Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Lupakan masa lalu


__ADS_3

Wina kembali membuka sebuah bungkusan, sebuah bungkusan yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Bungkusan yang isinya mengingatkannya pada seorang pria konyol dengan wajah rupawan yang hingga detik ini, belum mampu dia singkirkan dari setiap aspek kehidupannya.


Kehadiran Dion yang tiba-tiba namun sanggup mengubah sejarah hidupnya, pria yang bayangannya selalu datang mengusik ketenangan hatinya. Selalu menggelayuti pikirannya, dan seolah tak pernah lelah untuk berhenti menggoda Wina. Pelan tapi pasti, pria itu mulai memasuki ruang tak terjamah dalam hati Wina, menyusup semakin dalam hingga Wina tak menyadari sejak kapan seorang Dion bertahta di sana, merajai segenap ruang hatinya yang ternyata menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Ini semua tidak adil, sungguh, itu yang Wina rasakan. Dia belum bisa melupakan betapa manisnya pertemuan pertamanya dengan seorang pria yang membuatnya merasakan getaran-getaran aneh sepanjang hidupnya. Sakitnya berpisah tanpa sempat merasakan sedihnya berpamitan pun masih jelas terpatri dalam hatinya.


Waktu memang kejam, seolah selalu mempermainkan Wina. Bagiamana tidak, ketika dia mati-matian mengubur semua rasa yang sempat di pendamnya, rasa yang berusaha dia buang jauh-jauh dan sekarang dia malah kembali di pertemukan dengan Dion, membuat usaha kerasnya selama ini menjadi sia-sia.


Dan, Dion lah alasan mengapa dia bertahan dengan statusnya sekarang. Menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan hidup di Negeri orang dan berjumpa dengan berbagai macam jenis pria, tetap saja tak ada yang mampu menarik perhatiannya.


Tok ... tok ... tok.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, Wina bergegas melipat sebuah kain tebal berwarna biru elektrik tersebut dan kembali menyimpannya sebelum dia mulai mengeluarkan suara merdunya dengan mengucapkan kata 'masuk'.


Kening Wina berkerut karena begitu pintu terbuka lebar dia melihat tiga pria yang tak asing baginya, sedang berdiri di ambang pintu.


"Silahkan masuk," ucapnya ramah, mempersilahkan ketiga pria itu untuk masuk.


"Maafkan kedatangan kami yang telah menganggu waktu Anda, Dok." Adam mengangguk.


"Tidak juga, kebetulan jadwal saya hari ini sudah selesai dan saya baru saja, akan berkemas untuk pulang." Wina memandangi pria yang saat ini masih betah berdiri di ambang pintu satu per satu, melihat raut muka canggung mereka membuat Wina semakin bingung.


Apa yang membuat mereka datang kemari beramai-ramai? kalau perihal kondisi Dion, bukankah tadi aku sudah menjelaskannya secara gamblang. Atau jangan-jangan ada salah satu hal yang masih belum bisa dimengerti oleh mereka dan mereka kemari untuk menanyakannya? batin Wina.


"Silahkan masuk Tuan-tuan, duduklah dulu! bukankah tidak sopan jika kita berbicara seperti ini?" kata Wina dengan tak mengurangi rasa hormat sedikitpun.


Sultan dan Raka terus mendorong Adam, menyuruh agar pria itu masuk terlebih dulu. Sialnya, Adam yang sejak awal begitu bersemangat mendadak tak berani sekedar untuk berbicara. Entah apa yang membuat nyalinya itu tiba-tiba menciut, rasanya dia sangat canggung berhadapan dengan perempuan cerdas di hadapannya.


Melihat gelagat mencurigakan tersebut membuat Wina kembali terpancing untuk buka suara.


"Tidak perlu sungkan begitu Tuan, masuk saja! silahkan." Wina menyodorkan tangannya, menunjuk deretan kursi yang bisa di duduki oleh setiap tamu yang datang.


"Aku rasa tidak perlu, saat ini kami sedang banyak pekerjaan," seru Raka, tak sadar dengan apa yang di ucapkannya.


"Bukankah ada sesuatu yang membawa Anda sekalian untuk datang kemari menemui saya?"


Dasar bodoh! batin Adam.


"Itu ... memang benar, jadi begini ...," Adam mulai membuka mulutnya.


"Jadi apa? apa terjadi sesuatu dengan Dion?" Wina menggigit bibir bawahnya begitu menyadari ucapannya. "Maaf, maksud saya, apakah telah terjadi sesuatu dengan Tuan Dion?" ralatnya.


"Iya," spontan Sultan menjawab.


"Apa?" kata Wina setengah berteriak. Gadis itu sampai terbangun dari duduknya karena terkejut.

__ADS_1


"Itu ... anu ... sebenarnya ...," terbata Sultan mengucapkannya, dia yang frustasi menyugar kasar rambutnya. Bingung memilih kata-kata yang pas untuk dia sampaikan kepada Wina. "Dam, jangan diam saja! dalam hal bantu membantu seperti ini kau lah ahlinya." Sultan menyikut lengan temannya.


Adam menghirup nafas dalam-dalam.


"Apa yang sebenarnya terjadi? tolong bicaralah dengan jelas!" Wina berjalan mendekat ke arah pintu.


"Jadi begini, se ... sebenarnya kedatangan kami kesini mau meminta bantuan Anda untuk merawat teman kami," ucap Adam gugup.


"Maksud Anda bagaimana? saya memang sedang merawat pasien kan? saya dokternya dan sudah tentu saya yang akan merawatnya sampai pasien dinyatakan sembuh."


"Bukan merawat dalam hal itu yang saya maksud, Dok. Bukan antara dokter dan pasien tapi yang akan saya minta ini lebih cenderung ke arah ... ish, sial! kenapa susah sekali mengatakannya." Adam tercekat.


"Ke arah?" Wina menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ah ... repot sekali!" gumam Raka, dia memberanikan diri untuk maju kemudian membelakangi Adam. "Jadi begini Dok, intinya, kami mau minta tolong kepada dokter untuk membantu merawat Dion. Teman kami itu, dia ... dia hidup sebatang kara di sini, dia sama sekali tak punya keluarga. Kami sendiri sudah berkeluarga, masing-masing memiliki kesibukan sendiri Dok, jadi rasanya mustahil kalau kami akan bisa menjaganya dengan baik."


Ketiga pria itu menghela nafas lega secara bersamaan.


"Jadi maksud Anda, saya di suruh untuk ...," ucapan Wina terpotong karena Raka sudah menyambar secepat kilat.


"Saat ini dia sedang mengeluh sedikit demam dan juga kelaparan Dok, tolong secepatnya temui dia. Aku takut dia mati, tolong bantulah kami merawatnya. Terimakasih. Mohon maaf kami harus segera pergi." Raka mengucapkannya dengan begitu cepat, kemudian menarik kedua temannya angkat kaki dari sana.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan selanjutnya selain melarikan diri. Mereka yakin setelah ini, mau tidak mau Wina pasti akan datang ke kamar rawat inap Dion.


Wina masih berdiri mematung, sudah lima menit yang lalu semenjak kepergian teman-teman Dion dari sana.


Cukup lama Wina masih mengembara dengan pemikirannya sambil sesekali merem*s roknya.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Lima belas menit.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meraih tasnya dan pergi meninggalkan ruangan kerjanya.


Dengan langkah mantap dia terus berjalan, dalam hati kecilnya berdoa, semoga saja apa yang akan dia pilih nantinya akan memberikan kebahagiaan padanya.


.


"Kenapa lama sekali?" cicit Hanum dengan manjanya begitu melihat suaminya kembali.


"Maaf, ada urusan penting tadi." berjalan mendekat kemudian mengecup kening istrinya.


"Urusan penting apa?" tanya Hanum, dia menatap lekat wajah suaminya yang saat ini memancarkan binar kebahagiaan.

__ADS_1


"Dion," lirih Sultan.


"Ah, bagaimana dengan keadaannya?" mendadak Hanum panik, ingatannya kembali pada saat kejadian di bangunan tua. Dia ingat betul sesaat sebelum pingsan, dia bisa melihat Dion yang tanpa ragu menghambur pada suaminya untuk menghalau tusukan pisau Mauryn dan menjadikan tubuhnya sendiri menjadi sasaran.


"Dia sudah sadar."


"Apa lukanya parah?" tanya Hanum masih diliputi kecemasan.


"Dokter yang menanganinya mengatakan kalau pisau itu sedikit melukai hati Dion, itu yang membuat Dion mengalami pendarahan hebat tempo hari," terang Sultan.


Sultan mencermati wajah istrinya yang terlihat kebingungan.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya sambil mengelus kepala Hanum.


"Bukankah pria itu sama jahatnya dengan istrinya?"


"Mantan istri," ralat Sultan.


"Setahuku mereka masih menjadi pasangan suami istri yang sah."


"Sebenarnya Dion sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan sejak lama, tapi karena keduanya selalu mangkir dan lagi karena satu dan lain hal yang membuat Dion pernah menangguhkan gugatan cerai tersebut, jadilah proses perceraian mereka berjalan dengan waktu yang cukup lama."


"Mas belum menjawab pertanyaanku."


"Pertanyaan yang mana?" tanya Sultan bingung.


"Bukankah dia pria yang jahat lantas kenapa dia sampai rela mengorbankan dirinya demi untuk menyelamatkan kita?"


"Kamu salah menduganya, Sayang." gemas, Sultan mencubit hidung mancung istrinya.


"Salah menduga bagaimana? kamu tidak ingat kejadian di apartemen dulu?"


"Hanya itu saja kesalahan yang dibuat olehnya, sekarang dia sudah berubah. Dia ingin menebus kesalahannya dan tugas kita adalah membantunya memperbaiki diri."


"Maksud Mas?"


Sultan pun segera menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi, semua hal mengenai Dion yang telah membuka tabir masa lalunya. Juga mengenai perihal yang melatarbelakangi Reno mau bekerjasama dengan Mauryn untuk mencelakai istrinya.


Satu per satu kenyataan pahit dan kebenaran yang terungkap kembali membuat perasaan Hanum hancur. Merasa tak habis pikir dengan sikap orang-orang jahat yang bertanggungjawab atas segala penderitaan yang terjadi padanya. Mauryn yang selama ini bertindak seolah-olah dia lah yang paling tersakiti, tak menyadari bahwa ternyata sikapnya lah yang telah membuat orang lain begitu terluka.


"Hei, kenapa menangis?" Sultan menangkup wajah istrinya.


"Aku hanya sedih jika mengingat masa-masa buruk itu. Masa yang hanya dipenuhi dengan luka dan air mata, aku bahkan masih bisa menghitung dengan jari kenangan manis yang terjadi selama kita hidup bersama. Lebih banyak kenangan buruknya," keluh Hanum.


"Lupakan itu semua, lupakan masa lalu yang membuatmu kembali merasakan sakit. Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang menjadi duri dalam hubungan kita. Mari kita buat kenangan manis sebanyak yang kau mau. Hidup berbahagialah denganku, aku tidak mau membuatmu terus menangis. Aku sadar selama ini aku lah sumber yang membuatmu terus menumpahkan air mata. Jangan menangis lagi atau aku akan menyesal seumur hidupku karena merasa sangat berdosa padamu."

__ADS_1


Sultan tak dapat berkata-kata lagi karena semakin dia banyak bicara akan semakin keras pula istrinya menangis. Mungkin saat ini hanya itulah yang sedang ingin dilakukan oleh Hanum. Dan sebagai suami yang baik, dia hanya bisa membiarkan Hanum kembali membasahi kemejanya, mengelus lembut punggung istrinya untuk menguatkannya dan memberikan kecupan di keningnya.


.


__ADS_2