamping hidupnya.


" Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, bintang hatiku." ucapnya sambil terisak, membiarkan air matanya terus jatuh dan berakhir di puncak kepala istrinya yang saat ini sedang dia dekap dengan erat.


" Aku juga sangat mencintaimu Mas."


Dan keduanya tenggelam dalam kebahagiaan yang sedang mereka rasakan bersama, kemudian terlelap karena terlalu lelah menangis. Mereka tidur dengan saling memeluk satu sama lain.


.


**Ada beberapa adegan di awal yang aku tulis berdasarkan pengalaman pribadi, habisnya aku bingung 🤭 aku nggak bisa menghayal yang gimana ... gitu. Jadilah aku tulis pengalaman pribadiku saat melihat reaksi pertama paksu, begitu beliau tahu aku hamidun 😁 setelah melewati penantian panjang. Jadi,aku pikir ... kurang lebih sama seperti HanSul yang menunggu lama untuk memiliki buah hati.


Semoga kalian terhibur ya, dan nggak bosan baca tulisan recehku.


Thank you All, buat kalian yang selama ini selalu dukung aku. 🙏🙏🙏😘😘😘


Membaca komentar positif kalian adalah mood booster buatku, meskipun aku nggak bisa balas satu per satu, tapi aku selalu sempatkan untuk baca komentar dari kalian. 🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2