
Langit telah menjelaga ketika Cinta memasuki rumah mertuanya. Ya, sebelum menikah, Ratih menyarankan untuk Cinta tinggal di rumah itu saja agar memudahkan mereka menjalankan misi untuk William.
Cinta masuk ke kamarnya dan diikuti oleh suaminya.
"Aku bantu lepas gaunnya ya," tawar William.
Cinta mundur dua langkah, suasana canggung begitu terasa di sana.
"Nggak usah! Aku bisa sendiri," tolak Cinta.
"Kamu nggak akan bisa, itu resletingnya susah. Ayo aku bantu, aku nggak akan ngapa-ngapain kok, cuma bantu buka aja."
Cinta terdiam. Ia memang merasa tak akan bisa membuka gaunnya sendiri. William pun maju, perlahan membalikkan tubuh istrinya dan membuka resleting di bagian belakang gaun pengantin Cinta.
Gaun itu pun melorot jatuh di lantai dan dengan cepat William memakaikan bathrobe pada tubuh Cinta.
"Kamu tunggu sebentar, biar aku siapkan air hangatnya dulu ya."
William masuk ke kamar mandi, lalu kembali tak lama setelahnya.
"Jangan kelamaan mandinya ya, takut kamu masuk angin. Udah malam juga aturan kamu nggak usah mandi, tapi kalau nggak mandi pun takut kamu nggak bisa tidur karena nggak nyaman. Airnya bisa kamu sesuaikan suhunya kalau misalnya kurang hangat," kata William.
Tanpa sepatah kata pun Cinta masuk ke kamar mandi, melepas jubah mandinya dan segera masuk ke dalam bak mandi. Tak seperti dugaannya, nyatanya air dalam bak itu hangatnya terasa pas bagi Cinta.
Usai Cinta ke luar dari sana, William pun segera menjalani ritual mandinya. Hampir seharian ini dia sama sekali tak istirahat sedikit pun, selain merasa lengket dia juga sangat lelah.
"Aku akan tidur di sofa kalau kau keberatan aku tidur di sini," ujar William ketika mengambil bantal untuknya tidur malam ini.
"Jangan Mas!" Cegah Cinta.
Sontak William membalikkan badannya, menatap kedalaman manik mata gadis itu.
"Kamu tidur di sini aja, nggak apa-apa kok," lirih Cinta.
"Benar?"
Cinta mengangguk. "Sebelum aku berubah pikiran."
William bersorak kegirangan dalam hati, tapi tunggu dulu ... Cinta melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia melakukannya persis seperti anjuran Ratih, dia harus bermain-main dengan emosi William agar dapat melihat sejauh mana lelaki itu menyesali perbuatannya dulu dan benar-benar telah mencintai dirinya.
William menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Pria itu terus melirik wanita di sebelahnya, ingin sekali dia memeluknya jika saja keadaan tidak serumit sekarang ini.
"Cinta." William menumpu kepalanya dengan siku, menatap lekat wajah Cinta.
"Hm." Gadis itu hanya berdehem, pun sambil memejamkan mata.
"Terima kasih ya sudah mau menerimaku lagi, aku janji akan menebus semua yang aku lakukan padamu dulu."
"Tidak usah besar mulut! Aku benci mendengar kau mengatakan itu terus menerus. Satu hal yang harus kau ingat, aku mau kembali padamu hanya semata karena permintaan mama. Tanpamu, aku dan anakku masih bisa hidup dengan baik, jadi jangan kau salah artikan alasan aku mau menerima pernikahan ini," tegas Cinta.
William terdiam, hatinya mencelos mendengar penuturan wanita yang dicintainya itu. Dulu, hanya ada kelembutan, kepatuhan dan kata-kata manis saja yang terucap dari bibir ranum itu, tapi sekarang bak menyimpan semangkuk racun. William tak bisa menyalahkan Cinta karena memang posisi itu lebih pantas diberikan padanya.
Tingkat kekebalan menerima luka akan berbeda di setiap orang, dan Cinta memilih melakukan itu untuk melindungi dirinya dari luka yang pernah membuatnya menjadi manusia paling hancur.
"Ya aku tahu, tapi tetap aku saja merasa bahagia," balas William.
Cinta memiringkan tubuhnya, rasanya dia tak akan bisa tidur jika terus menghadap langit-langit kamar.
Malam kian turun, Cinta dapat mendengar dengkuran halus suaminya yang menandakan jika pria itu telah tertidur pulas, sementara dirinya masih terjaga.
Cinta melirik nakas, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Pada dini hari seperti ini pun perut Cinta tak bisa dikompromikan lagi. Perutnya terus berbunyi meminta segera diisi, padahal sebelum naik ke kasur dia sempat menyantap sepotong green tea cake yang disodorkan Hanum padanya.
Cinta turun dari kasurnya berniat untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan, tapi belum sempat kakinya mencapai pintu, dia kembali teringat akan rencana Ratih. Bisa dilakukan dari hal kecil seperti ini, pikir Cinta.
Gadis itu pun duduk di bibir ranjang. "Mas," panggil gadis itu tanpa menyentuh suaminya.
"Mas bangun," ulang Cinta. Masih belum ada reaksi dari pria itu.
Kali ini Cinta memberanikan diri mengguncang-guncangkan bahu suaminya.
__ADS_1
"Mas, bangun!"
Berhasil. William membuka matanya dan langsung duduk. "Ada apa?"
"Lapar," ucap Cinta.
"Kau lapar?"
Cinta mengangguk.
"Kau tunggu di sini ya, biar aku ambilkan makanan dulu." William menyingkap selimutnya, memakai sandal rumahan.
"Ikut," cetus Cinta.
"Jangan, kau akan capek naik turun tangga nanti, biar aku saja yang ambilkan."
"Kalau begitu mulai besok aku mau pindah kamar di bawah aja. Ada banyak kamar tamu kosong yang bisa kita tempati," usul Cinta.
"Sesuai keinginanmu, yang jelas aku akan tinggal di mana kau berada dan aku akan tidur di kamar yang sama denganmu."
Cinta tak menolak saat William meraih tangannya dan menuntunnya menuju ruang makan.
William membuka tudung saji, mengambil nasi dari alat penanak nasi dan mulai membubuhkan beberapa lauk dalam piring itu. Terakhir, William menyodorkan segelas air putih di dekat piring Cinta.
"Kenapa bengong? Ayo di makan!"
"Nggak mau," tolak Cinta.
"Tadi katanya lapar," balas William.
"Siapa yang bilang mau makan ini? Kamu juga nggak nanya aku mau makan apa kan."
Senyuman tipis terbit di bibir William, melihat tingkah istrinya malah membuatnya gemas.
"Ya sudah, memang aku yang salah karena nggak nanya dulu kamu mau makan apa. Sekarang aku tanya, memangnya kamu mau makan apa?"
"Iya, ralat. Bayiku mau makan apa?"
"Nasi goreng. Kasih sambal baby cumi yang banyak, terus kasih udang, bakso sama kacang polong. Tanpa sayur dan telur."
"Ada lagi?"
"Minumnya es teh manis."
"Tunggu sebentar ya, aku buatkan es tehnya dulu."
William membuka kulkas, mengambil es batu dan juga beberapa bahan yang dia butuhkan untuk memasak nasi goreng. Untungnya dia bisa memasak, coba seandainya dia sama sekali tidak bisa, apa tidak terjadi perang di sana?
Lima belas menit kemudian.
Segelas besar es teh manis beserta sepiring nasi goreng sudah tersaji di depan Cinta sesuai dengan pesanan gadis itu.
William menyodorkan sendok, memberikan pada Cinta kesempatan untuk mencicipi hasil kerja kerasnya.
"Enak?"
Cinta menggeleng. "Kurang pedas, nggak asin."
"Masa? Coba sini."
Cinta dengan sengaja menyuapi suaminya.
"Udah asin ini lah, sengaja aku nggak kasih sambal baby cumi banyak-banyak takut perutmu sakit. Sekarang dimakan ya!" Titah William.
"Ya udah kalau gitu aku nggak mau makan."
"Tadi katanya lapar?"
"Tapi aku mau nasi goreng," tukas Cinta.
__ADS_1
"Ini nasi goreng Sayang."
William melotot saat menyadari bibirnya mengatakan kalimat ajaib itu, pun dengan Cinta yang masih bergeming. Suasana canggung kembali tercipta, tapi Cinta tak mau berlarut. Ratih dan Hanum sudah mewanti-wanti agar ia tak mudah terbuai dengan apapun yang dilakukan William.
"Bukan nasi goreng ini, ini tidak sesuai dengan keinginanku," oceh Cinta.
"Cinta. Makan makanan terlalu asin dan pedas itu nggak baik buat kesehatan."
"Jadi, mau buatin atau nggak?"
"Cinta ..."
"Ya udah." Cinta bangkit dari kursinya.
"Jangan gini dong, kasihan kamu kalau gak makan," bujuk lelaki itu.
"Mas makan aja sendiri. Orang kalau nggak suka terus dipaksa, gak bakalan mau juga kan?"
"OK, duduk ya. Aku buat lagi yang baru."
William membantu istrinya duduk, lalu setelahnya dia kembali bergelut dengan peralatan masak. Hampir selesai, William menyendok sedikit nasi goreng yang masih berada di wajan itu dan memberikannya pada Cinta untuk dicicipi.
"Bagaimana?" Tanya William sesaat begitu nasi goreng itu masuk ke dalam mulut Cinta.
"Enak. Sudah pas, aku mau makan sekarang," kata Cinta, bersemangat.
Dengan senang hati William menemani ibu hamil itu menghabiskan makanannya. Mereka pun kembali ke kamar begitu Cinta merasa kenyang.
Lagi, mereka berdua merasa canggung. Saat ini keduanya telah sama-sama di atas kasur dengan mata yang masih sepenuhnya terjaga.
Cinta terus berpindah posisi, mencari kenyamanan agar dia bisa tidur. Biasanya setelah kenyang dia akan mudah sekali mengantuk, tapi memang perutnya yang membesar sudah membuatnya susah tidur.
"Apa setiap malam kamu akan begini?"
Cinta menoleh saat tahu ternyata William juga belum tidur.
"Makan di dini hari?" Cinta balik bertanya.
"Bukan itu. Kau setiap malam akan sulit tidur?"
"Tidak juga, mungkin karena sekarang kehamilanku sudah memasuki bulan ketujuh."
"Begitu ya."
Cinta tak lagi berucap, dia sibuk membenahi posisinya. William yang hendak membetulkan selimut yang tersingkap secara tak sengaja melihat kaki Cinta yang membengkak.
"Cinta."
"Ya."
"Kakimu bengkak?"
"Kata Dokter Rania kebanyakan wanita dengan usia kehamilan tua memang sering mengalaminya."
William bangkit, lelaki itu mencari minyak kayu putih yang biasanya ada di nakas lalu setelah mendapatkannya dia pun mulai memijit kaki Cinta.
"Aku pijit ya."
"Nggak usah Mas!" Cegah Cinta.
"Udah nggak apa-apa, kamu tidur aja. Siapa tahu dengan dipijit bengkaknya akan berkurang, besok kita ke dokter ya untuk berkonsultasi."
"Nggak usah, kan aku baru seminggu yang lalu dari sana."
"Pokoknya ke dokter, titik!"
Cinta tak lagi menanggapi ucapan pria itu, dia memilih menikmati pijatan lembut yang terus dilakukan William di kakinya.
Bersambung ....
__ADS_1