
Pria itu menurunkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga kini Cinta dapat merasakan hangat napas William menerpa pipinya.
William makin memajukan wajahnya. Dekat, sangat dekat hingga tak ada jarak lagi di antara keduanya.
Hingga tiba-tiba ...
"Hoek ... Hoek ..." Cinta membekap mulutnya.
William terperanjat. Impian melumaat bibir ranum Cinta musnah seketika. Cinta membuka pintu mobil dan membungkuk di trotoar.
"Mual lagi?"
Pertanyaan yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban itu lolos dari bibir William. Seperti biasa, dia akan membantu memijit tengkuk istrinya, memberikan sebotol air minum dan menyeka butiran peluh yang menempel di dahi gadis itu.
"Kamu butuh sesuatu?"
Cinta menggeleng.
"Apa yang dirasa?" William menaruh tangannya di tengkuk dan juga lutut Cinta, hendak menggendong istrinya masuk ke mobil.
"Aku bisa jalan sendiri Mas."
"Jangan ngeyel, mukamu pucat gitu kok."
William masuk ke mobil usai mendudukkan tubuh Cinta di jok. Lelaki itu menyetel letak jok agar memudahkan Cinta untuk berbaring di sana.
Cinta memejamkan matanya, ia mendesis.
"Apanya yang dirasa, heum?"
"Mendadak jadi pusing banget Mas," rengek Cinta.
"Mau pulang sekarang?"
"Jangan, kepalaku makin pusing kalau mobilnya jalan."
William menoleh keadaan sekitar, beruntung dia sedang berada di jalan yang agak sepi.
"Ya udah nggak apa-apa, tapi aku tepikan mobilnya boleh ya, ini masih agak ngalangin jalan."
Cinta mengangguk, masih dengan mata terpejam rapat.
William memijit pelipis istrinya. Ada segumpal sesal yang terasa menyesakkan dada. William merasa menjadi suami yang paling tidak berguna di dunia. Tak mudah bagi Cinta menghadapi masa-masa kehamilannya seorang diri selama ini, sementara di usia kehamilannya yang sekarang saja masih sangat menyiksa.
"Maafin aku ya Mas, aku udah ngrepotin kamu," cicit Cinta.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Kamu harus mengalami semua kesulitan ini karena aku. Maafin aku." William mendaratkan bibirnya di kening Cinta.
Cinta membuka matanya perlahan ketika dia mendengar tangisan tertahan. Menoleh ke samping, dia terkejut saat melihat William menangis. Ya, lelaki itu menangis.
"Kamu kenapa Mas?"
"Nggak apa-apa. Udah, tidur lagi aja!"
"Apa aku nyakitin kamu, aku ..."
"Cinta. Kamu selalu aja mentingin perasaan orang lain, padahal kamu sendiri juga terluka. Maafin aku." William tak tahan lagi, tanpa malu-malu dia menumpahkan tangisannya di depan Cinta.
"Udah Mas, kenapa musti nangis sih." Cinta merengkuh suaminya, mengusap punggung William dengan lembut.
"Aku nggak bisa ngebayangin selama ini bagaimana kamu bertahan tanpa aku Cinta. Kamu pasti mengalami banyak kesulitan."
"Aku nggak apa-apa Mas. Dia anak yang baik, dia tidak terlalu merepotkan saat kamu nggak ada. Udah jangan nangis," bujuk Cinta.
"Maafin aku ..."
"Ya aku udah maafin, Mas nggak perlu ngomong itu terus."
__ADS_1
Masing-masing dari mereka mengurai pelukannya.
"Ya udah, sebaiknya kamu istirahat dulu."
William membimbing Cinta untuk kembali merebahkan tubuhnya di jok, tak lupa William menaruh bantal kecil agar istrinya bisa tidur lebih nyaman.
"Apa nggak apa-apa Mas?"
"Nggak apa-apa apanya?" William balik bertanya.
"Aku tidur di sini."
"Selama kamu nyaman, nggak masalah. Toh mobilnya juga udah di tepi jadi nggak ganggu pengguna jalan lain."
Tak peduli sebanyak apapun William menatap wajah itu, dia tak akan pernah merasa bosan. Perlahan tangannya terulur menuju dadanya, getaran yang kian menggila, mengapa baru kali ini dia merasakannya?
Ada banyak hal yang telah mereka berdua lalui selama ini, hingga bukti cinta mereka tumbuh dan berkembang dalam goa penuh kasih, dan William merasa kasmaran. Jatuh cinta yang teramat mendamba, belum pernah dia rasakan cinta yang sedemikian rupa.
Cinta mengerjapkan matanya perlahan, sepersekian detik pandangannya dan William saling bertubrukan.
"Aku kelamaan tidurnya ya," gumam Cinta.
"Enggak kok, baru jam sebelas," balas William.
"Apa!" Cinta terperanjat. Berarti dia telah tertidur tiga jam di mobil. Gadis itu terus merutuki dirinya, dia pingsan atau tidur sebenarnya.
"Auw!" Cinta mendesis sambil memegangi perutnya yang telah membola.
"Kenapa Cinta?" Tanya William, panik.
"Argh, ssssttt. Bayinya Mas ..."
"Kenapa dengan bayi kita?"
"Dia ... Auw!"
"Dia lagi nendang, Cinta."
"Iya Mas, sakit," rengek Cinta.
William tak tahu harus berbuat apa, yang dia lakukan saat ini hanyalah terus mengelus perut Cinta. Hingga lambat laun dia rasakan gerakan dalam perut Cinta tak mereda.
"Kau sudah baikan?"
Cinta mengangguk. "Aku haus."
"Oh, iya maaf." William sampai lupa tak menawari gadis itu minum.
Cinta meneguk cairan dalam botol yang diberikan William hingga isinya berkurang separuhnya.
"Kita pulang, atau ..."
"Nggak mau!" Tegas Cinta.
"Jadi?"
"Katanya mau jalan-jalan," ketus Cinta.
"Memangnya masih kuat? Kamu habis mual lho."
"Nanti begitu sampai aku mau makan ayam penyet, sop buah, puding cokelat sama es krim rasa durian pakai topping choco chip sama saus cokelat."
William menggeleng tak percaya, apa muat perut Cinta menampung itu semua?
"Kenapa? nggak mau ya udah!"
"Kebiasaan. Selalu menyimpulkan sesuatu sebelum aku memutuskan." William mengacak rambut Cinta, gemas. Meraih tisu di dashboard dan menyeka butiran peluh di kening istrinya.
__ADS_1
"Kita pergi sesuai keinginanmu," imbuh William.
'Hore, akhirnya mama bisa mewujudkan impianmu untuk berjalan-jalan bersama ayahmu sayang.' mengelus perutnya, Cinta bersorak girang dalam hati.
William membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah bergelut dengan macet selama kurang lebih setengah jam, akhirnya tibalah mereka di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan.
"Cinta ... Cinta! Pelan-pelan saja jalannya," tegur William. Melihat cara Cinta berjalan dengan perut sebesar itu membuatnya merasa ngeri sendiri.
"Aku lapar Mas."
"Iya, tapi pelan-pelan aja. Tempat makannya juga nggak akan pindah Cinta."
"Mas cepetan jalannya."
Belum ada sehari William mendampingi istrinya, dan Cinta sudah membuatnya mengelus dada berulang kali.
"Jadi pesen yang tadi kamu bilang itu?" Kini keduanya telah duduk di meja sebuah restoran makanan cepat saji.
"Kenapa emangnya? Aku bisa bayar kok kalau Mas keberatan," sinis Cinta.
Oh, Tuhan. William rasanya ingin menjerit menghadapi tingkah Cinta. Semua apa yang dia lakukan selalu saja salah di mata gadis itu. Dia hanya menanyakan soal menu makanan yang akan dipesan Cinta dan gadis itu langsung menudingnya sedemikian rupa.
"Astaga, bukan soal uang Sayang, masalahnya apa kamu kuat menghabiskan makanan sebanyak itu?"
"Mas kan bisa menghabiskannya," jawab Cinta dengan entengnya.
OK, William kalah. Lebih baik diam dan menuruti semua perintah Yang Mulia Ratu ketimbang membuat masalah.
Meja telah terisi penuh dengan makanan yang tentu saja sesuai dengan keinginan Cinta.
"Pelan-pelan aja makannya ya," ucap William memperingati, tapi hal tak terduga selanjutnya terjadi. Cinta dengan cepat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya hingga dia tak dapat berucap.
"Makan dengan baik dan dalam diam, OK!" Kata Cinta.
William mengangguk takut.
Jarum jam terus bergerak. Matahari mulai beranjak turun saat William dan Cinta keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan membawa banyak paper bag.
.
.
"Cinta, istirahat dulu! Sejak tadi aku perhatikan kamu terus saja bergerak lincah ke sana kemari, memangnya nggak capek apa?" William membalikkan badannya ketika sahutan dari Cinta tak kunjung dia dengar.
Mereka baru saja tiba di kamar, William membawa barang belanjaan ke dalam ruang ganti dan William sudah tak menemukan keberadaan Cinta di sana.
Hasrat untuk buang air kecil sudah tak dapat lagi William tahan, langkahnya tertuju pada kamar mandi. Memutar kenop pintu dan membukanya lebar.
Pria itu melotot begitu melihat siluet tubuh seseorang di balik dinding kaca kamar mandi. Tubuh Cinta yang sedikit melar dan buncit, tak mengurangi keindahannya sedikitpun. Berulang kali William meneguk salivanya, jakunnya naik turun.
'Sial!'
Hasrat membuang hajat menguap, berganti menjadi gejolak yang luar biasa dahsyat. William tak tahan lagi hingga akhirnya dia melangkah ke tempat di mana Cinta sedang berdiri di bawah guyuran shower yang menyala.
Ceklak!
Cinta menoleh, dia terkejut bukan main melihat William menatapnya lapar hingga reflek Cinta menutupi daerah sensitifnya dengan kedua tangannya.
"Mas ... Kam ... Kamu mau apa?" Cinta tergagap melihat suaminya memangkas jarak. Langkah demi langkah William membawa lelaki itu kian dekat. Tubuh Cinta bergetar hebat.
"Mas."
"Aku mau ...."
Bersambung ....
*Happy reading Dears, mohon maaf banget ya slow update, akunya lagi diburu-buru di sebelah. Maaf banget ya buat kalian yang udah nungguin. Terima kasih buat kalian yang setia mengikuti kelanjutan kisah ini. Saranghae All ❤️😘😘😘
__ADS_1